Tag: IKA

  • Memulihkan Luka Merawat Harapan: Cerita Para Pendamping Korban Kekerasan Seksual

    Memulihkan Luka Merawat Harapan: Cerita Para Pendamping Korban Kekerasan Seksual

    7cloud.asia – Menyambut Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2025, Indonesia untuk Kemanusian (IKa) dan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) meluncurkan buku bertajuk Memulihkan Luka, Merawat Harapan.

    Buku ini merupakan kumpulan cerita dari 25 layanan pendamping perempuan korban kekerasan seksual dari berbagai daerah di Indonesia.

    Direktur Eksekutif IKa, Sita Supomo saat membuka acara menyampaikan bahwa 25 Lembaga penulis merupakan lembaga yang mendapatkan penghargaan dari Komnas Perempuan atas dedikasinya mendampingi kasus kekerasan terhadap perempuan, khususnya yang dirujuk oleh Komnas Perempuan.

    IKa dan Komnas Perempuan terus berupaya untuk melanjutkan program Swakelola Tipe 3 untuk korban kekerasan seksualvdi tengah keterbatasan dan kebijakan efisiensi pemerintah.

    Secara bergantian, perwakilan 25 lembaga penulis pengalaman menyampaikan berbagai
    hambatan yang mereka alami dalam mendampingi perempuan korban kekerasan seksual.

    Baca: Dua tahun UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual

    Diantaranya Baihajar Tualeka dari Lappan Maluku menyampaikan perempuan korban
    kekerasan di daerah kepulauan membutuhkan perhatian khusus. Tidak hanya anggaran tapi keterbatan yang ada berpotensi membuat korban tidak melanjutkan laporannya.

    SAFENet juga menyampaikan bahwa kekerasan seksual berbasis siber juga menjadi tantangan. Kesulitan dalam pembuktian dan ancaman terhadap korban membuat penanganan kasus berada dalam situasi sulit.

    Pendamping-pendamping lainnya juga menyampaikan pengalamandan tantangan saat mendampingi perempuan korban kekerasan.

    Sementara, Komisioner Komnas Perempuan Veryanto Sitohang menyampaikan apresiasinya terhadap 25 lembaga layanan yang menuliskan pengalamannya dalam melakukan pendampingan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.

    Pengalaman riil pendamping ini, menurutnya, merupakan suara-suara yang mampu mempengaruhi kebijakan dan program. Walau sedang berada ditengah-tengah keterbatasan sumber daya yang diperburuk dengan kebijakan efisiensi anggaran.

    Baca: Implementasi UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual masih terhambat

    “Kami khawatir penanganan korban akan menghadapi hambatan walau kita sudah memiliki Undang-Undang No.12 tahun 2022 tentang Tindak Pidana kekerasan Seksual,“ ujarnya.

    Dalam kesempatan itu Veryanto mengajak publik untuk memberikan dukungan terhadap Pundi Perempuan, agar terus mampu memberikan dukungan terahap korban melalui lembaga layanan.

    Di akhir sesi Veryanto menyampaikan bahwa dengan adanya Undang-Undang
    Tindak Pidana Kekerasan Seksual bukan berarti penangan kasus kekerasan seksual dan
    pemenuhan hak korban mudah diwujudkan.

    Lembaga layanan, Indonesia untuk Kemanusiaan dan Komnas Perempuan sebaiknya memperkuat sinergi melakukan pemantauan dan koordinasi agar implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual dapat semakin baik.

    Pada momentum Hari Perempuan Internasional tersebut, IKa berharap dapat mengedukasi publik tentang dinamika pendampingan perempuan korban kekerasan, memperluas dan memperkuat relasi antar pihak yang terlibat dan mendorong penggalangan dana publik bagi lembaga layanan melalui Pundi Perempuan.

    Baca: Give Back Sale Pundi Perempuan sebagai upaya menggalang dana

  • 30 Tahun Indonesia untuk Kemanusiaan: Membangun Gerakan Masyarakat Sipil yang Berkeswadayaan

    30 Tahun Indonesia untuk Kemanusiaan: Membangun Gerakan Masyarakat Sipil yang Berkeswadayaan

    7cloud.asia – Bangunan sistem pendanaan dibentuk kira-kira 40 tahun yang lalu, dan menjadi andalan masyarakat sipil layaknya tanah retak yang tak lagi bisa jadi sumber kehidupan yang kokoh, memerdekakan dan berkelanjutan.

    Model pendanaan ini berdiri di atas ekonomi dunia yang penuh kesenjangan dan ketidakadilan sebagai warisan kolonialisme.

    Alhasil, dalam upaya untuk menanggulangi kemiskinan, menumbuhkan keberdayaan, menegakkan hak-hak asasi manusia dan keadilan sosial, mendorong kesetaraan gender, ada dua kelas aktor yang bekerja dalam relasi kuasa yang timpang

    Dua aktor itu adalah mereka yang duduk di kelas donor dengan privilese dananya dan mereka yang bergerak di medan pertarungan dengan akarnya di komunitas.

    Dalam model ini, sebagai pihak yang tidak punya dana sendiri untuk membiayai kerjanya, masyarakat sipil belajar berbicara dengan bahasa para donor, memakai cara-cara kerjanya, dan seringkali juga meniru perilakunya.

    Akses pada donor menjadi ajang kompetisi antar organisasi-organisasi yang bergantung pada dana-dana donor dan menciptakan hirarki diantara kita sendiri.

    Arus dana donor yang mengalir terus dari dekade ke dekade membuat kenyamanan tersendiri, menjadikan uang sebagai ukuran ada atau tidaknya kapasitas lembaga tetapi juga sekaligus membuahkan budaya ketergantungan.

    Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) secara reflektif melihat fenomena ini bersamaan
    dengan 30 tahun kehadirannya sebagai lembaga sumber daya masyarakat sipil (Civil
    Society Resources Organization).

    IKa bekerja menjadi bagian dari ekosistim pendukung bagi gerakan sosial di Indonesia terbangunnya masyarakat yang berdaya dalam memperjuangkan kehidupan yang adil bagi semua sebagai tanggungjawab bersama untuk pemenuhan hak asasi manusia dan kelestarian alam.

    Melalui acara reflektif: “Tumbuh Bersama, Semai Keswadayaan, yang berlangsung di Ke:kini ruang bersama, Jalan Cikini Raya No. 45 Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/10/2025).

    Semangat IKa dari awal adalah menyalakan harapan dari keberanian orang-orang di akar rumput yang saling percaya dan saling menopang. IKa bukan organisasi grant making yang besar tapi memiliki tujuan yang besar.

    Setiap dukungan hibah yang diberikan kepada berbagai LSM di Indonesia sifatnya adalah pemicu, benih yang terus didampingi sehingga kelak dapat mengakses sumberdaya sendiri.

    ”IKa lahir dari semangat solidaritas warga, dari keyakinan bahwa kemanusiaan tidak bisa dijalankan sendirian, tetapi harus dirawat dan ditumbuhkan bersama,” ujar Zumrotin K. Susilo, salah satu dari tiga pendiri IKa.

    Bersama Alm. Wilarsa Budiharga, dan Alm. Fauzi Abdullah, Zumrotin atau yang akrab disapa dengan nama Ibu Zum.

    Lima belas tahun yang lalu, pada tahun 2010, IKa memilih memecahkan diri dari
    model lama yang hidup dari donor andalan, dengan segala konsekuensi yang harus
    ditanggung.

    Dalam perjalanannya, melalui pergaulan dengan gerakan sosial transnasional, IKa mulai terhubung dengan lembaga-lembaga sejenis di mancanegara yang ternyata punya sikap yang serupa. Mereka adalah lembaga-lembaga sumber daya yang juga didirikan oleh aktivis dan dengan semangat aktivisme.

    Terbangunlah sebuah kesadaran kolektif atas dasar kesamaan nasib dalam sistem
    perdonoran yang penuh ketimpangan relasi kuasa ini. Dari sini, lahir gerakan dari
    belahan Selatan Dunia yang diberi nama #ShiftThePower.

    Selama perjalanan selanjutnya, IKa melihat bahwa sistem ekonomi yang selama ini
    mendominasi dengan segala ketimpangan dan ketidakadilannya bisa digantikan dengan sesuatu yang lebih adil dan manusiawi melalui pergerakan dari bawah.

    Pakat Keswadayaan yang sedang digagas IKa adalah solusi yang mengajak untuk jalan
    bersama guna menciptakan bangunan kontrak sosial di kalangan masyarakat sipil
    dengan tujuan menjalin, merawat dan menumbuhkan keswadayaan dari akar sosial,
    budaya, ekonomi, ekologi yang dipunyai.

    Jalan bersama ini berbentuk ruang-ruang kerja kolektif, reflektif dan egaliter yang menempatkan gerakan sosial, dengan segala keanekaragamannya, sebagai ekosistem yang saling menghidupi melalui prasarana berbagi sumber daya.

    Melalui empat Pundi — Pundi Insani, Pundi Perempuan, Pundi Hijau, dan Pundi Budaya — IKa terus berusaha menghimpun dan menyalurkan solidaritas publik untuk mendukung ratusan inisiatif komunitas di berbagai wilayah Indonesia.

    Konsistensi ini merupakan penegasan bahwa IKa memandang kemanusiaan bukan sekadar kerja bantuan, melainkan kerja hubungan — menumbuhkan daya melalui kepercayaan dan kolaborasi antar manusia.

    “Kami percaya, kemanusiaan bertumbuh dari relasi yang saling memperkuat. Dari hubungan tumbuh daya, dan dari daya tumbuh perubahan.” ucap Kamala Candrakirana, Dewan Pembina Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa)

    Tema perayaan 30 tahun, “Tumbuh Bersama, Semai Keswadayaan,” menjadi refleksi dari perjalanan panjang IKa dan mitra-mitranya.

    Tumbuh bersama menegaskan pentingnya relasi dan kolaborasi antar manusia dan komunitas; sementara keswadayaan menandai keyakinan bahwa setiap komunitas memiliki daya untuk mengelola, memulihkan, dan memperjuangkan kehidupannya sendiri.

    Fase perjalanan IKa yang terdiri dari Menyemai, Merekah, dan Mengakar terangkai dalam susunan acara berupa antara lain reflektif bersama Direktur Eksekutif, penghargaan bagi para mitra dan pegiat yang membersamai perjalanan, dan harapan dari generasi muda.

    Pameran 30 Tahun Indonesia untuk Kemanusiaan
    melengkapi rangkaian acara perayaan ini yang akan berlangsung hingga tanggal 31
    Oktober 2025 dan terbuka umum.

    Direktur Eksekutif IKa, Sita Supomo mengatakan, Gerakan kemanusiaan tidak pernah selesai; ia tumbuh bersama manusia yang berani berharap dan berbuat baik, sekecil apa pun.

    ”30 tahun perjalanan bukanlah akhir, melainkan pintu menuju fase baru gerakan kemanusiaan. IKa percaya bahwa di tengah krisis sosial, ekonomi, dan iklim hari ini, solidaritas warga dan keswadayaan komunitas menjadi kunci untuk menumbuhkan masa depan yang lebih adil dan lestari,” tutup Sita Supomo.