Tag: generasi milenial

  • Harga Rumah Terus Naik dan Generasi Milenial Sulit Miliki Hunian, Ini yang Dilakukan Pemerintah

    Harga Rumah Terus Naik dan Generasi Milenial Sulit Miliki Hunian, Ini yang Dilakukan Pemerintah

    7cloud.asia – Tingginya harga rumah, mahalnya bunga KPR, dan sulitnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak membuat generasi milenial kesulitan memiliki hunian. 

    Kalaupun bisa memiliki hunian sendiri, biasanya rumah yang bisa dibeli generasi milenial berada jauh dari pusat kota.

    Data Kementerian PUPR menyebut, 81 juta orang generasi milenial belum mendapatkan fasilitas rumah atau hunian. Hal ini harus dipikirkan bersama. 

    Bagi generasi milenial, harga beli rumah yang terus naik menjadi kendala utama untuk memiliki hunian sendiri.

    Data Kemenkeu mencatat, indeks Harga Properti Residensial (IPHR) naik sebesar 1.87% pada kuartal pertama 2022. Kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah.

    Baca: Alternatif pembiayaan perumahan untuk masyarakat berpendapatan rendah

    Kenaikan harga rumah terjadi karena adanya penyesuaian harga yang dilakukan developer sejak awal 2022 ketika insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah mulai diberlakukan.

    Ketua Bidang Ekonomi The Indonesia Economic Intelligence, Sunarsip dalam diskusi bertajuk Prospek dan Tantangan Pembiayaan Perumahan Rakyat, Khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada Selasa (11/7/2023) menguatkan fakta ini.

    Ia mengatakan, dalam setahun terakhir, kenaikan IHPR relatif merata yaitu terjadi pada seluruh jenis tipe rumah, dengan kenaikan IHPR tertinggi terjadi pada rumah tipe menengah.

    Tingginya kenaikan IHPR tipe menengah ini mengindikasikan bahwa rumah tipe menengah saat ini relatif lebih diminati, dibandingkan dengan rumah tipe Kecil dan Besar.

    Baca: Rumah mungil sedang ngetrend, ini alasannya

    Sunarsip juga mencatat pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) terjadi pada seluruh tipe rumah, baik KPR Tapak maupun KPR Susun.

    “Untuk kelompok milenial sendiri, dari pemantauan IEI, makin melirik rumah susun tipe kecil. Kami perkirakan mobilitas menjadi alasan mereka,” ujar Sunarip 

    Pemerintah sendiri terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan hunian atau rumah bagi generasi milenial ini. 

    Saat meresmikan Hunian Milenial Semesta Mahata Margonda, Depok pada April lalu, Presiden Jokowi memerintahkan agar lahan milik PT KAI dikembangkan menjadi hunian vertikal yang dibangun dengan konsep Transit Oriented Development atau TOD.

    Baca: Salah kaprah pembangunan hunian berkonsep TOD di Indonesia

    Jokowi menginginkan agar konsep TOD hunian milenial dapat dikembangkan di semua kota. Utamanya lahan-lahan PT KAI yang tidak termanfaatkan dengan baik dapat dikerjasamakan dengan BUMN seperti PT PP, Perumnas dan Kementerian PUPR untuk hunian milenial.

    “Harus kita bangun sebanyak-banyaknya hunian seperti ini,” kata Jokowi seperti dikutip di laman resmi Setkab.

    Hunian Milenial Semesta Mahata Margonda, Depok ini untuk unit subsidi dijual sekitar Rp 200 juta, sedangkan unit tanpa subsidi antara Rp 300 juta hingga Rp 500 juta.

    “Cicilannya juga murah. Sehingga sangat pas sekali kalau untuk hunian anak-anak muda kita,” ujar Jokowi kala itu.

