Tag: influenza a

  • Kondisi Udara Memperburuk Penyebaran ISPA yang Disebabkan Influenza A

    Kondisi Udara Memperburuk Penyebaran ISPA yang Disebabkan Influenza A

    7cloud.asia – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Indonesia kian mengkhawatirkan. Hingga awal November 2025, jumlahnya mencapai 12,1 juta kasus.

    Di Indragiri Hulu, Riau, pemerintah setempat bahkan menetapkan ISPA sebagai kejadian luar biasa (KLB) setelah menjangkiti lebih dari 200 warga dan menyebabkan lima anak meninggal dunia.

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi bahwa kasus ISPA di Riau disebabkan oleh infeksi virus Influenza A (H1N1) atau sering disebut sebagai flu babi.

    Ini merupakan jenis Influenza A yang mulanya terjadi pada babi, kemudian menulari manusia, hingga sempat menjadi pandemi pada 2009.

    Peningkatan kasus Influenza A bersifat musiman, terutama pada musim hujan. Penularannya lewat percikan droplet (air liur) di udara dan menimbulkan gejala mirip flu biasa, tetapi lebih parah.

    Misalnya, demam, batuk, sakit tenggorokan, hingga kelelahan yang muncul 1 hingga 4 hari setelah terinfeksi virus.

    Pada sebagian kasus, kondisi pasien dapat memburuk hanya dalam kurun 24–48 jam dan berisiko memicu pneumonia (infeksi paru), hingga sepsis (komplikasi berat akibat respons berlebih tubuh terhadap infeksi).

    Salah satu faktor yang bisa meningkatkan risiko masyarakat terinfeksi Influenza A adalah paparan asap.

    Baca: Kasus ISPA melonjak tajam dalam tiga bulan terakhir

    Asap memperparah penularan virus
    Asap seperti yang berasal dari aktivitas membakar sampah dan kebakaran hutan dapat membawa gas beracun dan kuman.

    Ketika kita menghirup asap terus-menerus, masing-masing unsur tersebut dapat menyebabkan peradangan saluran napas dan melemahkan sistem imun. Akibatnya, kita lebih rentan terhadap infeksi, termasuk Influenza A.

    Kelompok yang paling berisiko terinfeksi adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta pengidap penyakit kronis (seperti asma, jantung, atau diabetes).

    Kesalahpahaman masyarakat tentang influenza sering kali membuat pengidap Influenza A terlambat mencari pertolongan medis.

    Banyak masyarakat menyamakan flu dengan masuk angin atau batuk pilek biasa. Padahal infeksi virus Influenza A memiliki karakteristik yang berbeda.

    Virus influenza dapat menular bahkan sebelum gejala muncul. Alhasil, banyak orang tanpa sadar sudah menyebarkan virus kepada orang lain. Ini membuat penyebaran influenza sangat cepat dan sulit dikendalikan.

    Tingginya kemampuan mutasi virus influenza menyebabkan seseorang dapat terinfeksi virus ini berkali-kali sepanjang hidupnya.

    Kita pun perlu mengenali tanda infeksi Influenza A. Contohnya pada anak, infeksi virus ini menimbulkan napas cepat, tubuh sangat lemas, demam tinggi, serta penurunan nafsu makan dan minum.

    Baca: Polusi udara mengakibatkan 8,1 juta kematian dini pada 2021

    Meskipun sebagian pengidap influenza dapat sembuh sendiri, peningkatan kasus dalam jumlah besar bisa membebani layanan kesehatan, terutama jika terjadi bersamaan dengan kenaikan kasus ISPA lainnya.

    Mengapa daerah lain harus waspada?
    KLB ISPA akibat Influenza A di Riau menjadi peringatan bagi daerah lain. Sebab, penyebaran virus ini bisa dipercepat oleh perubahan cuaca dan mobilitas masyarakat.

    Daerah dengan aktivitas perjalanan tinggi seperti Sumatra Barat, Kepulauan Riau, atau Jambi berisiko mengalami kenaikan kasus serupa.

    Laporan Kemenkes pada 2025 juga menunjukkan adanya kenaikan kasus penyakit mirip influenza di beberapa wilayah Indonesia, terutama di wilayah penularan tertinggi, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah memperingatkan Indonesia agar meningkatkan sistem deteksi dini untuk penyakit pernapasan. Ini karena pola penularan influenza dan Covid-19 kini saling beririsan.

    WHO melaporkan bahwa aktivitas influenza global pada tahun 2025 lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya, sehingga Indonesia berpotensi terdampak gelombang penularan lintas wilayah.

