7cloud.asia – Lebih dari 3.300 delegasi dari 170 negara dan 440 organisasi bertemu di Konvensi Internasional Plastik ke-5 (Intergovernmental Negotiating Committee/INC 5) di Busan, Korea Selatan, pekan lalu.
Pertemuan Komite Negosiasi Antarpemerintah atau INC 5 yang berlangsung selama sepekan di Busan ini diharapkan lahirkan langkah konkret untuk mengatasi krisis polusi plastik yang makin mengkhawatirkan.
INC 5 ini tadinya juga diharapkan dapat menyepakati instrumen yang mengikat secara hukum untuk mengatasi polusi plastik, termasuk di lingkungan laut global.
Namun, INC 5 yang seharusnya menjadi putaran terakhir dari lima sesi perundingan internasional gagal mewujudkan perjanjian global untuk membatasi polusi plastik global.
Sidang Pleno INC 5 memutuskan untuk menunda perundingan hingga tanggal yang belum ditentukan.
Adanya perbedaan pendapat yang tajam mengenai ruang lingkup dasar perjanjian membuat keputusan tidak dapat diambil.
Baca: INC 5 gagal batasi produksi plastik global
“Jelas ada perbedaan tajam di bidang-bidang penting dan diperlukan lebih banyak waktu untuk mengatasi perbedaan ini,” kata Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen pada Minggu (1/12/2024).
INC 5 sesi 2, ujarnya, akan membahas penyelesaian banyak masalah yang belum terselesaikan yang diuraikan dalam draf teks akhir yang dirilis pada hari Minggu.
Hal ini mencakup pembatasan produksi plastik, pengelolaan produk plastik dan bahan kimia berbahaya, serta pendanaan untuk mendukung implementasi perjanjian tersebut di negara-negara berkembang.
Panama pada hari Kamis (28/11/2024) mengusulkan sebuah rencana yang akan menciptakan jalan bagi target pengurangan produksi plastik global yang tidak ditentukan. Meski mendapat dukungan lebih dari 100 negara, rencana tersebut gagal terwujud.
Negara-negara penghasil minyak besar, khususnya Rusia dan Arab Saudi, dituduh menghalangi upaya mereka untuk membatasi produksi, dan salah satu negosiator Uni Eropa menyalahkan mereka atas kegagalan pertemuan tersebut.
“Jika ini bukan pertemuan terakhir yang direncanakan, ini akan dianggap sebagai sebuah kesuksesan besar,” kata negosiator tersebut, menurut Financial Times.
Baca: KTT Plastik Ottawa gagal hasilkan pengurangan produksi plastik
“Setiap hari penundaan adalah hari yang bertentangan dengan kemanusiaan,” kata Juan Carlos Monterrey Gomez, ketua delegasi Panama, seraya menambahkan bahwa kegagalan untuk menyepakati perjanjian global akan menjadi “pengkhianatan global.”
INC didirikan sebagai tanggapan terhadap resolusi Majelis Lingkungan Hidup PBB pada bulan Maret 2022 yang meminta agar perjanjian plastik global yang mengikat secara hukum diadopsi pada akhir tahun 2024.
Menurut resolusi tersebut, instrumen hukum ini dapat mencakup “pendekatan yang mengikat dan sukarela, berdasarkan pada “Pendekatan komprehensif yang mengatasi seluruh siklus hidup plastik.”
Dunia menghasilkan 400 juta ton sampah plastik setiap tahunnya, 60 persen diantaranya berakhir menjadi pencemar lingkungan alam dan hanya 9 persen yang didaur ulang.
Plastik, yang sebagian besar dihasilkan dari bahan bakar fosil, juga menyumbang 3,4 persen emisi gas rumah kaca global.
