Tag: idul fitri

  • Sisa Perayaan Lebaran yang Tak Ramah Bagi Lingkungan

    Sisa Perayaan Lebaran yang Tak Ramah Bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Hari raya Idul Fitri atau Lebaran tinggal menghitung hari. Dalam beberapa hari terakhir masyarakat disibukkan dengan tradisi mudik yang diperkirakan melibatkan jutaan orang. Sebuah aktifitas yang cukup masih dan punya dampak besar pada lingkungan.

    Masyarakat Indonesia merayakan Idulfitri atau Lebaran dengan kegiatan saling berkunjung ke rumah kerabat maupun teman untuk saling memaafkan.

    Semarak Lebaran juga berlangsung sejak beberapa hari sebelum dan setelahnya, misalnya aktivitas pemudik yang memadati jalanan ataupun transportasi umum. Beberapa daerah turut mengadakan pesta kembang api pada semalam sebelum Idulfitri untuk menandai Ramadan yang berakhir.

    Sayangnya di balik kesemarakan ini, Idul Fitri yang seharusnya dirayakan dengan kegiatan baik justru bisa berdampak buruk terhadap lingkungan.

    Kita perlu mencegah dampak tersebut agar aktivitas menyambut Idul Fitri atau  Lebaran lebih ramah lingkungan sehingga sesuai dengan tujuan hakikinya, yaitu kembali ke fitrah atau kesucian.

    Baca: Tips Mudik Ramah Lingkungan

    Berikut beberapa cara perayaan Lebaran yang kurang memperhatikan dampak bagi lingkungan.

    1. Sisa makanan

    Laporan dari The Economist Intelligence Unit (EIU); divisi riset dan analisis dari perusahaan media asal Inggris, The Economist, pada 2017 menyatakan Indonesia menjadi negara peringkat kedua dalam hal membuang makanan. Arab Saudi menempati peringkat pertama. Amerika Serikat peringkat ketiga.

     

    Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sampah makanan yang dihasilkan menyumbang 46,75% dari total sampah Indonesia. Limbah makanan ini menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 213-531 triliun per tahun, atau 5% dari produk domestik bruto Indonesia.

    Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik juga dapat menimbulkan masalah kesehatan karena menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta mengundang hewan liar yang mengkonsumsi limbah tersebut. Organisme ini dapat membawa penyakit bisa menular dari hewan ke manusia atau biasa disebut zoonosis.

    Sisa makanan yang membusuk juga mengeluarkan gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca. Emisi gas metana yang berlebihan amat berbahaya karena bisa memerangkap panas 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida atau CO2.

    Jumlah limbah makanan yang fantastis ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain kurangnya pengetahuan untuk mengelola makanan dengan baik ataupun penyimpanannya. Ada juga karena perilaku belanja berlebihan, ataupun kebiasaan memasak makanan dalam jumlah banyak.

    Pemerintah seharusnya mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang makanan dengan melakukan berbagai kampanye.

    Misalnya, kampanye untuk tidak boros saat berbelanja atau memproduksi makanan berlebih yang berisiko meningkatkan limbah dan gas rumah kaca.

    Pemerintah dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk mengelola distribusi makanan bagi orang yang membutuhkan.

    Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang dermawan. Supaya lebih bermanfaat, sifat ini dapat dikelola dengan lebih profesional.

    2. Penggunaan kendaraan pribadi

    Ancaman kedua terhadap lingkungan akibat perayaan Lebaran yang tak ramah lingkungan adalah meningkatnya polusi udara akibat penggunaan kendaraan bermotor yang berlebihan.

    Saat lebaran, mobilitas masyarakat meningkat tajam. Kemacetan tidak hanya terjadi di kota, tapi di banyak tempat di desa-desa. Arus mudik juga memindahkan polusi dari kota besar ke daerah pinggiran kota.

    Penggunaan alat transportasi secara masif dan bersamaan akan meningkatkan polusi udara dari kendaraan bermotor berbahan bakar bensin dan solar. Meski tak berlangsung lama, tren ini tetap membahayakan kesehatan maupun lingkungan..

    Pembakaran mesin maupun gesekan ban dengan jalanan turut mengeluarkan karbon monoksida, partikel debu berukuran 10 (PM10) – atau lebih kecil lagi – 2,5 mikron (PM2,5).

    Keduanya berbahaya bagi kesehatan karena menyebabkan gangguan pernapasan, mengurangi angka harapan hidup, bahkan mengganggu kesehatan mental.

    Selain dampak kesehatan, asap kendaraan juga melepaskan CO2 dan metana yang bisa memperparah perubahan iklim.

    Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik dengan menyediakan transportasi publik yang ramah lingkungan dan nyaman.

    Pemerintah seyogianya perlu mengurangi perhatian terhadap produsen kendaraan pribadi dengan alasan pertumbuhan ekonomi, tapi mengabaikan pelestarian lingkungan.

    Pemerintah pusat maupun daerah perlu merumuskan aturan jelas mengenai transportasi publik dan kenyamanan masyarakat. Harapannya, momen hari raya menjadi momentum perubahan perilaku ke arah yang lebih ramah lingkungan.

    3. Limbah pakaian

    Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Lebaran identik dengan baju baru. Tek heran jika kemudian dikenal istilah baju Lebaran.

    Survei oleh perusahaan riset dan polling global, YouGov, pada 2022 menyatakan 81% masyarakat Indonesia menggunakan uang tunjangan hari raya atu THR mereka untuk membeli baju baru.

    Pusat-pusat perbelanjaan, platform e-commerce, ataupun toko pakaian acap memanfaatkan momen ini dengan mengobral diskon. 

    Namun, di tengah kondisi iklim yang berubah dan situasi pencemaran di Indonesia saat ini, kita perlu berpikir ulang. Apakah kebiasaan ini layak diteruskan?

    Tradisi baju baru dapat mengarah pada penumpukan sampah. Survei dari Yougov pada 2017 menyatakan sekitar 66% responden Indonesia membuang satu baju setiap tahun. Ada juga 25% responden yang setiap tahunnya membuang 10 helai baju.

    Selain mubazir, kebiasaan membeli baju baru juga bisa memperparah dampak lingkungan dari industri tekstil. Sektor ini bertanggung jawab atas 6-8% emisi gas rumah kaca di bumi karena masifnya penggunaan energi untuk pemrosesan garmen dan tekstil.

