Tag: ilo

  • ILO: Perlindungan Pekerja Perlu Ditingkatkan Seiring Meningkatnya Bahaya Kesehatan Terkait Perubahan Iklim

    ILO: Perlindungan Pekerja Perlu Ditingkatkan Seiring Meningkatnya Bahaya Kesehatan Terkait Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) melaporkan, sekitar 2,4 miliar atau 70persen dari 3,4 miliar tenaga kerja di seluruh dunia terpapar panas yang berlebihan akibat perubahan iklim lainnya.

    Para pekerja ini, menurut ILO, juga berisiko terkena bahaya kesehatan akibat perubahan iklim.

    Laporan ILO yang dirilis April lalu memperingatkan keselamatan kerja dan perlindungan kesehatan yang ada, dan kesulitan untuk mengimbangi risikonya.

    Laporan itu menyerukan kepada pemerintah-pemerintah di dunia agar memberlakukan kebijakan untuk melindungi pekerja dari “campuran” bahaya kesehatan yang serius karena perubahan iklim.

    Spesialis Senior ILO tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Manal Azzi mengatakan, pekerja sering dilupakan ketika dunia berbicara tentang perubahan iklim.

    ”Dampak kesehatan yang sangat parah mulai dari kematian hingga jutaan orang sakit karena bahaya yang diperburuk oleh perubahan iklim, di samping jutaan yang juga menderita penyakit kronis,” katanya.

    Laporan ini berfokus pada beberapa bahaya berdasarkan keparahan dan prevalensinya secara global dan lintas daerah.

    Laporan ini mengevaluasi dampak pada pekerja dari bahaya yang dipicu perubahan iklim seperti panas yang berlebihan, radiasi sinar matahari, polusi udara dan peristiwa cuaca ekstrem, termasuk banjir, badai, kekeringan, dan kebakaran hutan.

    Baca: Perubahan iklim memangkas 20persen pendapatan global

     

    “Antara tahun 2000 dan 2020, ada peningkatan 34,7 persen dalam jumlah pekerja yang terpapar panas berlebihan,” kata Azzi.

    ILO mengatakan undang-undang dan peraturan mengenai pekerjaan, keselamatan, dan kesehatan (Occupation, Safety and Health/OSH) harus diperbarui untuk mempertimbangkan meningkatnya bahaya kesehatan yang terkait dengan perubahan iklim.

    Sementara itu, para pejabat ILO mengatakan banyak tindakan yang masuk akal seharusnya bisa dan harus diambil untuk melindungi kesejahteraan dan kehidupan pekerja.

    “Jelas, langkah -langkah kunci dan dasar – ini bukan ilmu rumit untuk tempat kerja dan terutama untuk panas yaitu hidrasi dan terkait suhu, membatasi waktu kerja dan mengambil istirahat yang lama,” kata Azzi.

    “Ada negara -negara yang bersuhu tingkat tinggi yang yang pekerjanya sudah berhenti bekerja antara pukul 10:00 pagi dan 3:00 sore pada hari kerja tertentu.

    ILO, lanjutnya, memiliki langkah-langkah, misalnya, untuk membatasi pestisida dan kita tahu bahwa dampak pestisida terakumulasi ketika disemprotkan pada saat-saat terpanas pada hari itu.

    “Maka mereka membatasi hal ini dengan melakukan penyemprotan ke malam yang dingin atau dini hari,” katanya.

    Baca: Perubahan iklim memicu krisis kemanusiaan di Pakistan dan Afghanistan

     

    Balint Nafradi, pejabat teknis ILO tentang OSH mengatakan data menemukan wilayah-wilayah yang menjadi perhatian terbesar yang menjadi daerah baru di mana panas sebelumnya tidak pernah menjadi masalah besar tetapi kemudian menjadi masalah karena perubahan iklim.

    “Ketika menyangkut panas, yaitu di Eropa utara dan Eropa tengah. Ketika menyangkut gelombang panas, di Amerika Selatan, dan untuk radiasi sinar matahari, itu sebagian besar terjadi di Australia dan Afrika,” katanya.

    Kepala Divisi OSH ILO, Manal Azzi mengatakan, “Pesan utama yang ingin kita sampaikan sekarang adalah bahaya-bahaya ini semuanya saling terkait, jadi kita tidak bisa berurusan dengan salah satu bahaya dan melupakan yang lainnya.

    Dunia, katanya, perlu memiliki alat yang tepat untuk mengkaji dan mengukur apa solusi terbaik untuk tempat yang berbeda.”