    Peran penting jejaring laboratorium
    Tidak semua fasilitas kesehatan bisa mendeteksi influenza A secara spesifik. Diagnosis penyakit ini membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang lebih canggih dan sangat akurat, seperti alat deteksi virus reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR).

    Kasus di Riau berhasil terdeteksi cepat karena jejaring laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) yang cukup baik di Batam dengan Jakarta.

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor jadi solusi untuk atasi polusi udara 

    Kesiapan laboratorium menentukan kecepatan daerah mengetahui apakah sebuah wabah hanya flu biasa atau Influenza A yang berbahaya. Ketika laboratorium lambat, respons daerah pun terhambat, sehingga penularan bisa semakin meluas.

    Baca juga: Layanan labkesmas kena PNBP: Bisa menghambat penanganan wabah penyakit menular di daerah

    Karena itu, pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat surveilans penyakit, dengan memastikan kesiapan laboratorium regional, memperkuat komunikasi risiko kepada masyarakat, serta menyiapkan layanan kesehatan untuk persiapan lonjakan kasus ISPA.

    Pemerintah daerah juga perlu melakukan pelatihan rutin bagi tenaga kesehatan, serta mengintegrasikan data ISPA di fasilitas kesehatan agar bisa mendeteksi penyakit lebih cepat saat terjadi peningkatan kasus.

    Cara mencegah infeksi Influenza A
    Masyarakat juga tidak boleh lengah. Lakukan langkah sederhana, seperti memakai masker saat sedang sakit, mencuci tangan secara rutin, menghindari tempat ramai ketika flu berat, beristirahat penuh, dan segera periksakan kondisi kesehatan ke dokter bila ada gejala.

    Masyarakat juga bisa melakukan vaksinasi influenza di puskesmas dan rumah sakit yang menyediakan. Vaksin influenza direkomendasikan bagi anak, lansia, dan tenaga kesehatan.

    Vaksin ini tidak membuat kebal seumur hidup, hanya bertahan sekitar 6-12 bulan. Namun setidaknya, vaksin bisa mengurangi risiko sakit berat hingga lebih dari 60% pada kelompok rentan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis:
    Kambang Sariadji (Researcher and Policy Analysis in Public Health Laboratory, Ministry of Health Indonesia, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan)

    Hana Apsari Pawestri (Senior scientist, National Institute of Health Research and Development (NIHRD), Kementerian Kesehatan)

    Subangkit (Peneliti, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan)

  • Kemenkes: Penyebaran Influenza A Masih Terkendali

    Kemenkes: Penyebaran Influenza A Masih Terkendali

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa situasi penyebaran influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali.

    Dalam keterangan tertulisnya, Kemenkes menyebutkan bahwa dari pantauan yang dilakukan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan influenza A dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya.

    Kemenkes menegaskan akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi influenza A ini sesuai dinamika yang ada.

    Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.

    Vaksin tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian akibat influenza A.

    Baca: Kondisi udara memperburuk penyebaran ISPA yang disebabkan Influenza A

    Masyarakat juga diimbau untuk tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, menerapkan etika batuk, serta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila gejala memburuk atau tidak membaik dalam lebih dari tiga hari.

    Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, menjelaskan bahwa secara global peningkatan kasus influenza A (H3N2) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring dengan masuknya musim dingin.

    Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah dilaporkan di lebih dari 80 negara.

    Prima menambahkan, berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan.

    “Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujar Prima.

    Baca: Penyebaran influenza A di Inggris catat angka tertinggi

    Di kawasan Asia, subclade K telah dilaporkan di sejumlah negara, antara lain China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025.

    Meskipun influenza A(H3) menjadi varian dominan, tren kasus influenza di negara-negara tersebut menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

    Di Indonesia, hasil surveilans juga menunjukkan bahwa influenza A (H3N2) merupakan varian dominan. Tren kasus influenza nasional tercatat menurun dalam dua bulan terakhir.

    Berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

    “Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” jelasnya.

    Dari total 843 spesimen positif influenza yang diperiksa, sebanyak 348 sampel menjalani pemeriksaan WGS. Seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan saat ini bersirkulasi secara global dalam sistem surveilans WHO.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

     

  • Pakar UGM Sebut Infuenza A Bisa Berakibat Fatal Bagi Kelompok Rentan

    Pakar UGM Sebut Infuenza A Bisa Berakibat Fatal Bagi Kelompok Rentan

    7cloud.asia – Sebanyak 62 kasus influenza A ”subclade” K atau dikenal sebagai Superflu ditemukan di Indonesia dengan jumlah kasus terbanyak dilaporkan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

    Menurut hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) kasus Influenza A ”subclade” K telah terdeteksi sejak Agustus 2025 dan terus meningkat hingga pada Desember 2025 telah terkumpul sebanyak 62 kasus.

