Tag: gletser

  • Dampak Perubahan Iklim: Sebuah Desa di Swiss Hancur Akibat Kejatuhan Bongkahan Gletser

    Dampak Perubahan Iklim: Sebuah Desa di Swiss Hancur Akibat Kejatuhan Bongkahan Gletser

    7cloud.asia – Perubahan iklim menyebabkan gletser mencair lebih cepat. Lapisan tanah beku permanen, yang sering digambarkan sebagai perekat yang menyatukan gunung-gunung tinggi, juga mencair.

    Terbaru, mencairnya gletser akibatkan perubahan iklim telah mengakibatkan Desa Blatten di Swiss porak poranda setelah bongkahan besar gletser jatuh ke lembah yang menaungi desa tersebut.

    Rekaman drone menunjukkan sebagian besar Gletser Birch runtuh pada Rabu (28/05/2025) sekitar pukul 15:30 waktu setempat.

    Dilansir BBC Indonesia, longsoran lumpur yang melanda Blatten terdengar seperti suara gemuruh yang memekakkan telinga. Longsoran itu juga meninggalkan awan debu yang sangat tebal.

    Baca: Ketebalan salju abadi di Pegunungan Jayawijaya terus menipis

    Ahli glasiologi yang memantau pencairan gletser telah memperingatkan selama bertahun-tahun bahwa beberapa kota dan desa pegunungan Alpen mungkin terancam. Penduduk Blatten bahkan bukan yang pertama dievakuasi.

    Di Swiss timur, penduduk Desa Brienz dievakuasi dua tahun lalu karena lereng gunung di atas mereka runtuh. Sejak itu, mereka hanya diizinkan kembali untuk waktu yang singkat.

    Pada 2017, delapan pendaki tewas dan banyak rumah hancur ketika tanah longsor terbesar dalam lebih dari satu abad terjadi di dekat Desa Bondo.

    Baca: Mungkinkah salju abadi di Pegunungan Jayawijaya pulih seperti sediakala

    Laporan terbaru mengenai kondisi gletser Swiss menunjukkan bahwa gletser-gletser tersebut dapat mencair dalam waktu satu abad, jika suhu global tidak dapat dipertahankan dalam batas kenaikan 1,5 derajat celcius di atas tingkat pra-industri.

    Batas kenaikan suhu global ini disepakati dalam perjanjian iklim Paris yang ditanda-tangani hampir 200 negara pada 2015 atau 10 tahun silam.

    Banyak ilmuwan iklim menyatakan bahwa target tersebut telah terlewati, yang berarti pencairan gletser akan terus meningkat, meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor, serta mengancam lebih banyak komunitas seperti Blatten.

  • UNEP: Melelehnya Gletser Mengancam Sumber Air di Tajikistan

    UNEP: Melelehnya Gletser Mengancam Sumber Air di Tajikistan

    7cloud.asia – Perubahan iklim memberikan tekanan pada sumber daya air Tajikistan, sehingga kerja sama lintas batas menjadi krusial, menurut Atlas Perubahan Lingkungan baru untuk negara tersebut yang dirilis hari ini oleh Program Lingkungan PBB (UNEP).

    Berdasarkan data nasional dan satelit selama enam dekade, Atlas tersebut mengungkapkan bahwa suhu tahunan rata-rata Tajikistan telah meningkat sebesar 1,2°C – dua kali lipat rata-rata global sebesar 0,6°C – dengan laju pemanasan yang semakin cepat dalam beberapa dekade terakhir.

    Dari 14.000 gletser di negara tersebut, lebih dari 1.000 telah lenyap sepenuhnya dan banyak gletser kecil diperkirakan akan musnah dalam 30-40 tahun mendatang.

    Sementara itu, suhu udara rata-rata di Pegunungan Pamir diperkirakan akan meningkat 2,0°C pada tahun 2050 dibandingkan saat ini.

    Hal ini dapat menyebabkan gletser di DAS Pyanj dan Vakhsh menyusut masing-masing sebesar 75,5 persen dan 53 persen – yang secara signifikan akan berdampak pada pasokan air tawar.

