Tag: gereja

  • Gereja Berperan Besar dalam Mengisi Kekosongan Akses Pendidikan di Papua

    Gereja Berperan Besar dalam Mengisi Kekosongan Akses Pendidikan di Papua

    7cloud.asia – Para aktivis gereja di Tanah Papua telah lama berkontribusi memberikan akses pendidikan bagi rakyat Papua hingga wilayah pedalaman.

    Demikian diungkap Staf Khusus Wakil Presiden Masykuri Abdillah usai rapat koordinasi dengan kementerian dan lembaga untuk membahas peningkatan akses pendidikan di Tanah Papua.

    “Para tokoh gereja sudah banyak berkontribusi membuka akses pendidikan bagi rakyat Papua, bahkan sampai ke wilayah pedalaman. Mereka lah yang menyediakan ruang bagi Orang Asli Papua untuk menikmati pendidikan demi pembangunan kesejahteraan Papua,” kata Masykuri dalam siaran pers di Jakarta, Senin (7/8/2023).

    Rapat koordinasi ini menindaklanjuti arahan Wapres Ma’ruf Amien untuk menyiapkan tenaga guru di tanah Papua melalui pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi.

    Baca: Potret pendidikan Papua, lebih dari 600 ribu anak tidak sekolah

    Hingga kini pendidikan di Papua masih menghadapi masalah rendahnya ketersediaan guru pendidikan dasar dan ketiadaan guru di wilayah pedalaman.

    Hal ini berdampak pada rendahnya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua dan Papua Barat dari tahun ke tahun.

    Menurut Masykuri, secara de facto, aktivis pendidikan dari kalangan gereja dan STT sebenarnya sudah melakukan aktivitas mengajar secara suka rela di wilayah pedalaman Papua.

    Kesukarelawan ini mampu mengisi kekosongan posisi guru di tengah banyaknya tenaga guru ASN yang justru meninggalkan tempat tugas.

    Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah pemberian status dan hak kepada tenaga guru melalui pembukaan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)/Program Guru PAUD di STT.

    “Ini sejalan dengan aspirasi dari lembaga Gereja Papua,” kata Masykuri.

    Baca: Penerima beasiswa di Kep. Aru harus berlayan 3 hari untuk cairkan bantuan

    Dalam rakor tersebut, Pst. Konstantinus Bahang selaku perwakilan dari Papua Christian Center (PCC) yang juga tergabung dalam Persekutuan Gereja-gereja Papua dan Papua Barat menyampaikan aspirasi tokoh-tokoh gereja.

    Mereka meminta STT dapat membuka Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Prodi PGPAUD) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD).

    “Tujuannya agar lembaga pendidikan yang dikelola Gereja dapat mencetak guru-guru yang militan dan tangguh yang bersedia mengajar di wilayah pedalaman Papua,” kata Konstantinus.

    Aspirasi ini diperkuat oleh Anggota Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) dari Provinsi Papua Barat Daya Otto Ihalauw yang menyatakan bahwa Papua harus diperlakukan secara khusus.

    Pendidikan di Papua, ujarnya, tidak dengan aturan yang bersifat umum sehingga hambatan-hambatan pembukaan Prodi PG PAUD dan Prodi PGSD dapat cepat dilaksanakan.

    Baca: Angka putus sekolah di NTT tergolong tinggi

    “Untuk menyelesaikan masalah pendidikan di Papua, ego sektoral harus dikesampingkan dan perlu memperhatikan aspek kedaruratan di wilayah Papua sehingga yang dihasilkan adalah kebijakan yang afirmatif,” ujar Otto.

    Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Hukum Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Ineke Indraswati menegaskan bahwa pemerintah serius memenuhi kebutuhan guru di tanah Papua.

    Menurutnya harapan tokoh-tokoh gereja agar STT untuk membuka Prodi PG PAUD dan Prodi PGSD dapat dipenuhi melalui skema kerja sama STT dengan Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK), seperti Universitas Cenderawasih.

