Tag: hari peduli sampah nasional

  • Hari Peduli Sampah Nasional: Hanya 35 Persen yang Terkelola dengan Baik

    Hari Peduli Sampah Nasional: Hanya 35 Persen yang Terkelola dengan Baik

    7cloud.asia – Pada 21 Februari lalu, masyarakat merayakan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) sebagai pengingat tragedi longsor sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Leuwigajah yang menewaskan puluhan orang.

    Pada Hari Peduli Sampah Nasional 2026 ini mengusung tema Kolaborasi Aksi untuk Gerakan Nasional Indonesia Asri (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).

    Lewat Hari Peduli Sampah Nasional ini, masyarakat diingatkan pentingnya pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari memilah sampah hingga daur ulang, serta mendorong komitmen semua pihak untuk mengatasi masalah sampah.

    Menurut data Global Waste Management Outlook 2024, sampah global yang tidak terkelola dengan baik mencapai 38 persen, sehingga memberikan kontribusi negatif terhadap lingkungan.

    Sementara di Indonesia, Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025, mencatat timbulan sampah nasional di Indonesia sebanyak 24,8 juta ton/tahun.

    Adapun capaian pengelolaan sampah nasional tahun 2025 adalah sebesar 34,55 persen atau 8,5 juta ton/tahun terkelola dengan baik dan sebesar 65,45 persen atau 16,3 juta ton/tahun tidak terkelola.

    Baca: SKB 4 Menteri untuk aktifkan kembali TPS3R yang mangkrak

    SIPSN mencatat, sampah yang masuk Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sanitary landfill atau controlled landfill sebanyak 36,24 persen sedangkan 63,76 persen diantaranya masih menerapkan open dumping (penimbunan terbuka).

    Adapun penyumbang sampah terbesar di Indonesia adalah sektor rumah tangga dengan persentase mencapai 56,7 persen atau 7,2 juta ton/tahun.

    Sumber lain meliputi perniagaan menyumbang 7,58 persen atau 972,2 ribu ton/tahun, pasar sebesar 1,7 juta ton/tahun, sementara fasilitas publik sebesar 7,03 persen atau 899,7 ribu ton/tahun dan kawasan sebesar 4,68 persen atau 598,6 ribu ton/tahun.

    Kategori lainnya tercatat sebesar 6,13 persen atau 785,1 ribu. Sektor perkantoran menjadi penyumbang paling kecil dengan persentase 4,22 persen atau 541,8 ribu dari total timbulan sampah nasional.

    Merespon hal tersebut, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan, dibutuhkan strategi terpadu dalam pengelolaan sampah untuk mendukung mitigasi perubahan iklim dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

    Kombinasi strategi yang perlu dijalankan mencakup reformasi kebijakan, inovasi teknologi, kampanye kesadaran dan edukasi publik serta partisipasi aktif dari masyarakat luas.

    Baca: Mayoritas TPS3R di Indonesia tidak berfungsi optimal

    Reformasi kebijakan menjadi fondasi utama dengan menghadirkan regulasi yang tegas, insentif bagi praktik ramah lingkungan, serta sistem pengawasan yang konsisten agar pengelolaan sampah berjalan secara efektif.

    Di sisi lain, inovasi teknologi seperti pengolahan sampah berbasis daur ulang, pemanfaatan limbah menjadi energi, dan digitalisasi sistem pengumpulan sampah dapat meningkatkan efisiensi serta mengurangi dampak pencemaran lingkungan.

    Kampanye kesadaran dan edukasi publik berperan penting dalam membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap pengurangan, pemilahan, dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.

    Seluruh upaya tersebut akan berjalan optimal apabila didukung oleh partisipasi aktif masyarakat, baik dalam skala rumah tangga, komunitas, maupun sektor industri.

    Dengan demikian akan tercipta kolaborasi yang kuat menuju sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

    “Ketika masyarakat diberdayakan untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab, mereka tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan tetapi juga membuka peluang ekonomi, yang mengarah pada masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan”, imbuh Dolly.

    Baca: Pembangunan PSEL bukan solusi tepat untuk atasi krisis sampah