Tag: Eco Anxiety

  • Mengenal Eco-anxiety: Gangguan Kecemasan yang Dipicu Kerusakan Lingkungan

    Mengenal Eco-anxiety: Gangguan Kecemasan yang Dipicu Kerusakan Lingkungan

    7cloud.asia – Perubahan iklim ternyata tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis manusia.

    Dampak perubahan iklim yang kian terasa memicu timbulnya perasaan takut kekurangan tempat tinggal yang layak, hingga kecemasan akan kondisi masa yang akan datang.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat mengganggu kesehatan mental, yang kemudian dikenal sebagai eco anxiety.

    Meskipun eco anxiety bukanlah gangguan mental yang diakui secara resmi, efeknya dapat berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis individu yang mengalaminya.

    Penjelasan mendalam tentang eco anxiety ini dipaparkan dosen Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Trevino Pakasi dalam perbincangan dengan The Conversation.

    Trevino mengatakan kecemasan lingkungan atau eco anxiety adalah hal yang wajar. Namun, jika kecemasan itu berkepanjangan maka perlu diambil tindakan karena bisa menjadi masalah serius yang harus diperhatikan khususnya di kalangan muda.

    Baca: Saat kampanye lingkungan diusung di panggung musik

    Trevino menjelaskan, eco anxiety muncul dipicu oleh faktor eksternal maupun internal.Faktor eksternal berupa paparan berita tentang dampak perubahan iklim terhadap lingkungan.

    “Sedangkan faktor internal adalah kesiapan individu menerima informasi tersebut,” ujar Trevino seperti dipantau dari siniar Sains Sekitar Kita di KBR Prime.

    Menurut American Scientific Assosiation, eco anxiety sama buruknya dengan gangguan kecemasan lain karena bisa memicu gangguan fisik maupun emosional.

    Sayangnya lagi, hingga saat ini dunia kedokteran belum memiliki fasilitas yang layak untuk menangani gangguan kecemasan yang dipicu oleh perubahan iklim ini.

    Sebuah riset terhadap lebih dari 2000 responden yang berasal dari 27 wilayah desa dan kota di Indonesia yang dihelat beberapa tahun lalu menunjukkan, 89 persen responden yang merasakan eco anxiety ini.

    Lebih dari separuh responden juga mengakui perubahan iklim mempengaruhi kesadaran fisik, dan sekitar 48 persen responden juga merasakan tekanan emosional dan kecemasan atas keselamatan diri dan keluarga.

    Baca: Kampanye lingkungan lewat Piknik Bebas Plastik

    Responden yang mengaku khawatir ini sebagian besar tinggal di daerah rawan bencana, seperti Jakarta, Sumatera Utara, Sumatera Selatan.

    Yang menarik, kelompok usia muda menyumbang kecemasan yang lebih tinggi dibanding mereka yang sudah dewasa. Menurut Trevino, hal ini wajar karena anak muda relatif lebih terpapar informasi bencana dibanding mereka yang dewasa.

    “Orang dewasa lebih tenang merespon karena mereka punya pengalaman lebih banyak dalam menghadapi masalah,” ujar Trevino.

    Dan, lebih 76 persen menilai belum ada langkah serius, dan berpendapat pemerintah harus mengambil tindakan agar dampak perubahan iklim ini tidak semakin memburuk.

    Lantas bagaimana menangani eco anxiety ini? Trevino menyebutkan pentingnya edukasi dan pemahaman mengenai dampak perubahan iklim sekaligus langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak perubahan lingkungan.

    “Kecemasan itu akan menyerap energi, karena itu salurkan energi untuk hal-hal yang positif bagi lingkungan seperti memperbanyak menanam pohon,” tandasnya.

    Baca: Kampanye lingkungan lewat Pawai Bebas Plastik

  • Mengubah Eco Anxiety Menjadi Energi Positif untuk Lingkungan

    Mengubah Eco Anxiety Menjadi Energi Positif untuk Lingkungan

    7cloud.asia – Perubahan iklim hingga bencana alam yang terjadi di mana-mana barangkali sering membuatmu merasa cemas, takut, atau khawatir. Perasaan yang muncul itu sebenarnya wajar dan menandakan bahwa kamu memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

    Namun, jika sudah di level berlebihan atau bahkan sampai membuat stres dan pesimis akan masa depanmu dan juga Bumi, tandanya kamu sudah mulai mengalami eco anxiety atau keresahan lingkungan

    Rasa cemas karena situasi lingkungan yang berlangsung terus-menerus bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Menurut berbagai studi, gejala eco anxiety bermacam-macam, mulai dari rasa tidak berdaya, frustasi, hingga perasaan putus asa.

