Tag: gajah

  • Tak Usah Kaget Ketika Gajah Sumatera Melintasi Tol Pekanbaru-Dumai

    Tak Usah Kaget Ketika Gajah Sumatera Melintasi Tol Pekanbaru-Dumai

    7cloud.asia – Ada pemandangan menarik di jalan Tol Pekanbaru-Dumai Kilometer 81. Seekor gajah sumatera (Elephans maximus sumatranus) liar tampak melintas di jalan tol tersebut.

    Diduga gajah tersebut baru kembali dari kantong gajah Giam Siak Kecil menuju kantong Balai Raja setelah selesai masa kawin.

    Sementara itu, Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Ujang Holisudin menjelaskan berdasarkan hasil identifikasi, gajah yang melintas namanya Getar.

    Baca: Mitigasi dampak perubahan iklim dan el nino pada satwa liar

    Gajah ini, lanjut Ujang, merupakan salah satu gajah liar jantan yang habitatnya ada di Suaka Margasatwa Balai Raja.

    “Seperti gajah Codet, Getar memiliki kebiasaan bermigrasi ke kantong Giam Siak Kecil sehingga pada saat tertentu kembali ke kantong Balai Raja,” jelasnya seperti yang dikutip Antaranews Senin (20/11/2023).

    Lebih jauh Ujang menjelaskan kejadian ini bukanlah yang pertama kali terjadi di tol tersebut.

    Baca: Pro kontra konservasi satwa liar dengan ex situ

    Sebab, sepanjang 4 kilometer jalan Tol Pekanbaru-Dumai memang merupakan jalur perlintasan gajah.

    Menurutnya hingga saat ini sudah lebih dari tiga kali gajah liar terlihat melintas di jalan Tol Pekanbaru-Dumai.

    Sebelumnya BBKSDA bersama dengan PT Hutama Karya telah melakukan pengayaan tanaman yang menjadi pakan gajah di underpass untuk memancing gajah agar tidak melintasi jalan tol.

    Baca: marak perburuan satwa liar wwf tunggu langkah konkret pemerintah

    “Kami juga telah merekomendasikan kepada pihak Hutama Karya untuk membangun pagar yang lebih representatif lagi agar gajah tidak bisa menyeberang,” jelasnya.

    Ganjah yang melintas tol ini tak hanya kali ini saja terjadi di kawasan ini.

    Pada 14 Februari 2022, seekor gajah bernama Codet menyeberangi Jalan Tol Pekanbaru-Dumai tepatnya di kilometer 73.

    Baca: Burung kakatua makin terancam karena perburuan liar

    Gajah itu berjalan dari Giam Siak Kecil menuju Balai Raja untuk mencari pasangannya.

    Saat itu, Codet menyeberang jalan tol setelah mendobrak pagar pembatas jalan hingga akhirnya sampai di ujung jalan.

    Gajah tersebut terpaksa melintas jalan tol karena lintasan khusus baginya berupa terowongan yang dibuat di bawah jalan tol sedang dilanda banjir.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Konflik Gajah Liar Versus Manusia di Bener Meriah Aceh, Karena Habitat Rusak?

    Konflik Gajah Liar Versus Manusia di Bener Meriah Aceh, Karena Habitat Rusak?

    Foto: Konfrontasi

    7cloud.asia – Tim Pengamanan Flora Fauna (TPFF) bersama masyarakat menggiring 25 ekor gajah liar yang masuk ke pemukiman penduduk di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, untuk kembali ke habitatnya.

    Hal itu dilakukan karena kawanan gajah liar tersebut merusak pemukiman dan lumbung masyarakat, sehingga warga kesulitan secara ekonomi dan hidup dalam ketakutan.

    Dilansir Antaranews.com, gajah-gajah liar itu digiring ke wilayah kawasan lindung hutan Genengan, karena di situ koridor gajah.

    ‘Koridor gajah ini membentang dari Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, dan Pidie Jaya,” kata Koordinator Tim Pengamanan Flora Fauna Karang Ampar-Bergang Aceh Tengah, Muslim, di Aceh Tengah, Senin (4/12/2023).

