Tag: hewan

  • Daftar Hewan yang Sudah Punah dan Tak Dapat Kita Lihat Lagi

    Daftar Hewan yang Sudah Punah dan Tak Dapat Kita Lihat Lagi

    7cloud.asia – Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), setiap tahun sekitar 10.000 spesies, baik tumbuhan maupun hewan hilang selamanya atau punah dari muka bumi.

    WWF menyatakan sulit untuk tahu berapa jumlah pastinya, karena manusia juga tak tahu berapa sebenarnya jumlah spesies yang ada di muka bumi.

    Berikut adalah daftar beberapa hewan yang pernah hidup di muka bumi dan tak akan pernah kita lihat lagi karena sudah punah, dikutip dari BBC Environment.

    Monyet merah (Ghana dan Pantai Gading)
    Monyet berukuran sedang ini baru saja dianggap punah sejak awal tahun 2000-an.

    Hewan ini ditemukan hidup di perbatasan antara Ghana dan Pantai Gading dan merupakan spesies yang luar biasa karena mereka tak punya jempol.

    Hewan yang lembut ini biasanya hidup dalam gerombolan besar di atas kanopi pepohonan yang tinggi, dan mereka harus mengubah cara bertahan karena penebangan hutan oleh manusia.

    Karena kelebatan hutan berkurang, gerombolan mereka menjadi terlalu kecil. Akibatnya monyet Red Colobus lebih lemah dalam menghadapi pemangsa, dan mengalami kelemahan genetik akibat perkawinan sedarah.

    Lumba-lumba Sungai Yangtze (China)
    Spesies ini diumumkan punah pada tahun 2006. Lumba-lumba Sungai Yangtze merupakan mamalia air berwarna pucat yang tak seanggun lumba-lumba laut.

    Namun lumba-lumba ini punya kemampuan ekolokasi (mengeluarkan bunyi dan mengindra pantulan bunyi tersebut dari benda di sekitarnya) lebih hebat.

    Begitu istimewanya sehingga lumba-lumba ini bisa melacak posisi ikan tertentu dengan kemampuan itu.

    Sensitifitas ini menjadi kerugian ketika sungai dipenuhi oleh perahu nelayan, kapal kontainer, kapal pukat dan polusi yang dihasilkan manusia.

    Dengan kepadatan lalu-lintas sungai seperti itu, lumba-lumba jenis ini tak mampu bertahan.

    Anjing laut Karibia (Serranilla Bank, antara Jamaika dan Nikaragua)
    Anjing laut asli Karibia pernah ditemukan di Teluk Meksiko, pantai timur Amerika Tengah dan pantai utara Amerika Selatan.

    Kepunahan anjing laut Karibia ini disebabkan perpaduan antara perburuan untuk mengambil minyaknya serta penangkapan ikan berlebihan yang membuat hewan ini kehilangan sumber makanan.

    Terakhir kali, anjing laut Karibinia ini terlihat tahun 1952 di Serranilla Bank yang terletak antara Jamaika dan Nikaragua.

    Kerang Pigtoe Alabama (Amerika Serikat)
    Kerang ini hidup di sungai Mobile di Alabama, AS, hingga sekitar tahun 2006. Dinamakan pigtoe (jempol babi) karena bentuknya mirip kaki babi.

    Spesies ini hidup dengan menyaring sungai yang kotor, tetapi karena tingkat polusi yang demikian tinggi, kerang pigtoe tak mampu bertahan.

    Punahnya hewan sederhana ini mengungkapkan kenyataan pahit tentang bahaya pencemaran air akibat bahan kimia dari pabrik yang juga membahayakan manusia yang tinggal di sekitarnya.

    Dodo – burung yang tak bisa terbang (Mauritius)
    Soal spesies yang punah, dodo adalah yang paling terkenal. Burung yang tak bisa terbang ini pernah hidup di Pulau Mauritius, tanpa ada pemangsa alami mereka.

    Ketika manusia tiba di Mauritius membawa hewan karnivora bersama mereka, dodo tak bisa bertahan. Tercatat, dodo terakhir ada di muka bumi pada akhir abad ke-17.

    Sapi laut Steller (Laut Bering antara Alaska dan Rusia)
    Spesies ini mirip dengan manatee atau dugong, bedanya tubuh mereka jauh lebih besar. Sapi laut Steller bisa hidup hingga sembilan meter panjangnya.

    Penampilannya yang istimewa dan lemak di dalam tubuh membuat hewan ini jadi sasaran pemburu.

    Sapi laut ini diperkirakan punah akibat perpaduan antara perburuan dan perubahan pada lingkungan hidup mereka, tak lama sesudah kepunahan dodo.

    Quagga (Afrika Selatan)
    Keindahan hewan bernama Quagga ini menjadi salah satu alasan kepunahannya karena banyak diburu manusia. Bagian depan tubuh hewan ini belang seperti zebra dan memudar di bagian belakang yang polos berwarna coklat seperti kuda.