    Keresahan atau eco anxiety ini juga bisa memicu serangan panik atau panic attack bahkan gangguan konsentrasi dan gangguan tidur. Sebuah studi menyebut, Gen Z adalah kelompok yang paling banyak mengalami eco-anxiety.

    Studi lainnya menyebut peningkatan kecemasan anak muda terkait krisis iklim ini bisa sampai memengaruhi kesehatan mental mereka.

    Lalu, bagaimana caranya agar eco anxiety yang kamu rasakan tidak berlarut-larut?
    Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mengalihkan energimu akibat eco anxiety di antaranya lewat pengembangan dan kontrol diri, keterlibatan sosial, dan aksi lingkungan.

    Baca: Mengenal apa itu eco anxiety

    Berikut langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk meredam eco anxiety yang kamu rasakan:

    1. Batasi paparan informasi negatif
    Salah satu penyebab eco anxiety adalah terlalu banyak mengonsumsi berita yang berisi kabar buruk dan membuat pesimistis.

    Untuk itu, kamu harus mengimbangi konten-konten yang kamu ikuti di media sosial. Selain mengikuti akun-akun yang sering membahas permasalahan lingkungan, kamu juga bisa mengikuti akun-akun yang berisi konten positif atau aksi-aksi lingkungan.

    Rasa cemas muncul karena kita merasa tidak bisa mengendalikan situasi buruk. Dengan mengikuti akun-akun yang menawarkan solusi lingkungan, rasa optimisme akan muncul karena kita melihat bukti bahwa keadaan bisa diubah dengan aksi nyata.

    2. Bergabung dengan komunitas
    Cari komunitas atau organisasi yang fokus pada pelestarian lingkungan. Bergabung dengan komunitas yang memiliki tujuan dan concern yang sama bisa memberikan dukungan emosional dan memperkuat rasa keterhubungan.

    3. Terlibat dalam aksi lingkungan
    Langkah selanjutnya yang bisa kamu lakukan adalah berpartisipasi dalam aksi lingkungan, baik dalam skala kecil maupun besar.

    Baca: Kampanye lingkungan dengan piknik bebas plastik

    Sebuah studi membuktikan partisipasi bisa membangun keyakinan diri dan
    kelompok dalam mengatasi krisis lingkungan (self and community efficacy).

    Di level sederhana, mungkin kamu bisa ikut clicktivism dengan mendukung aksi lingkungan secara daring, atau secara aktif mengunggah konten-konten pro-lingkungan.

    Di level lebih luas, kamu bisa aktif dalam berbagai aksi, seperti eco-volunteering, memberi edukasi ke masyarakat terdampak bencana, atau bergabung sebagai aktivis konservasi.

    Di Indonesia, masyarakat terutama generasi muda memiliki perhatian besar akan isu lingkungan. Namun, sebagian dari mereka tidak tahu harus ke mana atau kepada siapa harus menyuarakannya.

    Ini penulis temukan dalam sebuah studi penulis bersama tim di sekitar Bendungan Katulampa Kota Bogor. Bendungan ini adalah salah satu bagian hulu Sungai Ciliwung yang kerap dituding sebagai pengirim banjir ke Jakarta.

    Baca: Koalisi Pawai Bebas Plastik desak transparansi pengelolaan sampah plastik

    Kami menemui kelompok muda sekitar yang ternyata punya banyak usulan dan ingin terlibat mengatasi masalah air dan mengurangi risiko banjir, tetapi mereka tidak tahu cara menyampaikannya.

    Kami lalu menjembatani komunikasi mereka dengan pemerintah setempat lewat sebuah forum, termasuk salah satunya Wali Kota Bogor saat itu, Bima Arya.

    Dari hasil diskusi, tercetus beberapa rekomendasi pemberdayaan masyarakat seperti pelatihan pengelolaan air (termasuk teknik untuk mencegah pencemaran dan menjaga kelestarian sumber air) dan mendorong penerapan sistem pemanen air hujan. Dari sini, masyarakat bisa belajar melakukan konservasi air.

    Secara umum, saluran resmi bagi anak muda untuk terlibat dalam kebijakan dan aksi lingkungan masih minim, sementara forum formal sering tidak inklusif atau sesuai dengan gaya komunikasi mereka.

    Akibatnya, muncul rasa frustrasi, tidak dipercaya, atau bahkan apatis, karena merasa suara mereka tidak didengar atau tidak berdampak.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation. Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica (PhD candidate studying urban water engineering, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland) dan Snezana Swasti Brodjonegoro (PhD Candidate, The University of Queensland)