7cloud.asia – Jelang peringatan Hari Sumpah Pemuda pada Oktober mendatang, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan menginisiasi kampanye bhinneka melalui Festival Bulan Bahasa.
Festival Bulan Bahasa ini menghadirkan empat ibu pelestari budaya yang mewakili ratusan keragaman dan kekayaan bahasa ibu Nusantara yang menjadi bagian keragaman budaya perempuan di Nusantara.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua Komnas Perempuan Olivia Salampessy mengatakan, Festival Bulan Bahasa ini sebagai upaya untuk merawat ingatan kolektif bangsa atas pengetahuan masyarakat pada tradisi dalam menjaga kebhinekaan.
“Termasuk membangun narasi untuk pendidikan publik dengan menggali, mengenali identitas kekayaan dan keragaman budaya bangsa,” katanya di Jakarta, Jumat (26/7/2024)
Olivia menambahkan, perempuan punya peran penting dalam merawat bahasa Ibu Nusantara baik dalam seni tradisi dan ritual budaya, transformasi nilai-nilai luhur dalam laku sehari-hari.
Baca: Kemendikbud identifikasi 718 bahasa daerah di Indonesia
Indonesia, lanjutnya, merupakan salah satu negara yang memiliki ragam bahasa paling banyak di dunia yang lahir dari embrio keragaman dengan lebih dari 300 etnis.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), ada 718 bahasa lokal dan dialek, menjadi identitas yang dicerminkan 270 juta jiwa penduduk.
“Kampanye ini menjadi salah satu strategi untuk mengajak publik, terutama generasi muda sehingga dapat menjadi penerus rantai budaya luhur yang ramah terhadap perempuan yang akan digulirkan di seluruh Nusantara,” imbuh Olivia.
Pada kesempatan ini, Komnas Perempuan menampilkan para perempuan pelestari budaya yang merupakan srikandi di komunitasnya dalam merawat berbagai tradisi budaya, melalui ragam bahasa nusantara yang dikenal melalui sastra, mantra, tembang, gurindam, mocopat, syair-yair dan pantun serta ragam bahasa lainnya.
Ragam bahasa ibu nusantara ini menjadi bukti bahwa bahasa Ibu Nusantara merupakan warisan kebudayaan yang memosisikan perempuan sebagai orang-orang terpilih.
Baca: Mengapa milenial tinggalkan bahasa daerah?
Salah satu syair yang dinyanyikan perempuan Simeleu di Aceh misalnya, merupakan bentuk dan pengetahuan lokal masyarakat setempat bagaimana alam memberikan tanda-tandanya jika akan ada bencana Tsunami.
Dari daerah timur, ada masyarakat adat Gerena Kauh yang memiliki syair suci dalam ritual tarian untuk menolak wabah dan bahaya bencana alam, serta harapan syukuran untuk panen hasil bumi yang melimpah, dengan syairnya hanya dilantunkan perempuan, yang dikenal sebagai Gending Sahyang Dedari.
Komnas Perempuan memandang penting untuk memberikan narasi kepada publik, bagaimana perempuan memainkan peran penting dalam merawat kebhinnekaan melalui tradisi-tradisi yang bersumber dari nilai-nilai luhur melalui bahasa ibu Nusantara.
Bahasa ibu merupakan bahasa budaya, pengetahuan, dan rasa yang memiliki landasan filosofis dan bahkan profan. Bahasa ibu Nusantara merupakan akar peradaban Nusantara.
“Sayangnya pengetahuan tentang ini di Indonesia sangat terbatas. Merawat karakter kebangsaan, merayakan keberagaman menjadi gerakan yang amat penting,” ujar Olivia.
Baca: Separuh dari bahasa lokal dunia terancam punah
Dengan merawat bahasa ibu Nusantara, Komnas Perempuan berupaya menghapuskan bentuk-bentuk penyeragaman, stigma, bias dan diskriminatif terhadap perempuan.
Kampanye bahasa Ibu Nusantara digagas oleh Komnas Perempuan sebagai salah satu bentuk kampanye bhinneka atau keberagaman yang diselenggarakan komnas perempuan sejak tahun 2012.
Sebelumnya Komnas Perempuan telah menyelenggarakan Festival Penutup Kepala Nusantara yang menggali kekayaan pandangan, filosofi dan budaya penutup kepala nusantara yang digunakan perempuan.
Komnas Perempuan juga menggagas festival Sesaji Nusantara di tahun 2023, dimana kekayaan ritual doa, dan sesaji juga menjadi bagian penting yang diperankan perempuan, dalam merawat hubungan secara sosial maupun dengan alam semesta, serta dengan Sang Pencipta.