    Dia mengamati bahwa perundingan bersama sangat penting dalam memastikan hak -hak pekerja dalam menghadapi, mencegah, dan melindungi mereka dari bahaya-bahaya di tempat kerja di masa lalu.

    “Tapi kita sekarang harus bergerak dan meningkatkannya secara global karena paparan dan skala dampak (bahaya terkait iklim) sepenuhnya baru.

    Sumber: VOA Indonesia

  • ILO: Investasi pada Solusi Berbasis Alam Dapat Ciptakan Puluhan Juta Lapangan Kerja Baru

    ILO: Investasi pada Solusi Berbasis Alam Dapat Ciptakan Puluhan Juta Lapangan Kerja Baru

    7cloud.asia – Organisasi Buruh Internasional atau ILO menyebut, investasi pada solusi berbasis alam (NbS) dapat menciptakan hingga 32 juta lapangan kerja baru pada tahun 2030.

    Masuk dalam solusi berbasis alam, yaitu tindakan untuk melindungi, melestarikan, memulihkan, menggunakan secara berkelanjutan, dan mengelola ekosistem darat, air tawar, pesisir, dan laut yang alami atau termodifikasi.

    Hal ini berdasarkan laporan terbaru ILO, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), dan PBB Program Lingkungan (UNEP) yang diluncurkan pada sesi ke-16 Konferensi Para Pihak (COP16) Konvensi PBB untuk Memerangi Desertifikasi (UNCCD), di Riyadh, Arab Saudi.

    Laporan Pekerjaan yang Layak dalam Solusi Berbasis Alam tahun 2024 menyerukan peningkatan investasi yang lebih tepat sasaran untuk negara-negara dengan potensi penggunaan NbS paling besar.

    Saat ini, lebih dari 60 juta orang bekerja di seluruh dunia dalam kegiatan yang dikategorikan sebagai NbS.

    Melalui investasi yang ditargetkan, lapangan kerja NbS dapat meningkatkan hingga 32 juta lapangan kerja secara global.

    Baca: Indonesia Butuh Pendanaan Iklim yang Tak Membebani Ekonomi

    Peningkatan terbesar akan terjadi di Afrika, Amerika Latin dan negara-negara Arab, dimana jumlah orang yang bekerja di NbS dapat meningkat dari 2,5 juta orang menjadi lebih dari 13 juta pada tahun 2030.

    Jumlah pekerjaan NbS global di wilayah-wilayah ini diperkirakan akan meningkat dari sekitar 5 persen saat ini menjadi lebih dari 40 persen.

    Perkiraan lapangan kerja tersebut masih berfokus pada NbS untuk tantangan lingkungan seperti mitigasi iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati serta degradasi lahan.

    Namun, terdapat potensi yang belum dimanfaatkan untuk infrastruktur yang lebih “hijau-abu-abu” yang mengintegrasikan infrastruktur terbangun dan berbasis alam (NbI).

    Di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah di mana pekerjaan NbS lebih padat karya, terdapat peluang besar untuk menciptakan peluang kerja bagi populasi rentan.

    Dengan triliunan dolar investasi infrastruktur yang direncanakan untuk beberapa dekade mendatang, NbI menawarkan peluang bagus untuk menyalurkan sejumlah besar dana tersebut ke alam.

    Baca: COP 29 Sepakati Pendanaan Iklim Sebesar 300 Miliar Dolar Setahun

    “Ini juga mendorong penciptaan lapangan kerja yang layak dan infrastruktur yang lebih berketahanan iklim”, kata Mirey Atallah, Kepala Cabang Adaptasi Iklim UNEP.

    Laporan tersebut menyoroti bahwa, meskipun manfaat transisi hijau secara keseluruhan positif, kelompok tertentu mungkin menghadapi dampak buruk terhadap pekerjaan dan penghidupan mereka.

    Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap NbS, mobilisasi sumber daya tambahan dan penerapan langkah-langkah transisi yang adil akan sangat penting untuk memastikan dukungan luas terhadap inisiatif-inisiatif ini.

    Direktur Program Aksi Prioritas ILO untuk Transisi yang Adil, Moustapha Kamal Gueye berharap, laporan ini dapat berkontribusi pada dialog global mengenai pentingnya pekerjaan layak dalam melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem kita secara berkelanjutan.

    ”Kami juga berharap panduan ini dapat memberikan panduan bagi pembuat kebijakan dan praktisi dalam memanfaatkan peluang kerja ketika merencanakan dan melaksanakan NbS,” katanya.

