Tag: gunung gede

  • Suhu Udara Dingin Landa Kawasan Gunung Gede, Pendaki Diimbau Waspada

    Suhu Udara Dingin Landa Kawasan Gunung Gede, Pendaki Diimbau Waspada

    7cloud.asia – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mencatat adanya penurunan suhu udara yang menurun ekstrem hingga membeku. Pendaki harus waspada dan mengantisipasinya.

    Humas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP), Deni menjelaskan penurunan suhu terutama pada pagi hari di kawasan alun-alun Suryakancana.

    Melansir Antaranews, udara dingin tersebut bahkan sudah dapat dirasakan pengunjung di kawasan pintu masuk pendakian Cibodas dan Gunung Putri.

    “Suhu di kawasan Alun-alu Suryakancana sempat dilaporkan sampai 0 derajat saat pagi hari, penurunan suhu terjadi lebih dingin dibandingkan biasanya, untuk pastinya kami masih menunggu laporan petugas,” jelasnya.

    Baca: Dampak fenomena bediding terhadap pertanian dan peternakan

    Karena itu dia mengimbau kepada para pendaki agar dapat ekstra hati-hati dalam melakukan aktivitas pendakian.

    Selain itu, pendaki juga harus patuhi aturan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku serta mematuhi anjuran petugas di pintu masuk pendakian.

    Setiap pendaki diminta untuk mempersiapkan diri dengan matang termasuk kesehatan fisik, teknis dan perlengkapan yang dibutuhkan dipastikan sesuai standar keselamatan agar terhindar dari hipotermia karena suhu dingin.

    “Kami juga menempatkan petugas di sepanjang jalur pendakian hingga Alun-alun Suryakancana, guna memastikan pendakian masih dapat dilakukan serta mengimbau pendaki menggunakan peralatan terutama pakaian yang dapat menghangatkan tubuh,” urainya.

    Baca: Penyebab udara dingin di musim kemarau

    Membekunya kawasan Alun-alun Surakancana Gunung Gede ini sempat dibagikan sejumlah pendaki di akun media sosialnya seperti yang disiarkan pendaki asal Bogor Muhammad Fikri.

    Saat pagi dan malam hari tenda yang ditempatinya diselimuti es. Bahkan menurutnya saat pagi hari rerumputan di kawasan tersebut dipenuhi embun yang membeku.

    Hal ini akibat suhu udara yang turun drastis sedangkan pada malam hari suhu lebih dingin sehingga dia dan sejumlah rekannya terpaksa menggunakan jaket rangkap dua.

    “Biasanya tidak sedingin ini, saat malam hari lebih dingin, ketika pagi di atas tenda tertutup es termasuk di rerumputan, es tersebut baru mencair menjelang siang,” ungkap Fikri.

     

     

  • Ratusan Jenis Lumut Menjadi Kekayaan Tersembunyi Gunung Gede

    Ratusan Jenis Lumut Menjadi Kekayaan Tersembunyi Gunung Gede

    7cloud.asia – Selain terkenal sebagai salah satu tujuan pendakian favorit, Gunung Gede di Jawa Barat menyimpan banyak pesona alam yang tersembunyi.

    Gunung Gede terletak di ketinggian 2.958 meter dari permukaan laut (mdpl) dan merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGPP).

    Kawasan Gunung Gede sangat kaya akan keanekaragaman hayati dan telah lama menjadi magnet bagi para ilmuwan, termasuk penulis. Salah satu kekayaan alam Gunung Gede yang membuat saya terpesona adalah lumut.

    Di Gunung Gede, bisa ditemukan ratusan spesies lumut epifit, yaitu lumut yang tumbuh menempel di permukaan tanaman lain seperti batang, cabang, dan ranting pohon. Lumut daun dan lumut hati merupakan dua kelompok utama lumut epifit yang bisa kita temukan di sana.

    Menariknya, dua sisi lereng gunung Gede–Cibodas dan Selabintana–ternyata memiliki spesies dan komposisi lumut epifit yang berbeda.