    Meningkatnya suhu juga berarti limpasan di DAS Amu Darya kemungkinan akan berkurang sekitar 30% dibandingkan rata-rata dekade terakhir.

    Hal ini dapat semakin meningkatkan tekanan terhadap sumber daya air, baik di Tajikistan maupun di seluruh Asia Tengah, menurut Atlas tersebut.

    Antara tahun 2020 dan 2023, Tajikistan mengalami 1.826 bencana alam — termasuk banjir, tanah longsor, dan longsoran salju — yang mengakibatkan lebih dari 100 kematian dan kerugian ekonomi lebih dari 30 juta dolar, menurut Atlas tersebut.

    Setiap tahun, negara ini mencatat 500 hingga 600 keadaan darurat, 90 persen di antaranya terkait dengan bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, longsoran batu, dan longsoran salju.

    “Atlas ini memberikan bukti penting untuk mendukung Tajikistan dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan,” kata Arnold Kreilhuber, Direktur Kantor UNEP Eropa.

    “Dengan memvisualisasikan dampak-dampak ini, Atlas ini memberdayakan para pengambil keputusan untuk melindungi sumber daya alam, mengurangi risiko bencana, dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan.”

    Sumber daya air, yang memasok hingga 95 persen listrik negara melalui tenaga air, diidentifikasi sebagai salah satu sektor paling rentan di Tajikistan. Atlas ini menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya air terpadu dan kerja sama lintas batas untuk menjaga jalur kehidupan yang krusial ini.

    Tajikistan juga dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati global, dengan kepadatan spesies per satuan luas tertinggi di antara negara-negara Asia Tengah.

    Kawasan lindung telah meluas dari 3,6 persen wilayah negara pada tahun 1991 menjadi 21,6 persen pada tahun 2023, yang mencakup empat cagar alam, 13 suaka margasatwa, dan tiga taman nasional.

    Atlas ini tersedia dalam bentuk cetak dan melalui Geoportal interaktif, yang menyediakan akses terbuka ke data lingkungan terkini berbasis sains.

    Geoportal akan memungkinkan para pembuat kebijakan untuk menggunakan dan terus memperbarui informasi guna mengambil tindakan iklim dan melaporkan perjanjian internasional, termasuk Konvensi Rio dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
    Awalnya diluncurkan dalam bahasa Rusia, Atlas ini juga akan tersedia dalam bahasa Tajik dan Inggris untuk memperluas akses bagi para pembuat kebijakan, peneliti, dan masyarakat luas.

    Proyek ini juga mencakup Republik Kirgistan, yang Atlasnya telah diterbitkan awal tahun ini; dan Uzbekistan, yang Atlasnya saat ini sedang dalam tahap penyusunan.

  • Hari Gletser Sedunia; Emisi Gas Rumah Kaca Mengancam Gletser Dunia

    Hari Gletser Sedunia; Emisi Gas Rumah Kaca Mengancam Gletser Dunia

    7cloud.asia – Menyambut Hari Gletser Sedunia yang diperingati setiap tahun pada tanggal 21 Maret, mari luangkan waktu sejenak untuk mengenal lebih dekat lapisan es ini.

    Gletser dan lapisan es adalah massa es besar yang terbentuk ketika salju yang jatuh dikompresi dan mengkristal kembali. Proses ini berlangsung selama beberapa dekade dan bahkan masuk hitungan abad.

    Dilansir di laman resmi Program Lingkungan PBB, unep.org, secara keseluruhan, gletser menutupi sekitar 10 persen dari total luas daratan Bumi.

    Gletser di dunia tersebar di seluruh benua kecuali Australia, dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah kutub, baik kutub utara ataupun kutub selatan.

    Hampir 91 persen gletser Bumi terletak di Antartika, 8 persen di Greenland, dan sisanya kurang dari 1 persen tersebar di pegunungan tinggi Amerika Utara (Alaska), Asia (Himalaya), Amerika Selatan (Andes), Eropa, serta Selandia Baru.