    Di Indonesia, limbah tekstil mencapai jutaan ton setiap tahun. Aktivitas produksi juga masih mengotori sungai-sungai di tanah air, seperti Sungai Citarum di Jawa BaratSungai Bengawan Solo di Jawa Tengah, dan Sungai Brantas di Jawa Timur.

    4. Kembang api

    Perayaan dengan petasan dan kembang api sering kali membuat masyarakat takjub, tapi hal ini bersifat semu. Sebab, rasa ini hanya berlangsung sebentar dibandingkan kerusakan lingkungan jangka panjang yang ditimbulkan.

    Petasan dan kembang api mengandung zat kimia seperti logam berat, karbon, mesiu dan bahan bahan kimia lainnya. Asap yang ditimbulkan dari petasan dan kembang api menimbulkan polusi dan membahayakan saluran pernapasan jika terhirup dalam jumlah besar. Partikel-partikel petasan dan kembang api yang jatuh ke tanah dapat merusak tanaman dan mencemari air.

    Dampak lainnya dari kembang api adalah mengganggu kehidupan satwa liar terutama burung-burung dan satwa arboreal yaitu hewan yang tinggal di pohon-pohon.

    Gangguan suara yang ditimbulkan oleh petasan dan kembang api juga diderita oleh hewan domestik yang sensitif terhadap frekuensi suara, seperti anjing dan ayam.

    Idulfitri atau Lebaran adalah momentum kebersamaan, kasih sayang, dan saling memaafkan. Mari kita merayakan lebaran dengan berperilaku bijak, bukan hanya pada sesama manusia tapi juga pada alam semesta.

    Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.

    Sumber: The Conversation baca artikel asli di sini

  • Sisa Perayaan Idul Fitri yang Tak Ramah Bagi Lingkungan

    Sisa Perayaan Idul Fitri yang Tak Ramah Bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Hari raya Idul Fitri atau Lebaran tinggal menghitung hari. Dalam beberapa hari terakhir masyarakat disibukkan dengan tradisi mudik yang diperkirakan melibatkan jutaan orang. Sebuah aktifitas yang cukup masih dan punya dampak besar pada lingkungan.

    Masyarakat Indonesia merayakan Idul Fitri atau Lebaran dengan kegiatan saling berkunjung ke rumah kerabat maupun teman untuk saling memaafkan.

    Semarak Lebaran juga berlangsung sejak beberapa hari sebelum dan setelahnya, misalnya aktivitas pemudik yang memadati jalanan ataupun transportasi umum. Beberapa daerah turut mengadakan pesta kembang api pada semalam sebelum Idulfitri untuk menandai Ramadan yang berakhir.

    Sayangnya di balik kesemarakan ini, Idul Fitri yang seharusnya dirayakan dengan kegiatan baik justru bisa berdampak buruk terhadap lingkungan.

    Kita perlu mencegah dampak tersebut agar aktivitas menyambut Idul Fitri atau  Lebaran lebih ramah lingkungan sehingga tujuan hakikinya, yaitu kembali ke fitrah atau kesucian benar-benar terwujud.

    Baca: Tips Mudik Ramah Lingkungan

    Berikut beberapa cara perayaan Lebaran yang kurang memperhatikan dampak bagi lingkungan.

    1. Sisa makanan

    Laporan dari The Economist Intelligence Unit (EIU); divisi riset dan analisis dari perusahaan media asal Inggris, The Economist, pada 2017 menyatakan Indonesia menjadi negara peringkat kedua dalam hal membuang makanan. Arab Saudi menempati peringkat pertama. Amerika Serikat peringkat ketiga.

    Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sampah makanan yang dihasilkan menyumbang 46,75% dari total sampah Indonesia. Limbah makanan ini menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 213-531 triliun per tahun, atau 5% dari produk domestik bruto Indonesia.

    Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik juga dapat menimbulkan masalah kesehatan karena menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta mengundang hewan liar yang mengkonsumsi limbah tersebut. Organisme ini dapat membawa penyakit bisa menular dari hewan ke manusia atau biasa disebut zoonosis.

    Sisa makanan yang membusuk juga mengeluarkan gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca. Emisi gas metana yang berlebihan amat berbahaya karena bisa memerangkap panas 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida atau CO2.

    Jumlah limbah makanan yang fantastis ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain kurangnya pengetahuan untuk mengelola makanan dengan baik ataupun penyimpanannya. Ada juga karena perilaku belanja berlebihan, ataupun kebiasaan memasak makanan dalam jumlah banyak.

    Pemerintah seharusnya mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang makanan dengan melakukan berbagai kampanye.

    Misalnya, kampanye untuk tidak boros saat berbelanja atau memproduksi makanan berlebih yang berisiko meningkatkan limbah dan gas rumah kaca.

    Pemerintah dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk mengelola distribusi makanan bagi orang yang membutuhkan.

    Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang dermawan. Supaya lebih bermanfaat, sifat ini dapat dikelola dengan lebih profesional.

    2. Penggunaan kendaraan pribadi

    Ancaman kedua terhadap lingkungan akibat perayaan Lebaran yang tak ramah lingkungan adalah meningkatnya polusi udara akibat penggunaan kendaraan bermotor yang berlebihan.

    Saat lebaran, mobilitas masyarakat meningkat tajam. Kemacetan tidak hanya terjadi di kota, tapi di banyak tempat di desa-desa. Arus mudik juga memindahkan polusi dari kota besar ke daerah pinggiran kota.

    Penggunaan alat transportasi secara masif dan bersamaan akan meningkatkan polusi udara dari kendaraan bermotor berbahan bakar bensin dan solar. Meski tak berlangsung lama, tren ini tetap membahayakan kesehatan maupun lingkungan..

    Pembakaran mesin maupun gesekan ban dengan jalanan turut mengeluarkan karbon monoksida, partikel debu berukuran 10 (PM10) – atau lebih kecil lagi – 2,5 mikron (PM2,5).

    Keduanya berbahaya bagi kesehatan karena menyebabkan gangguan pernapasan, mengurangi angka harapan hidup, bahkan mengganggu kesehatan mental.

    Selain dampak kesehatan, asap kendaraan juga melepaskan CO2 dan metana yang bisa memperparah perubahan iklim.

    Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik dengan menyediakan transportasi publik yang ramah lingkungan dan nyaman.

    Pemerintah seyogianya perlu mengurangi perhatian terhadap produsen kendaraan pribadi dengan alasan pertumbuhan ekonomi, tapi mengabaikan pelestarian lingkungan.

    Pemerintah pusat maupun daerah perlu merumuskan aturan jelas mengenai transportasi publik dan kenyamanan masyarakat. Harapannya, momen hari raya Idul Fitri menjadi momentum perubahan perilaku ke arah yang lebih ramah lingkungan.

    3. Limbah pakaian

    Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Lebaran identik dengan baju baru. Tek heran jika kemudian dikenal istilah baju Lebaran.

    Survei oleh perusahaan riset dan polling global, YouGov, pada 2022 menyatakan 81% masyarakat Indonesia menggunakan uang tunjangan hari raya atu THR mereka untuk membeli baju baru.

    Pusat-pusat perbelanjaan, platform e-commerce, ataupun toko pakaian acap memanfaatkan momen ini dengan mengobral diskon. 

    Namun, di tengah kondisi iklim yang berubah dan situasi pencemaran di Indonesia saat ini, kita perlu berpikir ulang. Apakah kebiasaan ini layak diteruskan?

    Tradisi baju baru dapat mengarah pada penumpukan sampah. Survei dari Yougov pada 2017 menyatakan sekitar 66% responden Indonesia membuang satu baju setiap tahun. Ada juga 25% responden yang setiap tahunnya membuang 10 helai baju.

    Selain mubazir, kebiasaan membeli baju baru juga bisa memperparah dampak lingkungan dari industri tekstil. Sektor ini bertanggung jawab atas 6-8% emisi gas rumah kaca di bumi karena masifnya penggunaan energi untuk pemrosesan garmen dan tekstil.

    Di Indonesia, limbah tekstil mencapai jutaan ton setiap tahun. Aktivitas produksi juga masih mengotori sungai-sungai di tanah air, seperti Sungai Citarum di Jawa BaratSungai Bengawan Solo di Jawa Tengah, dan Sungai Brantas di Jawa Timur.

    4. Kembang api

    Perayaan dengan petasan dan kembang api sering kali membuat masyarakat takjub, tapi hal ini bersifat semu. Sebab, rasa ini hanya berlangsung sebentar dibandingkan kerusakan lingkungan jangka panjang yang ditimbulkan.

    Petasan dan kembang api mengandung zat kimia seperti logam berat, karbon, mesiu dan bahan bahan kimia lainnya. Asap yang ditimbulkan dari petasan dan kembang api menimbulkan polusi dan membahayakan saluran pernapasan jika terhirup dalam jumlah besar. Partikel-partikel petasan dan kembang api yang jatuh ke tanah dapat merusak tanaman dan mencemari air.

    Dampak lainnya dari kembang api adalah mengganggu kehidupan satwa liar terutama burung-burung dan satwa arboreal yaitu hewan yang tinggal di pohon-pohon.

    Gangguan suara yang ditimbulkan oleh petasan dan kembang api juga diderita oleh hewan domestik yang sensitif terhadap frekuensi suara, seperti anjing dan ayam.

    Idulfitri atau Lebaran adalah momentum kebersamaan, kasih sayang, dan saling memaafkan. Mari kita merayakan lebaran dengan berperilaku bijak, bukan hanya pada sesama manusia tapi juga pada lingkungan dan alam semesta.

     Selamat merayakan hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

    Sumber: The Conversation baca artikel asli di sini

  • Yuk Sambut Idul Fitri dengan Cara yang Lebih Ramah Lingkungan

    Yuk Sambut Idul Fitri dengan Cara yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Lebaran tinggal menghitung hari, dan orang semakin sibuk dengan berbagai persiapan menyambut semarak Idul Fitri.

    Namun, sadarkah Anda, di balik kesemarakan ini, Idul Fitri yang seharusnya dirayakan dengan kegiatan baik justru bisa berdampak buruk terhadap lingkungan.

    Kita perlu mencegah dampak tersebut agar aktivitas menyambut Idul Fitri atau Lebaran lebih ramah lingkungan sehingga sesuai dengan tujuan hakikinya, yaitu kembali ke fitrah atau kesucian.

    Berikut beberapa cara perayaan Lebaran atau Idul Fitri yang kurang memperhatikan dampak bagi lingkungan alias lebih ramah lingkungan.

    1. Makanan berlebihan

    Laporan dari The Economist Intelligence Unit (EIU); divisi riset dan analisis dari perusahaan media asal Inggris, The Economist, pada 2017 menyatakan Indonesia berada di peringkat kedua negara yang paling banyak membuang makanan, setelah Arab Saudi.

    Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sampah makanan yang dihasilkan menyumbang 46,75% dari total sampah Indonesia.

    Limbah makanan ini menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 213-531 triliun per tahun, atau 5% dari produk domestik bruto Indonesia.

    Baca: Kiat mudik ramah lingkungan

    Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik juga dapat menimbulkan masalah kesehatan karena menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta mengundang hewan liar yang mengkonsumsi limbah tersebut.

    Organisme ini dapat membawa penyakit bisa menular dari hewan ke manusia atau biasa disebut zoonosis.

    Sisa makanan yang membusuk juga mengeluarkan gas metana, salah satu gas rumah kaca. Emisi gas metana yang berlebihan amat berbahaya karena bisa memerangkap panas 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida atau CO2.

    Jumlah limbah makanan yang fantastis ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain kurangnya pengetahuan untuk mengelola makanan dengan baik ataupun penyimpanannya. Ada juga karena perilaku belanja berlebihan ataupun kebiasaan memasak makanan dalam jumlah banyak.

    Pemerintah seharusnya mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang makanan dengan melakukan berbagai kampanye. Misalnya, kampanye untuk tidak boros saat berbelanja atau memproduksi makanan berlebih yang berisiko meningkatkan limbah dan gas rumah kaca.

    Pemerintah dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk mengelola distribusi makanan bagi orang yang membutuhkan.

    Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang dermawan. Supaya lebih bermanfaat, sifat ini dapat dikelola dengan lebih profesional.