    Penelitian penulis bersama tim beberapa tahun yang lalu juga menunjukkan adanya zonasi ketinggian—perubahan komposisi spesies lumut epifit—seiring dengan ketinggian tertentu.

    Baca: 21 jenis Ficus jadi penjaga ekosistem Hutan Sanggabuana

    Melalui tulisan ini, penulis akan menyingkap susunan lumut epifit di setiap ketinggian pada dua lereng Gunung Gede.

    Lima zonasi lumut Gunung Gede
    Sekitar 200 tahun lalu, ilmuwan Jerman Alexander von Humboldt memperkenalkan zona vegetasi yang menjelaskan bahwa jenis tumbuhan berubah seiring ketinggian suatu tempat. Teori ini terlihat jelas di Gunung Gede.

    Berdasarkan penelitian penulis bersama tim, lumut epifit di Gunung Gede terbagi menjadi zona submontana, zona montana bawah, zona transisi, zona montana atas, dan zona subalpin.

    Setiap zona memiliki spesies indikatornya masing-masing, berikut adalah temuan tim peneliti di masing-masing zonasi:

    Kaki gunung
    Zona submontana: Di kedua lereng gunung, zona ini terletak di ketinggian 1.500 mdpl. Spesies indikator di Lereng Cibodas adalah lumut daun Leucophanes angustifolium, sedangkan di lereng Selabintana adalah lumut hati Heteroscyphus argutus.

    Pertengahan gunung
    Zona montana bawah:
    Di lereng Selabintana, zona ini berada di ketinggian 1.700-2.100 mdpl dan ditandai oleh spesies lumut daun Syrrhopodon tristichus dan lumut hati Bazzania javanica.

    Baca: Perburuan liar dan alih fungsi lahan ancam populasi Owa Jawa

    Sementara itu, di lereng Cibodas (ketinggian 1.700-1.900 mdpl), spesies indikatornya adalah lumut hati Plagiochila spathulifolia, Lejeunea micholitzii, dan Syrrhopodon tristichus.

    Zona transisi:
    Zona ini menjadi peralihan antara zona montana bawah dan zona montana atas. Di lereng Selabintana, zona transisi berada di ketinggian 2.300 mdpl sedangkan di lereng Cibodas berada pada ketinggian 2.100 mdpl.

    Spesies indikator di Selabintana adalah lumut daun Symphysodontella attenuatula dan Fissidens wichurae, sementara di Cibodas adalah lumut daun Hypnodendron dendroides dan Trachyloma indicum.

    Puncak Gunung
    Zona montana atas:
    Zona ini mencakup ketinggian 2.300 mdpl di Cibodas dan 2.500 mdpl di Selabintana.

    Di lereng Cibodas ditandai oleh lumut daun Pogonatum cirratum dan Distichophyllum brevicuspes. Sementara di Selabintana, kami tidak menemukan spesies spesifik untuk menjadi spesies indikator.

    Zona subalpin:
    Di lereng Cibodas, zona ini berada di ketinggian 2.500-2.700 mdpl dengan spesies indikator lumut hati Bazzania japonica dan Herbertus dicranus.

    Baca: Balai Taman Nasional Way Kambas raih Herman Goldstein Award

    Sementara itu, di lereng Selabintana pada ketinggian 2700 mdpl, terdapat delapan spesies lumut hati sebagai indikator, yaitu; Plagiochila arbuscula, Lepidozia stahlii, Cylindrocolea kiaeri, Cyptolophocolea costata, Heteroscyphys aselliformis, Drepanolejeunea ternatensis, Frullania junghuhniana, dan Bazzania praerupta.

    Secara keseluruhan, penelitian kami menunjukkan bahwa lereng Cibodas memiliki 160 spesies lumut (71 lumut daun dan 89 lumut hati), sedangkan lereng Selabintana memiliki 149 spesies lumut (57 lumut daun dan 92 lumut hati).