    Di Indonesia, gletser dapat dijumpai sebagai lapisan es abadi di Puncak Jaya Wijaya, Papua yang berada pada ketinggian lebih dari 4.600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

    Baca: Sebuah desa di Swiss hancur akibat kejatuhan bongkahan gletser

    Pelestarian gletser
    Meskipun kita sering mengaitkan keajaiban alam ini dengan wilayah kutub atau puncak gunung, gletser memainkan berbagai peran dalam kehidupan di seluruh planet – meskipun peran mereka berubah dengan cepat.

    Selama dua dekade terakhir, hilangnya gletser telah meningkat, dengan beberapa wilayah di dunia kehilangan hampir 40 persen massa esnya.

    Dengan emisi gas rumah kaca saat ini, dunia berada di jalur untuk kehilangan hampir semua gletser di dataran rendah dan tropis – dan sebagian besar kriosfer secara global.

    Dalam laporan terbaru Program Lingkungan PBB bertajuk Mountains in Motion: Global Linkages from Ridge to River, dipaparkan berbagai identitas gletser dan apa arti peran kriosfer yang berkembang bagi manusia dan alam.

    Laporan itu menyebut bahwa gletser adalah pelindung memori ekosistem. Meskipun beberapa gletser saat ini hanya berusia beberapa ratus tahun, sebagian besar merupakan sisa-sisa dari Zaman Es global terakhir yang berakhir lebih dari 10.000 tahun yang lalu.

    Dengan demikian, gletser bukan hanya es – tetapi juga arsip yang menyimpan catatan iklim, polusi, dan perubahan planet.

    Baca: Ketebalan gletser di Pegunungan Jayawijaya terus menipis

    Aerosol, bakteri, biomassa, dan partikel lain yang tertanam dalam gletser adalah petunjuk tentang atmosfer dan biosfer masa lalu, membantu para ilmuwan memahami bagaimana sistem alam telah berevolusi dari waktu ke waktu.

    Saat gletser menyusut, dunia berisiko kehilangan bukti yang tak tergantikan yang dapat memperdalam pemahaman kita tentang masa lalu dan memberikan informasi untuk proyeksi iklim di masa depan.

    Tak hanya itu gletser juga menyimpan sederet manfaat untuk lingkungan dan kehidupan manusia. Karena itu, UNEP terus berupaya mengurangi laju hilangnya gletser ini dengan berbagai cara.

    Salah satunya adalah dengan menyerukan masyarakat internasional untuk serius memangkas emisi gas rumah kaca.

    Resolusi Pertemuan Lingkungan PBB (United Nation Environment Assembly/UNEA-7) mengirimkan pesan yang jelas: perlindungan gletser dan kriosfer yang lebih luas adalah tanggung jawab global bersama.

    ”Perlindungan gletser adalah investasi strategis dalam pengelolaan sumber daya air berkelanjutan, keseimbangan ekologis, ketahanan, dan kesejahteraan manusia,” tandas Bahodur Sheralizoda, Ketua Komite Perlindungan Lingkungan Tajikistan dalam laporan tersebut.

    Dia berharap, amanat UNEA-7 ini akan diterjemahkan menjadi tindakan nyata, kemitraan yang lebih kuat, dan investasi yang lebih besar untuk generasi sekarang dan mendatang.

    Baca: Melelehnya gletser mengancam sumber air di Tajikistan

  • Hari Gletser Sedunia: Ini yang Terjadi pada Lingkungan Jika Gletser Hilang

    Hari Gletser Sedunia: Ini yang Terjadi pada Lingkungan Jika Gletser Hilang

    7cloud.asia – Pemanasan global dan perubahan iklim mengakibatkan laju hilangnya gletser berlangung lebih cepat. Kabar baiknya, mulai terlihat adanya tanda-tanda bahwa dunia mulai menanggapi hilangnya gletser.

    Pada Sidang Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa ketujuh (UNEA-7) pada Desember 2025, negara-negara di dunia mengadopsi resolusi penting yang didedikasikan untuk pelestarian gletser dan kriosfer yang lebih luas, khususnya di wilayah pegunungan.

    Resolusi tersebut, yang diusulkan oleh Tajikistan dan disponsori bersama oleh Bhutan dan Peru yang merupakan negara yang tergantung pada gletser.

    Isinya menyerukan kerja sama yang lebih kuat, pendanaan, peningkatan kapasitas, dan tindakan untuk membantu negara dan komunitas yang rentan menanggapi percepatan hilangnya gletser.

    Resolusi ini juga meminta UNEP untuk memperkuat antarmuka sains-kebijakan dengan mengidentifikasi kesenjangan dan kebutuhan, dan dengan mendukung pertukaran pengetahuan tentang pendekatan untuk melindungi ekosistem pegunungan dan pasca-gletser.

    “Resolusi UNEA-7 mengirimkan pesan yang jelas: perlindungan gletser dan kriosfer yang lebih luas adalah tanggung jawab global bersama dan investasi strategis dalam pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, keseimbangan ekologis, ketahanan, dan kesejahteraan manusia,” kata Bahodur Sheralizoda, Ketua Komite Perlindungan Lingkungan Tajikistan.

    Dia berharap hal ini akan diterjemahkan menjadi tindakan nyata, kemitraan yang lebih kuat, dan investasi yang lebih besar untuk generasi sekarang dan mendatang.

    Berbagai upaya ini dilakukan untuk menjaga kelestarian gletser yang menyimpan sederet manfaat untuk lingkungan dan kehidupan penghuni planet Bumi.

    Baca: Emisi gas rumah kaca mengancam keberadaan gletser dunia

    Berikut sejumlah manfaat gletser bagi Bumi yang dikutip dari laporan terbaru Program Lingkungan PBB bertajuk Mountains in Motion: Global Linkages from Ridge to River:

    Melindungi memori ekosistem
    Meskipun beberapa gletser saat ini hanya berusia beberapa ratus tahun, sebagian besar merupakan sisa-sisa dari Zaman Es global terakhir yang berakhir lebih dari 10.000 tahun yang lalu.

    Dengan demikian, gletser bukan hanya es – tetapi juga arsip yang menyimpan catatan iklim, polusi, dan perubahan planet.

    Aerosol, bakteri, biomassa, dan partikel lain yang tertanam dalam gletser adalah petunjuk tentang atmosfer dan biosfer masa lalu, membantu para ilmuwan memahami bagaimana sistem alam telah berevolusi dari waktu ke waktu.

    Saat gletser menyusut, dunia berisiko kehilangan bukti yang tak tergantikan yang dapat memperdalam pemahaman kita tentang masa lalu dan memberikan informasi untuk proyeksi iklim di masa depan.

    Sumber air tawar yang penting
    Diperkirakan bahwa 70 persen air tawar dunia tersimpan di gletser, yang berarti bahwa gletser membantu menopang kehidupan di wilayah-wilayah utama dunia.

    Bersama dengan air lelehan salju dan curah hujan, air lelehan gletser mengalir ke sistem air hilir yang luas yang mendukung air minum, pertanian, produksi energi, dan perekonomian.

    Namun, laporan tersebut memperingatkan bahwa hal ini sedang berubah. Banyak cekungan sungai telah melewati “puncak air,” yaitu titik di mana jumlah air lelehan gletser beralih dari meningkatkan aliran permukaan menjadi menyebabkan penurunan aliran permukaan.

    Baca: Menipisnya gletser mengancam sumber air di Tajikistan

    Sepertiga dari cekungan sungai terbesar di dunia diproyeksikan akan mengalami penurunan aliran permukaan lebih dari 10 persen pada tahun 2100 karena hilangnya gletser.

    “Gletser adalah penjaga kita yang diam,” kata Sonam Tashi, Direktur Departemen Lingkungan dan Perubahan Iklim Bhutan.

    Dia menambahkan, ketika gletser mencair terlalu cepat, bukan hanya lanskap lingkungan yang berubah – tetapi juga keamanan air, sistem pangan, ekonomi, dan keselamatan rakyat juga terancam.”

    Landasan pendaratan polusi
    Saat ini, puncak gunung pun tidak terlepas dari polusi. Kontaminan yang terbawa angin dari industri, transportasi, dan pertanian sampai ke lanskap dataran tinggi terpencil, di mana mereka menumpuk di salju dan es.

    Seringkali berwarna hitam, polusi yang mengendap di gletser memerangkap panas, mempercepat pencairan gletser dan melepaskan polutan lain yang telah lama tersimpan di dalam es.

    Laporan ini menyoroti logam berat, polutan organik persisten, dan kontaminan lainnya sebagai bagian dari risiko yang meningkat ini, menghubungkan hilangnya gletser secara langsung dengan kualitas air, kesehatan ekosistem, dan kesejahteraan manusia.

    Penjaga keanekaragaman hayati
    Meskipun gletser merupakan lanskap yang cukup terpencil, kehidupan di sekitarnya berkembang pesat. Air lelehnya mendukung berbagai sistem air tawar, sementara lahan baru yang terbuka akibat penyusutan gletser siap untuk dikolonisasi oleh spesies perintis.

    Seiring waktu, area yang terbuka ini dapat berkembang menjadi padang rumput, hutan, lahan basah, dan ekosistem lain yang mendukung beragam keanekaragaman hayati dan layanan ekosistem.

    Namun transisi ini tidak selalu merupakan kabar baik: penyusutan gletser merupakan tanda perubahan iklim yang semakin parah, dan spesies yang telah beradaptasi secara khusus dengan lingkungan gletser berisiko kehilangan satu-satunya habitat mereka setelah gletser hilang.

    Baca: Ketebalan gletser di Pegunungan Jayawijaya terus menipis

    Pengatur risiko
    Gletser tidak hanya mengatur air – tetapi juga memengaruhi pola bahaya di wilayah pegunungan. Seiring menyusutnya lapisan es, laporan tersebut memperingatkan peningkatan risiko banjir, longsoran salju, dan tanah longsor.

    Pencairan gletser berarti peningkatan limpasan dan meningkatkan kemungkinan banjir selama beberapa musim, sementara perubahan pola juga dapat memperparah kekeringan di musim lainnya.

    Bagi masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, hilangnya gletser dapat membawa konsekuensi besar bagi rumah, pertanian, infrastruktur, dan mata pencaharian mereka.

    Pengatur iklim
    Gletser bukanlah sekadar pengamat krisis iklim. Gletser merupakan bagian aktif dari sistem iklim, dan penurunan gletser dapat memperkuat perubahan yang mendorong hilangnya gletser itu sendiri.

    Permukaan putih cerahnya (ketika polusi tidak banyak terendapkan) memantulkan sinar matahari kembali ke atmosfer, membantu mengurangi pemanasan di lingkungan pegunungan – sesuatu yang dikenal sebagai albedo.

    Saat es dan salju menyusut, perisai reflektif tersebut berkurang, sehingga permukaan yang lebih gelap yang menyerap lebih banyak panas dan dapat mempercepat pemanasan dan pencairan.

    Laporan tersebut juga mencatat bahwa gletser berperan dalam mengatur sistem cuaca lokal serta pola hidrologi global yang sudah mulai berubah.

    Jadi tonggak budaya
    Gletser penting dalam berbagai hal yang tidak dapat diukur dalam meter persegi atau ton.

    Laporan ini menggambarkan identitas budaya dan spiritual yang telah dibangun di sekitar pegunungan dan gletser, dan bahwa hilangnya gletser telah menyebabkan upacara, sastra, seni, dan acara publik berfokus pada penurunannya.

    Bagi banyak masyarakat adat dan lokal, gletser terjalin dalam rasa tempat dan ingatan kolektif mereka, dan kehilangan tersebut tidak hanya mewakili gangguan lingkungan tetapi juga kesedihan budaya.

    Mengenali gletser dan tonggak budaya memperluas kisah mereka di luar sains dan risiko, mengingatkan kita bahwa hilangnya kriosfer juga tentang rasa memiliki, warisan, dan bagaimana masyarakat memahami perubahan lanskap yang mendalam.

    Baca: Sebuah desa di Swiss hancur tertimpa bongkahan gletser