Tag: fosil

  • BMKG: Perlu Transisi Sumber Energi Atasi Suhu Bumi yang Semakin Panas

    BMKG: Perlu Transisi Sumber Energi Atasi Suhu Bumi yang Semakin Panas

    7cloud.asia – Suhu bumi semakin panas. Perlu transisi penggunaan sumber energi berbahan bakar fosil ke sumber energi hijau untuk mengatasinya.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati seperti yang dikutip Antaranews.

    Menurut Dwikorita, sejak 2000 sampai 2023 telah terjadi kenaikan suhu bumi rata-rata 0,3 derajat celcius yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca (CO2) dari bahan bakar fosil seperti batubara, bensin dan sejenisnya.

    “Krisis ini nyata bila tidak ada perubahan dalam sepuluh tahun ke depan atau kurang dari itu, suhu bumi diprediksi bisa lebih panas lagi dengan peningkatan rata-rata mencapai 3,5 derajat celcius,” jelas Dwikorita.

    Lebih lanjut Dwikorita menjelaskan, BMKG menemukan adanya kenaikan luar biasa konsentrasi CO2 di atmosfer sebagai penyebab kenaikan suhu bumi.

    Berdasarkan pengukuran yang dilakukan pada Mei 2020-2022 di kawasan hutan Bukit Kototabang, Palu, dan Sorong yang secara umum mengalami kenaikan konsentrasi CO2 setiap tahunnya.

    Dalam kurun waktu tersebut, laju peningkatan rata-rata paling tinggi terjadi di Bukit Kototabang dengan nilai 3,12 ppm per tahun.

    Sedangkan laju peningkatan rata-rata di Palu dan Sorong berturut-turut sebesar 2,2 ppm per tahun dan 1,8 ppm per tahun.

    Diketahui, setiap tahun konsentrasi CO2 di atmosfer meningkat 3,12 bagian per juta.

    Satu ppm (part per million) adalah satu bagian dari sesuatu yang terkandung dalam satu juta bagian lainnya. Jadi, berarti ada 3,12 bagian CO2 dalam satu juta bagian atmosfer.

    Selain adanya fenomena El Nino, peningkatan suhu tersebut semakin memperparah kekeringan ekstrem yang sedang melanda Indonesia saat ini.

    Akibat kekeringan tersebut sejumlah wilayah di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Nusa Tengggara dan Sulawesi mengalami kesulitan air bersih dan penurunan produktivitas pertanian.

    “Faktanya ancaman kekeringan di Indonesia yang diprakirakan berlangsung hingga Januari-Maret 2024 ini baru sebagian pendahuluan. Jika kenaikan suhu global tidak dikendalikan, maka ancaman kekeringan akan semakin parah di masa depan,” ungkapnya.

    Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), jika kenaikan suhu global mencapai 3,5 derajat Celsius, maka akan terjadi krisis pangan global.

    Hal ini akan berdampak pada 500 juta petani skala kecil yang memproduksi 80 persen pangan dunia tak terkecuali Indonesia.

    Karena itu, lanjut Dwikorita untuk mengurangi risiko kekeringan dan krisis pangan, perlu ada perubahan gaya hidup dengan beralih secara keseluruhan menggunakan energi hijau yang ramah lingkungan tak memproduksi CO2.

    Reporter: Nurakhmayani