    Baca: Kenali ciri produk ramah lingkungan

    2. Penggunaan kendaraan pribadi

    Ancaman kedua terhadap lingkungan akibat perayaan Lebaran yang tak ramah lingkungan adalah meningkatnya polusi udara akibat penggunaan kendaraan bermotor yang berlebihan.

    Saat lebaran, mobilitas masyarakat meningkat tajam. Kemacetan tidak hanya terjadi di kota, tapi di banyak tempat di desa-desa. Arus mudik juga memindahkan polusi dari kota besar ke daerah pinggiran kota.

    Penggunaan alat transportasi secara masif dan bersamaan akan meningkatkan polusi udara dari kendaraan bermotor berbahan bakar bensin dan solar. Meski tak berlangsung lama, tren ini tetap membahayakan kesehatan maupun lingkungan..

    Pembakaran mesin maupun gesekan ban dengan jalanan turut mengeluarkan karbon monoksida, partikel debu berukuran 10 (PM10) – atau lebih kecil lagi – 2,5 mikron (PM2,5).

    Keduanya berbahaya bagi kesehatan karena menyebabkan gangguan pernapasan, mengurangi angka harapan hidup, bahkan mengganggu kesehatan mental.

    Selain dampak kesehatan, asap kendaraan juga melepaskan CO2 dan metana yang bisa memperparah perubahan iklim.

    Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik dengan menyediakan transportasi publik yang ramah lingkungan dan nyaman.

    Pemerintah seyogianya perlu mengurangi perhatian terhadap produsen kendaraan pribadi dengan alasan pertumbuhan ekonomi, tapi mengabaikan pelestarian lingkungan.

    Pemerintah pusat maupun daerah perlu merumuskan aturan jelas mengenai transportasi publik dan kenyamanan masyarakat. Harapannya, momen hari raya menjadi momentum perubahan perilaku ke arah yang lebih ramah lingkungan.

    Baca: Mengapa gaya hidup konsumtif tak ramah lingkungan

    3. Limbah pakaian

    Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Lebaran identik dengan baju baru. Tek heran jika kemudian dikenal istilah baju Lebaran.

    Survei oleh perusahaan riset dan polling global, YouGov, pada 2022 menyatakan 81% masyarakat Indonesia menggunakan uang tunjangan hari raya atau THR mereka untuk membeli baju baru.

    Pusat-pusat perbelanjaan, platform e-commerce, ataupun toko pakaian acap memanfaatkan momen ini dengan mengobral diskon.

    Namun, di tengah kondisi iklim yang berubah dan situasi pencemaran di Indonesia saat ini, kita perlu berpikir ulang. Apakah kebiasaan ini layak diteruskan?

    Tradisi baju baru dapat mengarah pada penumpukan sampah. Survei dari Yougov pada 2017 menyatakan sekitar 66% responden Indonesia membuang satu baju setiap tahun. Ada juga 25% responden yang setiap tahunnya membuang 10 helai baju.

    Selain mubazir, kebiasaan membeli baju baru juga bisa memperparah dampak lingkungan dari industri tekstil. Sektor ini bertanggung jawab atas 6-8% emisi gas rumah kaca di bumi karena masifnya penggunaan energi untuk pemrosesan garmen dan tekstil.

    Di Indonesia, limbah tekstil mencapai jutaan ton setiap tahun. Aktivitas produksi juga masih mengotori sungai-sungai di tanah air, seperti Sungai Citarum di Jawa Barat, Sungai Bengawan Solo di Jawa Tengah, dan Sungai Brantas di Jawa Timur.

    Baca: 17 Langkah untuk gaya hidup yang ramah lingkungan

    4. Kembang api

    Perayaan dengan petasan dan kembang api sering kali membuat masyarakat takjub, tapi hal ini bersifat semu. Sebab, rasa ini hanya berlangsung sebentar dibandingkan kerusakan lingkungan jangka panjang yang ditimbulkan.

    Petasan dan kembang api mengandung zat kimia seperti logam berat, karbon, mesiu dan bahan bahan kimia lainnya.

    Asap yang ditimbulkan dari petasan dan kembang api menimbulkan polusi dan membahayakan saluran pernapasan jika terhirup dalam jumlah besar. Partikel-partikel petasan dan kembang api yang jatuh ke tanah dapat merusak tanaman dan mencemari air.

    Dampak lainnya dari kembang api adalah mengganggu kehidupan satwa liar terutama burung-burung dan satwa arboreal yaitu hewan yang tinggal di pohon-pohon.

    Gangguan suara yang ditimbulkan oleh petasan dan kembang api juga diderita oleh hewan domestik yang sensitif terhadap frekuensi suara, seperti anjing dan ayam.

    Idulfitri atau Lebaran adalah momentum kebersamaan, kasih sayang, dan saling memaafkan. Mari kita merayakan lebaran dengan berperilaku bijak, bukan hanya pada sesama manusia tapi juga pada alam semesta.

    Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.

    Sumber: The Conversation baca artikel asli  di sini

  • Cara Sederhana Agar Berat Badan Tidak Melonjak Saat Lebaran

    Cara Sederhana Agar Berat Badan Tidak Melonjak Saat Lebaran

    7cloud.asia – Hari Raya Idulfitri atau Lebaran sering menjadi momok tersendiri bagi mereka yang sedang menjaga berat badan. 

    Makanan yang melimpah menjadi penyebabnya. Untuk itu praktisi kesehatan masyarakat,Ngabila Salama membagikan sejumlah kiat untuk menjaga berat badan tetap ideal yang dapat diterapkan oleh masyarakat selama merayakan Hari Raya Idulfitri atau Lebaran 2024.

    Langkah pertama yang dianjurkan adalah berbagi nikmat makanan dan minuman bersama saudara, kerabat dan orang di sekitar saat Idul Fitri atau Lebaran. 

    “InsyaAllah ini dapat jadi berkah, bisa juga dimulai sebelum lebaran tiba jadi dapat berguna untuk orang lain yang lebih membutuhkan,” kata Ngabila seperti dikutip Antaranews Sabtu (6/4/2024).

    Ngabila menuturkan selain berbagi rezeki makanan kepada sesama, masyarakat dapat menjaga pola makan dengan mengonsumsi secara tidak berlebihan.

    Baca: Muhammadiyah perkirakan Lebaran akan berbarengan

    Cobalah tiap makanan masing-masing dalam porsi yang sedikit untuk mengatasi rasa penasaran terhadap cita rasanya.

