Tag: ekowisata

  • Upaya Masyarakat Pulau Pahawang Kembangkan Ekowisata Berkelanjutan

    Upaya Masyarakat Pulau Pahawang Kembangkan Ekowisata Berkelanjutan

    7cloud.asia – Institut Teknologi Sumatera (Itera) memberdayakan masyarakat di Pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran, Lampung untuk mengembangkan ekowisata berkelanjutan.

    Pulau Pahawang merupakan salah satu destinasi unggulan dalam peta ekowisata Indonesia, namun saat ini dihadapkan dengan tantangan kelestarian lingkungan akibat aktivitas manusia.

    “Oleh karena itu, kami coba berdayakan masyarakat untuk kembangkan ekowisata berkelanjutan,” kata Dosen Program Studi Biologi Itera, Novriadi, di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, Rabu (11/9/2024).

    Menurutnya, dengan keindahan alam bawah lautnya, desa ini memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara, sehingga pemberdayaan kemitraan dalam memahami dan mengelola potensi ekowisata desa penting dimiliki masyarakat setempat.

    “Dalam upaya melestarikan ekosistem laut, salah satu fokus utama kegiatan adalah konservasi terumbu karang. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan yang terjalin sejak 2022 antara Itera, Badan Usaha Milik Desa (BumDes), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan pemerintah desa,” kata dia.

    Baca: Ekowisata di sepanjang Sungai Ciliwung

    Novriadi menjelaskan Desa Pulau Pahawang memiliki rumah bagi terumbu karang yang beragam. Namun, sebagian besar mengalami kerusakan.

    “Untuk memulihkan itu semua, tim Itera bersama masyarakat setempat melakukan transplantasi terumbu karang. Dengan bantuan substrat inovatif yang terbuat dari campuran fly ash dan bottom ash, pertumbuhan terumbu karang dapat dipercepat,” kata dia.

    Ia mengatakan bahwa masyarakat sekitar telah dilatih teknik transplantasi terumbu karang, sehingga mereka bisa melanjutkan konservasi ini secara mandiri di masa mendatang.

    “Hasil dari transplantasi ini dapat dikomersialisasikan dalam bentuk produk donasi karang yang dapat diakses oleh wisatawan di wahana seawalker Desa Pulau Pahawang, dan memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus mendukung kelestarian ekosistem laut,” kata dia.

    Sementara itu, Dosen Teknik Biosistem Itera, Harmiansyah mengatakan bahwa selain pemberdayaan masyarakat, Itera juga melakukan survei terhadap alat pengolah sampah berkelanjutan yang diperoleh desa melalui hibah dari salah satu dinas di Provinsi Lampung.

    Baca: Spot ekowisata di Tangerang

    “Alat ini memiliki potensi besar untuk mengurangi sampah laut (Marine Debris) dan sampah ekowisata, yang dapat diolah menjadi produk bernilai guna. Kami akan mengajarkan masyarakat bagaimana cara operasional alat ini secara efisien, mulai dari pengolahan sampah hingga mengatasi kendala teknis,” kata dia.

    Selain pelatihan konservasi laut, tim Itera juga fokus pada peningkatan manajemen wahana seawalker dan legalitas usaha-usaha ekowisata di Desa Pulau Pahawang.

    “Pelatihan yang diberikan mencakup teknik rescue scuba, pembuatan jalur seawalker, safety induction bagi pengunjung, serta pelatihan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB),” kata dia.

    Ia mengatakan program ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Itera dalam mendorong pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Desa Pahawang.

    “Dengan kolaborasi yang erat antara masyarakat, pemerintah desa, BumDes, dan Pokdarwis, diharapkan Desa Pahawang menjadi model pengembangan ekowisata berkelanjutan di Provinsi Lampung,” kata dia.

    Sumber:Antaranews.com

  • Memotret Ekowisata di Indonesia: Melindungi atau Justru Mengancam Kelestarian Satwa Liar?

    Memotret Ekowisata di Indonesia: Melindungi atau Justru Mengancam Kelestarian Satwa Liar?

    7cloud.asia – Praktik ekowisata berkelanjutan telah menunjukkan perkembangan positif di beberapa wilayah di Indonesia. Namun demikian, ada tantangan yang harus diatasi, terutama dalam hal pengawasan, infrastruktur, dan kesadaran pihak terkait.

    Demikian diungkapkan Rektor Universitas Pakuan, Prof. Didik Notosudjono, sebagai keynote speaker dalam webinar “Ekowisata Satwa Liar Berkelanjutan: Pembelajaran Dari Asia” pada Rabu, (11/9/2024).