    “STT di Papua dapat membuka Prodi PG PAUD dan Prodi PGSD melalui skema kerja sama dengan perguruan tinggi yang ditunjuk oleh Kemendikbudristek, kami akan dampingi dan percepat agar bisa berjalan segera,” ujar Ineke.

    Baca: Ini alasan Nadiem hapus tes calistung di penerimaan siswa SD

    Adapun Perancang UU Ahli Madya Biro Hukum Kemenag Imam Syaukani menekankan agar eksistensi STT ketika bekerja sama dengan Universitas Cenderawasih tetap ada.

    Sehingga STT bukan sekadar pelaksana program studi LPTK, tapi sebagai penyelenggara program studi PG PAUD dan Prodi PGSD.

    Merespons berbagai aspirasi dan usulan dalam rakor, Masykuri menggarisbawahi bahwa pemerintah pusat akan terus berupaya mendorong pembukaan Prodi PG PAUD dan Prodi PGSD di STT dengan tetap mengedepankan aspek kebijakan afirmatif.

    STT juga diharapkan dapat segera memproses izin pembukaan Prodi PG PAUD dan Prodi PGSD ke Kemendikbudristek.

    Baca: Cara mudah membangun kebiasaan membaca sejak dini

     

  • Paus Fransiskus Wafat, Meninggalkan Reformasi dan Kontroversi

    Paus Fransiskus Wafat, Meninggalkan Reformasi dan Kontroversi

    7cloud.asia – Paus Fransiskus meninggal dunia pada hari Senin Paskah di usia 88 tahun. Sebelum meninggal, pemimpin Gereja Katolik sedunia ini sempat pulih setelah dirawat di rumah sakit karena pneumonia ganda.

    Ada banyak aspek yang luar biasa dari kepausan Paus Fransiskus. Beliau adalah paus Yesuit pertama, paus pertama dari benua Amerika (dan belahan bumi selatan), paus pertama yang memilih nama “Fransiskus” dan paus pertama yang memberikan TED talk.

    Paus Fransiskus juga merupakan paus pertama—dalam lebih dari 600 tahun—yang terpilih setelah pengunduran diri, bukan kematian pendahulunya.

    Sejak awal kepausannya, Paus Fransiskus tampak bertekad untuk melakukan hal-hal dengan cara yang berbeda dan mempersembahkan cahaya baru dalam kepausan. Bahkan untuk pemakamannya, dia memilih untuk diletakkan di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, bukan di Vatikan.

    Paus menjadi paus pertama yang dimakamkan di sana setelah ratusan tahun.

    Vatican News melaporkan bahwa mendiang Paus Fransiskus telah meminta agar upacara pemakamannya dilakukan secara sederhana.

    “Ritus yang diperbarui,” kata Uskup Agung Diego Ravelli, “berusaha untuk lebih menekankan bahwa pemakaman Paus Roma adalah pemakaman seorang gembala dan murid Kristus, bukan seorang tokoh berkuasa di dunia ini.”

    Memimpin di tengah kubu “progresif” dan “konservatif”, Francis mengalami ketegangan dengan kedua belah pihak. Dalam kepausannya, ia menunjukkan makna menjadi Katolik saat ini.

    Sehari sebelum kematiannya, Paus Fransiskus muncul, meski dalam waktu singkat, pada Hari Minggu Paskah untuk memberkati kerumunan di Lapangan Santo Petrus.

    Antara dua pilihan berat
    Bagi sebagian orang, Francis dianggap tidak cukup progresif. Namun bagi sebagian lainnya, ia terlalu progresif.

    Eksortasi (pengajaran resmi paus tentang isu atau tindakan tertentu) apostolik beliau, Amoris Laetitia, memicu kontroversi besar karena cenderung terbuka terhadap pertanyaan apakah orang yang telah bercerai dan menikah lagi dapat menerima Ekaristi.

