Tag: gorontalo

  • Hujan Deras Akibatkan Banjir di Gorontalo Utara, Ketinggian Air Ada yang Mencapai 2 Meter

    Hujan Deras Akibatkan Banjir di Gorontalo Utara, Ketinggian Air Ada yang Mencapai 2 Meter

    7cloud.asia – Banjir di wilayah Kecamatan Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, merendam pemukiman dan perkebunan milik warga sejak Sabtu (13/7/2024).

    Kepala Desa Limbato, Udin Lauposo mengatakan, banjir terjadi mulai pukul 15.00 WITA pada Sabtu kemarin akibat luapan Sungai Limbato karena curah hujan tinggi.

    “Pemukiman dan kebun milik warga terendam dengan ketinggian air ada yang mencapai dua meter,” katanya di Gorontalo, Minggu (14/7/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Saat ini, kata dia, banjir mulai surut namun warga diminta tetap waspada, karena cuaca di wilayah tersebut masih berpotensi hujan.

    “Seluruh kepala dusun masih bergerak mendata jumlah warga terdampak, rumah terendam dan kerugian yang ditimbulkan. Kami segera melaporkan kondisi ini ke pemerintah kecamatan dan kabupaten setelah data terkumpul,” kata Udin Lauposo.

    Baca Juga: Penjelasan Pakar Soal Apa yang Akan Terjadi Saat La Nina Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia

    Menurutnya, pasca-banjir bandang pada Maret 2024 di wilayah tersebut sangat berpotensi banjir.

    “Pasca-banjir bandang, ini merupakan banjir kedua yang melanda desa di wilayah ini. Hal itu dipicu akibat kondisi sungai yang telah rata dengan jalan atau perkebunan.

    Kami berharap ada perhatian untuk normalisasi maupun pengerukan sungai jika pembangunan tanggul yang memerlukan anggaran besar belum dapat dilakukan,” kata Udin.

    Ia mengatakan pembangunan tanggul Sungai Limbato diperkirakan mencapai satu kilometer dan sangat diperlukan untuk mencegah luapan air sungai masuk ke pemukiman warga.

    Tanggul juga akan lindungi perkebunan yang menjadi sumber penghasilan masyarakat.

    Baca Juga: Ribuan Hektare Sawah di Jawa Tengah Terancam Gagal Panen Akibat Banjir

    Mengingat curah hujan tinggi hanya dalam beberapa jam saja, air sungai akan meluber ke perkebunan, jalan utama desa, dan pemukiman warga.

    “Daerah Aliran Sungai (DAS) Limbato memerlukan penanganan untuk mencegah wilayah ini menjadi langganan banjir,” katanya.

    Camat Tolinggula Tony Abas mengatakan banjir melanda wilayah tersebut, khususnya di titik yang menjadi langganan banjir. Banjir terjadi akibat curah hujan tinggi sejak Sabtu sore.

    “Ada pula longsor yang terjadi di perbatasan antara Desa Limbato dan Papualangi,” katanya.

  • Banjir Gorontalo Mulai Surut, Tetapi Lebih dari 7 Ribu Warga Masih Mengungsi

    Banjir Gorontalo Mulai Surut, Tetapi Lebih dari 7 Ribu Warga Masih Mengungsi

    7cloud.asia – Banjir yang melanda Gorontalo sejak Rabu (10/07/2024) lalu, kini mulai berangsur surut. Lebih dari 7 ribu warga mengungsi hingga kini.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menjelaskan  curah hujan di Kota Gorontalo cukup tinggi sejak 10 hingga 13 Juli 2024 lalu.

    Akibatnya air merendam sejumlah wilayah di Kota Gorontalo dengan ketinggian antara 30-150 sentimeter.

    Kondisi geografis wilayah Kota Gorontalo berupa cekungan membuat banjir kali ini menjadi yang terparah di tahun 2024. Data dari BNPB sebanyak 4.686 unit rumah terendam.  

    Baca: Banjir landa Gorontalo, ketinggian air hingga 2 meter

    “Banjir ini merupakan yang keempat kalinya selama bulan Juli 2024,” ungkap Muhari, seperti yang dikutip Sindonews pada Senin (15/7/2024).

    Akibat banjir tersebut, sebanyak 15 kecamatan di 3 wilayah yang terdampak dan 47 kelurahan di sembilan kecamatan se-Kota Gorontalo terdampak banjir.

    Yaitu Kecamatan Kota Barat, Kota Utara, Kota Selatan, Kota Tengah, Kota Timur, Dumbo Raya, Hulonthalangi, Dungingi, dan Sipatana.

    Baca: Ratusan rumah di Sorong Selatan banjir, warga mengungsi ke hutan

    Tak hanya banjir, beberapa kelurahan juga turut terdampak tanah longsor di antaranya Kelurahan Tenilo (Kecamatan Kota Barat), Kelurahan Pohe (Kecamatan Hulanthalangi).