    Untuk memastikan bahwa ekowisata benar-benar berkelanjutan, Indonesia perlu memperkuat regulasi, meningkatkan pendidikan lingkungan, dan memastikan bahwa pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal dan lingkungan secara jangka panjang.

    Dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada, perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam mengembangkan ekowisata berkelanjutan melalui berbagai cara.

    Antara lain melakukan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, kolaborasi dengan masyarakat lokal, inovasi teknologi, monitoring dan evaluasi, penyadaran publik dan kampanye ekowisata berkelanjutan.

    ”Melalui peran-peran tersebut, perguruan tinggi tak hanya dapat mendukung pengembangan ekowisata berkelanjutan, tapi juga dapat berkontribusi dalam melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujarnya.

    Webinar ini diselenggarakan Belantara Foundation bekerja sama dengan Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Biologi FMIPA, Prodi Pendidikan Biologi FKIP dan LPPM Universitas Pakuan sebagai bagian rangkaian Belantara Learning Series Episode 11 (BLS Eps.11).

    Baca: Upaya warga Pulau Pahawang kembangkan ekowisata berkelanjutan

    Belantara juga menggandeng Indonesia Ecotourism Network (Indecon), Indonesia; Darrang College, Assam, India; Turtle Conservation and Research Programme, India; Borneo Eco Tours, Malaysia dan Department of Zoology Jahangirnagar University, Bangladesh.

    Mahasiswa dari lima universitas yaitu Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Andalas, Universitas Tanjungpura dan Universitas Nusa Bangsa ikut menyaksikan webinar ini secara daring.

    Webinar Internasional-BLS Eps.11 diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (10 Agustus), Global Tiger Day (29 Juli), World Elephant Day (12 Agustus), dan International Orangutan Day (19 Agustus) serta Hari Pariwisata Sedunia (27 September).

    Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna dalam sambutannya, berharap webinar dapat meningkatkan pemahaman stakeholders tentang makna sesungguhnya dari ekowisata satwa liar berkelanjutan.

    “Ekowisata satwa liar seharusnya bisa menjadi wahana untuk melibatkan dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, serta sekaligus memberikan perlindungan ekologis terhadap satwa liar dan keanekaragaman hayati lainnya”, ujarnya.

    Secara tidak langsung, lanjutnya, kegiatan ekowisata berkelanjutan dapat memberikan edukasi lingkungan hidup, baik kepada pengunjung maupun masyarakat sekitar, yang sekaligus juga dapat membuka kesempatan bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan perekonomian dan kehidupan sosialnya.

    Baca: Masih ada spot ekowisata di Tangerang, Banten

    ”Kini, ekowisata satwa liar telah menjadi bagian dalam mendukung dan mengembangkan pembangunan berkelanjutan, di tengah semakin rusak dan kritisnya sumber daya hayati,” imbuh Dolly.

    Sementara, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Hadi Sukadi Alikodra, menekankan pentingnya kolaborasi antarpihak dalam mencapai tujuan dengan konsep triple helix pada program ekowisata dan bioprospeksi hidupan liar untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

    Konsep ini menggabungkan peran kademisi, sektor bisnis, dan pemerintah.

    “Dengan melibatkan berbagai pihak, konsep triple helix dapat digunakan untuk mencari pendekatan inovatif guna meningkatkan pengembangan dan implementasi ekowisata dan bioprospeksi hidupan liar berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.

    Pendiri dan Direktur Eksekutif Indecon, Ary S. Suhandi, mengimbuhi wisata satwa liar telah menjadi tren signifikan di tingkat global yang didorong oleh meningkatnya minat masyarakat terhadap alam, konservasi, dan wisata berkelanjutan.

    Ekowisata juga dapat dimanfaatkan untuk berkontribusi pada upaya pelestarian alam maupun budaya. Namun hal itu jika pariwisata dikelola dengan baik dan benar.

    “Jika tidak, maka pariwisata juga memiliki risiko menimbulkan dampak negatif baik pada lingkungan maupun sosial budaya. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dan kesadaran masyarakat menjadi krusial didahulukan”,
    ujar Ary.

  • Konservasi di Kaimana Bisa Jadi Ikon Ekowisata Seperti Raja Ampat

    Konservasi di Kaimana Bisa Jadi Ikon Ekowisata Seperti Raja Ampat

    7cloud.asia – Keunikan dan keindahan Kaimana di Provinsi Papua Barat bisa menjadi ikon ekowisata sebagaimana daerah Raja Ampat di Provinsi Papua Barat Daya.

