7cloud.asia – Di ruang kelas masa kini, alat-alat bantu seperti teknologi penerjemahan otomatis atau machine translation (MT) seperti Google Translate telah menjadi sumber daya utama bagi para pembelajar bahasa.
Teknologi machine translation (MT) seperti Google Translate ini membantu siswa menerjemahkan kata atau teks atau menyelesaikan tugas menulis dengan cepat dan mudah.
Meskipun alat-alat ini sangat membantu, penting untuk memahami bagaimana teknologi penerjemahan otomatis seperti Google Translate digunakan dan apa dampaknya terhadap pembelajaran, terutama bagi mereka yang sedang membangun kemampuan bahasa.
Sebuah artikel riset tahun 2024 melaporkan bagaimana pembelajar bahasa Inggris yang tingkat kemahirannya lebih rendah menggunakan MT, yaitu Google Translate (GT), untuk membantu tugas-tugas membaca dan menulis.
Penelitian tersebut menemukan bahwa meskipun Google Translate bisa bermanfaat, teknologi ini sering kali digunakan sebagai jalan pintas daripada sebagai alat bantu pembelajaran.
Banyak pembelajar mengandalkan Google Translate untuk menerjemahkan seluruh paragraf atau teks daripada mencoba menulis dalam bahasa Inggris terlebih dahulu.
Ini menyebabkan terjadinya “L2 avoidance” atau penghindaran bahasa kedua (L2), yaitu ketika siswa mengabaikan latihan bahasa yang mereka butuhkan untuk meningkatkan keterampilan mereka.
Penghindaran ini dapat mengganggu pembelajaran bahasa dan menghasilkan pemahaman yang dangkal, meskipun siswa tampaknya terus mengerjakan tugas-tugas dalam bahasa kedua.
Faktor-faktor yang bisa menyebabkan L2 avoidance ini misalnya kurangnya pengetahuan kosakata atau tata bahasa, keterbatasan waktu, dan kemudahan.
Baca: Yuk, pahami etika menggunakan AI
Kemudahan yang berpotensi menjebak
Bagi siswa yang kesulitan dengan kosakata atau tata bahasa, Google Translate memang dapat menambah kepercayaan diri dan menjadi alat bantu untuk mengelola tugas-tugas yang sulit. Salah satu peserta riset yang merupakan mahasiswa S1 dari jurusan bahasa Inggris mengatakan,
“Google Translate sangat membantu saya. Ketika saya menemukan kata-kata sulit yang tidak saya pahami dalam sebuah teks, saya hanya perlu mengetiknya di GT, dan saya akan mendapat terjemahannya secara instan.”
Namun, penelitian ini juga menyoroti sisi negatif dari teknologi ini. Ketika siswa terlalu mengandalkan Google Translate, ada peluang mereka tidak sepenuhnya berinteraksi dengan bahasa yang dipelajari.
Siswa yang kurang percaya diri, khususnya, bisa menghindari pengambilan risiko dan menggantungkan kepercayaannya pada Google Translate. Ketergantungan ini dapat mengakibatkan penyelesaian tugas tanpa siswa benar-benar belajar tentang materi.
Bukannya berlatih dan mengembangkan kemampuan bahasa, mereka cenderung lebih berfokus untuk menyelesaikan tugas secepat mungkin.
Mencari keseimbangan yang tepat
Kunci untuk memanfaatkan teknologi seperti Google Translate secara maksimal terletak pada bagaimana teknologi itu dipakai dalam proses pembelajaran.
Di sini, pendidik memiliki peran penting dalam membantu siswa menggunakan MT sebagai alat dukung pembelajaran, bukan sebagai metode utama untuk menyelesaikan tugas.
Contohnya, guru dapat mendorong siswa untuk menulis draf sendiri, baru kemudian menggunakan Google Translate untuk memeriksa pekerjaan mereka. Dengan cara ini, siswa tetap dapat melatih kemampuan bahasa kedua saat memanfaatkan teknologi.
Tugas juga dapat dirancang untuk menuntut interaksi yang lebih aktif dengan bahasa kedua. Tugas menulis kreatif, kolaborasi dengan teman sebaya, dan proyek yang melibatkan pemikiran kritis dapat membantu siswa untuk tidak sekedar mengerjakan tugas penerjemahan yang sederhana tetapi bekerja untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang bahasa.
Baca: Ekses penggunaan AI dalam proses pembelajaran
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan meminta siswa yang belum cukup mahir untuk menulis draf awal dalam bahasa pertama atau bahasa ibu (L1), menerjemahkannya dengan Google Translate, kemudian menyempurnakannya dengan umpan balik dari teman sebaya atau guru.
Setelah itu, guru dapat membimbing mahasiswa untuk melakukan refleksi terhadap terjemahan yang dilakukan.
Menurut pengalaman kami, metode ini dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis tentang pilihan-pilihan bahasa yang mereka pakai dan bagaimana memanfaatkan GT sebagai sarana perbaikan, bukan sebagai alat untuk menyingkirkan masalah dengan cepat.
Proyeksi ke depan
Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi penerjemahan otomatis, alat bantu ini akan memainkan peran yang semakin besar dalam pendidikan bahasa.
Meskipun kemajuan kecerdasan buatan seperti ChatGPT bisa membantu menghasilkan ide dan menyusun teks, MT tetap bermanfaat ketika pembelajar membutuhkan dukungan dari bahasa pertama (L1) untuk membaca atau menyampaikan gagasan mereka saat menulis dalam bahasa kedua (L2).
Dengan membimbing siswa untuk menggunakan teknologi secara seimbang, para pendidik dapat membantu mereka membangun kemampuan bahasa yang kuat sambil memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan oleh alat bantu seperti Google Translate.
Pendekatan yang seimbang ini tidak hanya akan meningkatkan kemahiran berbahasa, tetapi juga mempersiapkan siswa untuk menjelajahi dunia yang semakin digital dengan percaya diri.
Teknologi terus berintegrasi ke dalam pendidikan, sehingga fokus pada praktik pemakaian bahasa yang bermakna akan sangat penting untuk membantu siswa mencapai kemahiran yang sesungguhnya.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Elisabet Titik Murtisari (Associate Professor Universitas Kristen Satya Wacana) dan Gary Bonar (Dosen School of Curriculum Teaching & Inclusive Education, Monash University)
