Tag: gagal panen

  • Ratusan Haktare Sawah di Bombana, Sulawesi Tenggara Gagal Panen Akibat Kekeringan

    Ratusan Haktare Sawah di Bombana, Sulawesi Tenggara Gagal Panen Akibat Kekeringan

    7cloud.asia – Ratusan hektare tanaman padi sawah tadah hujan maupun irigasi di Kecamatan Lantari Jaya, Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara (Sultra) gagal panen akibat kekeringan yang melanda wilayah itu.

    Sejumlah petani di Desa Tanah Bite Kecamatan Lantari Jaya, Selasa (10/10/2023), menyebutkan dari luas 696 areal padi sawah tadah hujan di wilayah itu, sekitar 300 hektare lebih yang gagal panen alias tak mendapatkan hasil apa-apa.

    “Tanaman padi tahun ini gagal total (puso), karena usia tanaman padi baru menanjak satu dan dua bulan masuk musim kering. Sehingga tanaman baru akan memulai berbuah tidak lagi ada air hujan, akibatnya alami kekeringan,” ujar Undin petani di Bombana.

    Baca: Dampak El Nino,produksi beras bisa minus 1,2 juta ton

    Hal senada diungkapkan Anton, yang memiliki areal sawah 1,5 hektare mengaku masih sempat mendapatkan hasil panen 10 karung gabah, karena lebih awal menanam padi dan masih sempat mendapat air hujan saat itu.

    “Produksi panen secara normal rata-rata 5-7 ton per hektare. Namun dengan kemarau panjang yang hanya mengharapkan air dari langit, tahun ini gagal total,” ujarnya.

    Petugas Penyuluh Pertanian Kecamatan Lantari Jaya, Jamaluddin Usman yang dikonfirmasi terpisah mengatakan kegagalan panen akibat musim kemarau panjang tahun ini hampir merata di wilayah Bombana.

    Baca: Antisipasi dampak El Nino pemerintah impor beras dalam jumlah besar

    Ia mengatakan, dari sembilan desa di kecamatan Lantari Jaya, yang alami gagal panen terparah di Desa Tanah Bite.

    Daerah itu memang sulit untuk mendapatkan air, meskipun sudah dicoba membuat sumur bor tapi lagi-lagi gagal untuk mendapatkan mata air, dan hanya mengharapkan air tadah hujan.

    “Kalau di beberapa desa lainnya, masih sempat panen namun produksi bervariasi. Ada yang masih panen di atas 5-6 ton karena selain musim tanam nya lebih cepat, juga dibantu dengan sumur pompa yang ada di beberapa titik di wilayah itu,” ujarnya.

    Baca: El Nino ancam produksi pangan nasional

    Lebih Jauh Jamaluddin mengatakan, gagal panen yang dialami petani sawah versi pertanian adalah bila hanya mendapatkan hasil produksi di bawah 20 persen dari produksi normal.

    “Jadi petani yang hanya mendapatkan padi (gabah) 10-15 karung per hektare itu sudah dikategorikan gagal panen,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews

  • Ribuan Hektare Sawah di Jawa Tengah Terancam Gagal Panen Akibat Banjir

    Ribuan Hektare Sawah di Jawa Tengah Terancam Gagal Panen Akibat Banjir

    7cloud.asia – Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah menyebutkan ribuan hektare lahan pertanian di sejumlah kabupaten terancam mengalami gagal panen akibat banjir yang menerjang areal persawahan.

    Kepala Distanbun Jateng Supriyanto di Semarang, Selasa (19/3/2024), menyampaikan lahan pertanian yang tergenang banjir itu berada di Kabupaten Grobogan, Demak, Kudus, Jepara dan Pati.

    Berdasarkan data per 15 Maret 2024, kata dia, tercatat 4.381 ha lahan tanaman padi di Kabupaten Grobogan terdampak banjir dengan umur tanaman padi 5-100 hari setelah tanam (HST).

    “Lahan jagung seluas 152 ha juga terdampak banjir di Grobogan. Komoditas bawang merah juga. Lahan yang terkena banjir seluas 84 ha,” katanya.