    Hal ini diungkapkan Wakil Presiden Senior dan Pemimpin Eksekutif Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany dalam acara temu media di Jakarta, Selasa (25/2/2025).

    Yayasan Konservasi Indonesia mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan, menilai Kabupaten Kaimana telah mengukuhkan diri sebagai destinasi ekowisata berbasis konservasi.

    “Kaimana memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa. Dengan pendekatan konservasi berbasis masyarakat dan pengelolaan wisata yang bijak, kami percaya Kaimana bisa menjadi ikon ekowisata baru seperti Raja Ampat,” katanya.

    Perairan Kaimana memiliki terumbu karang indah dan dijuluki sebagai kerajaan ikan itu, menurut Meizani, bisa menjadi contoh dalam penerapan model pengelolaan pariwisata yang selaras dengan upaya konservasi.

    Konservasi Indonesia turut mendukung upaya pemerintah daerah dan masyarakat adat dalam mengelola pariwisata secara bertanggung jawab dan berkelanjutan di wilayah Kabupaten Kaimana.

    Baca: Kaimana ditetapkan jadi lokasi konservasi Hiu Paus

    Upaya konservasi alam yang dilakukan di Kaimana mencakup perlindungan ekosistem laut dan mangrove seluas 52 ribu hektare lebih, yang merupakan habitat penting spesies-spesies ikan bernilai ekonomi dan ekologi.

    Pelaksanaan upaya konservasi di wilayah Kabupaten Kaimana melibatkan pemerintah daerah, lembaga dan organisasi mitra, serta masyarakat.

    Masyarakat adat Kaimana berusaha menjaga kelestarian alam dengan menerapkan tradisi Sasi Nggama, kearifan lokal dalam mengatur pemanfaatan sumber daya alam laut dan melindunginya dari eksploitasi.

    Meizani menyampaikan bahwa upaya konservasi yang dilaksanakan sejak tahun 2013 di wilayah Kabupaten Kaimana telah membuahkan hasil.

    Menurut data Konservasi Indonesia, wilayah perairan Kaimana pada tahun 2020 telah menjadi rumah bagi 1.157 spesies ikan dan 492 jenis terumbu karang, yang menjadikannya salah satu ekosistem laut terkaya di dunia.

    Meizani mengemukakan bahwa keberhasilan program transplantasi terumbu karang di Kampung Namatota di Kabupaten Kaimana juga membuktikan bahwa upaya konservasi dapat beriringan dengan pengembangan pariwisata.

    Baca: Ekowisata di Indonesia: lindungi atau justru ancam kelestarian satwa liar?

    “Inisiatif ini tidak hanya menghidupkan kembali ekosistem bawah laut, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata bagi para penyelam dan pecinta lingkungan,” katanya.

    Konservasi Indonesia bersama pemerintah daerah mendampingi masyarakat mengembangkan ekowisata berbasis komunitas untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan pariwisata berbasis konservasi.

    Bersama Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kaimana, yayasan itu membantu memastikan keberlanjutan pengelolaan kawasan konservasi seluas hampir 500 ribu hektare yang berperan penting bagi kelestarian lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat.

    Konservasi Indonesia juga bekerja sama dengan aktris Prilly Latuconsina, yang telah menjelajahi Kaimana dan melihat langsung upaya konservasi di daerah itu, untuk membantu mempromosikan ekowisata Kaimana.

    Prilly telah mendatangi tempat menyelam di Teluk Triton seperti Bo’s Rainbow, Larry’s Dive Heaven, dan Christmas Rock serta mengunjungi Teluk Bicari, tempat pertemuan hiu paus dan lumba-lumba.

    Selain itu, dia mengunjungi Danau Ubur-ubur, menyusuri hutan mangrove di Kampung Marsi, dan melihat proses transplantasi terumbu karang di Kampung Namatota.

    Baca: Upaya Pulau Pahawang kembangkan ekowisata berkelanjutan

    “Aku sangat yakin bahwa kabupaten ini adalah surga tersembunyi yang harus kita jaga. Bukan hanya oleh masyarakat setempat, tapi kita semua yang mengunjunginya,” kata dia.

    Kepala BLUD Kaimana Eli Auwe menyampaikan bahwa menurut data Dinas Pariwisata angka kunjungan wisatawan lokal di wilayah Kaimana telah meningkat signifikan dari hanya 86 orang pada 2015 menjadi 1.228 orang pada 2019.