    Sebelum penggiringan pihaknya berkonflik telah meminta bantuan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh untuk membantu membawa keluar gajah dari pemukiman pada 29 November 2023.

    Baca: Melihat gajah liar di tol, hanya ada di Sumatera

    BKSDA berjanji akan turun bersama tim resort Aceh Tengah untuk menggiring gajah-gajah liar ini setelah dua hari audiensi.

    ‘Namun sampai kami kembali ke kampung, ternyata tim BKSDA masih belum turun ke desa,” katanya.

    Lebih lanjut Muslim menyatakan gajah liar sudah sering masuk ke pemukiman penduduk, merusak rumah dan ladang masyarakat yang tinggal di Bener Meriah dan Aceh Tengah atau di aliran DAS Peusangan.

    Pihaknya bersama warga hampir setiap tahun melakukan penghalauan, namun kurang berhasil.

    Menurutnya, peristiwa masuknya gajah ke pemukiman masyarakat sudah terjadi sejak tahun 2002 dan makin masif dalam 10 tahun terakhir.

    Baca: Pro kontra pelestarian satwa liar dengan pola ex situ

    Hal itu terjadi, kata dia, karena perizinan lahan Hak Guna Usaha (HGU) di Bireuen yang merusak habitat gajah, sehingga gajah mencari jalan lain sebagai tempat hidup dan mencari makan.

    Warga yang bekerja sebagai petani dari hasil hutan bukan kayu, sehingga sudah tahu di mana ada wilayah koridor gajah.

    ‘Jadi, ini karena izin besar-besaran HGU di Bireuen yang mengakibatkan lahan gajah tidak ada lagi di tempat itu dan akhirnya masuk ke Aceh Tengah dan Bener Meriah,” kata Muslim.

    Konflik gajah versus manusia di dataran tinggi Gayo (Bener Meriah dan Aceh Tengah) sudah berlarut-larut.

    Interaksi negatif antara gajah dengan manusia di sana telah berlangsung  belasan tahun lamanya.

    Baca: Menyaksikanmekarnya bunga raflesia arnoldii

    Beberapa kepala desa mengungkap sejumlah masalah yang terjadi akibat konflik gajah versus manusia dalam konferensi yang berlangsung di Walhi Aceh, Kamis (30/11/2023).

    Kepala Desa Musara 58, Farid Wazdi, mengeklaim bahwa konflik gajah versus manusia berdampak pada 15 desa di Kecamatan Pinto Rime Gayo dan 20 lagi desa di Aceh Tengah.

    Kondisi ini ikut menganggu keberlangsungan pendidikan anak-anak desa setempat.

    Banyak anak-anak yang enggan pergi ke sekolah karena riskan, sebab gajah kerap melintas di jalur yang mereka lewati.

    “Karena jarak rumah ke sekolah itu ada yang dua kilometer berjalan kaki. Kalaupun diantar sama orang tuanya, orang tuanya juga takut kalau kita naik motor, gajah menyeberang,” kata Farid Wazdi seperti dikutip Liputan6.com

    Baca: Greenpeace minta Jokowi tak tutup mata atas kerusakan lingkungan akibat food estate

    Menurut Kepala Desa Negeri Antara, Riskanadi, pernah suatu hari anak-anak batal masuk sekolah karena pekarangan rumah sekolah tiba-tiba dimasuki oleh gajah liar.

    Sebelumnya, Riskanadi, mengatakan bahwa sebagian besar warga di desa berhenti berkebun dan memilih bekerja sebagai buruh di perusahaan karena .

    Namun, pekerjaan sebagai buruh harian lepas di perusahaan dengan upah rendah juga berdampak pada ketaksanggupan para orang tua untuk membiayai anak-anak mereka sekolah

    Riskanadi mengatakan bahwa desanya bukan merupakan lintasan gajah liar sehingga tidak mungkin mereka terlibat konflik dengan gajah karena alasan koridor satwa lindung itu terganggu.