    Baca: Slow city, konsep tata kelola kota yang lebih ramah lingkungan

    Dalam kesempatan itu, , Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan pihaknya sudah menyelesaikan hunian milenial di 7 lokasi dengan pendanaan total senilai Rp5 triliun.

    “Total unit yang dibangun mencapai 8.348 dan tingkat kelakuan-nya di atas 65%, dan 41% adalah milenial yang beli tempat ini,” ujar Erick dalam kesempatan yang sama.

    Hunian vertikal yang ditujukan untuk generasi milenial ini sudah ada di Depok, Jakarta, Tangerang, Bogor dan Karawang. Sementara rumah susun dengan konsep TOD di Klender dijadwalkan selsai usai Lebaran.

    Namun hunian vertikal bukan satu-satunya solusi untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi generasi milenial khususnya yang tinggal di perkotaan.

    Baca: Generasi alfa, generasi yang akan membentuk dunia kerja di masa depan

    Ada sejumlah opsi yang bisa dijajaki, Koalisi Berhuni Untuk Semua misalnya menginisiasi program coresidence, di mana milenial tak harus tinggal terlalu jauh dari pusat kota.

     

     

  • Dear Milenial, Berikut Kiat Berkembang di Tempat Kerja Saat Bos Menuntut ‘Kerja Keras Bagai Kuda’

    Dear Milenial, Berikut Kiat Berkembang di Tempat Kerja Saat Bos Menuntut ‘Kerja Keras Bagai Kuda’

    7cloud.asia – Generasi milenial bisa dibilang merupakan penganut budaya ‘kerja kuda’ yang hiruk pikuk atau hustle culture garis keras.

    Banyak dari generasi milenial yang lahir antara tahun 1981 dan 1996 cenderung melakukan banyak—dua atau lebih–pekerjaan.

    Satu dari tiga generasi milenial bekerja menjadi mitra pengemudi perusahaan berbasis aplikasi seperti Uber atau Lyft, atau menyewakan rumahnya untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

    Generasi milenial tumbuh seiring perkembangan internet setelah resesi tahun 2008.

    Dihadapkan pada pasar kerja yang sulit dan ketidakstabilan keuangan, banyak generasi milenial yang mengalihkan minat mereka ke pekerjaan sampingan sehingga terlecutlah gairah ‘kerja keras bagai kuda’.

    Pekerjaan sampingan ini mulai dari kursus dan pelatihan online, hingga podcast dan influencer media sosial. Bagi kaum milenial, upaya ini dipandang sebagai sumber kebahagiaan, kemampuan kerja dan pengembangan keterampilan.

    Baca: Dampak negatif generasi sandwich pada kesehatan mental

    Pekerjaan sampingan mengharuskan generasi milenial menjadi efisien, lebih disiplin, peduli pada prioritas, dan fokus.

    Waktu luang sering diartikan sebagai peralihan dari pekerjaan utama ke pekerjaan sampingan. Akhir pekan yang benar-benar longgar jarang terjadi.

    Bagi Gen Z dan generasi muda milenial, prospek untuk bergabung dengan budaya ‘kerja kuda’ mungkin tampak menakutkan dan melelahkan.

    Sebaliknya, mereka menginginkan kestabilan finansial dan kesuksesan tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kesejahteraan mereka.

    Perbedaan generasi di tempat kerja
    Setiap generasi meninggalkan jejak di tempat kerja. Generasi milenial, khususnya, dikenal dengan kemampuan mereka memproses informasi dengan cara yang jauh lebih efisien dibandingkan generasi sebelumnya.

    Generasi milenial juga meningkatkan produktivitas di tempat kerja dan merenovasi tren kepemimpinan.

    Baca: Generasi alfa yang akan membentuk dunia kerja di masa mendatang

    Mereka mengubah tempat kerja tradisional dengan keinginan untuk memiliki arti, dengan menginginkan dialog terus-menerus, dan dengan menggemari lebih banyak peluang dan kebebasan.