    Selain itu Kelurahan Leato Utara, Leato Selatan, Botu dan Talumolo di Kecamatan Dumbo Raya juga terjadi longsor. Seorang warga Kecamatan Kota Barat meninggal dunia akibat tertimbun material longsor.

    BPBD Kota Gorontalo bekerjasama dengan Pemda setempat dan lintas sektor telah melakkan berbagai upaya tanggap darurat.

    Diantaranya dengan mengevakuasi warga, mendirikan pendirian pos pengungsian, dan pendirian dapur umum.

    Baca: Sungai Ngarai Sianok meluap, 7 rumah rusak berat diterjang banjir

    Total pos pengungsian yang telah didirikan sebanyak 59 titik tersebar di tiap kelurahan. Jumlah total warga mengungsi per 13 Juli 2024 sebanyak 7.486 jiwa.

    Selain itu BPBD Kota Gorotalo bersama tim gabungan juga telah mengevakuasi sarana dan prasarana umum terdampak serta melakukan pengerukan material longsor dan membersihkan sisa banjir.

    Dalam menangani bencana ini, Wali Kota Gorontalo menetapkan status tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor dengan Nomor 256/6/VII/2024 selama 14 hari terhitung sejak tanggal 11 Juli sampai 24 Juli 2024.

     

  • Gorontalo Alami Bencana Ekologis Terparah, Simpul Walhi Serukan Moratorium Izin Tambang dan Perkebunan

    Gorontalo Alami Bencana Ekologis Terparah, Simpul Walhi Serukan Moratorium Izin Tambang dan Perkebunan

    7cloud.asia – Simpul Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Gorontalo mengatakan bencana banjir, banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah itu pada Juli 2024 merupakan bencana ekologis terparah dalam sepuluh tahun terakhir.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan sedikitnya 27 orang meninggal dunia dan 14 orang hilang dalam peristiwa longsor tambang emas di desa Tulabolo, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango pada 7 Juli lalu.

    “Sekali lagi, ini harus menjadi perhatian bersama. Pertanyaannya sampai berapa nyawa lagi harus kita kehilangan, berapa puluh nyawa lagi untuk kita benar-benar menertibkan hal-hal yang seperti ini,” kata Abdul Muhari dalam penjelasan singkat pada wartawan minggu ini.

    Apa penyebabnya? Intensitas dan curah hujan dinilai bukan satu-satunya penyebab terjadinya bencana ekologis (banjir dan longsor) tahunan di Gorontalo.

    Simpul WALHI menilai faktor lain yang justru harus disoroti adalah alih fungsi lahan, pembangunan dan penataan ruang yang karut-marut.

    Baca: Bencana ekologis di Sulawesi akibat obral izin tambang dan perkebunan

    Dinamisator Simpul WALHI Gorontalo, Puput Pakaya, mengatakan pada kasus banjir di Gorontalo yang menewaskan puluhan warga awal Juli lalu, penyebabnya jelas karena deforestasi atau pembukaan lahan

    Deforestasi ini untuk kemudian dialihfungsikan menjadi pertanian monokultur jagung, perkebunan sawit atau bentuk alih fungsi lahan lainnya secara besar-besaran.

    Puput merujuk data Forest Watch Indonesia (FWI) pada kurun waktu 2017-2021 yang menunjukkan Gorontalo mengalami deforestasi akibat konsesi perusahaan tambang dan perkebunan seluas 33.392,76 hektare.

    “Sikap pemerintah daerah dalam menghadapi bencana menahun ini sangat mengecewakan karena intensitas dan curah hujan selalu dijadikan alasan pamungkas terjadinya banjir dan longsor,” kata Puput Pakaya dilansir VOA Indonesia baru-baru ini.

    Puput menyebut aktivitas pertambangan rakyat secara masif sejak tahun 1992 yang memicu kerusakan lingkungan, dan berujung pada semakin seringnya terjadi bencana tanah longsor.

    Baca: Pemerintah dinilai kurang antisipatif pada bencana ekologis

    “Kami juga mencatat kasus ini juga bukan yang pertama di mana dua tahun setelah tambang rakyat beroperasi pada 1994 longsor terjadi, meskipun tidak ada korban, namun hal ini menyebabkan banjir dan lumpur dari titik-titik bor terbawa sampai ke pemukiman warga,” tambahnya.

    Desak Moratorium Izin Tambang dan Perkebunan
    Simpul WALHI Gorontalo mendesak pemerintah untuk melakukan moratorium izin-izin perusahaan ekstraktif pemegang konsesi pertambangan dan perkebunan.