    Usahakan piring yang diisi lauk pauk di awal hanya setengah porsi, yang isinya berupa setengah porsi karbohidrat dan lauk pauk, diikuti dengan sayur-sayuran dan buah-buahan.

    “Upayakan sayur dan buah bisa lima porsi per hari ya. Tiga kali saat makan besar dan dua kali sebagai snack di antara makan besar,” ujarnya.

    Selama mengonsumsi makanan atau minuman yang tersedia, usahakan pula untuk menghindari makanan yang banyak mengandung gula, garam dan lemak.

    Misalnya santan, minyak, mentega, tepung-tepungan, kue, minuman kemasan hingga soda.

    Baca: Shalat ied yang ramah lingkungan

    Kiat selanjutnya yang masyarakat dapat terapkan yakni menahan diri dari lapar mata atau emosi yang berlebihan saat menyantap makanan.

    Ngabila menjelaskan kenikmatan tersebut hanya dapat dirasakan sesaat oleh indera perasa yang ada di dalam mulut saja.

    Terkait dengan pemantauan berat badan, disarankan agar tiap individu rajin memantau berat setiap hari.

    Sementara bagi penderita komorbid dan berusia lebih dari 40 tahun dapat melakukan pemantauan berkala setidaknya tiga hari sekali, termasuk tekanan darah, gula darah, dan kolestrol.

    Baca: Saatnya tinggalkan cara merayakan idul fitri yang tak ramah lingkungan

    Menurutnya semakin banyak mengonsumsi makanan, masyarakat disarankan untuk memperbanyak aktivitas fisik seperti berjalan ringan 6 ribu hingga 8 ribu langkah per hari dan dinaikkan jumlahnya secara bertahap.

    “Bisa juga dengan melakukan senam peregangan di perjalanan atau lokasi mudik dua jam sekali selama 10 sampai 15 menit, walau dengan posisi duduk,” kata Ngabila.

    Kiat lain yang ia berikan yakni dengan melakukan puasa jika kondisi memungkinkan selama 12 sampai 14 jam atau hanya minum air yang tidak manis yang boleh dikonsumsi pada pukul 8 malam sampai 10 pagi.

    Sedangkan pukul 10 pagi sampai 8 malam bisa makan dengan lebih leluasa dengan tujuan membakar kalori lebih banyak, dan tetap batasi konsumsi gula, garam, lemak (GGL).

    Baca: Jelang Idul Fitri pemerintah diminta jaga harga pangan

    Terakhir, terapkan pola hidup sehat dengan tidak merokok, cukup tidur setidaknya 7 jam per hari, dan tidak stres sehingga dapat mencegah rasa lapar terus menerus atau emosi berlebihan untuk menyantap makanan.

    “Pastikan lebaran ini kita tetap jaga kesehatan ya, karena sehat adalah investasi terbesar untuk tetap bugar dan produktif,” katanya dokter yang kini menjabat sebagai Kasie Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Tamansari Jakarta itu.

  • Langkah Sederhana Menuju Shalat Ied yang Ramah Lingkungan

    Langkah Sederhana Menuju Shalat Ied yang Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Menyambul Idul Fitri tahun ini masyarakat diajak untuk melaksanakan konsep Green Idul Fitri dengan tidak menggunakan alas kertas koran saat Shalat Ied.

    Ajakan untuk merayakan Idul Fitri secara ramah lingkungan ini disampaikan Dosen Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember Latifah Mirzatikanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (6/4/2024).

    “Penggunaan koran sebagai bahan alas shalat telah menjadi sebuah fenomena yang umum terjadi di masyarakat, terutama saat pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri,” katanya dikutip Antaranewws.com 

    Meskipun terlihat sebagai tradisi yang sederhana, Latifah yang juga pakar lingkungan itu mengatakan, penggunaan koran saat shalat Ied berpotensi dampak yang cukup besar terhadap lingkungan dan kesehatan, terutama terkait dengan peningkatan jumlah sampah dan polusi udara.

    Baca : Seperti ini mudik yang ramah lingkungan

    Menurutnya, penggunaan koran sebagai alas shalat pada Hari Raya Idul Fitri kurang ramah lingkungan karena secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan jumlah sampah.

    “Sebagian besar masyarakat masih menggunakan koran saat Shalat Id, sehingga dampaknya lapangan atau tempat-tempat shalat dipenuhi oleh koran bekas yang berserakan,” tuturnya.

    Ia menjelaskan koran merupakan produk yang telah melalui berbagai proses produksi yang melibatkan bahan kimia.

    Saat dibakar, lanjutnya, koran melepaskan bahan kimia beracun ke udara, termasuk dioksin yang merupakan polutan organik persisten.

     

    Baca: Yuk tinggalkan kebiasaan nggak ramah lingkungan saat Idul Fitri

    “Maka dari itu, saat dibakar koran akan melepaskan bahan kimia beracun ke udara. Zat-zat beracun seperti dioksin merupakan salah satu contoh yang sering dilepaskan saat pembakaran koran,” katanya.

    Dioksin adalah kontaminan kimia beracun (polutan organik persisten) yang sangat berbahaya bagi ekosistem dan kesehatan manusia.

    Penumpukan dioksin dalam jaringan lemak hewan dan manusia dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk risiko kanker yang meningkat.

    “Jika tubuh manusia terpapar dioksin secara terus menerus maka akan berpotensi menyebabkan kanker,” ucap Dosen Teknik Lingkungan Unmuh Jember itu.

    Baca: 6 ide cantik hampers ramah lingkungan

    Latifah mengenalkan sebuah konsep yang dinamakan Green Idul Fitri, sebuah gerakan mengganti penggunaan koran dengan alas lain yang tidak hanya sekali pakai dan langsung dibuang.

    “Penggunaan alas seperti tikar gulung, karpet, matras, atau alas lainnya yang lebih ramah lingkungan dapat berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan kesehatan bersama,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Muhammadiyah Perkirakan Muslim Indonesia Akan Rayakan Idul Fitri Bersamaan pada 10 April 2024

    Muhammadiyah Perkirakan Muslim Indonesia Akan Rayakan Idul Fitri Bersamaan pada 10 April 2024

    7cloud.asia – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir memperkirakan, hari raya Idul Fitri 2024 atau 1 Syawal 1445 Hijriah bakal berlangsung bersamaan.