    Baca: Atasi banjir di Jawa Tengah BNPB lakukan modifikasi cuaca 

    Untuk Demak, ia menyebutkan setidaknya 162 ha lahan padi tergenang banjir dengan umur padi 10-90 HST, kemudian lahan bawang merah seluas 765,76 ha juga terdampak banjir.

    Di Kabupaten Kudus, kata dia, sebanyak 2.776 hektare lahan padi dengan umur 10 hingga 90 HST terdampak banjir, kemudian sejumlah komoditas lainnya, seperti melon dan cabai.

    “Ada 63 hektare lahan tanaman melon dan empat ha lahan cabai yang terdampak (banjir) di Kudus,” katanya.

    Baca: Banjir meluas ribuan warga Demak harus mengungsi

    Sedangkan di Jepara, lanjut dia, tercatat lahan padi seluas 1.989 ha dengan umur 30 hingga 80 HST yang tergenang banjir.

    Namun, Supriyanto mengatakan bahwa dampak terparah terhadap lahan pertanian sebenarnya adalah Pati, yakni sebanyak 6.961,4 ha lahan padi di Pati tergenang banjir.

    “Di Pati ada 6.961,4 ha lahan padi yang terdampak dengan umur padi 10-80 HST. Ada juga lahan jagung dengan luas 153,1 ha tergenang di Pati,” katanya.

     

    Baca: Cuaca ekstrem makin sering terjadi

    Data tersebut, kata dia, dimungkinkan masih terus berkembang, mengingat banjir yang belum surut di wilayah tersebut sehingga belum bisa dipastikan puso atau kerusakan lahan akibat banjir.

    Mengenai penyebab banjir, ia menjelaskan intensitas hujan yang tinggi menjadi salah satu penyebab banjir yang berdampak pada lahan pertanian di pesisir utara Jawa Tengah.

    “Selain itu, ada sungai yang tidak bisa menampung air dan tanggul Sungai Lusi jebol lagi. Kami masih melakukan pendataan dan fasilitasi sarana penanganan banjir,” pungkasnya.

  • Sekitar 200 Hektare Lahan Persawahan di NTB Gagal Panen Akibat Kekeringan

    Sekitar 200 Hektare Lahan Persawahan di NTB Gagal Panen Akibat Kekeringan

    7cloud.asia – Dinas Pertanian dan Perkebunan Nusa Tenggara Barat (NTB) mengungkapkan sekitar 200 hektare lahan pertanian di provinsi itu gagal panen akibat kekeringan.

    “Yang gagal panen itu kita hitung ada 1,62 persen atau sekitar 1.400 ton. Kalau dikonversi luas lahan yang terdampak itu ada 200 hektare dari total 242 ribu hektare luas area tanam di NTB,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Taufieq Hidayat di Mataram, Jumat (18/10/2024)

    Ia mengakui meski ada sekitar 200 hektare lahan pertanian yang mengalami gagal panen akibat kekeringan, hal itu belum sampai mengganggu ketersediaan atau stok pangan di NTB.

    Sebab, di triwulan ketiga, produksi lahan pertanian yang sudah panen sebanyak 1,262 juta ton gabah kering giling (GKG) dari target produksi yang ditetapkan pemerintah sebanyak 1,4 juta ton lebih.

    “Artinya, kalau melihat jumlah panen kita sudah sangat mencukupi ketersediaan pangan. Karena, kebutuhan daerah kita sekitar 962 ribu ton gabah kering giling,” ujarnya.

    Baca: Brasil alami kekeringan terburuk dalam 70 tahun terakhir

    Taufieq menambahkan walaupun ada gagal panen, hal itu bisa ditutupi dengan tambahan areal tanam seluas 54 ribu hektare dan yang dimanfaatkan ada sekitar 36 ribu hektare.

    “Meski gagal panen, kita terbantu dengan adanya program pompanisasi 4.100 unit dari Kementerian Pertanian yang dikirim ke NTB, sehingga kekeringan yang meluas tidak berpengaruh terhadap target produksi padi kita. Karena, dengan adanya pompanisasi, yang tadinya menanam satu kali bisa menjadi dua kali, dari yang dua kali bisa menanam tiga kali,” kata Taufieq Hidayat.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebanyak empat daerah di NTB berada para level awas kekeringan meteorologi dampak musim kemarau 2024.

    Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiani mengatakan berdasarkan monitoring, analisis dan prediksi curah hujan dasarian, terdapat indikasi kekeringan meteorologi (iklim) sebagai dampak dari kejadian hari kering berturut-turut dengan potensi waspada, siaga dan awas.

    “Level awas ada empat daerah, yakni di Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Kabupaten Lombok Timur,” katanya

    Baca: WMO ingatkan perubahan iklim memicu bencana ekologis

    Sementara untuk wilayah level waspada di Kota Bima dan level siaga kekeringan berpotensi di sebagian wilayah Kabupaten Bima.

    “Memasuki periode peralihan musim ini, waspada bencana hidrometeorologis,” katanya.

    Hasil monitoring indeks IOD dan ENSO pada akhir September 2024, Indeks Dipole Mode menunjukkan angka -0.10 (Netral), dan indeks ENSO bernilai -0.48 (Netral). IOD Netral diprediksi berlangsung hingga awal tahun 2025.

    Sementara itu, ENSO diprediksi berpotensi menuju La Nina mulai Oktober 2024. Aliran massa udara pada pertengahan September 2024 masih didominasi oleh angin timuran.

    “Saat ini Madden Julian Oscillation (MJO) terpantau tidak aktif di phase 4 dan 5. MJO diprediksi tetap tidak aktif setidaknya awal Oktober 2024,” katanya.

    Saat ini seluruh wilayah NTB masih dalam periode musim kemarau, masyarakat NTB diimbau agar dapat menggunakan air secara bijak, efektif dan efisien.

    Sumber:Antaranews.com

  • Kementan Diminta Percepat Mitigasi El Nino

    Kementan Diminta Percepat Mitigasi El Nino

    7cloud.asia – Kementerian Pertanian (Kementan) diingatkan untuk mempercepat langkah mitigasi untuk menghadapi potensi dampak El Nino pada musim kemarau 2026.

    Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR, Alex Indra Lukman antisipasi yang dilakukan sejak dini menjadi kunci menjaga produksi pangan nasional dan mencegah meluasnya gagal panen di berbagai daerah.

    Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama pejabat Eselon I Kementerian Pertanian di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026), Alex menegaskan pengalaman menghadapi El Nino pada 2015 harus menjadi pelajaran penting.

    Saat itu, luas lahan pertanian yang mengalami puso mencapai sekitar 217 ribu hektare, jauh lebih besar dibandingkan dampak El Nino pada 2023 maupun kondisi yang terjadi saat ini.

    Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memprioritaskan penguatan infrastruktur sumber daya air sebagai langkah utama menghadapi musim kemarau.

    Baca: El Niño Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    “Optimalisasi infrastruktur sumber daya air, antara lain rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan dan pemanfaatan embung, sumur bor, irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, serta relokasi pompa air ke wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan juga harus diutamakan,” ujar Alex.

    Selain memperkuat infrastruktur, Alex juga menyoroti proyeksi perkembangan fenomena El Nino dan La Nina hingga Maret 2027.

    Berdasarkan data tersebut, kondisi iklim diperkirakan masih berada pada fase El Nino dengan intensitas lemah hingga sedang.

    Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat berbagai langkah mitigasi sebelum dampaknya meluas.

    Ia juga mendorong percepatan distribusi berbagai sarana produksi pertanian, terutama bagi wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kekeringan.

    Baca: WMO Peringatkan El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    “Antisipasi juga diperlukan dengan cara akselerasi distribusi sarana produksi pertanian, antara lain benih atau bibit, pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga pakan ternak, khususnya bagi daerah yang berisiko tinggi terdampak El Nino,” katanya.

    Di sisi lain, Alex mengingatkan pentingnya memperkuat sistem peringatan dini berbasis data dari BMKG.

    Berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau 2026 telah dimulai sejak April di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan secara bertahap meluas ke berbagai daerah, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.

    Menurutnya, pemetaan wilayah rawan kekeringan harus dilakukan secara cepat dan akurat agar pemerintah dapat memantau perkembangan produksi pangan nasional sekaligus mengambil langkah penanganan secara tepat waktu.

    “Memperkuat sistem peringatan dini berbasis data BMKG, dan melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan secara tepat waktu, sehingga perkembangan produksi pangan nasional dapat terpantau,” pungkasnya.