Tag: hantavirus

  • Hantavirus Telah Masuk Indonesia, Tiga Orang Dinyatakan Meninggal

    Hantavirus Telah Masuk Indonesia, Tiga Orang Dinyatakan Meninggal

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sejak 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026 total 251 kasus suspek hantavirus. Sebanyak 23 kasus diantaranya dinyatakan positif hantavirus dan 3 orang diantaranya meninggal dunia.

    Sedangkan 20 orang dinyatakan sembuh. Kasus hantavirus yang paling banyak tercatat adalah pada 2025 sebanyak 17 kasus, kemudian 2026 sebanyak 5 kasus, dan 2024 sebanyak 1 kasus.

    Kasus hantavirus di Indonesia tersebar di berbagai wilayah. Di Jakarta dan Yogyakarta 6 kasus, Jawa Barat 5 kasus, Jawa Timur, Banten, Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat dan Jawa Timur masing-masing 1 kasus.

    Baca: Pakar UGM Sebut Infuenza A Bisa Berakiba Fatal

    Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman menjelaskan dengan adanya tiga kasus yang meninggal dunia tersebut menunjukkan case fatality rate hantavirus di Indonesia mencapai 13%.

    Lebih jauh Aji menjelaskan jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan jenis Sol virus. Seluruh pasien mengalami gejala setelah 1 hingga 2 minggu terpapar virus.

    Gejala infeksi hantavirus dapat meliputi demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, hingga gangguan pernapasan. Dalam beberapa kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi serius yang mengancam jiwa.

    Baca: Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Virus Nipah

    Sementara faktor risiko utamanya adalah kontak dengan tikus atau celurut, ataupun terpapar ekskresi dan sekresinya.

    Sebelumnya dunia internasional dihebohkan dengan kemunculan hantavirus usai tiga penumpang kapal pesiar Belanda MV Hondius meninggal akibat dugaan wabah hantavirus.

    Ketiga korban meninggal tersebut berasal dari Belanda dan Jerman. Salah seorang warga negara Inggris dilaporkan dirawat di unit perawatan intensif di Afrika Selatan.

     

  • DPR Desak Pemerintah Harus Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    DPR Desak Pemerintah Harus Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    7cloud.asia – Pemerintah diminta memberi ketepatan dan kecepatan informasi mengenai penyebaran hantavirus yang telah memakan korban jiwa. Lebih dari itu, pemerintah didorong untuk menyiapkan infrastruktur kesehatan sebagai langkah antisipasi penyebaran virus.

    “Pemerintah harus hadir lebih cepat dalam dalam memberikan kepastian informasi dan perlindungan masyarakat dalam menghadapi ancaman Hantavirus. Termasuk ketepatan informasi agar masyarakat tenang dan tidak panik dengan munculnya kasus virus ini,” kata Ketua DPR, Puan Maharani dikutip Parlementaria, di Jakarta, Senin (11/5/2026).

    Seperti diketahui, Hantavirus mendapat sorotan global ketika menyerang kapal pesiar mewah MV Hondius yang tengah berlayar di Samudera Atlantik.

    Tiga penumpang MV Hondius dilaporkan meninggal akibat Hantavirus, sehingga masyarakat dunia waswas karena salah satu variannya, Andes virus diketahui bisa menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.

    Hantavirus merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang umumnya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Virus ini tergolong penyakit zoonosis atau yang dapat menular dari hewan ke manusia.

    Baca: Kasus Hantavirus ditemukan di 9 provinsi

    Sebelum Hantavirus ramai dibicarakan akibat mewabah di kapal pesiar mewah yang berlayar di Eropa, Indonesia ternyata juga sudah mencatat kasus Hantavirus dalam beberapa waktu terakhir.

    Kementerian Kesehatan mengungkap ada 23 kasus hantavirus tersebar di sembilan provinsi.

    Meski telah tercatat tiga kematian sejak tiga tahun terakhir, jenis Hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan yang memicu wabah di kapal pesiar MV Hondius.

    Puan memandang kemunculan kasus Hantavirus di Indonesia perlu ditangani dengan pendekatan yang tenang, terbuka, dan berbasis perlindungan masyarakat.

    “Tantangan terbesar dalam menghadapi munculnya ancaman penyakit yang belum umum perlu dilakukan dari berbagai aspek,” jelasnya.