    Fransiskus juga disebut pernah mengecewakan umat Katolik progresif, yang kebanyakan berharap dia akan membuat perubahan yang lebih kuat pada isu-isu seperti peran perempuan, rohaniwan yang sudah menikah, dan menyerukan inklusi yang lebih luas bagi umat Katolik LGBTQIA+.

    Penerimaan dari seruannya Querida Amazonia adalah salah satu contohnya. Dalam dokumen ini, Fransiskus tidak mendukung pernikahan bagi para imam, meskipun ada permintaan dari para uskup untuk ini.

    Dia juga tidak mengizinkan kemungkinan perempuan ditahbiskan sebagai diakon untuk mengatasi kekurangan menteri yang ditahbiskan. Menurutnya, ada terlalu banyak perpecahan dan tidak ada konsensus yang jelas untuk perubahan.

    Fransiskus juga secara terbuka mengkritik kontroversi “Synodal Way”—serangkaian konferensi dengan para uskup dan awam—yang mendukung posisi yang bertentangan dengan ajaran Gereja. Francis menyatakan keprihatinan pada beberapa kesempatan bahwa proyek ini merupakan ancaman bagi kesatuan Gereja.

    Pada saat yang sama, Francis tidak asing dengan kontroversi dari kubu konservatif Gereja, cenderung menerima “dubia” atau “keraguan teologis” atas ajarannya dari beberapa Kardinalnya.

    Pada tahun 2023, ia mengambil langkah yang tidak biasa dengan menanggapi beberapa keraguan ini.

    Dampaknya bagi gereja Katolik
    Salah satu hal yang paling mencolok tentang Fransiskus bukanlah kata-katanya atau teologinya, tetapi gayanya. Dia adalah orang yang sederhana, bahkan menolak tinggal di istana kepausan yang megah, Istana Apostolik, dan lebih memilih tinggal di penginapan sederhana di Vatikan.

    Hal yang akan paling diingat dari dirinya mungkin adalah kesederhanaan berpakaian dan kebiasaannya, gaya sambutannya yang ramah dan pastoral, serta semangat kebijaksanaan dalam perbedaan.

    Ia diakui sebagai contoh kehidupan, cinta, dan sukacita Yesus dalam semangat Konsili Vatikan II—sebuah titik reformasi besar dalam sejarah Gereja modern. Kesaksian ini telah diterjemahkan menjadi dua perkembangan besar dalam ajaran dan kehidupan Gereja.

    Cinta bagi rumah bersama
    Salah satu ajaran Fransiskus adalah yang berkaitan dengan lingkungan. Pada tahun 2015, ia merilis ensikliknya, Laudato si’: On Care for Our Common Home yang memberikan penjelasan komprehensif tentang bagaimana lingkungan mencerminkan “rumah bersama” yang diberikan Tuhan kepada umatnya. Ini telah memperluas ajaran sosial Katolik.

    Konsisten dengan paus-paus terbaru seperti Benediktus XVI dan Yohanes Paulus II, Fransiskus mengakui perubahan iklim dan dampak serta penyebab destruktifnya. Ia mendukung pendekatan berbasis bukti dalam menangani dampak perilaku manusia terhadap lingkungan.

    Dia juga telah berkontribusi besar dan inovatif dalam debat perubahan iklim melalui identifikasi penyebab etis dan spiritual dari kerusakan lingkungan.

    Menurut Fransiskus, upaya memerangi perubahan iklim bergantung pada “konversi ekologis” hati manusia. Manusia perlu mengenali sifat planet kita yang diberikan oleh Tuhan dan panggilan untuk merawatnya.

    Tanpa konversi ini, langkah-langkah pragmatis dan politik tidak akan mampu melawan kekuatan konsumerisme, eksploitasi, dan egoisme.

