7cloud.asia – Sesi ke-16 Konferensi Iklim PBB (COP16) untuk memerangi penggurunan dibuka di Riyadh, hari Senin (2/12/2024) tak mampu hasilkan kemajuan berarti.
Konferensi berlangsung dengan peringatan bahwa kalau tidak ada tindakan sekarang, kerusakan yang ditimbulkan nantinya akan lebih parah.
Wakil Sekretaris Jenderal dan Sekretaris Eksekutif Konvensi PBB untuk memerangi penggurunan (UNCCD) Ibrahim Thiaw mengatakan bahwa biaya yang dibutuhkan mungkin tampak besar dan memang besar.
Dunia, ujarnya, membutuhkan 2,3 triliun dolar pada 2030 untuk menghentikan laju penggurunan global.
“Tetapi jika kita melihat dunia seperti sekarang ini, itulah anggaran yang kita habiskan tahun ini, atau tahun lalu untuk pertahanan.” ujarnya dikutip VOA Indonesia.
Konferensi penggurunan tersebut antara lain akan membahas degradasi tanah, penggurunan dan kekeringan, menurut pernyataan PBB.
Sesi kali ini juga untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan, karena dihadiri anggota masyarakat sipil dan ahli dari 196 negara, serta Uni Eropa yang mempromosikan “tindakan mendesak,” menurut pernyataan itu.
COP 16 ini diperkirakan menjadi pertemuan puncak terbesar dan paling ambisius yang membahas lahan dan ketahanan kekeringan, menurut PBB.
Di saat yang hampir bersamaan juga sedang digelar sidang perkara perubahan iklim di Pengadilan Tinggi PBB.
China memberi tahu pengadilan tinggi PBB pada hari Selasa (3/12/2024) bahwa perjanjian PBB harus menyediakan dasar bagi pendapat penasihatnya tentang kewajiban hukum negara-negara untuk memerangi pemanasan global dan mengatasi konsekuensi dari kontribusi historis mereka terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.
