Tag: gigi

  • Mahasiswa UGM Temukan Gel Pencegahan Karies Gigi Berbahan Cangkang Kerang

    Mahasiswa UGM Temukan Gel Pencegahan Karies Gigi Berbahan Cangkang Kerang

    7cloud.asia – Mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025 berhasil menghadirkan inovasi biokomposit gel remineralisasi gigi berbasis bahan alam lokal.

    Inovasi ini memanfaatkan cangkang kerang hijau (Perna viridis) yang kaya kalsium untuk sintesis nano-hidroksiapatit, serta daun teh hijau (Camellia sinensis) yang kaya fluoride dan polifenol sebagai agen antibakteri alami.

    Produk yang dihasilkan berupa biokomposit gel nano-hidroksiapatit–daun teh hijau dengan struktur partikel nano yang memungkinkan menembus, melekat, dan memperkuat gigi secara biomimetik.

    Uji kekerasan dilakukan di Laboratorium Bahan dan Produksi, Sekolah Vokasi UGM dengan menggunakan gigi sapi.

    Dilansir ugm.acid, hasil pengujian memperlihatkan adanya peningkatan kekerasan email gigi sapi dan penurunan porositas permukaan setelah pemakaian aplikasi gel selama 4 hari yang direndam dengan saliva buatan.

    “Sementara itu, uji antibakteri juga telah dilakukan di Laboratorium Riset Terpadu, Fakultas Kedokteran Gigi UGM, dan hasilnya memperlihatkan zona hambat terhadap Streptococcus mutans. Hal ini menandakan adanya aktivitas antimikroba yang efektif,” ujar Hasan Rabbani, ketua Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025, di Kampus UGM, Kamis (6/11/2025).

    Selain Hasan Rabbani (Fisika 2024), Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025 beranggotakan Achmad Musa Nurhadi (Kedokteran Gigi 2024), Irya Dira dan Jovanka Sandy (Kimia 2023), serta Ifah Nuur Rakhimah (Biologi 2024).

    Tim ini mendapat pendampingan dan bimbingan dari Prof. Yusril Yusuf, pakar fisika material FMIPA UGM.

    Baca: Tim PKM UGM kembangkan obat diabetes berbahan selulosa eceng gondok

    Hasan Rabbani menuturkan melalui penelitian berjudul Potensi Biokomposit Gel Nano-Hidroksiapatit Cangkang Kerang Hijau (Perna viridis) dan Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis) untuk Remineralisasi Gigi, Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025 mengkaji lebih dalam tentang remineralisasi gigi sebagai cara untuk mencegah perkembangan gigi berlubang.

    Tim memilih cangkang kerang hijau dari Pantai Baron, Gunungkidul karena dinilai memiliki kandungan kalsium karbonat mencapai 95,69 persen yang dinilai ideal untuk disintesis menjadi nano-hidroksiapatit, dan menjadi mineral utama penyusun email gigi.

    Proses sintesis dilakukan melalui metode sintering menggunakan furnace dengan kontrol suhu 1000°C untuk menghasilkan partikel berukuran nano.

    “Sedangkan daun teh dari kebun teh Nglinggo, Kulon Progo, diolah melalui ekstraksi etanol 96 persen guna mendapatkan kandungan fluoride alami serta polifenol sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans,” terang Rabbani.

    Adapun ide riset lahir dari observasi tentang permasalahan karies di Indonesia yang masih cukup tinggi. Menyitir data Kementerian Kesehatan 2023, prevalensi karies gigi mencapai 82,8 persen.

    “Kami ingin menghadirkan solusi dari bahan lokal yang tidak hanya efektif, tetapi juga aman dan berkelanjutan, dan semua berawal dari kami menyisir pesisir Pantai Baron hingga lereng pegunungan kebun teh Nglinggo yang pada akhirnya kami menghadirkan inovasi biokomposit gel remineralisasi gigi berbasis bahan alam lokal,” ungkapnya.

    Achmad Musa Nurhadi menambahkan gel yang dikembangkan Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025 memiliki kemampuan menembus lapisan email gigi.

    Berbeda dengan fluoride topikal yang hanya bekerja di permukaan sehingga produk ini tidak hanya memperkuat bagian luar tetapi dapat menembus permukaan gigi untuk memperbaiki struktur mineral dari dalam.

    “Tentu saja, formulasi yang kami buat bebas dari risiko alergi protein susu sapi yang sering ditemukan pada produk impor seperti CPP-ACP,” ucap Achmad.

    Baca: Manfaat daun meniran untuk kesehatan

    Gel ini dapat diaplikasikan dengan mudah yaitu menggunakan ujung jari bersih atau spatula silikon kecil, lalu dioleskan secara merata pada permukaan gigi dua kali sehari setelah menyikat gigi.

    Dengan proses seperti dapat membantu proses remineralisasi secara lebih optimal dan alami. Iapun memastikan ukuran partikel dan struktur kristal telah sesuai standar biomaterial menggunakan XRD, FTIR, dan SEM.