    “Bukan hanya pada aspek medis saja, tetapi juga pada kemampuan Negara menjaga kepercayaan masyarakat melalui informasi yang jelas, langkah antisipasi yang terukur, dan perlindungan yang dapat dirasakan masyarakat,” imbuh Politisi PDI Perjuangan ini.

    Puan mengingatkan, masyarakat saat ini hidup dalam situasi yang sangat sensitif terhadap isu kesehatan setelah pengalaman pandemi Covid-19.

    Meski penularan Hantavirus tak secepat Covid-19, masyarakat disebut sudah pernah merasakan hidup dalam ketidakpastiaan saat awal Covid-19 muncul sehingga kekhawatiran terhadap penyakit menjadi lebih besar.

    “Karena itu, Negara perlu memastikan bahwa setiap informasi mengenai penyakit menular disampaikan secara transparan dan bertanggung jawab agar tidak memunculkan ketakutan maupun kebingungan di tengah masyarakat,” pesan Puan.

    Sebagai langkah antisipasi penyebaran Hantavirus, Puan memandang Pemerintah perlu bergerak cepat memastikan masyarakat memahami situasi secara utuh.

    “Bagaimana pola penularannya, siapa kelompok yang paling rentan, bagaimana langkah pencegahannya, dan sejauh mana tingkat risikonya bagi masyarakat umum,” ungkapnya.

    Puan menilai keterbukaan informasi menjadi bagian penting dari perlindungan publik. Sebab ketika masyarakat tidak mendapatkan penjelasan yang cukup, ruang disinformasi dan ketakutan dapat berkembang lebih cepat daripada penanganan itu sendiri.

    “Maka penting agar Pemerintah memperkuat komunikasi publik kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat dan mudah dipahami. Bukan hanya berbasis penjelasan teknis yang sulit diakses publik luas. Sosialisasi harus menyentuh langsung akar rumput,” papar Puan.

  • Kemenkes: Konfirmasi Kasus Hantavirus di Indonesia Meningkat dalam Dua Tahun Terakhir

    Kemenkes: Konfirmasi Kasus Hantavirus di Indonesia Meningkat dalam Dua Tahun Terakhir

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus menyusul adanya peningkatan temuan kasus di Indonesia serta laporan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) di kapal pesiar MV Hondius yang dilaporkan otoritas kesehatan internasional.

    Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni menyampaikan bahwa hingga saat ini Indonesia belum menemukan kasus HPS.
    Kasus yang terkonfirmasi di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus.

    “Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” ujar dr. Andi Saguni dalam konferensi pers daring, Senin (11/5/2026).

    Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 hingga 2026 tercatat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.

    Tren konfirmasi juga menunjukkan peningkatan, dari 1 kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025 dan 5 kasus hingga Mei 2026.

    Menurut Andi, meningkatnya temuan kasus salah satunya dipengaruhi penguatan kapasitas deteksi dan pemeriksaan laboratorium di Indonesia.

    “Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan,” katanya.

    Hantavirus diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya.

    Faktor risiko utama di antaranya aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, hingga kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki.

    Selain pemantauan kasus di dalam negeri, Kemenkes juga merespons notifikasi internasional terkait satu kontak erat kasus HPS dari kapal pesiar MV Hondius yang berada di Indonesia.

    Kontak erat tersebut telah menjalani pemeriksaan di RSPI Sulianti Saroso dan hasil laboratorium menunjukkan negatif Hantavirus tipe HPS maupun HFRS.

    “Begitu notifikasi diterima, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, koordinasi lintas sektor, pemeriksaan laboratorium, hingga pemantauan terhadap kontak erat tersebut,” jelasnya.

    Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans pelaku perjalanan.

    Pemerintah juga menyiapkan jejaring laboratorium dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta memperkuat kesiapan 198 rumah sakit jejaring pengampuan penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia.

    “Kami terus memperkuat kesiapsiagaan nasional mulai dari surveilans, laboratorium, hingga layanan kesehatan agar setiap potensi kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat,” ujar Andi.

    Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya, menyimpan makanan di tempat tertutup, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, batuk, atau sesak napas.

    “Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan pakai sabun, sebagai langkah utama pencegahan penyakit virus Hanta,” tutup Andi Saguni.

