7cloud.asia – Selain terkenal sebagai salah satu tujuan pendakian favorit, Gunung Gede di Jawa Barat menyimpan banyak pesona alam yang tersembunyi.
Gunung Gede terletak di ketinggian 2.958 meter dari permukaan laut (mdpl) dan merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGPP).
Kawasan Gunung Gede sangat kaya akan keanekaragaman hayati dan telah lama menjadi magnet bagi para ilmuwan, termasuk penulis. Salah satu kekayaan alam Gunung Gede yang membuat saya terpesona adalah lumut.
Di Gunung Gede, bisa ditemukan ratusan spesies lumut epifit, yaitu lumut yang tumbuh menempel di permukaan tanaman lain seperti batang, cabang, dan ranting pohon. Lumut daun dan lumut hati merupakan dua kelompok utama lumut epifit yang bisa kita temukan di sana.
Menariknya, dua sisi lereng gunung Gede–Cibodas dan Selabintana–ternyata memiliki spesies dan komposisi lumut epifit yang berbeda.
Penelitian penulis bersama tim beberapa tahun yang lalu juga menunjukkan adanya zonasi ketinggian—perubahan komposisi spesies lumut epifit—seiring dengan ketinggian tertentu.
Baca: 21 jenis Ficus jadi penjaga ekosistem Hutan Sanggabuana
Melalui tulisan ini, penulis akan menyingkap susunan lumut epifit di setiap ketinggian pada dua lereng Gunung Gede.
Lima zonasi lumut Gunung Gede
Sekitar 200 tahun lalu, ilmuwan Jerman Alexander von Humboldt memperkenalkan zona vegetasi yang menjelaskan bahwa jenis tumbuhan berubah seiring ketinggian suatu tempat. Teori ini terlihat jelas di Gunung Gede.
Berdasarkan penelitian penulis bersama tim, lumut epifit di Gunung Gede terbagi menjadi zona submontana, zona montana bawah, zona transisi, zona montana atas, dan zona subalpin.
Setiap zona memiliki spesies indikatornya masing-masing, berikut adalah temuan tim peneliti di masing-masing zonasi:
Kaki gunung
Zona submontana: Di kedua lereng gunung, zona ini terletak di ketinggian 1.500 mdpl. Spesies indikator di Lereng Cibodas adalah lumut daun Leucophanes angustifolium, sedangkan di lereng Selabintana adalah lumut hati Heteroscyphus argutus.
Pertengahan gunung
Zona montana bawah:
Di lereng Selabintana, zona ini berada di ketinggian 1.700-2.100 mdpl dan ditandai oleh spesies lumut daun Syrrhopodon tristichus dan lumut hati Bazzania javanica.
Baca: Perburuan liar dan alih fungsi lahan ancam populasi Owa Jawa
Sementara itu, di lereng Cibodas (ketinggian 1.700-1.900 mdpl), spesies indikatornya adalah lumut hati Plagiochila spathulifolia, Lejeunea micholitzii, dan Syrrhopodon tristichus.
Zona transisi:
Zona ini menjadi peralihan antara zona montana bawah dan zona montana atas. Di lereng Selabintana, zona transisi berada di ketinggian 2.300 mdpl sedangkan di lereng Cibodas berada pada ketinggian 2.100 mdpl.
Spesies indikator di Selabintana adalah lumut daun Symphysodontella attenuatula dan Fissidens wichurae, sementara di Cibodas adalah lumut daun Hypnodendron dendroides dan Trachyloma indicum.
Puncak Gunung
Zona montana atas:
Zona ini mencakup ketinggian 2.300 mdpl di Cibodas dan 2.500 mdpl di Selabintana.
Di lereng Cibodas ditandai oleh lumut daun Pogonatum cirratum dan Distichophyllum brevicuspes. Sementara di Selabintana, kami tidak menemukan spesies spesifik untuk menjadi spesies indikator.
Zona subalpin:
Di lereng Cibodas, zona ini berada di ketinggian 2.500-2.700 mdpl dengan spesies indikator lumut hati Bazzania japonica dan Herbertus dicranus.
Baca: Balai Taman Nasional Way Kambas raih Herman Goldstein Award
Sementara itu, di lereng Selabintana pada ketinggian 2700 mdpl, terdapat delapan spesies lumut hati sebagai indikator, yaitu; Plagiochila arbuscula, Lepidozia stahlii, Cylindrocolea kiaeri, Cyptolophocolea costata, Heteroscyphys aselliformis, Drepanolejeunea ternatensis, Frullania junghuhniana, dan Bazzania praerupta.
Secara keseluruhan, penelitian kami menunjukkan bahwa lereng Cibodas memiliki 160 spesies lumut (71 lumut daun dan 89 lumut hati), sedangkan lereng Selabintana memiliki 149 spesies lumut (57 lumut daun dan 92 lumut hati).
Dengan kata lain, jenis lumut di lereng Cibodas lebih kaya dibandingkan lereng Selabintana.
Bagaimana zonasi lumut terbentuk?
Zonasi lumut epifit terbentuk melalui interaksi kompleks antara lumut dengan pohon inangnya—dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, kelembapan, dan topografi.
Faktor-faktor ini saling memengaruhi satu sama lain sehingga perubahan pada satu faktor tentu akan mengubah faktor lainnya.
Baca: Taman Nasional Ujung Kulon Kembali Ketambahan Seekor Badak Jawa
Berdasarkan analisis penulis, ada beberapa faktor lingkungan yang memengaruhi perbedaan komposisi lumut di dua lereng Gunung Gede:
1. Suhu dan Kelembapan
Lereng Cibodas lebih banyak terpapar sinar matahari, sehingga cenderung lebih kering.
Lereng Selabintana, yang berada di sisi berlawanan, menerima lebih banyak curah hujan, membuat area ini lebih lembap.
Perbedaan ini menyebabkan jenis lumut yang tumbuh di setiap lereng pun berbeda. Sebab, lumut memiliki kemampuan adaptasi yang spesifik terhadap kondisi suhu dan kelembapan.
2. Topografi:
Lereng Selabintana memiliki topografi yang lebih seragam, menciptakan lingkungan yang konsisten bagi lumut.
Lereng Cibodas mempunyai topografi yang lebih bervariasi. Dalam pendakian, kita akan menemukan sungai, danau kecil, rawa, air panas, air terjun, serta jalur dengan kecuraman yang berbeda.
Variasi topografi ini menciptakan relung-relung ekologis unik bagi pepohonan inang tempat lumut tumbuh sekaligus menciptakan mikroklimat yang berbeda-beda di habitat lumut epifit.
Inilah yang menyebabkan jenis lumut di lereng Cibodas lebih kaya dibandingkan lereng Selabintana.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Eka Aditya Putri Iskandar, Peneliti Ahli Muda, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)