     

    Untuk mengakhiri konflik manusia dan gajah yang berlarut-larut, Tim Pengamanan Flora Fauna mengusulkan adanya Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) atau Taman Hutan Raya (Tahura) seluas 10.000 hektare yang meliputi bentang alam antara Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Bireuen.

     

  • Kekeringan Akibat El Nino Picu Kematian Gajah Liar di Zimbabwe

    Kekeringan Akibat El Nino Picu Kematian Gajah Liar di Zimbabwe

    7cloud.asia – Puluhan gajah ditemukan mati kehausan di Taman Nasional Hwange yang populer di Zimbabwe ketika negara itu dilanda kekeringan akibat fenomena El Nino dan perubahan iklim.

    Insiden itu membuat khawatir para pegiat konservasi lingkungan. Jumlah gajah yang mati dikhawatirkan akan terus bertambah karena kekeringan yang masih berlangsung

    Kematian massal gajah liar ini tak lepas dari fenomena cuaca El Nino ​​​​​​yang ​mengakibatkan cadangan air menipis dan lubang air mengering.

    El Nino memicu cuaca yang lebih panas dan lebih kering sepanjang tahun, kata ahli cuaca setempat.

    Baca: Kemarau panjang akibat El Nino ancam kehidupan satwa liar

    Antaranews.com mengutip reuters menyebut, fenomena cuaca global musiman itu menjadi sorotan pada forum COP 28 tentang aksi penanganan iklim di Dubai.

    Hwange tidak dilintasi aliran sungai yang besar dan hewan-hewan bergantung pada sumur bor bertenaga surya, kata pejabat Otoritas Taman dan Satwa Liar Zimbabwe (Zimparks).

    “Kami mengandalkan lubang air buatan karena air permukaan menyusut. Karena gajah sangat bergantung pada air, kami terus mencatat kematian akibat kekeringan ini,” kata ahli ekologi Taman Nasional Hwange, Daphine Madhlamoto, 

    Populasi gajah di Hwange mencapai 45.000 ekor dan gajah-gajah dewasa membutuhkan 200 liter air per hari.

    Baca: El Nino percepat melelehnya salju abadi di Puncak Jaya

    Namun, karena sumber air semakin berkurang, pompa air bertenaga surya di 104 sumur bor tidak sanggup menyediakan air yang cukup.

    Reuters melihat puluhan bangkai gajah bergelimpangan di dekat lubang air. Pejabat taman nasional itu mengatakan ada gajah yang mati di semak-semak sehingga menjadi santapan singa dan burung pemakan bangkai.

    “Taman ini telah menyaksikan dampak dari perubahan iklim. Curah hujan semakin berkurang,” kata Madhlamoto.

    Musim hujan di Zimbabwe berlangsung dari November hingga Maret, tetapi tahun ini hampir tidak ada hujan.

    Baca: Mengenal Hari Terancam Punah Sedunia

    Kemarau di sana diperkirakan akan berlanjut hingga 2024, menurut badan meteorologi setempat.

    Zimparks mengatakan para hewan terpaksa berjalan jauh untuk mencari air dan makanan, dan beberapa kawanan menyeberang ke Botswana.

    Kelompok-kelompok konservasi berusaha menyediakan tambahan air dengan mengeruk lubang dan memompa lebih banyak air melalui sumur bertenaga surya.

    Zimbabwe menjadi habitat bagi hampir 100.000 ekor gajah, tetapi kapasitas air di negara itu hanya cukup memberi minum sekitar 50.000 gajah sehingga taman-taman nasional di sana kewalahan.

    Sumber: Antaranewscom

  • SOS! Gajah Kalimantan Terancam Punah Masuk Daftar Merah IUCN Akibat Alih Fungsi Hutan

    7cloud.asia – Kabar kurang menggembirakan bagi pemerhati lingkungan Indonesia. Gajah Kalimantan secara resmi diklasifikan terancam punah dalam daftar merah International Union for the Conservation of Nature (IUCN).

