Tag: Homalomena

  • Dari Unggahan di Media Sosial, Herbarium Bandungense ITB dan BRIN Ungkap Tiga Homalomena Baru dari Sumatra

    Dari Unggahan di Media Sosial, Herbarium Bandungense ITB dan BRIN Ungkap Tiga Homalomena Baru dari Sumatra

    7cloud.asia – Perkembangan teknologi digital, khususnya media sosial, kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga membuka peluang baru dalam penemuan keanekaragaman hayati.

    Hal ini ditunjukkan melalui penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Telopea (2026) tersebut mengungkap tiga spesies baru dari genus Homalomena, yaitu Homalomena pachyderma, Homalomena pulopadangensis, dan Homalomena uncinata.

    Menariknya, ketiga spesies Homalomena ini pertama kali menarik perhatian ilmiah melalui unggahan tanaman hias di media sosial oleh kolektor dan penghobi.

    Foto-foto yang beredar menampilkan morfologi unik yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya. Hal ini mendorong para peneliti untuk melakukan kajian ilmiah lebih lanjut hingga akhirnya memastikan bahwa ketiganya merupakan spesies baru yang berbeda dari jenis Homalomena lain di Sumatera.

    Peneliti dari Herbarium Bandungense SITH ITB, Arifin Surya Dwipa Irsyam, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa media sosial kini memiliki peran penting dalam tahap awal penemuan spesies.

    Informasi yang dibagikan secara cepat oleh masyarakat memungkinkan para ahli mengidentifikasi potensi kebaruan lebih dini sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas wilayah. Meski demikian, ia menegaskan bahwa validasi ilmiah tetap harus dilakukan melalui penelitian formal yang ketat.

    “Media sosial, berfungsi sebagai alat bantu atau tahap early detection, bukan pengganti metode ilmiah,” ujar Arifin.

    Fenomena ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada 2019, peneliti juga berhasil mendeskripsikan spesies baru dari genus Hoya yang awalnya diketahui melalui unggahan di Facebook.

    Hal ini menunjukkan bahwa platform digital berpotensi mempercepat dokumentasi keanekaragaman hayati, khususnya di negara tropis seperti Indonesia.

    Selain media sosial, peran nursery privat juga menjadi faktor penting dalam penelitian ini. Tanaman yang berasal dari berbagai wilayah di Sumatra dikoleksi dan dibudidayakan di Jawa Barat, sehingga memungkinkan pengamatan lebih mendalam, termasuk hingga fase reproduksi.

    Bahkan, salah satu spesies, Homalomena uncinata, diketahui telah berada di Jepang selama sekitar sembilan tahun, meskipun asal-usul distribusinya belum sepenuhnya jelas.

    Lebih lanjut, Arifin menyoroti pentingnya etika dalam penyebaran informasi terkait spesies baru. Ia mengingatkan bahwa publikasi yang tidak terkontrol berpotensi membahayakan spesies, terutama yang rentan terhadap eksploitasi.

    “Oleh karena itu, kolaborasi antara peneliti, komunitas lokal, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan konservasi,” ungkapnya.

    Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan nonkonvensional, seperti pemanfaatan media sosial dan partisipasi publik (citizen science), dapat melengkapi metode eksplorasi lapangan dalam mengungkap keanekaragaman hayati.

    Integrasi antara teknologi digital dan penelitian akademik dinilai semakin penting untuk mendukung upaya pendokumentasian biodiversitas Indonesia yang masih sangat luas dan belum sepenuhnya terungkap.

  • Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Homalomena Bungamerah dari Sumatra Utara

    Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Homalomena Bungamerah dari Sumatra Utara

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengungkap keanekaragaman hayati Indonesia melalui penemuan spesies baru tumbuhan aroid dari genus Homalomena, yaitu Homalomena bungamerah.

    Spesies ini ditemukan di Sumatra Utara. Spesies ini telah teridentifikasi dan penelitiannya dipublikasikan dalam jurnal internasional Taiwania Volume 71 Nomor 2 (2026).

    Hasil penelitian ini dipublikasikan dengan judul “Homalomena bungamerah (Araceae), a new species from Northern Sumatra, Indonesia” dan dapat diakses melalui https://taiwania.ntu.edu.tw/abstract/2160

    Penemuan spesies Homalomena bungamerah menambah daftar kekayaan flora endemik Indonesia, khususnya dari Pulau Sumatera yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman genus Homalomena.

    Penelitian ini melibatkan kolaborasi sejumlah peneliti, termasuk Muhammad Rifqi Hariri dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, bersama Wendy A. Mustaqim, Arifin Surya Dwipa Irsyam, Muhammad A. Pratama, dan Irwansyah Surbakti.

    Dalam publikasinya, tim peneliti menjelaskan bahwa Homalomena bungamerah merupakan spesies litofit, yaitu tumbuhan yang tumbuh pada permukaan batuan, terutama pada batu granit yang lembab dan teduh di hutan dipterokarpa campuran.
    Spesies ini memiliki ciri morfologi khas, di antaranya permukaan daun bagian atas yang bertekstur kasar dan berlipat, serta tidak ditemukannya struktur interpistillar staminodes yang menjadi pembeda utama dengan spesies lain dalam genus yang sama.

    “Kombinasi ciri morfologi yang unik, terutama pada permukaan daun dan struktur bunganya, menunjukkan bahwa spesies ini berbeda dari Homalomena lain yang telah dideskripsikan,” ujar Peneliti Pusat Riset Biostematika dan Evolusi, Muhammad Rifqi Hariri.

    Ia menjelaskan bahwa karakter morfologi tersebut menjadi kunci dalam memastikan statusnya sebagai spesies baru. Selain itu, Homalomena bungamerah memiliki bagian perbungaan berwarna merah yang menjadi dasar penamaannya.

    Nama “bungamerah” diambil dari Bahasa Melayu yang merujuk pada warna mencolok pada tangkai dan seludang bunganya.

    Berdasarkan hasil kajian, spesies ini diketahui hanya ditemukan di satu lokasi di Sumatera Utara dengan jumlah populasi yang sangat terbatas, yakni kurang dari 100 individu dewasa.

    Kondisi tersebut, ditambah dengan ancaman pengambilan dari alam serta degradasi habitat, menyebabkan spesies ini dikategorikan sebagai Kritis (Critically Endangered) menurut kriteria IUCN.

    Temuan ini menunjukkan pentingnya eksplorasi dan kajian taksonomi untuk mengungkap potensi biodiversitas yang belum terdokumentasi. Keterlibatan peneliti BRIN dalam studi ini sekaligus menegaskan komitmen dalam mendukung upaya pelestarian sumber daya hayati Indonesia.