Tag: ecoton

  • Penelitian ECOTON dan SIEJ Ungkap Paparan Mikroplastik di 18 Kota

    Penelitian ECOTON dan SIEJ Ungkap Paparan Mikroplastik di 18 Kota

    7cloud.asia – Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) meneliti kontaminasi mikroplastik di udara ambien di 18 kota/kabupaten di Indonesia.

    Dalam penelitian yang dilakukan pada periode Mei–Juli 2025 tersebut menunjukkan lima kota dengan kontaminasi mikroplastik tertinggi adalah Jakarta Pusat (37 partikel/2jam/9 cm), Jakarta Selatan (30), Bandung (16), Semarang (13) dan Kupang (13).

    Adapun 18 kota yang terkontaminasi hujan mikroplastik adalah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Bandung, Semarang, Kupang, Denpasar, Jambi, Surabaya, Palembang, Pontianak, Aceh Utara, Sumbawa, Palu, Sidoarjo, Gianyar, Solo, Bulukumba dan Malang

    Dilansir di laman resmi ECOTON, tingginya kontaminasi mikroplastik di udara Jakarta diduga menjadi pemicu kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta, seperti diungkap peneliti BRIN beberapa waktu lalu.

    ”Tingginya mikroplastik di udara Jakarta berdampak pada tingginya kadar mikroplastik dalam air hujan, karena air hujan menyerap material di atmosfer udara sehingga mikroplastik yang ada di udara tertangkap air hujan dan larut di dalamnya,” ujar kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON, Rafika Aprilianti.

    Rafika menjelaskan, mikroplastik adalah potongan kecil plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Permukaannya mudah mengikat zat beracun di sekitarnya, seperti logam berat dan bahan kimia berbahaya lainnya.

    Baca: Temuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta harus jadi peringatan

    Karena itu, mikroplastik bisa menjadi hingga 106 kali lebih beracun dibandingkan logam berat tunggal, sebab membawa campuran berbagai polutan sekaligus” ujarnya.

    Rafika memaparkan jenis mikroplastik yang ditemukan berupa dua jenis mikroplastik dominan yaitu serat fiber dan fragmen selain jenis filamen.

    Jenis polimer atau mikroplastik yang ditemukan di udara jenisnya lebih beragam dibandingkan jenis polimer yang ditemukan di air hujan.

    Setidaknya ada 5 (lima) jenis polimer yang ditemukan dalam air hujan yaitu poliester, nilon, polietilena, polipropilen dan polibutadien.

    Selain lima jenis mikroplastik tersebut, peneliti Ecoton dan SEIJ juga menemukan polimer lain di udara yaitu PTFE, epoxy, poliisobutylen (karet sintetis), poliolefin dan silika.

    Koordinator relawan riset mikroplastik ECOTON dan SEIJ Sofi Azilan Aini menjelaskan, lebih beragamnya jenis polimer mikroplastik di udara antara lain dikarenakan kebiasaan membakar sampah plastik akibat buruknya layanan sampah di Indonesia.

    Baca: Guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik

    Sofi menambahkan, Jakarta menjadi kota dengan tingkat kontaminasi mikroplastik udara tertinggi di Indonesia, dengan jmlah 37 partikel per 2 jam. Angka ini jauh di atas kota lain seperti Malang (2 partikel per 2 jam).

    Penelitian di Jakarta
    Titik pengambilan sampel udara di Jakarta mencakup Pasar Tanah Abang, Jalan Sawah Besar, dan Kawasan Ragunan.

    Pasar Tanah Abang yang merupakan pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara menjadi hotspot mikroplastik.

    Hal ini akibat kombinasi lalu lintas kendaraan tinggi, penggunaan plastik sekali pakai, aktivitas bongkar-muat barang, dan pelepasan serat sintetis dari pakaian tekstil.

    Fragmen dan fiber mikroplastik yang beterbangan di udara inilah yang kemudian terdispersi oleh angin dan berpotensi turun bersama air hujan, menjelaskan fenomena “hujan mikroplastik” yang kini menjadi sorotan di Jakarta.

    Baca: Pakar UGM ingatkan ancaman senyap mikroplastik bagi kesehatan manusia

    Sementara, kota dengan kelimpahan mikroplastik udara terendah ditemukan di Malang, hanya 2 partikel dalam 2 jam, karena rendahnya aktivitas industri dan pembakaran sampah serta dominasi vegetasi alami.