    Fransiskus juga berpendapat bahwa diperlukan adanya pembaharuan dalam etika dan spiritualitas. Secara khusus, dia mengatakan jalan kasih Yesus—untuk orang lain dan seluruh ciptaan—adalah kekuatan transformatif yang dapat membawa perubahan berkelanjutan bagi lingkungan dan menumbuhkan persaudaraan di antara orang-orang (terutama dengan orang miskin).

    Sinodalitas: Menuju gereja yang mendengar
    Kontribusi besar lainnya dari Fransiskus—yang menjadi salah satu aspek paling signifikan dari kepausannya—adalah komitmennya terhadap “sinodalitas”, yaitu cara mendengarkan dan membedakan melalui keterbukaan terhadap bimbingan Roh Kudus–meskipun masih ada kebingungan tentang apa makna sinodalitas sebenarnya dan potensi distorsi politiknya.

    Sinodalitas melibatkan hierarki dan orang awam yang secara transparan dan jujur berdiskusi bersama, dalam pelayanan misi gereja. Sinodalitas sama pentingnya dengan prosesnya seperti halnya tujuannya. Ini masuk akal karena Paus Fransiskus adalah seorang Yesuit, sebuah ordo yang berfokus pada penyebaran Katolik melalui pembentukan spiritual dan diskernimen.

    Dengan menggali kekayaan spiritualitas Yesuit, Fransiskus memperkenalkan cara percakapan yang berpusat pada mendengarkan Roh Kudus dan orang lain, sambil berusaha menumbuhkan persahabatan dan kebijaksanaan.

    Dengan berakhirnya sesi kedua Sinode tentang Sinodalitas pada Oktober 2024, masih terlalu dini untuk menilai hasilnya. Namun, mereka yang telah terlibat dalam proses sinodal telah melaporkan kembali tentang potensi transformasinya.

    Uskup Agung Brisbane, Mark Coleridge, menceritakan bagaimana ia berpartisipasi dalam Sinode 2015 dan bagaimana hal itu adalah “pengalaman luar biasa dan dalam beberapa hal merupakan sebuah pencerahan” baginya.

    Katolik di era modern
    Kepausan Fransiskus menginspirasi baik sukacita dan aspirasi yang besar, serta kemarahan dan penolakan.

    Dia mengungkapkan garis-garis patah yang menyakitkan dalam komunitas Katolik dan menyerang isu-isu kunci identitas Katolik, memicu perdebatan tentang apa artinya menjadi Katolik di dunia saat ini.

    Paus Fransiskus meninggalkan sebuah gereja yang tampak lebih terpecah belah daripada sebelumnya, dengan argumen, ketidakpastian, dan banyak pertanyaan yang muncul di belakangnya.

    Tetapi dia juga telah membuka jalan bagi gereja untuk lebih melihat cara cinta Yesus, melalui sinodalitas dan dialog.

    Paus Fransiskus menunjukkan kepada kita bahwa memegang label seperti “progresif” atau “konservatif” tidak akan memungkinkan gereja untuk menjalankan misi cinta Yesus—sebuah misi yang dia tekankan sejak awal kepausannya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Joel Hodge (Senior Lecturer, Faculty of Theology and Philosophy, Australian Catholic University) dan Antonia Pizzey (Postdoctoral Researcher Research Centre for Studies of the Second Vatican Council, Australian Catholic University)

     

  • Komitmen Majelis Sinode GPIB Berkontribusi dalam Upaya Mengatasi Krisis Iklim

    Komitmen Majelis Sinode GPIB Berkontribusi dalam Upaya Mengatasi Krisis Iklim

    7cloud.asia – Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata, langkah kecil bisa menjadi awal perubahan besar.

    Semangat inilah yang mendasari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara GreenFaith Indonesia dan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Selasa (16/9/2025).

    Mengambil tempat di Kantor Majelis Sinode GPIB, Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat MoU ini menandai komitmen baru bagi gereja dan komunitas lintas iman untuk mengambil peran nyata dalam penyelamatan bumi.