    Baik pemerintah maupun Muhammadiyah yang selama ini sering berbeda, bakal sama-sama merayakan Idul Fitri 2024 pada Rabu (10/4/2024). 

    “Insya Allah Muhammadiyah akan ber-Idul Fitri pada 10 April 2024 dan tampaknya Idul Fitri akan sama antara pemerintah dan Muhammadiyah,” kata Haedar di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Sabtu (6/4/2024).

    Haedar berharap kemungkinan merayakan Idul Fitri sama-sama di tanggal 10 April ini tidak membuat masyarakat bingung, mengingat penentuan awal Ramadhan antara Muhammadiyah dan pemerintah tahun ini berbeda.

    “Ramadhan-nya beda tapi Idul Fitri-nya sama karena ada perbedaan cara penetapan,” jelas Haedar.

    Baca: Mengapa sering terjadi perbedaan penentuan 1 Syawal

    Terlepas sama maupun beda, Haedar meyakini seluruh lapisan masyarakat Indonesia akan mampu menjaga toleransi.

    “Sama maupun berbeda insya Allah kita sudah masuk pada fase saling memahami dan toleransi,” ujar dia.

     

    Untuk menyatukan dan mengakhiri masalah perbedaan itu, kata Haedar, Muhammadiyah terus mengampanyekan terwujudnya Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

    Menurut dia, KHGT diharapkan tidak hanya berlaku untuk Indonesia saja, melainkan untuk umat Islam di seluruh dunia sehingga perbedaan itu tidak terus berulang.

    “Sehingga nanti satu tanggal baru itu berlaku untuk di semua negara. Seperti kalender masehi yang tidak ada perbedaan,” kata dia.

    Baca: Bikin shalat Ied yang ramah lingkungan

    Apabila masih terus menggunakan kalender sesuai dengan negara masing-masing, Muhammadiyah memandang perbedaan dalam menentukan waktu-waktu penting umat Islam kemungkinan besar bakal terus terjadi.

    Dalam kesempatan itu, Haedar berharap praktik ibadah selama Ramadhan mampu menumbuhkan sikap masyarakat dalam menghormati perbedaan.

    Puasa Ramadhan, menurut dia, sejatinya bukan sekadar mengubah waktu makan, namun juga meningkatkan ketakwaan dan kesalehan umat Muslim.

    “Kesalehan dalam pandangan Muhammadiyah tidak hanya berlaku pada pribadi atau individu, tetapi juga pada keluarga, sosial-masyarakat, bahkan sampai pada kesalehan bernegara dan antarbangsa,” kata dia.

    Sumber: Antaranews.com

  • Seperti Ini Penjelasannya Mengapa Ketupat menjadi Hidangan Wajib Saat Idul Fitri

    Seperti Ini Penjelasannya Mengapa Ketupat menjadi Hidangan Wajib Saat Idul Fitri

    7cloud.asia – Bagi umat Islam di Indonesia, ketupat merupakan hdangan wajib saat Lebaran atau Idul Fitri tiba.

    Saat Idul Fitri yang sering disebut sebagai hari kemenangan, Ketupat hadir di meja makan dengan varian yang berbeda di masing-masing daerah.

    Secara harafiah, ketupat adalah makanan dari bahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda (janur), atau ada juga yang menggunakan daun palma.

    Ketupat diyakini berasal dari Indonesia, yang dalam perkembangannya menyebar ke negara lain, seperti; Brunei, Malaysia, Singapura, dan Thailand selatan. 

    Dilansir dari berbagai sumber, ketupat berasal dari kata “kupat” yang merupakan gabungan kata ngaku dan lepat, frasa dalam bahasa Jawa yang berarti mengakui kesalahan.

    Baca: Tidak berlebihan soal makanan menjadi salah satu kiat Idul Fitri ramah lingkungan

    Tapi ada juga yang menyebut kupat merupakan simbol dari laku papat (empat tindakan) yakni papat menggambarkan empat tindakan, yaitu luberan (melimpah), leburan (melebur dosa), lebaran (pintu ampunan terbuka lebar), dan laburan (menyucikan diri).

    Sedangkan ngaku lepat menggambarkan sesama umat muslim harus lapang dalam mengakui kesalahan dan saling memaafkan. Sedangkan, laku 

    Di sisi lain, isian beras pada ketupat memiliki lambang sebagai hawa nafsu. Sedangkan, janur sebagai kulit ketupat tersebut berasal dari kata jatining nur yang berarti cahaya sejati (hati nurani).

    Sehingga, ketupat memiliki melambangkan manusia yang menahan nafsu dengan mengikuti hati nuraninya.

    Dilansir dari detik.com, ketupat sudah dikenal sejak era Kerajaan Demak, yaitu pada abad ke-15 atau pada saat penyebaran Islam di Pulau Jawa.

    Baca: Tidak nyampah menjadi cara mudik Lebaran yang ramah lingkungan

    Seorang ahli sejarah dari Belanda, Hermanus Johannes de Graaf, dalam bukunya yang berjudul Malay Annual, ketupat pertama kali muncul di daerah jawa, tepatnya ketika kepemimpinan Kerajaan Demak.

    Kemunculan ketupat tersebut merupakan bagian dari penyebaran agama Islam yang dibawa oleh Sunan Kalijaga.

    Ketupat digunakan untuk melakukan pendekatan dakwah dalam sistem budaya. Karena, ketupat dipercaya dapat menjadi alat yang lebih familiar bagi masyarakat jawa yang kental pada saat itu.

    Hingga akhirnya, ketika agama Islam mulai diterima secara luas, ketupat akhirnya melekat sebagai hidangan yang khas saat perayaan Islam, seperti Idul Fitri.

    Terdapat beberapa macam jenis ketupat sesuai bentuk, bahan baku, dan jenis pembungkusnya.

    Baca: Seperti ini cara shalat ied ramah lingkungan

    Berikut lima jenis ketupat yang dikenal di berbagai daerah di Indonesia:

    1. Ketupat Pulut

    Ketupat pulut merupakan ketupat yang terbuat dari beras ketan. Ketupat ini merupakan hidangan yang berasal dari Medan, biasanya dimakan dengan lauk rendang atau gulai kambing.