  • ILO: Kemajuan Ketersediaan Pekerjaan Layak Alami Stagnasi

    ILO: Kemajuan Ketersediaan Pekerjaan Layak Alami Stagnasi

    7cloud.asia – Tingkat pengangguran global tetap stabil, tetapi kemajuan menuju tersedianya pekerjaan layak telah terhenti. Demikian laporan terbaru Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang dirilis baru-baru ini.

    Dilansir di laman resmi ECOSOC, ILO mengingatkan bahwa kaum muda harus terus berjuang di pasar kerja yang berisiko semakin terpuruk akibat kecerdasan buatan (AI) dan ketidakpastian kebijakan perdagangan.

    Menurut data terbaru yang dikumpulkan untuk laporan Tren Ketenagakerjaan dan Sosial 2026, tingkat pengangguran global diproyeksikan tetap stabil di sekitar 4,9 persen tahun ini.

    Ini artinya, ada sekitar 186 juta pekerja yang menganggur di seluruh dunia.

    Adapun pertumbuhan terbesar lapangan kerja berada di negara-negara miskin. Kondisi ini mencerminkan populasi yang menua di negara-negara kaya, di mana lebih sedikit orang usia kerja yang tersedia untuk memasuki atau tetap bekerja.

    Lapangan kerja diproyeksikan akan tumbuh 0,5 persen di negara-negara berpenghasilan menengah ke atas, sedangkan di negara-negara berpenghasilan rendah lapangan kerja tumbuh 3,1 persen

    Baca: Perjuangan panjang kelas pekerja untuk pekerjaan layak

    Namun, bekerja tidak selalu sama dengan memiliki pekerjaan berkualitas atau upah yang layak. ILO mencatat, hampir 300 juta pekerja hidup dalam kemiskinan ekstrem, dengan penghasilan kurang dari 3 dolar AS atau sekitar Rp50.000 per hari.

    Diperkirakan sekitar 2,1 miliar orang akan bekerja di sektor informal tahun ini, dengan akses terbatas terhadap perlindungan sosial, hak-hak di tempat kerja, dan jaminan pekerjaan.

    Pekerjaan kaum muda berisiko
    Situasi pekerjaan global bagi kaum muda di negara-negara berpenghasilan rendah digambarkan dalam laporan tersebut sebagai “menakutkan”. Dengan lebih dari seperempat (27,9 persen) tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, atau mengikuti pelatihan.

    Kaum muda terdidik di negara-negara berpenghasilan tinggi juga tidak kebal terhadap ketidakpastian ini.

    Studi ILO memperingatkan bahwa AI dan otomatisasi dapat mempersulit mereka untuk mencari pekerjaan dan menyerukan “pemantauan ketat” terhadap teknologi tersebut.

    Laporan ILO juga menyebut kesenjangan gender tetap ada dan hanya sedikit kabar baik bagi mereka yang memperjuangkan kesetaraan perempuan di tempat kerja; data menunjukkan bahwa norma dan stereotip sosial tetap mengakar.

    Baca: Pekerja freelance terjebak antara fleksibilitas dan eksploitasi

    Kemajuan menuju kesetaraan gender di tempat kerja, dan perempuan saat ini sekitar 24 persen lebih kecil kemungkinannya daripada laki-laki untuk berpartisipasi dalam angkatan kerja.

    Respons yang ‘koheren dan terkoordinasi’
    Pada tahun 2025, ekonomi global ditandai oleh gejolak dalam aturan perdagangan internasional dan tarif, yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

    Perdagangan menopang sekitar 465 juta pekerja di seluruh dunia, lebih dari setengahnya berada di Asia dan Pasifik, dan ketidakpastian ini mengurangi upah pekerja, terutama di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Eropa.

    Menanggapi temuan dalam laporan tersebut, Direktur Jenderal ILO Gilbert Houngbo menyerukan tindakan terkoordinasi dan lembaga yang lebih kuat untuk memajukan pekerjaan layak dan keadilan sosial, khususnya di negara-negara miskin yang berisiko tertinggal.

    Houngbo mengajak pemerintah, pengusaha, dan pekerja bertindak bersama untuk memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab dan memperluas peluang kerja berkualitas bagi perempuan dan kaum muda, melalui respons kelembagaan yang koheren dan terkoordinasi.

    ”Tanpa itu semua defisit pekerjaan layak akan terus berlanjut dan kohesi sosial akan terancam,” kata Houngbo.

    Baca: Transisi energi dan upaya mewujudkan pekerjaan layak