    Generasi yang lebih muda juga sama ambisiusnya. Namun, mereka meninggalkan jejak yang berbeda pada budaya kerja.

    Sekitar 48% pemilik usaha kecil Gen Z melakukan banyak pekerjaan sampingan, sementara 91% di antaranya bekerja pada jam-jam yang tidak lazim.

    Sekitar 81% dari mereka juga bekerja sambil berlibur. Hampir setengahnya memiliki dua pekerjaan atau lebih.

    Namun, tidak semua profesional muda adalah pemilik usaha kecil. Mereka belum tentu tertarik pada budaya ‘kerja kuda’. Sebagian dari mereka hanya menginginkan lebih banyak kebebasan dan perasaan memiliki makna.

    Banyak orang berusia 20-an dan 30-an mulai meninggalkan jalur karier ‘kantoran’—memulai kerja jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

    Bagi orang-orang ini, kesuksesan tidak hanya diukur dengan uang, tetapi juga dengan kebahagiaan dan kepuasan sepenuhnya.

    Baca: Mengenal pembelajaran sepanjang hayat

    ‘Work-life balance’
    Sebagai anak muda di tempat kerja, sebagai generasi milenial dan Gen Z kamu mungkin sering berselisih dengan atasanmu yang lebih tua.

    Atasan yang lebih tua sering kali memandang kandidat dengan banyak pekerjaan sebagai orang yang kurang komitmen, meskipun mereka sendiri melakukan hal yang sama.

    Menjembatani kesenjangan generasi di tempat kerja memerlukan komunikasi terbuka dan perasaan saling pengertian. Sebagai seorang profesional muda, menjalani budaya ‘kerja kuda’ di tempat kerja merupakan suatu tantangan.

    Namun, itu bukan tidak mungkin dilakukan. Berikut adalah beberapa tips untuk menghadapinya:

    1. Sadari well-being-mu.
    Bos yang lebih tua mungkin menekanmu tanpa henti untuk mendapatkan hasil dan produktivitas yang lebih besar. Ini sering kali merugikanmu dan hanya menguntungkan mereka.

    Jika tidak memperhatikan hal ini, kamu akan segera merasa stres dan kelelahan dan mungkin merasa tidak mampu.

    Baca: Milenial dan Gen Z jadi kekuatan penekan transisi ke ekonomi hijau

    2. Tentukan prioritasmu sendiri.
    Tetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Prioritaskan tugas berdasarkan signifikansi dan dampaknya. Tetapkan jam kerja dan dedikasikan waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan bersenang-senang.

    Jangan mengasingkan atasanmu dengan langsung menolak bekerja, Berikan penjelasan yang matang dan terapkan batasanmu secara bertahap.

    3. Jadilah produktif secara obyektif.
    Ingatlah bahwa waktu yang dihabiskan untuk bekerja tidak selalu sama dengan produktivitas. Bekerja sampingan secara berlebihan akan berdampak negatif terhadap kinerja tempat kerjamu.

    Kamu perlu mengukur dan mengevaluasi diri secara terus-menerus untuk membuktikan komitmenmu, kemampuanmu berinovasi, dan produktivitas dalam pekerjaan utamamu.

    4. Sadarilah bahwa tidak semua tempat kerja ideal untukmu.
    Daripada khawatir tentang menaiki tangga karier, carilah tempat kerja yang mengakui dan membina kesejahteraan karyawannya. Ini mungkin melibatkan pekerjaan dengan fleksibilitas tertentu atau pekerjaan jarak jauh, dan budaya kolaborasi, kerja tim, dan keberagaman.

    Hierarki top-down yang diterapkan mungkin bukan lingkungan kerja terbaik bagi semua orang.

    Jika tempat kerjamu saat ini tidak sejalan dengan nilai dan kebutuhanmu, pertimbangkan untuk mencari peluang lain atau bahkan memulai usahamu sendiri.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: , Assistant Professor, School of Business, University of Victoria