7cloud.asia – Memperingati Hari Tanpa Sampah Sedunia (Zero Waste Day), Program Lingkungan PBB (UNEP) menyerukan warga dunia untuk mengurangi limbah makanan.
Dilansir di laman resmi unep.org, Direktur Eksekutif UNEP, Inge Andersen mengatakan, Hari Tanpa Sampah Sedunia pertama kali diperingati tiga tahun lalu, dan difasilitasi oleh UNEP dan UN Habitat.
Dalam perjalanannya, Hari Tanpa Sampah Sedunia telah mengedepankan aksi berani dalam memikirkan kembali bagaimana kita memproduksi, mengonsumsi, dan mengelola sumber daya yang ada.
Dalam kesempatan itu, Inge menegaskan bahwa peringatan Hari Tanpa Sampah Sedunia tahun ini diperingati di tengah krisis yang mendesak dan dapat dicegah, yakni pemborosan yang memicu limbah makanan.
Pada tahun 2022 saja, satu miliar ton makanan –hampir 20 persen dari makanan yang tersedia untuk pengecer, layanan makanan, dan rumah tangga – dibuang.
“Ini di atas 13 persen makanan yang hilang sebelum sampai ke pengecer. Sementara itu, ratusan juta orang menghadapi kelaparan,” ujar Inge dalam sambutannya di peringatan Hari Tanpa Sampah Sedunia.
Baca: Studi mengungkap kurangi limbah makanan efektif menahan laju krisis iklim
Konsekuensi limbah makanan ini sangat luas. Kehilangan dan pemborosan makanan menghasilkan 8-10 persen emisi gas rumah kaca global.
Pemborosan ini merupakan sumber emisi metana, sebagian besar berasal dari sampah organik yang membusuk di tempat pembuangan sampah.
Ditegaskannya, metana lebih dari 80 kali lebih kuat daripada CO₂ dalam jangka pendek. Mengurangi emisi dari limbah makanan, ujar Inge, akan memperlambat laju pemanasan global pada pertengahan abad ini.
Dia mengingatkan, jika kita tidak membuang dan kehilangan makanan dari pertanian hingga ke meja makan, kita tidak akan membuang semua input – tanah, air, energi, dan upaya para petani.
peringatan Hari Tanpa Sampah Sedunia ini berlangsung di tengah percepatan perubahan iklim, meningkatnya deforestasi, kelangkaan air, meluasnya degradasi lahan dan penggurunan, serta kenaikan harga pangan.
Karena itu, masyarakat dunia diingatkan untuk tidak membuang sumber daya berharga untuk menanam makanan yang tidak dimakan.
Baca: UNEP luncurkan inisiatif untuk kurangi limbah makanan
“Dan kita tentu tidak mampu menanggung kerugian sebesar 1 triliun dolar per tahun yang ditimbulkan oleh kehilangan dan pemborosan makanan bagi perekonomian global,” imbuhnya.
Inge menegaskan kehilangan dan pemborosan akibat sampah makanan ini dapat diatasi. Jepang dan Inggris telah menunjukkan hal ini, dengan mengurangi pemborosan makanan masing-masing sebesar 53 persen dan 22 persen.
Untuk mencapai dan melampaui tingkat tersebut di setiap negara, ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah nasional, pemerintah daerah, dan bisnis makanan.
Inge menyebut beberapa langkah yang bisa dilakukan, seperti kampanye perubahan perilaku konsumen, dan program literasi pangan di sekolah-sekolah.
Keterlibatan sektor ritel dan perhotelan dapat ditingkatkan melalui pemberian diskon pada produk yang mendekati tanggal kedaluwarsa, peningkatan manajemen stok, dan penawaran makan tanpa limbah.
Baca: Limbah makanan dapat memicu masalah serius pada lingkungan
Reformasi label tanggal untuk mengurangi kebingungan antara label “baik sebelum” dan “gunakan sebelum”. Alat digital dan sistem data yang membantu bisnis memprediksi permintaan dan mengoptimalkan inventaris.
Program Food Waste Breakthrough yang dipimpin UNEP, bersama Brasil, Jepang, dan Inggris, lanjutnya, bertujuan untuk mengurangi separuh limbah makanan dan memangkas emisi metana hingga 7 persen.
Program Food Waste Breakthrough ini berfokus pada banyak langkah tersebut di kota-kota dan bisnis makanan.
Memperluas kemitraan dengan bank makanan, badan amal, dan organisasi komunitas dapat secara signifikan mengurangi limbah dan memberi makan mereka yang membutuhkan adalah cara lain untuk mengurangi sampah makanan.
Pemerintah dapat mendukung upaya tersebut melalui perlindungan tanggung jawab, insentif fiskal, dan pedoman donasi makanan yang jelas. Bisnis dapat membangun kemitraan donasi terstruktur untuk memastikan redistribusi makanan berlebih yang aman dan efisien.