    Penelitian ini menggunakan pemantauan deposisi pasif mikroplastik udara dengan analisis mikroskopik dan spektroskopi inframerah Fourier Transform (FTIR) untuk memastikan jenis polimernya.

    Langkah penelitian meliputi Penempatan cawan petri kaca pada ketinggian 1–1,5 meter (zona pernapasan manusia) di lokasi representatif tiap kota. Dilanjutkan dengan Penangkapan partikel melalui deposisi alami selama 2 jam menggunakan kertas Whatman basah steril.

    Selanjutnya dilakukan pemisahan partikel plastik dengan mikroskop stereo, identifikasi bentuk (fiber, film, fragmen), warna, ukuran, dan konfirmasi jenis polimer dengan FTIR.

    Metode ini mengacu pada penelitian Islam et al. (2024) dan Aini et al. (2024) serta disesuaikan dengan konteks lingkungan perkotaan Indonesia.

  • Pasar Tanah Abang Menjadi Titik dengan Kontaminasi Mikroplastik Tertinggi di Indonesia

    Pasar Tanah Abang Menjadi Titik dengan Kontaminasi Mikroplastik Tertinggi di Indonesia

    7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) mengungkap bahwa Jakarta Pusat, menjadi kota dengan tingkat kontaminasi mikroplastik udara tertinggi di Indonesia.

    Dilansir di laman resmi ECOTON jumlah partikel mikroplastik di Pasar Tanah Abang mencapai 37 partikel dalam periode waktu 2 jam, jauh di atas kota lain yang diteliti.

    Koordinator relawan Riset Mikroplastik ECOTON, Sofi Azilan Aini menjelaskan, penelitian dilakukan di 18 kota pada periode Mei–Juli 2025.

    Penelitian dilakukan dengan menggunakan pemantauan deposisi pasif mikroplastik udara dengan analisis mikroskopik dan spektroskopi inframerah Fourier Transform (FTIR) untuk memastikan jenis polimernya.

    Langkah penelitian meliputi Penempatan cawan petri kaca pada ketinggian 1–1,5 meter (zona pernapasan manusia) di lokasi representatif tiap kota. Dilanjutkan dengan Penangkapan partikel melalui deposisi alami selama 2 jam menggunakan kertas Whatman basah steril.

    Lalu dilakukan pemisahan partikel plastik dengan mikroskop stereo, identifikasi bentuk (fiber, film, fragmen), warna, ukuran, dan konfirmasi jenis polimer dengan FTIR.

     

    Baca: Penelitian ECOTON dan SIEJ ungkap paparan mikroplastik di 18 kota

    Metode ini mengacu pada penelitian Islam et al. (2024) dan Aini et al. (2024) serta disesuaikan dengan konteks lingkungan perkotaan Indonesia.

    Adapun, titik pengambilan sampel udara di Jakarta mencakup Pasar Tanah Abang, Jalan Sawah Besar, dan Kawasan Ragunan.

    Pasar Tanah Abang yang merupakan pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara menjadi hotspot mikroplastik akibat kombinasi lalu lintas kendaraan tinggi, penggunaan plastik sekali pakai, aktivitas bongkar-muat barang, dan pelepasan serat sintetis dari pakaian tekstil.

    Fragmen dan fiber mikroplastik yang beterbangan di udara inilah yang kemudian terdispersi oleh angin dan berpotensi turun bersama air hujan, menjelaskan fenomena “hujan mikroplastik” yang kini menjadi sorotan di Jakarta.

    Sumber mikroplastik
    Sofi menjelaskan, sumber utama mikroplastik di udara berasal dari pembakaran terbuka sampah plastik dan sampah rumah tangga, degradasi produk plastik dan tekstil sintetis, serta emisi kendaraan bermotor akibat gesekan ban dan rem.

    Baca: Temuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta

    Beberapa studi internasional juga menunjukkan bahwa proses pembakaran plastik dapat menghasilkan partikel mikroplastik dan aerosol sintetis yang bertahan lama di udara dan terbawa angin hingga ratusan kilometer.

    Ketika partikel-partikel ini bereaksi dengan uap air di atmosfer, mereka dapat turun bersama air hujan dan membentuk fenomena yang kini dikenal sebagai hujan mikroplastik.

    Merespon polusi mikroplastik yang semakin memprihatinkan ini, ECOTON mendorong Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengambil langkah-langkah strategis seperti melarang pembakaran sampah terbuka dan memperkuat penegakan hukum lingkungan di tingkat kelurahan.

