Tag: hotspot

  • Curah Hujan Berkurang, Titik Panas di Riau Mulai Muncul

    Curah Hujan Berkurang, Titik Panas di Riau Mulai Muncul

    7cloud.asia – Meski belum memasuki musim kemarau, tetapi curah hujan sudah mulai berkurang di beberapa wilayah. Kondisi ini memicu munculnya titik panas (hotspot). Seperti wilayah Riau.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Riau memantau ada titik hotspot di wilayah Riau, yaitu di Kota Dumai 2 titik dan di Kabupaten Pelalawan 1 titik.

    Kepala Stasiun Meteorologi BMKG SSK II Pekanbaru, Irwansyah Nasution menjelaskan ketiga titik tersebut masih belum besar.

    “Di Riau ini masih rendah, dibandingkan Sumatera Selatan. Di Riau sudah ada beberapa tapi belum besar, ada tiga titik hotspot di Pelalawan 1, di Dumai 2, nggak terlalu besar,” jelas Irwansyah seperti yang dilansir detik.com.

    Baca: BMKG prediksi musim kemarau 2025 lebih pendek

    Jumlah hotspot ini berpotensi bertambah di saat musim kemarau nanti, apalagi saat memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan akan terjadi pada Juni-Juli 2025.

    Menurut Irwansyah, wilayah Riau saat ini memasuki transisi dari musim hujan ke kemarau. BMKG memprediksi musim kemarau di wilayah Riau terjadi pada pertengahan Mei 2025.

    Sama seperti sebagian besar wilayah lainnya di Indonesia, durasi musim kemarau tahun ini singkat. “Juni-Juli puncaknya, tapi kemungkinan tahun ini tidak terlalu lama. Sekitar 3 bulanan,” katanya.

    Baca: Musim kemarau mulai Mei 2025, masyarakat diimbau antisipasi dampaknya

    Sebelumnya Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkapkan ada beberapa faktor yang menyebabkan musim kemarau 2025 lebih singkat.

    Yaitu adanya fenomena iklim global seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada dalam fase netral. Artinya tidak adanya gangguan iklim besar dari Samudra Pasifik maupun Samudra Hindia hingga semester II tahun 2025.

    Namun, suhu muka laut di wilayah Indonesia cenderung lebih hangat dari normal dan diperkirakan bertahan hingga September, yang dapat memengaruhi cuaca lokal di Indonesia.

     

     

     

  • Wilayah Riau Paling Sering Dilanda Kebakaran, BMKG Ungkap Penyebabnya

    Wilayah Riau Paling Sering Dilanda Kebakaran, BMKG Ungkap Penyebabnya

    7cloud.asia – Titik api atau hotspot mulai ditemukan di beberapa wilayah. Salah satunya Riau yang tercatat ada 144 titik hotspot dan 81 hektar lahan terbakar hingga akhir April 2025. Riau memang wilayah yang sering dilanda kebakaran, karena berbagai faktor.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan wilayah Riau berpotensi terjadi kebakaran lahan meski tanpa ada pembakaran karena faktor angin dan gesekan ranting.

    Dalam rilis BMKG, Dwikorita menerangkan adanya musim kemarau yang terjadi dua kali di Riau menyebabkan wilayah ini menjadi sering terjadi hotspot.

    Baca: BRIN sebut pengolahan lahan gambut pemicu kebakaran lahan

    Khusus Wilayah Riau, secara alamiah berpotensi mengalami dua kali musim kemarau, yakni pada Februari–Maret dan kembali pada Mei hingga Agustus, yang diprediksi menjadi puncak kemarau. Kondisi ini menyebabkan provinsi ini lebih sering mengalami hotspot dibanding wilayah lain.

    “Bahkan meski tanpa pembakaran, potensi kebakaran tetap ada karena faktor angin dan gesekan ranting. Maka prediksi berbasis data sangat penting untuk mitigasi,” jelas mantan rektor UGM ini.

    BMKG memperkirakan periode April-Mei 2025, risiko karhutla umumnya rendah. Namun beberapa area di Riau, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur mulai menunjukkan risiko menengah hingga tinggi.

    Bulan Juni 2025, peningkatan signifikan risiko karhutla terjadi di wilayah Riau (41,5% wilayah berisiko tinggi), Sumatera Utara, Jambi, dan sekitarnya.

    Baca: Curah hujan berkurang, titik panas mulai muncul di Riau

    Sifat kemarau diprediksi didominasi kondisi normal (sekitar 60%), namun 26% wilayah berpotensi mengalami kemarau atas normal (lebih basah) dan 14% bawah normal (lebih kering).

    Lebih jauh Dwikorita memaparkan, periode April-Mei 2025 risiko karhutla umumnya rendah. Sedangkan, Bulan Juli-September 2025, risiko karhutla meluas ke Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua.

    Wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua Selatan, Kalimantan Selatan, serta Bangka Belitung menjadi wilayah dengan potensi risiko karhutla tertinggi.

    Baca: Musim Kemarau 2025 lebih singkat, ini penyebabnya

    Kemudian pada Oktober 2025, risiko karhutla diprediksi tetap tinggi di wilayah Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

    Karena itu, BMKG bersama BNPB dan pemerintah daerah melakukan berbagai langkah antisipasi. Diantaranya mendorong upaya pembasahan lahan, upaya mempertahankan tinggi muka air di lahan.

    Selain itu, upaya lainnya adalah pengisian embung-embung serta kanal dengan memanfaatkan hujan yang masih ada saat periode transisi menjelang musim kemarau.

    Baca: Musim kemarau 2025 diperkirakan bulan Mei, waspada dampaknya

    Upaya penguatan lainnya juga dilakukan dalam bentuk penyiagaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), patroli udara, serta pengawasan lapangan secara berkala, khususnya di wilayah Riau yang saat ini telah berstatus siaga darurat karhutla.

    “BMKG berkomitmen untuk terus memantau perkembangan iklim dan potensi karhutla serta menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat dan pihak terkait demi mencegah dampak buruk yang mungkin terjadi. Dengan data yang akurat dan tindakan yang cepat, kita bisa mencegah bencana besar,” urainya.