    Mereka diburu hingga punah oleh pemburu yang menjual tampilan unik hewan ini. Quagga terakhir mati dalam kurungan di tahun 1880-an.

    Rusa besar Irlandia (Irlandia)
    Banyak hewan yang sudah punah mirip dengan spesies yang kita kenal sekarang, tapi lebih aneh. Misalnya mamut yang mirip gajah, dan yang berbeda adalah bulu yang lebat.

    Rusa besar Irlandia terlihat sangat mirip dengan rusa yang masih hidup sekarang.
    Bedanya, tinggi rusa bisa mencapai dua meter dengan tanduk membentang hingga 3,65 meter.

    Hewan jenis ini punah 7.700 tahun lalu, diduga akibat perpaduan antara perburuan dan perubahan iklim.

    Elang ekor putih (Inggris Raya)
    Elang ekor putih ini tak tampak lagi di Inggris Raya sejak permulaan abad ke-20.
    Burung indah dengan rentang sayap lebih dari dua meter ini diburu dengan kejam di Inggris selama bertahun-tahun.

    Malahan perburuan terhadap mereka disarankan. Ketika perburuan dilarang, sudah terlambat. Mereka sudah berada di jalur kepunahan.

    Untungnya hewan ini hidup di tempat lain di Eropa dan sedang diupayakan untuk dibiakkan lagi di Inggris. Namun memang tak semua spesies mendapat kesempatan kedua seperti ini.

  • Kerap Diabaikan dan Diperlakukan Semena-mena, Bagaimana Konservasi Reptil Dunia?

    Kerap Diabaikan dan Diperlakukan Semena-mena, Bagaimana Konservasi Reptil Dunia?

    7cloud.asia – Dibandingkan hewan seperti burung dan mamalia, reptil memang lebih sering luput dari perhatian. Akan tetapi, reptil tetap hidup berdampingan dengan kita.

    Laporan terbaru dari Uni Eropa menunjukkan bahwa 0,1 persen hewan yang digunakan dalam penelitian merupakan hewan berjenis reptil.

    Meskipun angka tersebut terlihat kecil, sebenarnya jumlah ini setara dengan lebih dari 4.500 individu. Jumlahnya pun meningkat hampir 200 persen selama empat tahun terakhir.

    Laporan di atas sebenarnya hanya memaparkan jumlah individu reptil yang tercatat dalam prosedur resmi. Penelitian tersebut tidak menghitung reptil yang berstatus ditangkap untuk sementara waktu.

    Hal ini menggambarkan bagaimana sebenarnya ada sejumlah hewan yang tidak kita ketahui kerap berada dalam kondisi buruk dan kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.

    Kondisi ini berdampak bagi reptil yang ditangkap sementara waktu. Ini pun termasuk reptil yang tinggal sepanjang hidupnya di penangkaran seperti hewan peliharaan ataupun kebun binatang.

    Meskipun studi mengenai topik ini masih terbatas, beberapa penelitian menemukan kebutuhan reptil memang nyatanya jarang terpenuhi.

    Hal ini mengakibatkan reptil berada dalam bayang-bayang masalah kesehatan dan masalah perilaku. Contohnya adalah pola interaksi repetitif dengan kaca terarium yang melukai moncongnya.

    Baca: Demi lindungi kadal langka, penambangan migas di Texas ditangguhkan

    Meningkatkan kesejahteraan bagi reptil
    Pengayaan habitat akhirnya muncul sebagai upaya untuk mengatasi berbagai kondisi kesulitan yang hewan hadapi. Pengayaan ini menawarkan stimulasi bagi hewan yang sering kali berada di lingkungan yang jarang berubah-ubah.

    Upaya ini bahkan sudah menjadi bidang studi dan alat tersendiri untuk meningkatkan taraf hidup hewan.

    Pengayaan habitat tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar. Sebaliknya, tujuan pendekatan ini adalah untuk membantu hewan dapat berkembang dengan lebih baik.

    Dalam praktiknya, pendekatan tersebut berusaha menambahkan beberapa elemen pada lingkungan hewan seperti mainan, struktur, stimulasi sensorik, sampai stimulasi sosial. Stimulasi-stimulasi ini digunakan untuk mendorong munculnya perilaku alami dari diri hewan.

    Di samping itu, poin utama dari pengayaan habitat tak hanya untuk memperkenalkan perubahan. Pengayaan juga bertujuan untuk menyesuaikan kebutuhan spesifik masing-masing spesies, sembari memastikan upaya tersebut dapat memperbaiki taraf hidup mereka.

    Dalam sebuah studi yang berangkat dari disertasi doktoral saya, kami membahas kurangnya perhatian yang reptil dapatkan dalam bidang ini.