    Pemerintah juga diminta meningkatkan fasilitas pemilahan sampah dari sumber serta memperluas jaringan pengelolaan sampah di setiap kecamatan, mengembangkan sistem pengolahan organik (kompos dan biodigester) untuk mengurangi volume sampah yang berpotensi dibakar.

    ECOTON juga mendesak dilakukannya pemantauan berkala kandungan mikroplastik di udara dan air hujan Jakarta sebagai dasar kebijakan berbasis sains.

    Kampanye publik dan pendidikan lingkungan untuk mengubah perilaku masyarakat terhadap pembakaran sampah dan penggunaan plastik sekali pakai juga harus ditingkatkan.

    ”Dengan langkah-langkah ini, Jakarta dapat menurunkan emisi mikroplastik udara, melindungi kesehatan masyarakat, dan membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan,” ujar Sofi.

    Baca: Ledakan sampah plastik memicu penjajahan gaya baru

  • ECOTON: Pembakaran Plastik Jadi Sumber Utama Polusi Mikroplastik di Udara

    ECOTON: Pembakaran Plastik Jadi Sumber Utama Polusi Mikroplastik di Udara

    7cloud.asia – Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) meneliti kontaminasi mikroplastik di udara ambien di 18 kota/kabupaten di Indonesia.

    Hasil penelitian ini dilansir di laman resmi ECOTON pada akhir Oktober lalu.

    Berdasarkan hasil identifikasi polimer mikroplastik di udara dari 18 kota yang diteliti, diketahui bahwa pembakaran sampah plastik menjadi sumber aktivitas yang paling dominan memicu polusi mikroplastik, terdeteksi di 55,6 persen kota yang diteliti.

    Temuan ini mengindikasikan bahwa praktik pembakaran sampah terbuka menjadi permasalahan serius di kawasan perkotaan Indonesia, terutama di daerah padat penduduk, kawasan industri, dan lingkungan perumahan yang tidak memiliki sistem pengelolaan sampah yang memadai.

    Baca: Penelitian ECOTON dan SIEJ ungkap paparan mikroplastik di 18 kota

    Proses pembakaran menghasilkan partikel mikroplastik jenis polyolefin termasuk PE (Polyethylene), PP (Polypropylene) dan PB (polybutene), PTFE, dan polyester yang terdispersi di udara melalui jelaga dan abu ringan.

    Aktivitas rumah tangga dan penggunaan kemasan plastik sekali pakai juga memberikan kontribusi besar (33,3 persen), terutama di kota-kota dengan konsumsi tinggi produk plastik seperti Jakarta, Denpasar, dan Sidoarjo.

    Hal ini memperlihatkan keterkaitan langsung antara perilaku konsumsi masyarakat dan peningkatan beban mikroplastik di atmosfer.

    Selanjutnya, aktivitas industri dan konstruksi berkontribusi sebesar 27,8 persen, terutama di kota dengan kawasan industri besar seperti Bandung, Surabaya, Palembang, dan Pontianak.

    Emisi mikroplastik dari sektor ini berasal dari penggunaan resin sintetis, cat berbasis polimer, serta bahan bangunan yang mengandung plastik.

    Baca: Temuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta harus jadi peringatan

    Sumber dari laundry dan tekstil domestik (22,2 persen) menunjukkan bahwa pelepasan serat sintetis dari pakaian selama proses pencucian, pengeringan, dan penjemuran berperan signifikan dalam pencemaran udara mikroplastik di lingkungan domestik.

    Sementara itu, aktivitas transportasi seperti gesekan ban, aspal, dan rel KRL menyumbang sekitar 16,7 persen, mencerminkan hubungan antara kepadatan lalu lintas dengan peningkatan emisi mikroplastik ke atmosfer.

    Aktivitas pariwisata (11,1 persen), perikanan dan pesisir (5,6 persen), serta pertanian (5,6 persen) turut menjadi sumber spesifik di wilayah tertentu.

    Di kawasan wisata seperti Denpasar dan Gianyar, penggunaan kemasan sekali pakai dan laundry hotel meningkatkan emisi mikroplastik.

    Di wilayah pesisir seperti Bulukumba dan Sumbawa, aktivitas perikanan dan penggunaan plastik pertanian (mulsa) berkontribusi terhadap pelepasan partikel mikroplastik ke udara melalui pembakaran terbuka dan angin permukaan.

    Baca: Pasar Tanah Abang jadi titik dengan kontaminasi mikroplastik tertinggi