7cloud.asia – Elang jawa adalah salah satu spesies elang berukuran sedang dari keluarga Accipitridae dan genus Nisaetus yang endemik di Pulau Jawa.
Elang Jawa inilah yang dijadikan lambang negara Republik Indonesia, dengan sebutan Garuda.
Sesuai namanya, persebaran elang jawa hanya terdapat di sekitar Pulau Jawa. Keberadannya bisa ditemui di Ujung Barat (Taman Nasional Ujung Kulon) sampai ujung timur (Semenanjung Blambangan Purwo) Pulau Jawa.
Tetapi habitat elang jawa hanya terbatas di wilayah hutan primer dan daerah peralihan antara daratan rendah dan pegunungan.
Elang jawa berspesialisasi hidup di kawasan berlereng. Meski memiliki bola mata yang kecil, burung ini mempunyai tatapan tajam untuk menaklukan mangsa.
Baca: Mengenal macan tutul Jawa
Dari atas ketinggian, elang akan mengikuti gerak-gerik mangsa. Lalu dengan sigap dan tangkas, dia akan menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun di atas tanah.
Mulai dari tupai, bajing, kalong, musang sampai anak monyet akan menjadi santapan elang termasuk elang Jawa.
Pada tahun 1898 seorang bernama EP Rillwitz mengirim spesimen elang jawa dari Gunung Gede, Jawa Barat ke Amerika Serikat.
Ia punya kepentingan karena menganggap elang jawa ini istimewa dan berbeda dengan elang yang ditemuinya. Pasalnya elang jawa ini memiliki jambul.
Pada awalnya kurator di museum New York mengindentifikasi sang elang sebagai elang brontok tapi kemudian diketahui berasal dari spesies yang berbeda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia.
Baca: Lestarikan satwa liar nggak harus memiliki
Beberapa tahun belakangan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Cianjur, Jawa Barat berhasil menangkarkan elang jawa yang tergolong langka ini.
Pada Jumat (5/1/2024) TNGPP melepaskan burung Elang Jawa yang diberi nama Kalina setelah menjalani penangkaran di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa di Resort PTN Cimungkad selama dua tahun.
Dilansir Antaranews.com, Kepala Balai Besar TNGGP, Sapto Aji Prabowo mengatakan Kalina Elang Jawa berjenis kelamin betina.
Elang Jawa ini diterima dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat pada pertengahan tahun 2022 selanjutnya dilakukan penangkaran.
“Setelah menjalani rehabilitasi selama puluhan bulan di PPKEJ akhirnya Kalina dapat dilepaskan ke habitat aslinya di Kawasan Gunung Gede Pangrango,” ujar Sapto.
Baca: Kemarau panjang akibat El Nino ancam kehidupan satwa liar
Ia menambahkan, sebelum dilepas kembali ke alam, sempat dilakukan pemeriksaan tim kesehatan bersama Pusat Penyelamatan Elang Jawa.
Tim telah melakukan penilaian perilaku dan survei lokasi hingga dinyatakan Kalina siap untuk dilepaskan kembali ke habitat aslinya di alam yang butuh proses cukup panjang, sehingga ke depan diharapkan dapat berkembang biak.
Sehingga tidak ada lagi Elang Jawa lainnya yang harus menghuni kandang rehabilitasi di taman nasional atau tempat lain.
Pasalnya, tempat mereka hidup dan berkembang biak adalah di alam bebas atau di habitat aslinya di kawasan Gede Pangrango.
Saat ini tercatat ada 8 ekor Elang Jawa yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, keberadaan mereka cukup terjaga.
Baca: El Nino percepat melelehnya salju abadi di puncak Jaya
“Hal ini membuktikan ekosistem hutan Gede Pangrango tetap terjaga sehingga Elang Jawa dapat hidup dan berkembang biak,” katanya.
Dia menambahkan, sepanjang tahun 2023 Balai Besar TNGGP mencatat jumlah anak Elang Jawa di kawasan Gunung Gede Pangrango bertambah menjadi tiga ekor dan kemungkinan akan terus bertambah.
Telur dari Elang Jawa di sarang yang berlokasi di kawasan Cimande Bidang PTN wilayah III itu pertama kali terpantau pada 27 Agustus dan menetas sekitar 3 September 2023.
Tim monitoring mendapati telur tersebut dalam proses pengeraman dan diketahui telah menetas, sehingga jumlah Elang Jawa muda di kawasan Gunung Gede Pangrango yang semula dua ekor bertambah menjadi tiga ekor.
Baca: KLHK temukan sejumlah spesies baru di hutan Papua
Sebelumnya dua ekor anak Elang Jawa yang menetas di kawasan Gunung Gede Pangrango pada 3 Juni 2023 di Resort PTN Cibodas dan tanggal 13 Juni 2023 di Resort PTN Tapos.
Sedangkan yang terbaru, anak elang jawa menetas tanggal 3 September 2023 di Resort PTN Cimande.
Sapto memperkirakan jumlah anak Burung Garuda itu akan terus bertambah karena beberapa waktu lalu tim monitoring menemukan ada 10 sarang lainnya yang terdapat telur.
Sehingga pemantauan akan terus dilakukan sambil menunggu proses pengeraman,” kata Sapto.
