7cloud.asia – Belantara Foundation baru-baru ini menyelenggarakan pelatihan penggunaan buku ajar tentang gajah sumatra (Elephas maximus sumatrensis) untuk guru SD di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Menurut Direktur Eksekutif Belantara Foundation Dolly Priatna, buku itu ditulis atas usulan para guru SD di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan.
Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, Kamis (24//2025), disebutkan buku ini dirancang untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, yang dikemas sebagai “Buku Pendamping Teks Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) Berbasis Lingkungan”.
“Bukan hanya memberikan wawasan, tetapi buku ini juga mengajak para siswa untuk mengembangkan pengetahuannya tentang gajah sumatra melalui lembar-lembar aktivitas, yang dapat digunakan sebagai alat ukur pemahaman siswa selama kegiatan belajar,” ujarnya.
Buku ini juga diperkaya dengan galeri potret kehidupan gajah sumatra saat ini dan sangat cocok bagi para pelajar sekolah tingkat dasar dan masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dalam tentang kehidupan gajah di Pulau Sumatra
Seperti diketahui, populasi gajah sumatra semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam keberadaannya.
Baca: Konflik gajah liar vs manusia di Lampung
Saat ini hanya sekitar 2000 sampai 2700 ekor gajah sumatra yang tersisa di alam liar berdasarkan survei pada tahun 2000.
Sebanyak 65 persen populasi gajah sumatera lenyap akibat dibunuh manusia, dan 30 persen kemungkinan dibunuh dengan cara diracuni oleh manusia. Sekitar 83 persen habitat gajah sumatera telah menjadi wilayah perkebunan akibat perambahan yang agresif.
Buku yang dicetak oleh IPB Press ini diserahkan secara resmi oleh Direktur Belantara Foundation dan disaksikan oleh Camat Air Sugihan Ardhiles Siahaan kepada perwakilan lima sekolah dasar.
“Setiap sekolah mendapatkan masing-masing 30-45 eksemplar buku sehingga total kurang lebih 170 eksemplar buku yang diberikan Belantara Foundation, sebagai buku inventaris setiap sekolah,” katanya.
Ia menjelaskan kegiatan itu merupakan salah satu fokus utama dari program Living in Harmony (Kita Bisa Hidup Berdampingan), yaitu memberikan penguatan penyadartahuan dan edukasi kepada anak-anak usia dini mengenai pelestarian gajah beserta habitatnya.
Dengan memberikan pengetahuan yang mendalam kepada anak-anak sejak duduk di bangku sekolah dasar, harapannya generasi masa depan lebih ramah konservasi, tangguh dalam menghadapi tantangan yang jauh lebih besar, serta dapat mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan sesuai dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.
Baca: Kawanan gajah liar rusak kebun kopi
Plh. Kepala Seksi KSDAE dan Perubahan Iklim, Dinas Kehutanan Sumatera Selatan Silvan A. Rahmana mengatakan pengenalan gajah sumatra beserta habitatnya melalui buku pengayaan berbasis lingkungan merupakan salah satu bagian penting dari upaya mempertahankan kearifan lokal
Hal ini sekaligus mempersiapkan generasi muda agar berpartisipasi aktif dalam kegiatan konservasi, khususnya gajah sumatra dan habitat alaminya.
“Buku ini diharapkan dapat membekali siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) terutama yang berada di kelas IV, V, dan VI tentang pentingnya menjaga gajah sumatra dan habitatnya, terutama yang hidup di sekitar mereka,” ujarnya.
Kepala SD Negeri 1 Desa Srijaya Baru Mudilah mengatakan keberadaan buku ini akan menambah literasi dan pengetahuan siswa tentang gajah sumatra dan habitatnya terutama yang ada di sekitar mereka.
“Harapannya, para siswa akan tumbuh rasa cinta dan sayang terhadap gajah sumatra, sehingga akhirnya gajah sumatra dapat diterima sebagai bagian dari kehidupan mereka dalam sebuah ekosistem yang harmonis dan berkelanjutan,” kata dia.