    Meskipun virus Influenza A ”subclade” K tidak menunjukkan peningkatan keparahan, akan tetapi virus ini tetap perlu diwaspadai. Berdasarkan kabar terbaru, 1 orang meninggal dunia di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung usai terjangkit superflu.

    Menanggapi hal tersebut, Dosen Mikrobiologi FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK (K), mengatakan bahwa virus Influenza A ”subclade” K secara genetik memiliki perbedaan dengan virus yang telah menyebar sebelumnya.

    Meski demikian, dapat dipastikan bahwa Influenza A ini tetap memiliki kekerabatan yang dekat dengan virus flu musiman yang kerap dialami oleh banyak orang.

    Baca: Penyebaran influenza A masih terkendali

    Para ahli virus menganggap bahwa saat ini belum ada tanda yang menunjukkan sesuatu yang tidak biasa dalam cara virus ini berevolusi, sebab virus tersebut selalu berubah dalam rangka revolusinya.

    “Sejauh ini, tidak ada bukti dari studi laboratorium maupun studi populasi bahwa varian ini dapat menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk oleh infeksi influenza sebelumnya atau dari vaksin yang telah didapatkan,” jelasnya, sebagaimana dikutip ugm.ac.id, Jumat (9/1/2025).

    Menurut Tri penggunaan nama ‘superflu’ pada varian virus  Influenza A ”subclade” K bukanlah istilah ilmiah.

    Berdasarkan bukti yang ada selama ini, belum ada indikasi bahwa Influenza A ”subclade” K lebih virulen (ganas) dibandingkan virus influenza H3N2 yang telah beredar selama ini. Tetapi, tetap perlu waspada dengan virus ini.

    “Harus tetap waspada, karena virus influenza H3N2 memang dapat berakibat fatal pada orang yang rentan, seperti lansia,” jelasnya.

    Baca: Polusi udara memperburuk efek influenza A

    Lebih lanjut, Tri menjelaskan bahwa varian Influenza A ”subclade” K mengalami perubahan dari waktu ke waktu, berdasarkan dari sifat materi genetik (RNA) yang dibawanya.

    Dari perubahan genetik kecil yang terjadi tersebut, Influenza A dapat menghasilkan virus-virus varian baru yang berkerabat dekat. Menurut Tri dengan perubahan virus yang cepat dan muncul varian baru yang secara signifikan berbeda akan memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia.

    “Ada potensi akan menyebabkan sistem kekebalan manusia menjadi tidak mampu untuk melawan, dan konsekuensi lainnya, seperti penularan yang lebih cepat,” terang Tri.

    Tri menegaskan, pencegahan dari penularan varian virus ini dengan menerapkan protokol gaya hidup bersih

    Seperti batuk yang baik, menggunakan masker bagi untuk orang yang sedang mengalami gejala flu, mencuci tangan secara periodik, beristirahat cukup, serta memastikan ruangan memiliki ventilasi yang cukup. Menurutnya vaksinasi tetap diperlukan untuk kelompok rentan.

    “Vaksinasi tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, orang lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis,” pungkasnya.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

     

  • Pahami Karakter dan Pola Penyebaran Superflu

    Pahami Karakter dan Pola Penyebaran Superflu

    7cloud.asia – Istilah “superflu” belakangan ramai dibicarakan publik. Banyak orang langsung khawatir, seolah-olah ini adalah virus baru yang jauh lebih berbahaya.

    Padahal superflu bukan istilah medis resmi, melainkan julukan yang disematkan media asing untuk menyebut varian Influenza A (H3N2) subclade K atau dikenal sebagai clade 3C.2a1b.2a.2a.3a.1.

    Virus ini sudah menyebar di lebih dari 34 negara, termasuk Indonesia sejak Agustus 2025 lalu. Di Eropa, sekitar musim dingin di akhir tahun lalu, sejumlah ilmuwan bahkan sudah memprediksi virus Influenza A (H3N2) subclade K akan mewabah.

    Influenza A (H3N2) subclade K masih berada dalam kelompok Influenza penyebab flu musiman yang sudah lama kita kenal. Jadi, Superflu bukan virus baru ataupun penyakit misterius.

    Apakah Influenza A (H3N2) berbahaya?
    Virus influenza memang berubah secara alami dari waktu ke waktu. Sejak ditemukan pada 1968, Influenza A (H3N2) sudah bermutasi lusinan kali.

