Tag: gorengan

  • Sering Makan Gorengan? Ini Bahaya yang Mengintai

    Sering Makan Gorengan? Ini Bahaya yang Mengintai

    7cloud.asia – Gorengan bukan makanan asing di Indonesia, hampir semua orang suka dan pernah mengkonsumsinya.

    Banyak pula orang yang sudah mengetahui bahaya yang mengintai di baliknya, tetapi tetap mengkonsumsi gorengan.

    Menggoreng adalah cara yang sering digunakan dalam mengolah makanan di Indonesia.

    Karenanya kita mengenal beragam gorengan baik sebagai camilan  seperti pisang, ubi, singkong, kacang dll.

    Gorengan juga sering kita konsumsi sebagai lauk seperti ayam, ikan, tahu, tempe dan sebagainya.

    Baca: Kiat berolahraga di daerah yang berpolusi udara

    Padahal, proses menggoreng justru bisa mengurangi nilai gizi atau vitamin yang terkandung di bahan utamanya dan menambahkan kalori dan kandungan lemaknya.

    Karena itu disarankan untuk mengurangi konsumsi gorengan. Dilansir Alodokter ada beberapa bahaya jika sering mengonsumsi gorengan, yaitu:

    1. Menyebabkan kelebihan berat badan
    Makanan yang digoreng akan menyerap lemak dari minyak, sehingga kalorinya akan menjadi lebih tinggi.

    Semakin tinggi asupan kalori harian seseorang, semakin tinggi pula risiko ia mengalami kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas.

    Selain itu, kandungan lemak trans (lemak tak jenuh) dalam makanan yang digoreng juga memainkan peran penting dalam penambahan berat badan.

    Lemak ini diketahui dapat memengaruhi kerja hormon yang dapat meningkatkan nafsu makan dan menambah penyimpanan lemak.

    Baca: Masker dan makanan sehat cara tangkal dampak polusi udara pada kesehatan

    2. Meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular
    Berdasarkan hasil penelitian, makan gorengan meningkatkan risiko penyakit jantung serta meningkatkan risiko terjadinya obesitas.

    Minyak goreng juga mengandung banyak lemak jenuh dan lemak trans yang diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol darah.

    Peningkatan kolseterol ini bisa menjadi akar dari berbagai penyakit kardiovaskuler , termasuk penyakit jantung koroner, serangan jantung dan stroke.

    Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan

    3. Meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2

    Makanan yang digoreng biasanya dilapisi tepung. Makanan yang diolah seperti ini akan lebih tinggi kalori dan mengandung lebih banyak karbohidrat sederhana dan lemak tidak sehat.

    Terlalu banyak lemak dalam makanan tidak hanya dapat menyebabkan naiknya berat badan, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya diabetes tipe 2.

    Hal ini bisa terjadi pada siapa saja, dan tidk mengenal usia, jadi bisa dialami anak-anak maupun orang dewasa. 

    Baca: Polusi udara bisa memiu hipertensi dan kemandulan

    4. Memperbesar risiko munculnya kanker
    Selain itu bahaya lain yang tak bisa diremehkan adalah meningkatkan risiko terkena kanker.

    Bahaya ini bisa muncul akibat zat akrilamida yang dapat terbentuk selama proses memasak dengan suhu tinggi, seperti menggoreng.

    Makanan bertepung, seperti kentang goreng atau ayam goreng tepung, diketahui akan mengandung akrilamida yang lebih tinggi ketika terpapar suhu tinggi.

    Jika terlalu banyak dan sering dikonsumsi, zat ini diduga bisa menyebabkan beberapa jenis kanker, seperti kanker ovarium.

    Selain itu, lemak trans pada makanan yang digoreng diketahui bisa tingkatkan jumlah senyawa yang mendukung peradangan dalam tubuh dan dapat meningkatkan risiko kanker.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Gorengan, Makanan Lezat Ini Perlu Dihindari Saat Puasa Ramadhan

    Gorengan, Makanan Lezat Ini Perlu Dihindari Saat Puasa Ramadhan

    7cloud.asia – Makanan yang digoreng atau gorengan termasuk salah satu santapan yang disarankan untuk dihindari saat berbuka puasa dan sahur selama Ramadhan.

    Pakar Gizi Klinik dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Dr. dr Fiastuti Witjaksono MSc, MS, Sp.GK mengatakan, menghindari gorengan saat puasa ini demi kenyamanan dan kesehatan lambung.

    “Gorengan sebaiknya tidak dikonsumsi supaya lambung tidak merasa kurang nyaman. Lambungnya tidak enak, pengosongan lambung jadi lebih lambat,” katanya dalam sebuah webinar kesehatan beberapa waktu lalu.

    Dilansir Antaranews.com, selain gorengan, makanan berlemak tinggi juga perlu dihindari saat puasa Ramadhan.

    Pasalnya, jenis makanan ini dapat mengganggu atau menghambat pengosongan lambung.

    Baca: Puasa ramadhan ternyata bagus bagi penderita maag dan GERD

    Fiastuti juga menyarankan untuk menghindari makanan yang dapat merangsang asam lambung atau merusak lambung seperti makanan pedas, asam sebaiknya dikurangi terutama diawal-awal puasa.

    “Kalau sudah beberapa hari, biasanya saluran cerna sudah beradaptasi, bisa kembali menerima makanan biasa,” kata Fiastuti.

    Dia juga menyarankan menghindari makanan-makanan yang menghasilkan gas seperti makanan berlemak, minuman bersoda, sayuran tertentu semisal kol dan sawi.

    Menurutnya, makanan yang menghasilkan gas di lambung dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, kemudian buah-buah tertentu seperti nangka dan pisang ambon.

    Baca: Beda maag dan GERD

    Anda pun sebaiknya menghindari makanan atau minuman yang merangsang keluarnya asam lambung seperti kopi, minuman beralkohol dan jeruk yang sangat asam.

    “(Hal ini dilakukan) supaya puasa menghasilkan luaran yang lebih sehat tanpa dibebani beberapa kondisi yang ganggu lambung,” tutur Fiastuti.

    Kemudian, demi meningkatkan daya tahan tubuh selama puasa Fiastuti tidak menyarankan sahur semata teh manis.

    Namun perlu asupan makanan lengkap semisal mencakup protein seperti ikan, ayam, daging, tahu, tempe, susu serta sayur dan buah yang menjaga rasa kenyang lebih lama sehingga tidak mudah lapar saat berpuasa.

     

    Baca: Pengaruh kualitas air minum untuk kesehatan

    Mereka dengan kondisi medis tertentu, diabetes misalnya, sebaiknya berbuka puasalah dengan makanan manis cukup sekali supaya kadar gula darah optimal saja, setelah itu jangan makan manis lagi.

    Apabila Anda memiliki penyakit hipertensi, kurangi makanan yang terlalu asin. Kemudian bila kadar kolesterol Anda tinggi maka hindari lemak jenuh seperti kulit ayam dan gorengan.

    Terakhir, selama berpuasa untuk mencegah dehidrasi, Anda harus cukup minum yakni sekitar 6-8 gelas per hari.

    “Cairan bisa air putih, bisa dikombinasi dengan susu,” demikian pesan Fiastuti.