    Penandatanganan dilakukan oleh Hening Parlan, Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, bersama Pendeta Paulus Kariso Rumambi, Ketua Umum Majelis Sinode GPIB.

    Kerja sama ini mencakup tiga hal utama. Pertama, penelitian kolaboratif di bidang lingkungan hidup, termasuk penerbitan hasil riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.

    Kedua, penguatan kapasitas jemaat GPIB agar semakin peduli dan mampu beraksi dalam gerakan ekologi. Ketiga, promosi gerakan gereja ramah lingkungan baik di tingkat daerah maupun nasional.

    Baca: Konsep mencintai lingkungan yang diterapkan enam agama di Indonesia

    Kerja sama berlaku empat tahun dan dapat diperpanjang. Seluruh pembiayaan dituangkan dalam rencana program bersama yang dikelola secara transparan.

    “Krisis iklim adalah krisis spiritual. Ia menantang kita semua umat beragama, pemerintah, dan masyarakat sipil untuk keluar dari zona nyaman dan bekerja bersama. MoU ini adalah langkah kecil, tetapi penting, menuju perubahan besar,” kata Hening Parlan usai penandatanganan MoU.

    Ia menegaskan, transisi energi bukan semata soal teknis, tetapi perubahan pola pikir. “Net zero tidak hanya soal listrik, tetapi juga mengurangi sampah dan mengubah kebiasaan yang tidak ramah lingkungan,” ujarnya.

    Komitmen gereja atasi krisis iklim 
    GPIB, melalui kemitraan ini, menegaskan dirinya sebagai gereja publik—gereja yang tak hanya berfokus pada ruang ibadah, tetapi juga menjawab pergumulan masyarakat dan lingkungan.

    “Gereja tak bisa menutup mata. Kerusakan lingkungan adalah krisis moral. Melalui kerja sama ini, kami ingin memberi teladan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari pelayanan kasih,” ujar Pdt. Manuel E. Raintung, Ketua II Majelis Sinode GPIB Bidang Gereja, Masyarakat, Agama-Agama, dan Lingkungan Hidup (GERMASA-LH), yang juga hadir dalam acara penandatanganan MoU tersebut.

    Manuel menambahkan, sinergi dengan GreenFaith sudah terjalin sejak lama melalui bidang GERMASA. Dalam waktu dekat, GPIB juga akan meluncurkan buku lingkungan. Bahkan, salah satu pendetanya, Meilani, kini tengah menempuh studi doktoral di bidang ekologi.

    Baca: GreenFaith ajak anak muda lakukan aksi nyata atasi krisis iklim

    Pertemuan itu juga mengungkapkan komitmen GPIB untuk menjajaki kerja sama menuju target net zero emission, antara lain lewat audit energi, penurunan konsumsi energi, dan penggunaan panel surya.

    Luwi Liliefna, dari Majelis Sinode GPIB, menyampaikan gagasan penyusunan buku panduan praktis bagi rumah ibadah untuk mengurangi emisi.

    “Mulai dari aktivitas rendah emisi, penanaman pohon, hingga perhitungan emisi yang seimbang,” katanya.

    Hening, yang juga memimpin gerakan 1000 Cahaya Muhammadiyah, menyambut baik rencana tersebut. Ia menjelaskan pengalaman serupa sudah digerakkan di masjid, sekolah, dan pesantren.

    “Kalau penyadaran dilakukan secara masif, perubahan nyata bisa diwujudkan,” ujarnya.

    Kolaborasi ini menegaskan optimisme bahwa komunitas agama memiliki modal sosial besar yakni basis umat yang nyata, setia, dan siap bergerak. Sebuah kekuatan moral yang mampu melampaui batas institusi politik maupun korporasi.

    Baca: Pentingnya reformasi pemikiran keagamaan yang pro-lingkungan