    Dengan kata lain, jenis lumut di lereng Cibodas lebih kaya dibandingkan lereng Selabintana.

    Bagaimana zonasi lumut terbentuk?
    Zonasi lumut epifit terbentuk melalui interaksi kompleks antara lumut dengan pohon inangnya—dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, kelembapan, dan topografi.

    Faktor-faktor ini saling memengaruhi satu sama lain sehingga perubahan pada satu faktor tentu akan mengubah faktor lainnya.

    Baca: Taman Nasional Ujung Kulon Kembali Ketambahan Seekor Badak Jawa

    Berdasarkan analisis penulis, ada beberapa faktor lingkungan yang memengaruhi perbedaan komposisi lumut di dua lereng Gunung Gede:

    1. Suhu dan Kelembapan
    Lereng Cibodas lebih banyak terpapar sinar matahari, sehingga cenderung lebih kering.

    Lereng Selabintana, yang berada di sisi berlawanan, menerima lebih banyak curah hujan, membuat area ini lebih lembap.

    Perbedaan ini menyebabkan jenis lumut yang tumbuh di setiap lereng pun berbeda. Sebab, lumut memiliki kemampuan adaptasi yang spesifik terhadap kondisi suhu dan kelembapan.

    2. Topografi:
    Lereng Selabintana memiliki topografi yang lebih seragam, menciptakan lingkungan yang konsisten bagi lumut.

    Lereng Cibodas mempunyai topografi yang lebih bervariasi. Dalam pendakian, kita akan menemukan sungai, danau kecil, rawa, air panas, air terjun, serta jalur dengan kecuraman yang berbeda.

    Variasi topografi ini menciptakan relung-relung ekologis unik bagi pepohonan inang tempat lumut tumbuh sekaligus menciptakan mikroklimat yang berbeda-beda di habitat lumut epifit.

    Inilah yang menyebabkan jenis lumut di lereng Cibodas lebih kaya dibandingkan lereng Selabintana.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Eka Aditya Putri Iskandar, Peneliti Ahli Muda, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Aktivitas Kegempaan Gunung Gede Meningkat, Warga Sekitar Diminta Waspada

    Aktivitas Kegempaan Gunung Gede Meningkat, Warga Sekitar Diminta Waspada

    7cloud.asia – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mengimbau masyarakat di kaki gunung untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan bencana.

    Peringatan ini dirilis menyusul meningkatnya aktivitas gempa dalam Gunung Gede, di mana terjadi sebanyak 49 kali gempa vulkanik dan tektonik dalam satu hari.

    Humas Balai Besar TNGGP Agus Deni di Cianjur Kamis (3/4/2025) mengatakan, berdasarkan data dari Badan Geologi aktivitas Gunung Gede meningkat sejak 1 April 2025, hingga Kamis tercatat 47 gempa vulkanik dalam, 1 kali gempa tektonik lokal, dan 1 kali gempa tektonik jauh.

    Pada Selasa (1/4/2025) mulai pukul 00.00-06.00 WIB mencapai 21 kejadian yang seharusnya dalam satu hari normalnya hanya 0-1 kali.

    “Status atau tingkat aktivitas masih dalam kategori normal, namun masyarakat tetap diminta untuk waspada dan tidak mendaki atau mendekati kawah Gunung Gede,” katanya.

    Baca: Ratusan jenis lumut menjadi kekayaan tersembunyi Gunung Gede

    Gunung Gede berpotensi mengeluarkan gas gunung api yang berbahaya terutama dalam radius 600 meter dari Kawah Wadon, rata-rata durasi gempa yang terjadi mulai dari 4 detik hingga 17 detik.

    Bahkan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi, pihak TNGPP kembali menutup pendakian ke Gunung Gede-Pangrango sampai tanggal 7 April 2025.

    Sebelumnya pendakian ke Gunung Gede-Pangrangro sudah ditutup selama tiga bulan guna pemulihan ekosistem.