    Menurut asesmen yang dilakukan IUCN, populasi gajah Kalimantan yang tergolong terkecil di dunia tersebut kini tinggal kurang dari 1.000 ekor.

    Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) adalah subspesies dari gajah asia dan dapat ditemukan di Kalimantan Utara dan Sabah.

    Dikutip wikipedia, penelitian DNA mitokondria yang dilakukan Pada tahun 2003 menemukan bahwa leluhur gajah kalimantan terpisah dari populasi daratan selama masa pleistosen,

    Saat itu jembatan darat yang menghubungkan Kalimantan dengan kepulauan Sunda menghilang 18.000 tahun yang lalu.

    Baca Juga: Jelang Hari Keanekaragaman Hayati: Lebih dari 44.000 Spesies Terancam Punah dari Muka Bumi.

    Spesies ini kini berstatus kritis akibat hilangnya sumber makanan, perusakan rute migrasi dan hilangnya habitat mereka.

    Dilaporkan pada tahun 2007 hanya terdapat sekitar 1.000 gajah. Bahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan WWF tahun 2012 hanya tersisa sekitar 30-80 ekor.

    Kerusakan habitat dan penggundulan hutan besar-besaran di Kalimantan disebut menjadi penyebab utama anjloknya populasi gajah kalimantan di alam liar.

    Populasi gajah kalimantan yang merupakan subspesies dari gajah asia ini terus menyusut selama 75 tahun terakhir, baik di wilayah Indonesia maupun di Malaysia.

    Di Sabah, Malaysia, gajah kalimantan semakin sering memasuki wilayah yang dihuni manusia untuk mencari makanan.

    Baca Juga: Jelang Hari Keanekaragaman Hayati: Upaya Menjaga Keanekaragaman Hayati di Indonesia dari Kepunahan

    Konflit gajah kalimantan dengan manusia ini terjadi seiring dengan bertambahnya populasi manusia di sana.

    Direktur Departemen Margasatwa Sabah dan anggota Grup Spesialis Gajah Asia IUCN SSC Augustine Tuuga mengatakan, selama 20 tahun terakhir ada sejumlah upaya untuk memahami dan melestarikan gajah kalimantan.

    “Kegiatan-kegiatan ini sangat penting untuk menjamin masa depan subspesies ini dan memungkinkan kelancaran pembangunan sosio-ekonomi di wilayah di mana gajah berkeliaran,” kata Tuuga dikutip Kompas.com dari siaran pers IUCN, Jumat (26/6/2024).

    Hilangnya habitat lebih lanjut akibat pembabatan hutan untuk kelapa sawit, perkebunan kayu, pertambangan, dan proyek infrastruktur besar seperti jalan raya juga mengancam masa depan gajah kalimantan.

    Perburuan gading, konsumsi bahan kimia pertanian yang tidak disengaja, dan tabrakan kendaraan juga menjadi kekhawatiran.

    Baca Juga: Kekeringan Akibat El Nino Picu Kematian Gajah Liar di Zimbabwe

    Kepala Wildlife Recovery ZSL Mike Hoffmann mengatakan, gajah kalimantan menghadapi berbagai ancaman mulai dari hilangnya habitat sampai konflik dengan manusia dan satwa liar.

    Situasi tersebut terus menimbulkan ancaman bagi satwa liar dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

    Dia menambahkan, hal-hal tersebut telah disoroti oleh asesmen terhadap gajah kalimantan hingga diklasifikasikan terancam punah.

    “Saat kita bekerja secara global untuk melindungi dan memulihkan alam bagi semua orang, penting bagi kita untuk bekerja sama dengan komunitas lokal untuk memahami tantangan yang mereka hadapi,” kata Hoffmann.

    Hoffmann menambahkan, “Dan mendukung mereka dalam mengembangkan intervensi berbasis komunitas yang akan membantu mereka hidup berdampingan secara damai dengan satwa liar.”

    Esti Utami, dari berbagai sumber