    Keberadaan usaha pertambangan dan perkebunan dinilai telah menghancurkan ekosistem hutan, dan menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana ekologis di Provinsi Gorontalo.

    Simpul WALHI juga menyerukan revisi kebijakan agropolitan berbasis jagung yang menyebabkan alih fungsi lahan secara besar-besaran dan degradasi lingkungan yang parah.

    Menurut data Badan Pusat Statistik Gorontalo 2021, luas tanaman jagung di lima kabupaten dan satu kota mencapai 338 ribu hektare.

    Baca: Delapan warga meninggal akibat banjir di Sulawesi Tengah

    Dampak Serius Tambang Emas
    Kawasan tambang emas di Kecamatan Sumawa, Kabupaten Bone Bolango memang memiliki tingkat kerawanan yang tinggi. Terowongan-terowongan di dalam tanah sangat mudah ambruk saat curah hujan tinggi dan memakan korban jiwa.

    Sementara itu sebagian besar area terdampak banjir sudah berangsur surut. Setidaknya sebanyak 8 ribu jiwa terdampak oleh banjir yang terjadi sejak 26 Juni lalu.

    Banjir dengan tinggi muka air 30 hingga 50 centimeter terjadi di Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango dan Boalemo.

    Gubernur Gorontalo menetapkan status tanggap darurat bencana banjir, banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Gorontalo selama 30 hari terhitung sejak tanggal 30 Juni sampai dengan tanggal 29 Juli.

    Saat memimpin rapat koordinasi penanganan banjir dan longsor Gorontalo, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menekankan kepada pemerintah daerah agar periode status tanggap darurat penanganan banjir tidak lama sehingga proses pemulihan dampak bencana dapat segera dimulai.

    BNPB telah memberikan bantuan dukungan operasional berupa Dana Siap Pakai (DSP) dan logistik peralatan kepada berbagai unsur penanggulangan bencana di Gorontalo dengan total bantuan sebesar 2,4 miliar rupiah

  • Fenomena Hujan Jelly Kejutkan Warga Gorontalo Utara, Penyebabnya Belum Diketahui

    Fenomena Hujan Jelly Kejutkan Warga Gorontalo Utara, Penyebabnya Belum Diketahui

    7cloud.asia – Fenomena alam hujan berupa hujan seperti butiran jelly atau hujan jelly terjadi pada Sabtu (15/2/2025) malam sekitar pukul 20.00 waktu Indonesia tengah (WITa) di Gorontalo.

    Hujan jelly ini kontan membuat heboh warga di Desa Leyao Kecamatan Tomilito Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, seperti dilansir Antaranews.com.

    Tak seperti lazimnya hujan yang berupa butiran air, hujan jelly tadi malam nampak lembek dan butirannya terasa lembut seperti agar-agar

    Meski penasaran dengan fenomena alam hujan jelly ini, warga memilih menghindar agar tidak terkena langsung.

    Warga setempat, Ewan Saputra mengatakan bahwa dirinya bersama warga lainnya kaget dengan peristiwa alam yang terjadi di Dusun Ato Atas Desa Leyao tersebut.

    Baca: Melawan penggurunan dengan pertanian biogeneratif

    Fenomena itu baru disadari warga setelah beberapa saat hujan turun, sebab yang justru nampak di permukaan tanah adalah butiran jelly atau seperti agar-agar yang memenuhi pekarangan rumah dan jalan.

    Beberapa warga yang mengamati peristiwa itu merekam momen hujan jelly tersebut karena merasa baru pertama kali melihat kejadian itu.

    “Ada yang sibuk mengambil wadah untuk menampung hujan jelly, sebagian warga memilih mengabadikan momen yang tidak pernah terjadi di desa tersebut,” katanya.

    Hujan jelly di desa itu terjadi sekitar 30 menit dan warga merasakan hujan yang turun cukup deras.

    Baca: Mengenal Nepenthes si tumbuhan pemakan serangga

    “Belum diketahui apakah butiran jelly memenuhi seluruh desa atau hanya terjadi di satu lokasi di dusun tersebut, mengingat peristiwa langka ini terjadi malam hari,” katanya.

    Fenomena hujan jelly ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1940-an di Amerika Serikat, dan setelah itu telah dilaporkan di beberapa negara lainnya, termasuk Australia, Kanada, dan Eropa.

    Butiran-butiran jelly yang jatuh dari langit ini biasanya berwarna putih atau transparan, dan memiliki tekstur yang lembut dan licin.

    Butitan hujan menyerupai jelly ini berukuran mulai dari beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter.

    Penyebab fenomena hujan jelly masih belum sepenuhnya dipahami. Beberapa ilmuwan percaya bahwa butiran-butiran jelly ini mungkin terbentuk dari kombinasi antara awan dan mikroorganisme yang ada di atmosfer.