    “Karenanya tantangan utama penelitian ini adalah menjaga kestabilan gel agar konsisten dalam bentuk dan viskositas, dan untungnya semua itu telah berhasil diatasi dengan pengaturan pH,” imbuhnya.

    Untuk proses uji antibakteri, Jovanka Sandy menjelaskan Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025 menggunakan kultur Streptococcus mutans untuk melihat efektivitas antibakteri.

    Tidak semulus yang dibayangkan, dalam proses penelitiannya Tim Pevillia Dent sempat menghadapi beberapa kendala.

    Di antaranya kesulitan saat tahap sintesis karena mencari furnace bersuhu 1000C, dan proses sterilisasi gel yang aman untuk uji antibakteri. Kedua hal tersebut, kata Jovanka, menyebabkan optimasi formulasi membutuhkan waktu lebih lama dari rencana awal.

    “Berkat bimbingan intensif dan kolaborasi lintas laboratorium FMIPA, FBIO dan FKG UGM, pada akhirnya tim pun berhasil menyelesaikan tahapan uji hingga formulasi final,” ungkapnya.

  • Jangan Anggap Sepele Gusi Berdarah, Bisa Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    Jangan Anggap Sepele Gusi Berdarah, Bisa Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    7cloud.asia – Masalah gusi kerap dianggap gangguan ringan. Padahal, gusi yang tidak terawat dapat menjadi sumber peradangan kronis yang berisiko memengaruhi organ tubuh lainnya.

    Disela-sela acara Pepsodent Gum Expert Lab di Jakarta beberapa waktu lalu, drg. Ines Augustina Sumbayak, Sp.Perio menjelaskan, infeksi pada gusi yang dibiarkan terus menerus dapat memicu peningkatan sel inflamasi dalam tubuh.

    “Gusi yang tidak terawat secara terus menerus itu, bakteri dan produk-produk peradangan akan terus berada di dalam aliran darah. Dengan kondisi itu, inflamasi akan semakin tinggi dan bisa berdampak menjadi fokus infeksi,” jelas Ines.

    Baca: Mahasiswa UGM Temukan Gel Pencegahan Karies Gigi

    Menurutnya, kondisi tersebut membuat kesehatan gusi memiliki keterkaitan dengan sejumlah penyakit lain, termasuk gangguan jantung. Jalur penyebarannya dapat terjadi melalui pembuluh darah yang membawa bakteri maupun zat peradangan ke organ lain.

    “Makanya kesehatan gusi sering dikaitkan dengan penyakit jantung. Dari pembuluh darahnya bisa terhubung ke jantung,” katanya.

    Tak hanya jantung, masalah gusi juga memiliki hubungan dua arah dengan diabetes. Kondisi gusi yang mengalami peradangan dapat memperburuk kondisi tubuh, sementara penderita diabetes juga lebih rentan mengalami gangguan pada jaringan gusi.

    “Untuk diabetes ada hubungan dua arah. Gusi yang tidak terawat bisa berpengaruh terhadap diabetes, begitu juga diabetes membuat seseorang lebih mudah mengalami masalah gusi,” terangnya.

    Baca: Penyakit Gaya Hidup Kini Juga Mengincar Anak

    Salah satu tanda paling umum penyakit gusi adalah gusi berdarah. Jika dibiarkan, lanjut Ines, peradangan dapat terus berlangsung dan menjadi ancaman bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

    “Kalau gusi berdarah dibiarkan terus menerus, peradangan itu akan terus menempel pada pembuluh darah kita. Ini berbahaya karena bisa menjadi fokus infeksi ke depannya,” kata Ines.

    Fokus infeksi juga dapat munculnya gangguan lain, seperti pada kulit. “Infeksi meningkat, otomatis sel inflamasi meningkat, lalu bisa termanifestasi pada kulit atau sistem imun,” ujarnya.

    Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan gusi masih rendah. Banyak yang baru datang ke dokter gigi ketika sudah mengalami nyeri atau kerusakan gigi, sementara tanda awal seperti gusi berdarah sering diabaikan.

    Baca: Pekerjaan Rumah Kesehatan Anak Indonesia Belum Usai

    Padahal, lanjut Ines, gusi yang sehat menunjukkan tubuh dalam kondisi lebih baik karena jumlah sel inflamasi lebih rendah.

    “Semakin sehat gusi seseorang, itu pertanda sel inflamasinya tidak banyak. Artinya kondisi kesehatannya lebih baik,” katanya.

    Selain itu, Ines mengingatkan, penyakit gusi bukan hanya masalah orang dewasa. Anak-anak pun juga dapat mengalaminya, bahkan sejak usia dini.

    “Jangan heran kalau anak usia tiga atau empat tahun terkena penyakit gusi. Bisa karena cara perawatan gigi yang kurang tepat atau daya tahan tubuh yang rendah,” jelasnya.

    Untuk mencegahnya, masyarakat perlu memperbaiki kebiasaan sederhana, mulai dari cara menyikat gigi yang benar, menjaga asupan nutrisi, hingga menerapkan pola hidup sehat.