    2. Ketupat Kapau

    Ketupat kapau merupakan ketupat yang dibuat dari daun kapau. Ketupat ini merupakan ikon Kota Pekanbaru. Penggunaan daun kapau tersebut diyakini dapat membuat ketupat bertahan lebih lama.

    3. Ketupat Palas

    Ketupat palas adalah ketupat yang dibuat dari daun palas atau daun lontar muda. Ketupat ini juga dibuat menggunakan beras ketan, dihidangkan bersama rendang dan aneka kari.

    Baca: Makna mudik tak sekadar pulang kampung

    4. Ketupat Landan

    Ketupat landan berasal dari Banjarnegara. Untuk memasak ketupat landan biasanya menggunakan air rendaman abu pelepah kelapa.

    5. Ketupat Pandan

    Ketupat pandan dibuat dari daun pandan, daun pandan yang digunakan adalah daun yang berukuran besar dan memiliki duri.

     

  • Kemenag Tetapkan Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah Jatuh pada 10 April 2024

    Kemenag Tetapkan Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah Jatuh pada 10 April 2024

    7cloud.asia – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Saiful Rahmat Dasuki menyebut kemungkinan besar Lebaran 2024 Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah jatuh pada Rabu (10/4/2024). Saiful mengatakan prediksi itu terlihat dari posisi hilal sore ini saat diamati.

    Dia mengatakan posisi hilal saat ini berada di antara 4 derajat 52,7 hingga 7 derajat, 37,8 menit dan elongasi ini berkisar pada 8 derajat 23,68 menit sampai 10 derajat 12,94 menit.

    Dari kriteria Mabims, ini diprediksi ini telah memenuhi kriteria visibilitas hilal atau imkanu rukyat Yaitu tinggi hilal 3 derajat dan elongasi sebesar 6,4 derajat.

    Kementerian Agama masih menggelar Sidang Isbat pada Selasa (9/4/2024) petang, untuk menetapkan 1 Syawal 1445 Hijriah atau Hari raya Idul Fitri/Lebaran 2024).

    Berdasarkan data hisab, ijtimak terjadi pada Selasa, 29 Ramadan 1445 H / 9 April 2024 M, sekitar pukul 01.20 WIB.

    Saat matahari terbenam, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di atas ufuk antara 4° 52.71′ (empat derajat lima puluh dua koma tujuh puluh satu menit) sampai dengan 7° 37.84′ (tujuh derajat tiga puluh tujuh koma delapan puluh empat menit) dan sudut elongasi 8° 23.68′ (delapan derajat dua puluh tiga koma enam puluh delapan menit) hingga 10° 12.94′ (sepuluh derajat dua belas koma sembilan puluh empat menit).

     

    Baca: Muhammadiyah perkirakan idul fitri 1445 Hijriah akan dirayakan bersamaan 

    Sebelumnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir juga umat Islam Indonesia akan merayakan Idul Fitri secara berbarengan. 

    Potensi serentaknya Lebaran pada 10 April 2024 disebabkan terpenuhinya syarat minimal hilal, berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

    Kriteria itu terdiri dari tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut Bulan-Matahari minimal 6,4 derajat.

    Berbeda dengan pemerintah yang menggunakan metode rukyatul hilal, Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal dalam menentukan Idul Fitri 1 Syawal 1445 Hijriyah.

    Berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2024 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah 1445 H, tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam tanggal 9 April 2024 M di Yogyakarta (-07° 48′ LS dan 2 = 110° 21′ BT) +06° 08′ 28″ (hilal sudah wujud), dan di Wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam Bulan berada di atas ufuk.

     

    Baca: Ini penyebab mengapa Idul Fitri sering dirayakan berbeda hari

    Sebagai catatan, umat Islam Indonesia merayakan Lebaran idul Fitri d hari yang berbeda pada tahun lalu.

    Warga Muhammadiyah merayakan pada 21 April 2023 sementara sebagian besar lain pada 22 April 2023 seperti ditetapkan pemerintah.

    Merayakan Hari Raya Idul Fitri dalam waktu yang berbeda sebenarnya bukan hal yang baru di Indonesia.

    Umat Islam Indonesia memang kerap merayakan Lebaran yang berbeda. Biasanya Lebaran yang berbeda melibatkan dua ormas terbesar di Indonesia yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

    Perbedaan terjadi karena ada perbedaan pula dalam dasar perhitungan. Muhammadiyah menggunakan metode hisab dalam penentuan 1 Syawal. Sementara itu, umat NU menggunakan metode rukyat.

    Namun demikian, bisa dikatakan umat Islam Indonesia lebih sering meryakan Idul Fitri dalam waktu bersamaan.

    Sepanjang periode 2004-2023 atau 20 tahun terakhir, Indonesia pernah merayakan Hari Raya Idul Fitri beda hari selama empat kali. Empat periode tersebut adalah pada 2006, 2007, 2011, dan 2023..

  • Penuhi Lonjakan Permintaan Jelang Idul Fitri Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Kg

    Penuhi Lonjakan Permintaan Jelang Idul Fitri Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Kg

    7cloud.asia – PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga menambah pasokan LPG 3 kg sebanyak 22.087 metrik ton (MT) atau setara dengan 7,36 juta tabung.

    Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting dalam keterangannya penambahan pasokan LPG 3 kg ini untuk atasi kelangkaan

    “Penambahan alokasi LPG 3 kg diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat pada RAFI (Ramadhan dan Idul Fitri) 2024. Penambahan juga dilakukan dengan hati-hati agar tepat sasaran,” kata di Jakarta, Selasa (9/4/2024).

    Baca: Shalat Ied ramah lingkungan

    Dilansir Antaranews.com, Irto mengatakan bahwa tambahan pasokan LPG 3 kg ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat seiring Ramadhan dan Idul Fitri 1445 H.

    Terhitung kuota LPG 3 kg dari 19 Maret hingga 7 April sebanyak 430.867 MT. Sedangkan, realisasinya pada periode tersebut sudah mencapai 452.954 MT atau melampaui 5,1 persen dari kuota.

    Irto menambahkan, pihaknya terus memantau kebutuhan LPG 3 kg hingga masa libur Lebaran selesai. Pertamina Patra Niaga memastikan stok LPG 3 kg aman berada di level 14–15 hari.

