7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengingatkan bahwa pengelola kawasan hotel, restoran, kafe (HOREKA) harus secara mandiri mengelola sampah yang dihasilkannya.
Dilansir Antaranews.com, Hanif menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan pengelolaan sampah di Indonesia yang ditargetkan mencapai emisi nol pada 2050.
Kementerian Lingkungan Hidup akan mewajibkan pelaku usaha di bidang hotel, restoran dan kafe (horeka) untuk mengelola sendiri sampah makanan hingga habis terkelola.
Salah satu langkah yang harus diambil adalah dengan mengurangi beban TPA sampah melalui upaya pengurangan dan pengelolaan sampah selesai di hulu. Oleh sebab itu, Horeka didorong untuk dapat mengelola sampah di wilayahnya masing-masing sehingga sampah habis terkelola.
Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Novrizal Tahar mengatakan, horeka sebagai point source yang lebih mudah untuk didorong dalam mengatasi masalah sampah makanan.
Industri horeka diminta menyelesaikan persoalan sampah makanannya secara mandiri agar tak ada lagi sampah makanan dari horeka yang masuk ke TPA. Atau, meminta horeka bekerja sama dengan industri jasa pengolahan sampah.
Baca: DLH DKI Jakarta wajibkan hotel, restoran dan kafe kurangi sampah makanan
Dalam pernyataan dikonfirmasi dari Jakarta, Jumat (6/3/2026), Menteri LH/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif menyoroti sejumlah wilayah yang sudah memperlihatkan tingkat pengelolaan sampah yang baik termasuk Kota Surabaya di Jawa Timur.
Surabaya menjadi daerah dengan kinerja pengelolaan sampah terbaik tahun 2025 dan berhak memperoleh Sertifikat Menuju Kota Bersih.
“Surabaya sudah berada di jalur yang tepat sebagai kota yang bersih, tetapi ini belum cukup. Masih ada tantangan, khususnya di kawasan hotel, restoran, kafe (HOREKA) yang harus secara mandiri mengelola sampahnya dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Disampaikan usai aksi bersih di areal Monumen Kapal Selam dan Sungai Kalimas di Surabaya pada hari ini, dia menekankan pengelolaan sampah harus menjadi budaya masyarakat dengan pemilahan dari sumbernya.
“Setiap sampah yang tercecer menunjukkan kegagalan kita. Gerakan Indonesia ASRI harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari untuk semua pihak, tanpa terkecuali. Infrastruktur saja tidak cukup tanpa partisipasi aktif masyarakat,” tambahnya.
Kota Surabaya sendiri memiliki timbulan sampah sekitar 1.810,81 ton per hari. Dari jumlah itu, hanya 31,49 ton yang belum terkelola, termasuk sampah yang dibakar terbuka atau dibuang ke lingkungan.
Baca: Dampak mengerikan sampah makanan pada lingkungan
Terkait hal itu, dia menyoroti bahwa Surabaya telah menunjukkan kemajuan dan mendapatkan pengakuan nasional.
Namun, jelasnya, perjalanan menuju Adipura masih membutuhkan kerja nyata dan kerja keras dari semua pihak, terutama kemandirian kawasan HOREKA untuk menyelesaikan sampah secara mandiri.
Tantangan lainnya adalah mewujudkan perubahan perilaku masyarakat untuk memilah sampah di tingkat rumah tangga.
Dengan kolaborasi dan komitmen nyata, kota ini tidak hanya akan bersih, tetapi juga mampu meraih Adipura, sekaligus mendorong kemandirian dunia usaha untuk mengelola sampahnya sendiri.
“Dan, pada akhirnya terbangun budaya bersih di masyarakat yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang,” demikian Hanif.