    “Pada rentang tahun yang sama, jumlah wisatawan mancanegara (yang berkunjung) rata-rata mengalami kenaikan 15 persen setiap tahunnya,” katanya.

    “Tahun 2024, BLUD mencatat ada 797 wisatawan asing yang berwisata di dalam kawasan konservasi Kaimana,” ia menambahkan.

    Raja Namatota Randi Asnawi Ombaier mengapresiasi para mitra yang membantu pemerintah daerah dan masyarakat di Kaimana mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

    “Kami jadi bisa melihat ada peluang sumber pendapatan baru dengan memanfaatkan kekayaan alam kami secara bijak yaitu dengan ekowisata,” katanya.

    Raja Namatota siap menyambut kedatangan wisatawan yang ingin menyaksikan keindahan alam serta berpartisipasi dalam upaya perlindungan ekosistem di wilayahnya.

  • Pakar Ingatkan Potensi Ancaman Ekowisata terhadap Ekosistem Padang Lamun

    Pakar Ingatkan Potensi Ancaman Ekowisata terhadap Ekosistem Padang Lamun

    7cloud.asia – Ekowisata di wilayah padang lamun perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan mengingat dampak yang dapat ditimbulkan jika tidak dilakukan pembatasan wisatawan.

    Ikhwal ancaman ekowisata di padang lamun ini diungkapkan pakar kelautan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Donny J. Prihadi dalam diskusi daring diikuti dari Jakarta, Jumat (28/2/2025).

    Donny menyampaikan dalam pelaksanaan ekowisata perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu mendorong kepuasan dan sikap hidup lebih menjaga alam dari pengunjung, mengurangi degradasi lingkungan dan berkontribusi dalam pengembangan lingkungan yang sehat.

    “Perlu ditentukan pula seberapa banyak pengunjung yang diperbolehkan dalam waktu tertentu dengan analisa daya dukung lingkungan sehingga mengetahui jumlah pengunjung yang optimal untuk datang di suatu destinasi wisata,” jelasnya.

    Baca: Restorasi padang lamun di kawasan ekowisata Cuku NyiNyi, Lampung

    Langkah itu diperlukan mengingat padang lamun memiliki peran penting tidak hanya untuk memelihara keanekaragaman hayati tetapi juga berkontribusi dalam penanganan perubahan iklim karena kemampuan menyerap emisi gas rumah kaca.

    Akademisi Unpad itu menambahkan, ekosistem padang lamun di Indonesia menghadapi potensi kerusakan jika tidak dilakukan analisa daya dukung terkait kegiatan wisata.

    “Aktivitas pengunjung ini bisa membuat ekosistem lamun rusak karena mereka tidak tahu bahwa ekosistem lamun itu ekosistem yang cukup penting di daerah intertidal sebagai penahan abrasi dan menjadi rumah beberapa biota laut,” katanya.

    Tidak hanya itu, ekosistem padang lamun juga menghadapi potensi kerusakan akibat kegiatan pembangunan dan juga pencemaran serta aktivitas lainnya yang mengganggu keseimbangan ekologis di lingkungan laut.

    Baca: Peran padang lamun bagi kelestarian ekosistem pesisir

    Dia memberikan contoh berkurangnya luasan padang lamun di wilayah Nusa Lembongan, Bali akibat pembangunan dan budidaya rumput laut di atas ekosistem lamun.

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkirakan Indonesia memiliki sekitar 1,8 juta hektare padang lamun yang kini sedang menjalani tahap akhir validasi pemetaan untuk mengoptimalkan pemanfaatannya dalam perdagangan karbon.

    Sementara itu, analisa data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) per Oktober 2023, luas padang lamun di Indonesia yang telah terverifikasi melalui citra satelit dan verifikasi lapangan adalah 293.464 hektare.

    Padang lamun merupakan suatu ekosistem perairan dangkal yang menjadi tempat hidup bagi berbagai jenis tumbuhan laut berbunga serta beragam jenis ikan, kerang, penyu, kuda laut dan dugong.

    Baca: Ekspor pasir laut mengancam kelestarian ekosistem pesisir

    Ekosistem Lamun ini terbukti secara saintifik mampu memberikan banyak manfaat yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan berbagai makhluk laut.

    Ekosistem lamun ini antara lain berfungsi untuk menjernihkan perairan, mencegah sedimentasi, melindungi pantai dari gelombang ekstrem, hingga menjadi sarana rekreasi.

    Sayangnya, meskipun menyediakan banyak manfaat, ekosistem lamun masih kalah populer dibandingkan ekosistem pesisir lainnya seperti hutan mangrove dan terumbu karang.