    Akan tetapi, hingga saat ini tidak ada bukti bahwa flu yang disebabkan oleh Influenza A (H3N2) subclade K lebih berbahaya dibanding flu biasa. Gejala utamanya relatif sama, yaitu demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan badan terasa lemas.

    Beberapa pakar menyebut gejala infeksi Influenza A (H3N2) subclade K bisa menimbulkan sakit kepala, nyeri otot, dan demam tinggi 39-41 derajat Celcius. Namun umumnya, flu akibat varian ini bisa disembuhkan.

    Temuan ini masih sejalan dengan penelitian tahun 2018 yang menunjukkan bahwa mutasi virus Influenza A (H3N2) tidak selalu membuat penyakit flu menjadi lebih berat.

    Evolusi virus hanya meningkatkan kemampuan adaptasinya dalam menghindari sistem kekebalan tubuh, sehingga bisa berulang kali menginfeksi kita.

    Baca: Infuenza A bisa berakibat fatal pada kelompok rentan

    Sistem pemantauan dini lebih sigap
    Di Indonesia, varian Influenza A (H3N2) subclade K berhasil terdeteksi dini berkat sistem pemantauan (surveilans) Influenza yang baik.

    Lebih dari satu dekade, Indonesia telah menjalankan sistem pengambilan sampel tenggorokan pasien bergejala flu atau infeksi napas berat secara rutin bernama Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI).

    Sistem pemantauan ILI-SARI melibatkan puskesmas, rumah sakit, dan laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas).

    Spesimen pasien positif Influenza akan dirujuk ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (BBLBK) untuk dipelajari susunan genetiknya, hingga akhirnya diketahui ada 62 sampel yang mengandung Influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia.

    Bersama ratusan laboratorium di seluruh dunia, BBLBK masuk ke dalam jaringan pemantauan influenza global (NICs) milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Jaringan global ini membantu WHO memantau perubahan bentuk virus, kemunculan varian baru, dan pola penyebarannya.

    Informasi tersebut sangat penting untuk menentukan formula vaksin flu yang diperbarui setiap tahun agar tetap efektif dalam menghadapi perkembangan virus.

    Selain itu, jaringan ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini dari WHO untuk memperingatkan negara lain jika terjadi lonjakan kasus flu yang tidak biasa.

    Baca: Kemenkes sebut penyebaran Influenza A masih terkendali

    Flu berbeda dengan Covid-19
    Di sisi lain, diagnosis laboratorium yang cepat dan tepat juga bantu mengetahui apakah pasien mengalami flu atau Covid-19.

    Ini sangat penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, terutama pada kelompok rentan yang berisiko tinggi mengalami gejala serius.

    Flu dan Covid-19 disebabkan oleh virus yang berbeda. Namun, pola penyebaran keduanya sangat mirip, karena sama-sama melalui droplet (air liur) dan udara.

    Aktivitas masyarakat yang kembali normal, mobilitas tinggi, serta interaksi di ruang tertutup membuat keduanya bisa beredar bersamaan.

    Waspada, tapi tidak perlu panik
    Studi di China tahun 2024 menunjukkan bahwa setiap orang umumnya akan terinfeksi Influenza A (H3N2) sekali dalam lima tahun.

    Kendati sebagian besar kasus bisa sembuh sendiri, kelompok rentan dengan kekebalan tubuh lemah (bayi, anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta) tetap harus waspada jika mengalami gejala infeksi.

    Jika mulai merasakan gejala seperti demam dan batuk, segera beristirahat di rumah, jaga jarak dari orang lain, dan lakukan pemeriksaan medis guna memperoleh diagnosis dan pengobatan yang tepat.

    Untuk mencegah penularan virus Influenza, WHO menyarankan kita untuk tetap disiplin dalam menjaga kebersihan diri, seperti rutin mencuci tangan dan menerapkan etika batuk atau bersin yang benar.

    Gunakanlah masker, terutama ketika sakit dan berada di ruang tertutup yang ramai.

    Lakukan pula vaksinasi influenza tahunan yang tetap menjadi perlindungan paling efektif untuk mencegah gejala berat.

    Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UK Health Security Agency) menyebut bahwa vaksin influenza efektif mengurangi sekitar 70-75 persen risiko anak yang terinfeksi dirawat di rumah sakit. Sementara, pada orang dewasa risikonya menurun 30-40 persen.

    Jadi, selalu waspada itu penting, tapi tidak perlu takut berlebihan dalam menghadapi superflu.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Kambang Sariadji (Researcher and Policy Analysis Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan), Hana Apsari Pawestri (Senior scientist, National Institute of Health Research and Development/NIHRD Kemenkes), Subangkit (Peneliti, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan)