Tag: glodok

  • Serunya Tur Jalan Kaki di Kawasan Pecinan Glodok

    Serunya Tur Jalan Kaki di Kawasan Pecinan Glodok

    7cloud.asia – Selama liburan Tahun Baru Imlek 2576, komunitas Jakarta Good Guide menggelar tur jalan kaki (walking tour) di kawasan Pecinan, Glodok Jakarta Barat

    Tur jalan kaki yang dimaksudkan untuk mengenalkan sejarah kawasan Pecinan, Glodok ini diminati warga Jakarta dan sekitarnya.

    Pemandu wisata dari Jakarta Good Gouide, Pramono mengatakan bahwa tur jalan kaki ini mengambil rute dari Gerbang Pecinan sampai Petak Sembilan

    Dilansir Antaranews.com, Pramono mengatakan ada empat pemandu wisata dalam tur khusus saat tahun baru Imlek ini. Setiap pemandu membimbing satu kelompok berisikan delapan orang.

    Adapun titik lokasi yang dikunjungi, yakni Pancoran Tea House, Petak Sembilan, Wihara Dharma Bakti, Vihara Dharma Sakti, Gereja Santa Maria de Fatimah dan Wihara Dharma Jaya.

    Baca: Festival Bandeng Rawa Belong ramaikan perayaan tahun baru Imlek

    “Wisatawan bisa membayar seikhlasnya untuk bisa mengikuti tur wisata ini dengan mendaftar terlebih dahulu melalui tautan di Instagram kami,” ujarnya.

    Seorang warga asal Bogor, Puspa mengatakan, baru pertama kali mengikuti kegiatan jalan-jalan bersama ini.

    “Aku ikut kegiatan ini karena mumpung libur dan sudah lama tertarik untuk mengunjungi kawasan Glodok,” katanya.

    Adapun titik tempat berkumpul di Harco Glodok, Jakarta Barat, dengan tur dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.

    Bagi yang tertarik bisa menaiki Transjakarta dengan turun di Halte Glodok untuk menuju titik berkumpul.

    Baca: Kawasan Pecinan di Pancoran/Glodok terintegrasi dengan Kota Tua

    Sejarah Kawasan Pecinan Glodok
    Pada Juni 2022, Kawasan Pecinan Glodok diresmikan sebagai Desa Wisata oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

    Sejak itu banyak wisatawan lokal maupun asing yang berdatangan untuk mencicipi masakan khas Glodok dan mengenal sejarah dan budaya komunitas Tionghoa yang menetap di sana.

    Menyusuri kawasan Pecinan Glodok memang menawarkan pengalaman berbeda. Suasana dan budaya Tionghoa kental dirasakan jalanan dan bangunan di sana.

    Dilansir BBC.com, sejarawan senior Rushdy Hoesein mengatakan bahwa asal mula Pecinan di Glodok terbentuk bermula dari pembangunan benteng di Batavia pada abad ke-17.

    Saat itu ada pembagian penempatan penduduk, yakni siapa yang berhak tinggal di luar maupun dalam benteng.

    “Mereka yang tidak berhak tinggal di dalam, mereka tinggal di luar benteng. Antara lain itu adalah masyarakat China yang semakin lama semakin bertambah banyak,” kata Rushdy.

    Baca: Kawasan Kota Tua jadi daerah rendah emisi

    Warga Glodok sebagian besar adalah para migran dari China bermula dari pedagang miskin tetapi dengan kemampuan dan kehidupan keras yang mereka alami bisa sukses, bahkan mereka menjadi pengusaha-pengusaha besar.

    ”Jumlah mereka bertambah banyak, saling undang-mengundang hingga membangun komunitasnya sendiri,” imbuhnya.

    Kehadiran para pedagang dari China ini menguntungkan kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) karena mereka mampu memenuhi berbagai macam kebutuhan pokok, mulai dari kebutuhan pangan seperti sayur, buah-buahan, daging babi hingga konstruksi.

    Pendatang asal China itu bisa melebar sampai mempunyai kemampuan lain. Pembangunan yang masih primitif itu sudah dilakukan oleh orang China.

    ”Termasuk jalan kali, yang disebut Ciliwung padahal itu terusan, sepanjang jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, itu yang bangun orang China,” ungkap Rushdy.

  • Kawasan Pecinan Glodok Ditata Untuk Kenyamanan, Bukan Melarang Berdagang

    Kawasan Pecinan Glodok Ditata Untuk Kenyamanan, Bukan Melarang Berdagang

    7cloud.asia – Glodok, kawasan Pecinan tertua di Jakarta Barat, hidup dan berkembang dengan caranya sendiri saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menyiapkan penataan khusus.

    Pemprov DKI Jakarta akan mervitalisasi kawasan Pecinan Glodok, bersama Pasar Baru dan Kota Tua yang dijadwalkan mulai dikerjakan pada pertengahan 2026.

    Proyek revitalisasi ini dirancang terintegrasi dengan pembangunan MRT Fase 2A (stasiun Kota dan Glodok) yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2029.

    Pemerintah kota (Pemkot) Jakarta Barat menyiapkan integrasi Kawasan Pancoran, Glodok, Taman Sari atau Pecinan dengan Kota Tua. Penataan kawasan selain menambah kantong parkir, juga peningkatan fasilitas untuk pejalan kaki dan pengadaan lampu tematik.

    Sehingga nantinya, wisatawanyang ingin ke Kota Tua dapat langsung ke Glodok-Pancoran atau Kawasan Pecinan.

    Ruangkota.com berkesempatan menyusuri kawasan ini pada Rabu (11/2/2026). Lorong-lorong di Glodok masih sibuk oleh aktivitas pedagang di tengah persiapan menyambut Imlek dan menjelang Ramadan tahun ini.

    Baca: Kawasan pecinan di Pancoran/Glodok akan diitegrasikan dengan Kota Tua

    Glodok tetap menjadi pusat tradisi dan kuliner. Pengunjung datang bukan hanya jalan-jalan, tetapi juga mencari jajanan tradisional, tripang hidup, hingga berbagai pernak-pernik khas etnis Tionghoa.

    Suasana ini menunjukkan bahwa kawasan pecinan Glodok bukan sekadar tujuan wisata, tetapi juga ruang hidup bagi komunitas yang telah puluhan tahun menorehkan sejarah di kawasan ini.

    Setiap lorong sempitnya menyimpan cerita puluhan bahkan ratusan tahun, dari bangunan kolonial hingga kelenteng kuno, gereja, masjid, dan pasar tradisional yang masih berdenyut hingga kini.

    Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan bahwa penataan Glodok tidak akan melarang aktivitas pedagang. Sebaliknya, pengaturan dilakukan agar pejalan kaki nyaman, kendaraan tidak macet, dan kawasan tetap menarik bagi wisatawan.

    “Glodok memiliki karakteristik yang unik. Kita akan atur, bukan larang,” ujarnya dilansir dari beritajakarta.id, Rabu, (11/02/2026).

    Baca: Kota Tua dikembangkan menjadi kawasan rendah emisi

    Penataan ini diharapkan juga dapat meningkatkan nilai ekonomi lokal, karena kawasan yang tertata rapi cenderung menarik lebih banyak pengunjung.

    Setiap sudut punya cerita
    Kawasan pecinan Glodok mulai berkembang sejak abad 18, tepatnya sejak peristiwa pemburuan besar-besaran terhadap etnis Tionghoa pada tahun 1740 yang dikenal dengan Geger Pecinan.

    Adanya pemberlakuan aturan bahwa orang Tionghoa harus tinggal di luar tembok Batavia membuat Glodok mulai terbentuk dan menjadi pusat daerah pemukiman orang-orang Tionghoa atau yang kita sebut Pecinan.

    Dalam perkembangannya, Glodok yang awalnya adalah tempat isolasi, justru menjadi pusat perekonomian dan perdagangan. Kawasan Glodok dan Kawasan Pancoran sejak dahulu menjadi urat nadi perekonomian Jakarta.

    Dan, hampir 300 tahun kemudian setiap sudut kawasan pecinan Glodok tetap menyimpan ceritanya masing-masing. Sebut Pantjoran Tea House, pusat perdagangan teh yang berdiri sejak awal abad ke-20.

    Baca: Serunya tur jalan kaki di Kawasan Pecinan Glodok

    Juga Gang Gloria dengan bangunan kolonial dan etnik Tionghoa yang mencerminkan perdagangan barang antik dan rempah di masa lalu, termasuk cerita dari Petak 6 dan Petak 9.

    Kelenteng Tan Seng Ong dan Toa Se Bio, serta Kompleks Kelenteng Djin De Yuan, menjadi simbol keberlangsungan tradisi dan seni Tionghoa di Jakarta.

    Masjid Kali Pasir, yang juga tua, menambah lapisan sejarah kawasan, menjadi saksi perkembangan komunitas Muslim di Pecinan, memperkuat keragaman budaya yang harmonis.

    Bahkan Gereja Santa Maria de Fatima berdiri berdampingan, menegaskan pluralisme dan toleransi di kawasan ini sejak era kolonial.

    Nilai sejarah Glodok bukan sekadar tentang bangunan, tetapi tentang bagaimana kawasan ini menjadi pusat komunitas, perdagangan, dan budaya yang hidup dari generasi ke generasi.

    Reporter: Kemal Maulana