    Baca: Muslim Indonesia diperkirakan rayakan Idul Fitri 1445 H bersamaan

    “Pertamina terus memonitor kebutuhan LPG 3 kg hingga akhir Lebaran dan kami lakukan penambahan ke daerah yang memang membutuhkan,” ujar Irto.

    Pasokan LPG 3 kg dipastikan aman dan Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan 5.027 agen siaga di seluruh Indonesia.

    Masyarakat diimbau untuk membeli LPG 3 kg di pangkalan resmi agar bisa mendapatkan harga sesuai HET.

    Baca: Jelang Idul Fitri pemerintah diminta stabilkan harga pangan

    Untuk informasi pangkalan atau jika menemukan kendala di lapangan, masyarakat bisa menghubungi call center Pertamina 135.

    Untuk diketahui, Pertamina siap menjaga pasokan energi melalui Satuan Tugas Ramadhan dan Idul Fitri (Satgas RAFI) 2024 yang bertugas mulai 25 Maret hingga 21 April 2024.

    Satgas RAFI bertugas untuk mengendalikan dan memantau penyaluran BBM, elpiji, serta energi lainnya.

    Baca: Yuk tinggalkan cara merayakan Idul Fitri yang tak ramah lingkungan

    Pertamina ingin memastikan pasokan dan distribusi energi untuk masyarakat selama masa Ramadhan dan Idul Fitri berjalan aman dan lancar.

    Selain menyiapkan agen LPG, Pertamina juga menyiagakan 1.792 SPBU selama 24 jam, 61 titik Kiosk Pertamina Siaga untuk menyediakan Pertamax/Dex Series, 54 unit motoris di lokasi macet, dan 200 unit mobil tangki.

    Kemudian, juga terdapat 6 titik Serambi MyPertamina untuk menyediakan layanan kesehatan, nursery room, dan berbagai fasilitas istirahat di jalur mudik.

  • Tradisi Idul Fitri atau Lebaran yang Hanya Ditemukan di Indonesia

    Tradisi Idul Fitri atau Lebaran yang Hanya Ditemukan di Indonesia

    7cloud.asia – Setiap daerah tentu memiliki tradisi khas untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, begitu pula dengan umat muslim di Indonesia.

    Anda pasti sudah sangat familiar dengan mudik, takbiran, beli baju baru, dan lain sebagainya, bukan? Itu hanya sebagian kecil tradisi yang biasa dilakukan umat muslim di Indonesia.

    Ada beragam tradisi khas dengan cerita unik di balik tradisi lebaran tersebut. 

    Melakukan beragam tradisi tersebut kadang dibutuhkan persiapan yang matang sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak pekan pertama bulan Ramadhan.

    Termasuk saat membeli kebutuhan menjelang Idul Fitri, seperti beli baju baru, kebutuhan makanan pokok, THR, dan lain sebagainya.

    Baca: Idul Fitri 1445 Hijriah dirayakan bersamaan

    Berikut adalah beberapa tradisi Idul Fitri atau Lebaran di Indonesia yang masih dilakukan hingga saat ini:

    Mudik
    Pulang kampung atau mudik menjadi tradisi lebaran orang Indonesia yang cukup fenomenal. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari atau bahkan minggu sebelum Idul Fitri tiba.

    Tradisi ini jadi momen untuk saling bersilaturahmi antara keluarga yang sudah merantau ke berbagai daerah.

    Ketupat
    Perayaan Hari Raya Idul Fitri rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran ketupat dan lauk pauk lainnya. Ketupat menjadi salah satu makanan khas orang Indonesia saat lebaran tiba.

    Biasanya ketupat disajikan dengan opor, rendang, gulai, sambal goreng kentang, dan masakan khas lainnya.

    Baca: Mengapa Idul Fitri juga disebut Lebaran, dan apa maknanya

    Malam takbiran
    Tradisi lebaran selanjutnya yang identik dengan umat muslim di Indonesia yaitu malam takbiran, dalam segala bentuk rupanya.

    Biasanya takbiran dilakukan pada malam hari menjelang Idul Fitri, di mana orang-orang akan berkeliling mengumandangkan takbir sambil menabuh bedug dengan meriah.

    Namun, umumnya pawai takbiran ini pun berbeda-beda di setiap daerah, tergantung tradisi yang sudah turun temurun di daerah tersebut.

    Ziarah ke makam
    Tradisi selanjutnya yaitu ziarah atau ‘nyekar’ ke makam keluarga dan leluhur. Biasanya tradisi ini dilakukan sehari sebelum Idul Fitri atau setelah shalat Eid.

    Tak jarang pula orang yang membawa bunga-bunga atau kemenyan saat berziarah ke makam di hari Lebaran.

    Baca: ide hampers ramah lingkungan

    Parcel atau hampers lebaran
    Parcel atau hampers juga jadi salah satu tradisi Idul Fitri yang cukup populer di Indonesia. Biasanya orang-orang akan saling mengirimkan parcel atau hampers, baik untuk keluarga, sahabat, atau rekan kerja yang merayakan Idul Fitri.

    Saat ini banyak parcel lebaran cukup variatif dan kreatif sehingga lebih mudah bagi Anda untuk memilih parcel yang cocok.

    THR
    Tradisi lebaran lainnya yang identik di Indonesia yaitu pembagian fitrah atau tunjangan hari raya (THR).

    Biasanya tradisi ini dilakukan oleh anggota keluarga yang telah dewasa dan berpenghasilan, nantinya mereka akan membagikan amplop berisi sejumlah uang kepada saudara yang masih kecil. Tak heran jika THR menjadi tradisi yang ditunggu oleh anak-anak saat Idul Fitri tiba.

    Halal bi halal
    Idul Fitri di Indonesia juga sangat identik dengan silaturahmi dari satu rumah ke rumah lainnya. Biasanya kegiatan silaturahmi atau halal bi halal dilakukan di hari pertama dan kedua Idul Fitri.

    Ini merupakan momen untuk mengunjungi keluarga, sahabat, atau tetangga untuk saling memaafkan dan merayakan hari raya.

    Itulah beberapa tradisi lebaran yang identik dilakukan oleh sebagian besar umat muslim di Indonesia. Ada beberapa di antaranya yang wajib dilakukan, namun ada juga yang bisa disesuaikan dengan kemampuan.