Tag: gejala

  • Jumlah Kasus Semakiin Banyak, Ini Gejala Flu Singapura

    Jumlah Kasus Semakiin Banyak, Ini Gejala Flu Singapura

    7cloud.asia – Jumlah kasus flu singapura atau penyakit Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) semakin banyak di Indonesia. Ada beberapa gejala penyakit ini, diantaranya adalah adanya lesi pada telapak tangan.

    Menurut Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo Sp.A(K), menjelaskan HFMD disebabkan oleh dua macam virus.

    Yaitu Coxsackie Virus A16 (cox 16) dan enterovirus 71 (EV 71), termasuk dalam kelompok virus RNA yang menyebabkan lesi pada telapak tangan, telapak kaki dan mulut.

    “Definisi flu singapura adalah kumpulan gejala adanya lesi kulit memerah terutama di telapak tangan, kaki dan mulut, yang disebabkan virus dan banyak menyerang bayi dan balita usia kurang dari lima tahun, dewasa bisa kena tapi sangat jarang, yang jadi faktor risiko anak kurang 5 tahun,” jelas Edi seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Waspada penyakit kulit di musim hujan

    Selanjutnya Edi menjelaskan untuk memastikan virus flu singapura bisa diperiksa dengan melihat sampel melalui laboratorium dengan menggunakan sampel tinja, usap rektal atau usap ulkus di mulut atau tenggorokan dengan metode PCR.

    “Gejalanya lesi di telapak tangan, kaki, mulut 100 persen, demam 72 persen, nyeri, sulit makan karena seperti sariawan, pilek, nyeri menelan, tapi tidak semua harus di kaki, tangan mulut, bisa seluruh badan 39 persen, dibuktikan dengan hasil PCR dari lokasi ditemukan lesi,” terangnya.

    Selanjutnya Edi menerangkan penularan HFMD hampir sama dengan COVID-19 yakni adanya kontak dengan penderita atau droplet.

    Penularan bisa terjadi secara langsung misalnya karena batuk, bersin, terkena air liur secara oral dan dari kotoran atau feses.

    Sementara penularan kontak tidak langsung juga bisa terjadi karena penggunaan handuk dari anak yang terkena flu singapura, menyentuh mainan atau peralatan dari anak yang terinfeksi.

    Sehingga bisa dikatakan HFMD sangat mudah menular baik secara kontak langsung maupun tidak langsung terutama pada anak.

    Baca: Waspada 11 penyakit ini saat banjir

    Penularan terjadi saat virus masuk ke saluran pernapasan dan diteruskan ke faring atau tenggorokan, masuk ke usus dan memperbanyak diri, menyebar ke kelenjar limfe dalam waktu 24 jam.

    Setelah itu, muncul gejala lentingan pada kulit di sekitar mulut dan telapak tangan dan kaki.

    Jika gejala menunjukkan infeksi berat seperti demam lebih dari 39 derajat, nafas cepat seperti sesak, terjadi kejang terutama anak di bawah 6 tahun yang memiliki riwayat kejang keluarga harus segera dirujuk ke rumah sakit.

    Flu Singapura juga bisa menyebabkan komplikasi berat yang berbahaya seperti meningitis dan ensefalitis pada anak yang bisa menyebab nyeri, tidak sadar, kejang dan kelumpuhan, sehingga diperlukan pemeriksaan cairan di otak.

    “Komplikasi yang diwaspadai yang bahaya kalau menyerang otak yang menyebabkan meningitis dan ensefalitis, walaupun kasusnya sangat jarang tapi beberapa jurnal dan negara tetangga ada kasusnya kesana,” terangnya.

    Ada beberapa cara untuk mencegah penularan yang cepat yaitu dengan mengisolasi anak jika terdiagnosa HFMD.

    Baca: Kasus DBD naik 2 kali lipat saat musim hujan

    Izin dari sekolah selama kurang lebih 5-7 hari, dan penuhi asupan gizi serta cairan untuk menjaga daya tahan tubuh.

    Berikan pengobatan simtomatik jika anak demam dan istirahat yang cukup, rata-rata HFMD bisa sembuh dengan sendirinya pada 2-3 hari, dengan lesi yang akan hilang sekitar 7 hari.

    Namun, vaksinasi untuk HFMD belum ada di Indonesia, sehingga pencegahannya sama seperti saat pandemi yakni menjaga kebersihan, sering mencuci tangan terutama jika kontak dengan penderita.