  • Antisipasi Penyebaran Hantavirus, Bandara Soetta Perketat Pengawasan Perjalanan dari 4 Negara

    Antisipasi Penyebaran Hantavirus, Bandara Soetta Perketat Pengawasan Perjalanan dari 4 Negara

    7cloud.asia – Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, melakukan pengetatan pengawasan terhadap kedatangan pelaku perjalanan udara dari empat negara yang diantisipasi terjadinya penemuan kasus penularan Hantavirus.

    “Jadi kami melakukan pengetatan pengawasan terhadap negara-negara yang sudah menemukan atau teridentifikasi ada virus Hanta,” kata Kepala BBKK Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini di Tangerang, Selasa (12/05/2026).

    Ia mengatakan, pengawasan khusus melalui penerapan standar kesehatan yang dilakukan terhadap penumpang udara ke empat negara itu meliputi perjalanan dari Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan satu lagi Panama.

    Baca: Hantavirus Telah Masuk Indonesia

    Langkah tersebut, lanjut Naning, dilakukan sebagai merespon temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atas kasus penularan terhadap tiga penumpang kapal pesiar yang tewas akibat virus tersebut.

    “Jadi itu ada empat negara yang kami melakukan pengetatan ekstra kalau ada flight yang direct ke Soekarno-Hatta. Tapi tidak menutup kemungkinan nanti kalau ada yang baru, tentunya kami akan menambahkan ataupun mengoreksi gitu,” ujarnya.

    Untuk saat ini otoritas Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah kembali menerapkan standar kesehatan bagi pelaku perjalanan udara yang masuk ke Indonesia.

    Baca: Kasus Hantavirus Meningkat Dalam Dua Tahun

    Dimana, pihaknya akan melakukan langkah lanjut yaitu melakukan pemeriksaan oleh dokter, pendalaman pemeriksaan.

    “Kami di Soekarno-Hatta sudah melakukan kesiapsiagaan. Yang pertama adalah melalui isian deklarasi kesehatan di aplikasi Satu Sehat. Dari situ kita nanti akan tahu risiko daripada pesawat itu, ada orang berisiko atau tidak. Yang kedua, begitu turun, itu ada pengamatan tanda dan gejala melalui thermal scanner dan observasi visual,” jelasnya.

    Menurut Naning, di Bandara Soetta memiliki jalur khusus evaluasi untuk penyakit menular. Nantinya jika terdapat penyakit menular yang teridentifikasi pihaknya akan melakukan penanganan lebih lanjut.

    Baca: DPR Desak Pemerintah Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    “Kemudian kami juga punya namanya ambulans khusus penyakit menular. Karena orang yang kita bawa ini, yang mau kita rujuk ini adalah orang dengan penyakit menular,” terang Naning.

    Pihaknya mengimbau kepada pelaku perjalanan udara agar selalu waspada dan menjaga protokol kesehatan. Pasalnya, Hantavirus ini penularannya melalui urin, air liur, serta kontaminasi dari tikus.

    “Yang jelas untuk mencegah penularan kasus ini adalah dengan menjaga protokol kesehatan dan penguatan imun tubuh,” kata dia.

    Sumber: Antaranews

  • Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    7cloud.asia – Indonesia dan dunia internasional kini tengah mewaspadai ancaman hantavirus. Penyakit yang ditularkan melalui tikus dan dapat memicu gangguan serius pada ginjal maupun paru-paru.

    Meski baru ramai diperbincangkan, virus ini sebenarnya telah lama ada di Indonesia dan diduga banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya menyerupai flu biasa.

    Sejumlah penelitian menunjukkan hantavirus telah ditemukan di Indonesia sejak 1980-an. Dalam studi komprehensif di berbagai kota besar, seroprevalensi hantavirus pada manusia tercatat mencapai sekitar 11,6 persen.

    Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus tersebut meski tidak pernah didiagnosis secara resmi.

    Kondisi ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yakni hanya sebagian kecil kasus yang terlihat, sementara jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar.

    Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hantavirus dikategorikan sebagai zoonosis emerging atau penyakit baru yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

    Baca: Hantavirus Telah Masuk Indonesia

    Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam umumnya langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis. Padahal, gejala awal hantavirus hampir identik, mulai dari demam, nyeri otot, mual, hingga kelelahan.

    Akibat kemiripan tersebut, banyak kasus diduga salah diagnosis atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali.

    Berbeda dengan penyakit lain yang ditularkan nyamuk, hantavirus menyebar melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, maupun air liur tikus.

    Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, hingga permukaan yang telah terkontaminasi.

    Mengacu pada laman resmi Kemenkes RI, hantavirus memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa.

    Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, hingga gagal ginjal.

    Baca: Konvirmasi Kasus Hantavirus Meningkat Dalam 2 Tahun

    Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang lebih sering ditemukan di Amerika. Jenis ini menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas akut hingga gagal napas.

    Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) hantavirus juga tergolong tinggi. Pada beberapa tipe virus, angka kematiannya bahkan dapat mencapai 50 persen.

    Di Indonesia, jenis hantavirus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV) yang menyebar melalui tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus.

    Karena hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan virus ini dinilai lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas di kawasan hutan atau satwa liar.

    Baca: DPR Desak Pemerintah Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono mengatakan kelompok yang memiliki risiko tinggi terpapar hantavirus.

    Di antaranya pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, hingga masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.

    Menurutnya, risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.

    Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup.

    Baca: Virus Nipah Ditemukan di Indonesia

    Saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan. Area tersebut juga sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.

    Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus.

    “Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” jelas Arief

  • Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    7cloud.asia – Penyakit yang ditularkan tikus kini menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap hantavirus. Selain hantavirus, ada dua penyakit lain yang juga berbahaya dan kerap menyerang manusia melalui paparan tikus, yaitu pes dan leptospirosis.

    Ketiga penyakit ini sama-sama berasal dari hewan pengerat, tetapi memiliki penyebab, gejala, hingga tingkat fatalitas yang berbeda. Berikut perbedaan ketiganya.

    1. Penyakit pes

    Pes atau plague merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang hidup pada hewan pengerat, termasuk tikus.

    Dalam sejarah dunia, pes pernah menjadi wabah besar yang menewaskan jutaan orang di Eropa pada pertengahan abad pertengahan.

    Kasus pes lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan, kawasan perkebunan, atau wilayah dekat hutan yang menjadi habitat tikus liar.

    Baca: Hantavirus Mengancam, Gejala Mirip Flu Biasa

    Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 6 hari setelah terinfeksi. Penderitanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, menggigil, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

    Meski dapat diobati dengan antibiotik, keterlambatan penanganan bisa memicu komplikasi serius seperti sepsis atau keracunan darah.

    Kondisi tersebut dapat menyebabkan perdarahan hebat pada organ vital hingga berujung kematian.

    1. Leptospirosis

    Selain pes, penyakit lain yang juga sering ditularkan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang bersarang di tubuh tikus.

    Penularan terjadi melalui makanan, minuman, tanah, atau air yang telah terkontaminasi urine tikus. Risiko penularan meningkat saat banjir atau lingkungan yang sanitasi buruk.

    Baca: Angka Kematian Akibat Leptospirosis Meningkat

    Gejala leptospirosis kerap menyerupai flu berat, seperti demam, sakit kepala, muntah, diare, dan nyeri tubuh. Karena gejalanya mirip penyakit ringan, banyak penderita terlambat menyadari infeksi tersebut.

    Padahal, jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius pada ginjal, hati, hingga gangguan pernapasan. Antibiotik dapat membantu penyembuhan, terutama bila diberikan pada fase awal infeksi.

    1. Hantavirus

    Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan mencit yang membawa virus dalam air liur, urine, atau kotorannya.

    Di Indonesia, infeksi hantavirus diketahui dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yakni sindrom demam berdarah yang disertai gangguan fungsi ginjal.

    Reservoir utama hantavirus di Indonesia antara lain tikus got (Rattus norvegicus), mencit rumah, dan tikus ladang. Virus hidup secara persisten di tubuh hewan tersebut tanpa menimbulkan gejala.

    Penularan ke manusia terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu di udara. Virus juga dapat masuk melalui luka terbuka atau kontak langsung dengan ekskresi tikus.

    Baca: Hantavirus Masuk Indonesia, Tiga Orang Meninggal

    Infeksi hantavirus terbagi dalam dua sindrom utama:

    1. HFRS (Ginjal & Demam Berdarah)
    • Inkubasi: 1–2 minggu (dapat sampai 8 minggu).
    • Gejala awal: demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan kulit kuning (jaundice) .
    • Gejala lanjut: gangguan fungsi ginjal seperti penurunan produksi urin dan tekanan darah rendah.
    1. HPS (Paru-paru/Cariopulmonal)
    • Lebih umum di Amerika, namun gejala mirip flu: demam, nyeri otot, mual, muntah, diare.
    • Pada 4–10 hari berikutnya, muncul batuk, sesak napas, dan cairan di paru hingga gagal napas.

