7cloud.asia – Dekade ini (2025-2035) sangat menentukan dalam menghadapi krisis iklim. Jika kita tidak melakukan perubahan maka kondisi lingkungan bisa dalam dalam situasi yang tidak bisa lagi diperbaiki apalagi dikembalikan lagi ke kondisi semula.
Demikian disampaikan Mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid dalam kuliah umum bertajuk Bumi, Sejarah dan Kita: Membaca Ulang Nusantara dalam Krisis Iklim, yang diikuti secara daring pada Selasa (29/7/2025)
Dalam kuliah umum yang dihelat sebagai bagian rangkaian peringatan 30 tahun Indonesia untuk Kemanusiaan ini, Hilmar mengatakan, krisis iklim kini sudah di depan mata dan bukan lagi problem masa depan.
Namun demikian masih banyak orang –terutama mereka yang tinggal di kawasan perkotaan– yang mengabaikan fakta ini.
Narasi tentang krisis iklim, ujarnya, masih banyak didominasi oleh pemegang kekuasaan atau swasta yang memiliki modal.
“Sayangnya, banyak yang bersifat greenwashing, yang seolah-olah peduli lingkungan tetapi sebenarnya tidak menyentuh akar permasalahan,“ ujarnya.
Baca: Banjir besar saat musim kemarau jadi bukti krisis iklim sudah di depan mata
Suara masyarakat sudah merasakan dampak krisis iklim nyaris tidak pernah didengar. Apalagi suara alam yang berbicara dalam bentuk yang berbeda seperti banjir, kebakaran, kekeringan hanya dinilai sebagai angka
Padahal apa yang terjadi di bawah sudah sangat nyata. Di sektor pertanian misalnya, gagal panen makin sering terjadi. Berbagai pranata yang dulu dimiliki petani tradisional sudah tak mampu lagi menjawab kondisi lingkungan yang sudah banyak berubah
Pun demikian yang dialami para nelayan. Krisis iklim telah membuat hidup mereka semakin tidak mudah. Kerusakan lingkungan membuat nelayan harus lebih jauh melaut, yang itu membutuhkan waktu dan sumber daya yang lebih besar.
Semua kondisi ini, ujarnya, mengakibatkan pendapatan yang semakin menurun yang pada gilirannya akan memicu masalah sosial.
“Kondisi ini menunjukkan betapa kompleksnya krisis iklim, karena itu krisis iklim tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa. Butuh cara luar biasa yang melibatkan banyak pihak untuk mengatasinya,“ imbuhnya
Hilmar mengingatkan, penanganan krisis iklim harus menerapkan prinsip keadilan yang melibatkan semua pihak, karena itu pendekatannya tidak bisa hanya dari sisi teknis semata.
Baca: Mengajak anak muda bergerak melawan krisis iklim
Penanganan krisis iklim, lanjutnya, harus berakar dari masyarakat dan kondisi masing-masing daerah. Dan tidak bisa diselesaikan dengan metode yang dicangkokkan begitu saja dari luar.
“Solusi untuk krisis iklim harus berakar, dengan menggali apa yang ada di sekitar masing-masing,“ imbuhnya
Sayangnya, ujarnya, kearifan yang ditemukan di banyak lokasi di bumi Nusantara belum dilihat sebagai solusi untuk mengatasi krisis iklim.
Di akhir pemaparannya, Hilmar menawarkan solusi yang bisa diterapkan dalam mengatasi krisis iklim, yakni gerakan yang berdaulat, berdikari dan berkpribadian.
Dia melihat, gerakan seperti mulai tumbuh di banyak daerah meski skalanya masih bersifat lokal. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana gerakan ini bisa berjejaring sehingga bisa meningkatkan kapasitas masing-masing.
Hilmar menegaskan apabila pengetahuan lokal masyarakat yang merupakan wujud ekspresi kebudayaan dikombinasikan dengan sains dan teknologi maka akan muncul potensi luar biasa besar.
