7cloud.asia – Panja Biaya Pendidikan Komisi X DPR mengundang tiga pakar pendidikan, yakni Prof. Didik J. Rachbini, M.Sc., Ph.D (rektor Universitas Paramadina), Prof. Dr. H. Nanang Fattah, M. Pd. (UPI Bandung), dan Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D (Yarsi).
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panja Biaya Pendidikan, ketiganya memberikan masukan tentang pentingnya Indonesia menginvestasikan sumber dayanya di sektor pendidikan.
Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf Macan Effendi mengapresiasi masukan dari ketiga narasumber yang notabene merupakan praktisi dan pakar pendidikan yang disampaikan .
Menurutnya, masukan dari ketiga narasumber sangat bermanfaat bagi Komisi X, khususnya Panja Biaya Pendidikan dalam merumuskan kebijakan di sektor pendidikan.
Baca: Ada sesat pikir yang mengatakan pendidikan Orde Baru lebih bagus
Karena, ujarnya, biasanya kita bicara tentang pendidikan itu hanya yang ada di Kementerian Pendidikan, seperti tentang kurikulum, bicara tentang beasiswa, sarana dan prasarana.
”Tapi tadi ketiga narasumber kita menjelaskan bagaimana bahayanya kita jika tidak inves yang namanya human capital. Dimana Index human capital kita terendah di beberapa negara di Asia,” ujar Dede usai RDP Panja Biaya Pendidikan di ruang rapat Komisi X DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (20/6/2024).
Jika pemerintah mengabaikan sektor pendidikan, lanjut Politisi Fraksi Partai Demokrat ini, akan berdampak pada produktivitas generasi ke depan, yang hanya 52 persen.
”Itu artinya kita akan kalah jauh dengan berbagai negara lainnya dalam melakukan kompetisi nantinya,” ujar Dede.
Baca: Mahasiswa UGM Gugat Permendikbud tentang PTN-BH
Menurut Dede, yang menyebabkan semua itu karena tidak fokusnya dukungan negara terhadap pendidikan.
Dia menegaskan, pendidikan bukan hanya sekedar sekolah, tetapi mencari outputnya, tentang kemampuan siswa dalam mengolah pikirannya, adabnya, karakternya dan kemampuan sosial lainnya.
Itu semua dimulai sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sampai perguruan tinggi. Dan, untuk itu terkait dengan biaya pendidikan yang memang tidak ada yang murah.
Menurutnya ilmu itu ada biaya, maka harus ada pengorbanan. Menjadi murah karena ada subsidi negara di dalamnya.
Baca: Mengapa kebijakan PTN-BH disebut penyebab mahalnya UKT
Tetapi itu belum cukup, tapi karena yang ditanggung Negara hanya tiga puluh persen, sementara sisanya, 70 persen ditanggung oleh orang tua atau keluarga.
Dede menekankan, bagaimana kedepannya agar intervensi negara lebih besar lagi melalui anggaran pendidikan.
Karena dari anggaran pendidikan itu, ternyata ada anggaran yang lebih besar yang dialokasikan oleh Kementerian Keuangan untuk biaya pendidikan ada di kementerian/lembaga lain dalam posisi idle .
Artinya ada Rp100 triliun anggaran pendidikan yang tidak terpakai. Padahal sejatinya hal itu bisa digunakan untuk membiayai pendidikan tingga dan PAUD, sehingga pendidikan tidak berbiaya mahal,” paparnya.
Karena itulah pihaknya bersyukur dibentuknya Panja Biaya Pendidikan ini. Sehingga bisa melihat, mendalami, dan memfokuskan semuanya terkait biaya pendidikan di negeri ini.
Serta mana yang harus diperbaiki dan ditingkatkan. Hingga hasil dari Panja ini akan diserahkan ke pihak pemerintah dalam bentuk rekomendasi.