    Pertama, kami menghubungi kebun binatang di Eropa untuk menilai bagaimana mereka melakukan pendekatan pengayaan habitat.

    Meskipun sebagai besar kebun binatang Eropa sudah memiliki langkah-langkah tertentu, kebanyakan praktik yang disebut-sebut sebagai “pengayaan” ini sering kali tidak lebih dari pemenuhan kebutuhan mendasar. Misalnya, cara menjaga suhu yang nyaman bagi hewan.

    Baca: BRIN temukan spesies baru kadal buta dari Pulau Buton

    Setelah menilai kondisi di atas, kami merancang dan mengevaluasi proposal pengayaan habitat untuk dua spesies kadal dari genus Podarcis.

    Pertama, menghadirkan rangsangan penciuman yang mengandung bau dari individu lain pada terarium kadal. Potongan kertas digunakan dalam upaya perangsangan ini.

    Kedua, kami menambahkan batang kayu berlubang yang harus kadal panjat dan jelajahi untuk menemukan makanan. Dengan menambah permukaan di berbagai ketinggian, kami menghadirkan kompleksitas struktur maupun kompleksitas suhu dalam terarium.

    Selanjutnya, kami mengobservasi perilaku kadal guna menilai efek pengayaan terhadap kualitas hidup mereka. Hasilnya, secara perilaku kadal menjadi lebih jarang menggosokkan tubuhnya ke kaca terarium. Hal ini dengan demikian mengurangi risiko cedera pada kadal.

    Temuan kami juga mendapati kadal jadi menghabiskan lebih banyak waktu untuk bergerak serta menjulurkan lidah. Hal tersebut menandai peningkatan eksplorasi kadal terhadap stimulus baru.

    Bagi hewan, menjelajah dan menginvestigasi informasi baru bukanlah respons naluriah semata, akan tetapi juga aktivitas yang memberikan kepuasan tersendiri.

    Sebagai tambahan, kami juga mengukur penggunaan kadar kortikosteron, hormon stres pada kadal serupa kortisol. Kami mengukurnya tanpa tindakan invasif, yakni melalui feses mereka.

    Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar hormon kortikosteron meningkat seiring kadal menghabiskan waktu di dalam penangkaran. Akan tetapi, hal yang serupa tidak kami temui pada kadal dalam fase pengayaan.

    Meskipun masih berupa temuan awal, data kami menunjukkan pengayaan berdampak positif bagi fisiologis kadal-kadal ini.

    Baca: Lebih dari 44.000 spesies terancam punah dari muka Bumi

    Perdagangan kadal
    Temuan kami menantang miskonsepsi yang umumnya muncul mengenai reptil. Sebenarnya, mereka merupakan hewan yang memiliki kemampuan kognitif.

    Selain itu, mereka juga memiliki kehidupan sosial yang menunjukkan perilaku senang bermain. Kebutuhan mereka nyatanya jauh lebih banyak dari yang kita sadari.

    Oleh karena itu, masih banyak upaya yang perlu kita lakukan. Untungnya, reptil yang tadinya terabaikan saat ini mulai menarik perhatian banyak pihak. Perhatian ini pun menjadi sangat perlu mengingat banyak reptil yang hidup dalam penangkaran berasal dari perdagangan satwa liar.

    Bisnis ini yang tidak hanya menguntungkan bagi sebagian pihak, tetapi juga mengakibatkan kematian banyak individu.

    Lebih dari 36 persen spesies reptil diperdagangkan secara ilegal. Hal yang amat disayangkan karena pengetahuan kita soal perilaku spesies ini masih sedikit. Mirisnya lagi, kita membeli dan menjual mereka bak barang koleksi semata.

    Kesejahteraan reptil dagangan justru menjadi prioritas utama. Sebelum dijual, mereka kerap disimpan dalam kondisi yang tidak higienis.

    Selain itu, mereka sering disimpan tanpa mempertimbangkan kebutuhan ruang, nutrisi, suhu, maupun kelembapan. Setelah terjual, angka kematian prematur mereka pun meningkat hingga 70 persen.

    Selain persoalan kesejahteraan, perdagangan satwa eksotis ini juga menimbulkan dampak ekologis seperti eksploitasi berlebih serta memicu munculnya spesies invasif (mengancam kehidupan spesies lainnya).

    Mempertimbangkan konteks ini, pengayaan habitat menjadi kesempatan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran. Upaya ini dapat membantu memahami perilaku, kemampuan, dan kebutuhan reptil yang selama ini acap diabaikan.

    Selama kita masih terus menaruh hewan dalam kandang, memastikan kualitas dan taraf hidup mereka harus menjadi kewajiban moral kita.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Spanish, Penulis: Alicia Bartolomé (Investigadora Doctora en Etología y Bienestar Animal, Universitat de València), Adinda Ghinashalsabila Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.