    Tingkat kematian

    • HPS: sekitar 38 persen.
    • HFRS (Hantaan virus): tingkat fatalitas sampai 6 persen.

     

     

  • WHO: Sejak 2 Mei Tak Ada Laporan Kematian Baru Akibat Hantavirus

    WHO: Sejak 2 Mei Tak Ada Laporan Kematian Baru Akibat Hantavirus

    7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam sebuah pernyataan yang dilansir Rabu (13/5/2026), menyebutkan bahwa tidak ada kematian baru akibat wabah hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar yang dilaporkan sejak 2 Mei.

    Dalam pernyataan resmi tersebut, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menyebutkan risiko kesehatan masyarakat global terkait hantavirus juga tetap rendah.

    Ghebreyesus mengatakan dalam sebuah unggahan di akun media sosial X bahwa total 11 kasus telah dilaporkan ke badan tersebut hingga 12 Mei.

    Menurut Ghebreyesus, delapan dari kasus hantavirus tersebut telah dikonfirmasi secara laboratorium sebagai infeksi yang disebabkan virus Andes.

    Hantavirus adalah penyakit langka yang biasanya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus yang terinfeksi atau dari kotorannya.

    Meski strain yang bertanggung jawab atas wabah ini, virus Andes, juga dapat menyebar antar manusia melalui kontak dekat yang berkepanjangan, seringkali di lingkungan tertutup.

    Ghebreyesus menambahkan bahwa satu kasus tambahan masih dalam pengujian laboratorium lebih lanjut.

    “WHO terus menilai risiko terhadap populasi global sebagai rendah,” kata Ghebreyesus.

    Baca: Konfirmasi Kasus Hantavirus di Indonesia Meningkat dalam Dua Tahun Terakhir

    WHO tetap menjalin kontak erat dengan para ahli dari semua negara yang terlibat dan terus menerima laporan kesehatan mingguan mengenai penumpang dan anggota kru melalui saluran resmi Peraturan Kesehatan Internasional.

    Ghebreyesus mengatakan upaya koordinasi internasional tetap berlangsung untuk mendukung langkah-langkah yang bertujuan melindungi kesehatan masyarakat.

    Kronologi
    Dilansir di laman resmi WHO, pada tanggal 2 Mei 2026, WHO menerima pemberitahuan dari Koordinator IHR Nasional Inggris dan Irlandia Utara mengenai klaster penyakit pernapasan akut yang parah.

    Laporan ini termasuk dua kematian dan satu penumpang yang sakit kritis, di atas kapal pesiar berbendera Belanda.

    Sejak Berita Wabah Penyakit terakhir diterbitkan pada tanggal 4 Mei, tiga dari kasus yang dicurigai telah dikonfirmasi, dan satu kasus terkonfirmasi tambahan telah dilaporkan.

    Hingga 8 Mei, tercatat total delapan kasus (enam kasus terkonfirmasi dan dua kasus probable), termasuk tiga kematian (dua terkonfirmasi dan satu probable), dengan rasio kematian kasus 38 persen, telah dilaporkan.

    Keenam kasus yang dikonfirmasi laboratorium tersebut diidentifikasi sebagai virus Andes melalui reaksi berantai polimerase (PCR) spesifik virus atau sekuensing.

    Dua penerbangan evakuasi medis, dari Cabo Verde, yang membawa dua pasien terkonfirmasi bergejala dan satu kasus yang sebelumnya dicurigai mendarat di Belanda pada tanggal 6 dan 7 Mei.

    Baca: Hantavirus Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    Per tanggal 8 Mei, empat pasien saat ini dirawat di rumah sakit, satu di ruang perawatan intensif di Johannesburg, Afrika Selatan, dua di rumah sakit berbeda di Belanda dan satu lagi di Zurich, Swiss.

    Kasus yang sebelumnya dicurigai dipindahkan langsung ke Jerman, di mana ia menjalani tes, dan baik tes PCR maupun serologi menunjukkan hasil negatif untuk virus Andes, oleh karena itu ia tidak lagi dianggap sebagai kasus.