    Selain itu melakukan sanitasi peralatan makan atau mainan anak yang terkena Flu Singapura dan penuhi asupan gizi anak.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kenali Lima Gejala Awal Diabetes

    Kenali Lima Gejala Awal Diabetes

    7cloud.asia – Diabetes menjadi salah satu penyakit tidak menular yang diwaspadai bahkan hingga tingkat global. Jumlah penderita diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun, baik karena faktor genetik maupun gaya hidup.

    Pada beberapa kasus, diabetes diawali dengan fase pradiabetes, fase transisi saat kadar gula darah lebih tinggi dari gula darah normal dengan kondisi kadar glukosa di antara 100-125 mg/dL

    Dengan kadar gula darah sebesar ini, maka belum cukup tinggi untuk memenuhi syarat diagnosis diabetes.

    Mengutip Times of India, Sabtu (16/8/2025) pemeriksaan rutin bisa membantu mendeteksinya namun beberapa orang juga mengalami kondisi pradiabetes dengan gejala-gejala keanehan pada tubuh.

    Sayangnya hal itu kerap diabaikan karena terkesan sebagai masalah kesehatan yang tidak serius.

    Berikut lima gejala peringatan pradiabetes yang bisa diwaspadai oleh seseorang apabila sering mengalaminya sehingga dapat dilakukan pencegahan dini agar penyakit ini tidak berubah menjadi penyakit yang lebih parah yakni diabetes.

    Meningkatnya rasa haus dan sering buang air kecil
    Salah satu tanda awal pradiabetes adalah rasa haus yang berlebihan dan dikenal dengan nama polidipsia.

    Kondisi ini menyebabkan seseorang merasa haus lebih sering meski sebenarnya hidrasinya telah cukup dan karena kondisi akhirnya seseorang jadi sering buang air kecil.

    Ketika kadang gula darah tinggi, ginjal harus bekerja lebih keras untuk menyerap kelebihan glukosa dan menyebabkan lebih banyak cairan dikeluarkan dari tubuh. Ini akan terjadi berulang dan menjadi salah satu tanda yang perlu diawasi sebagai gejala dari pradiabetes.

    Kulit yang menggelap
    Gejala signifikan dari tubuh yang mengalami pradiabetes adalah menghitamnya kulit di beberapa area tertentu seperti ketiak dan belakang leher.

    Kondisi ini memiliki nama medis akantosis nigrikansa, kulit-kulit di daerah lipatan seperti leher, ketiak, dan selangkangan mungkin tampak gelap dan seperti beludru.

    Gejala ini tentu menjadi tanda yang mengkhawatirkan dan sebaiknya apabila mengalami ini ada baiknya seseorang dapat melakukan pemeriksaan kesehatan ke tenaga medis.

    Kelelahan
    Kelelahan tubuh yang berulang dan rasa tak memiliki energi dapat menjadi gejala peringatan dari pradiabetes.

    Ketika kondisi ini terjadi berulang besar kemungkinan tubuh tidak mampu menggunakan glukosa sebagai energi dan biasanya kelelahan yang dirasakan tidak hanya terjadi pada fisik tapi juga mental. Kelelahan kronis bisa berdampak negatif pada konsentrasi, suasana hati, dan produktivitas.

    Apabila kelelahan tidak dapat dijelaskan dan terjadi dalam waktu yang lama meski sudah beristirahat, cukup penting untuk segera melakukan pemeriksaan kadar glukosa dalam darah.

    Penglihatan kabur
    Kadar gula darah yang tinggi juga dapat memengaruhi penglihatan menjadi kabur. Gula darah tinggi dapat menyebabkan pergeseran cairan di lensa mata, menjadi penyebab pembengkakan dan akhirnya penglihatan menjadi kabur.

    Gejala ini bisa datang dan pergi dalam jangka waktu yang panjang, sehingga konsultasi dengan dokter menjadi penting sebelum pembuluh darah di retina rusak dan tidak berfungsi sepenuhnya.

    Kebas atau kesemutan pada kaki dan tangan
    Kerusakan saraf dapat terjadi akibat kadar gula yang tinggi dan dikenal dengan kondisi bernama neuropati.

    Kondisi ini biasanya menyebabkan seseorang sering mengalami kesemutan, kebas, atau mati rasa di tangan dan kakinya. Gejala ini menjadi salah satu tanda krusial penderita pradiabetes.