    “Gunung Gede statusnya masih aktif, sehingga kami minta masyarakat di kaki gunung untuk tetap waspada dan kesiapsiagaan ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, kami terus berkoordinasi dengan BMKG,” katanya.

    Terkait perpanjangan penutupan pendakian sudah disebar dan diumumkan kepada calon pendaki yang sudah mendaftar untuk pendakian tanggal 3 April agar melakukan penjadwalan ulang secara online.

    Baca: Cuaca ekstrem membuat pendakian di Gunung Gede Pangrango ditutup

  • Penutupan Kawasan Gunung Gede Pangrago Diperpanjang hingga 13 April

    Penutupan Kawasan Gunung Gede Pangrago Diperpanjang hingga 13 April

    7cloud.asia – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memperpanjang penutupan pendakian ke Gunung Gede dan Pangrango sampai tanggal 13 April sambil menunggu informasi terbaru dari Badan Geologi terkait kondisi kawah Gunung Gede yang masih berstatus normal.

    Kepala Balai Besar TNGGP Adhi Nurul Hadi di Cianjur, Jawa Barat, Rabu, mengatakan penutupan jalur pendakian sesuai dengan rekomendasi dari Badan Geologi terkait aktifitas kawah Gunung Gede masih normal, namun masyarakat dilarang mendekati di sekitar Kawah Wadon dalam radius 600 meter.

    “Berdasarkan surat dari Badan Geologi dan arahan Menteri Kehutanan, kami memperpanjang penutupan pendakian ke Gunung Gede dan Pangrango meski statusnya normal, guna menghindari hal yang tidak diinginkan, termasuk menjaga keselamatan masyarakat khususnya pendaki,” kata Adhi Nurul Hadi.

    Bagi pendaki yang sudah mendaftar secara daring, kata dia, dapat melakukan perubahan jadwal atau mengajukan pengembalian uang dengan proses beberapa hari ke depan karena berbagai hal, termasuk sistem administrasi keuangan PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak).

    Baca: Aktivitas Kegempaan Gunung Gede Meningkat

    Selama penutupan diperpanjang, pihaknya menyiagakan puluhan petugas untuk mengantisipasi pendaki ilegal melakukan pendakian karena dapat mengancam keselamatan, bahkan patroli bersama dilakukan bersama masyarakat di sekitar kaki gunung.

    “Kami mengimbau masyarakat dan pendaki mematuhi larangan tersebut, karena untuk keselamatan bersama, dengan tidak melakukan pendakian ilegal apalagi mendekati Kawah Wadon,” katanya.

    Sedangkan upaya tindak lanjut dari perpanjangan penutupan, pihaknya akan mengajak berbagai pihak, seperti pos pengamatan gunung api Kementerian ESDM di Desa Ciloto dan volunteer berpengalaman, untuk mengidentifikasi lebih detail situasi kawah Gunung Gede.

    Baca: Ratusan Jenis Lumut Menjadi Kekayaan Tersembunyi Gunung Gede

    Seperti diberitakan Balai Besar TNGGP memperpanjang penutupan pendakian hingga 7 April 2025 karena terjadi peningkatan gempa vulkanik Gunung Gede yang berpotensi menimbulkan letusan freatik atau hembusan gas gunung api.

    Sebelumnya pendakian ke Gunung Gede-Pangrango sudah ditutup selama tiga bulan dan rencana dibuka kembali tanggal 3 April, namun penutupan diperpanjang hingga 7 April guna memastikan tidak terjadi hal yang dapat mengancam keselamatan pendaki seiring aktivitas gempa vulkanik.

    “Perpanjangan penutupan jalur pendakian berdasarkan Surat Edaran TNGGP dan Badan Geologi terkait peningkatan aktivitas Gunung Gede, guna menghindari hal yang tidak diinginkan seiring peningkatan aktivitas gunung berapi aktif itu,” kata Humas TNGGP Agus Deni.