    Pelacakan kontak penumpang yang turun di St Helena sedang berlangsung; Penumpang telah dihubungi dan disarankan untuk memantau gejala sendiri.

    Selain itu, penumpang yang melakukan perjalanan dengan penerbangan yang sama dari St Helena ke Afrika Selatan dengan salah satu kasus yang kemudian dikonfirmasi, telah dihubungi.

    Pada tanggal 6 Mei, kapal meninggalkan Cabo Verde, menuju Kepulauan Canary, Spanyol di mana penurunan penumpang direncanakan.

    Investigasi lebih lanjut mengenai potensi paparan kasus pertama dan sumber wabah sedang berlangsung bekerja sama dengan pihak berwenang di Argentina dan Chili.

    Wabah ini sedang ditangani melalui respons internasional yang terkoordinasi, termasuk investigasi epidemiologi mendalam, isolasi kasus dan manajemen klinis, evakuasi medis, pengujian laboratorium, serta pelacakan dan pemantauan kontak internasional.

  • Hati-hati dengan Tikus: Pakar Entomologi Ingatkan Risiko Penyebaran Hantavirus

    Hati-hati dengan Tikus: Pakar Entomologi Ingatkan Risiko Penyebaran Hantavirus

    7cloud.asia – Merebaknya kasus hantavirus membuat masyarakat mulai khawatir terhadap penyebaran penyakit yang berasal hewan pengerat itu.

    Menanggapi hal tersebut Prof Upik Kesumawati, Kepala Laboratorium Entomologi Kesehatan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, mengingatkan pentingnya kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

    Dilansir ipb.ac.id, Prof Upik menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus.

    Virus ini sebenarnya sudah lama diketahui dalam penelitian di Indonesia sejak 1980-an dan dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.

    “Virus ini memang sudah lama ada dan penyebab utama nya adalah tikus. Tetapi kami mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir berlebihan,“ ujar Prof Upik Kesumawati.

    Ia menuturkan, manusia dapat terinfeksi setelah menghirup debu yang sudah terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Penularannya juga dapat terjadi jika melalui kontak langsung dengan kotoran tikus maupun makanan yang telah terkontaminasi.

    Baca: Konfirmasi Kasus Hantavirus di Indonesia Meningkat dalam Dua Tahun Terakhir

    Berdasarkan pedoman Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, hantavirus umumnya menyebabkan dua sindrom utama.

    Pertama,Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang dapat menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.

    Gejala awal terinfeksi hantavirus ini meliputi demam, nyeri otot terutama di paha, punggung, dan bahu, badan lemas, sakit kepala, serta gangguan saluran pencernaan.

    Pada kondisi lebih lanjut setelah 4–10 hari, dijelaskan oleh Kementrian Kesehatan melalui situs resminya, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas yang berkembang cepat, hingga penurunan kadar oksigen dalam darah.

    Sementara pada kasus HFRS, gejala dapat berkembang menjadi tekanan darah rendah, syok, kebocoran pembuluh darah, bahkan gagal ginjal akut.

    Prof Upik juga menyoroti salah satu jenis hantavirus yang saat ini menjadi perhatian dunia, yakni Andes virus, karena dilaporkan memiliki kemungkinan penularan antarmanusia meski kasusnya sangat jarang terjadi.

    Baca: Penjelasan WHO Soal Hantavirus 

    Sebagai langkah pencegahan, Pakar Entomologi IPB University tersebut mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembangnya tikus.

    “Jangan langsung menyapu atau menyedot debu sarang dan kotoran tikus yang kering karena partikel virus dapat beterbangan dan terhirup. Basahi terlebih dahulu area tersebut menggunakan larutan disinfektan,” jelasnya.

    Selain itu, masyarakat dianjurkan rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas di area yang berpotensi menjadi habitat tikus.

    Ia juga mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam disertai gangguan pernapasan atau gangguan ginjal setelah terpapar lingkungan yang dicurigai terdapat kotoran tikus.

    Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hantavirus memang tergolong penyakit langka, tetapi memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi. Tingkat kematian akibat HPS dapat mencapai sekitar 40 persen, sedangkan HFRS berkisar 5–15 persen.

    Karena itu, pengendalian populasi tikus dan kebersihan lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran hantavirus di masyarakat.

    Baca: Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus