Tag: ispa

  • Cucu Ketua DPRD DKI Kena ISPA Gegara Polusi Udara

    Cucu Ketua DPRD DKI Kena ISPA Gegara Polusi Udara

    7cloud.asia – Dampak polusi udara di Jakarta terasa makin nyata. Cucu Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetio Edi Marsudi yang harus dirawat di rumah sakit akibat Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA).

    “Terus terang, saya punya cucu juga kena (ISPA), jam 7 semalam masuk ke RS Bintaro gara-gara persoalan debu ini, polusi udara ini,” kata Prasetio kepada wartawan di Gedung DPRD DKI pada Rabu (16/08/2023).

    Cucunya tersebut mengalami gangguan pernafasan, batuk-batuk dan suaranya menjadi serak akibat terpapar polusi udara di Jakarta.

    Baca: Dampak polusi udara pada anak-anak

    Prasetio mengatakan tingginya polusi udara di Jakarta ia rasakan sendiri saat berangkat dari rumah melewati jalan Budi Kemuliaan.

    Saat perjalanan itu, Prasetio mengaku tidak bisa melihat gedung Balai Kota yang kelihatan cuma BUMN aja yang keliatan. Hal ini karena polusi udara di Jakarta sudah sangat parah.

    “Ini artinya itu asap debunya sudah sangat tinggi,” jelas Prasetio.

    Baca: Sumber utama poluis udara Jakarta adalah batubara

    Menurutnya polusi udara di Jakarta kali ini tidak bisa dianggap enteng. Semakin lama, kondisi polusi udaranya semakin buruk sehingga perlu segera diambil tindakan.

    Ini, ujarnya, sudah menjadi masalah serius karena berdampak pada kesehatan warga Jakarta dan sekitarnya.

    Karena itu, ia mengimbau agar warga dapat mengurangi aktifitas di luar ruangan dan mengenakan masker saat di luar ruangan.

    Baca: Transisi ke kendaraan listrik dinilai tak sentuh masalah polusi udara di Jakarta

    “Saya juga kena loh mas. Mohon maaf teman-teman harus hati-hati, masker harus dipakai kalau keluar. Itu emang sudah parah. Saya juga agak ser-ser, takut juga ini,” ujar politikus PDI Perjuangan ini.

    ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi akibat terpapar polusi udara.

    Selain ISPA, polusi udara juga bisa memicu penyakit jantung, kanker berbagai organ tubuh, gangguan reproduksi dan tekanan darah tinggi atau hipertensi.

    Baca: Jika pembatasan kendaraan berhasil, Jakarta bisa bebas macet dan polusi udara akan berkurang

    Pengamat Kesehatan Lingkungan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Corie Indria Prasasti mengatakan, polusi udara memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan.

    “Terhadap kesehatan manusia, pajanan udara buruk yang mengandung polutan seperti partikel halus (PM 2.5), ozon. NO2, Hidrokarbon, CO2 dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata dan tenggorokan, serta memperburuk alergi pernapasan, asma, dan penyakit jantung,” ujarnya sebagaimana dikutip di laman resmi unair.ac.id.

    Penulis: Nurakhmayani

  • Kasus ISPA Melonjak Tajam pada Maret-Juli 2023, WFH Membantu Kelompok Rentan

    7cloud.asia – Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan mencatat terjadi peningkatan kunjungan terkait infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia pada tahun ini.

    Direktur Utama RSUP Persahabatan, Agus Dwi Susanto, mengatakan lonjakan kasus ISPA mencapai 20% – 30% jika dibandingkan pada Maret – Juli tahun lalu.

    Kendati demikian, dia belum bisa memastikan apakah lonjakan kasus ISPA dan pneumonia tersebut ada kaitannya dengan kualitas udara yang memburuk baru-baru ini.

    “Memang ada lonjakan dengan keluhan asma, perburukan gejala lebih banyak datang ke emergency,” ujar Dirut RSUP Persahabatan, Agus Dwi Susanto dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Rabu (23/8/2023).

    Baca: Jangan anggap remeh polusi udara, ratusan ribu meninggal setiap tahunnya

    Tapi untuk mendapatkan data yang komprehensif, menurut Agus, perlu ada pengolahan data lebih detail

    Sementara itu dokter spesialis paru di RSUP Persahabatan, Dr.dr. Feni Fitriani Taufik memaparkan Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta rata-rata masuk kategori tidak sehat.

    Merujuk pada data tersebut, maka Feni mengatakan, polusi udara di ibu kota bisa disebut “berbahaya untuk semua orang”.

    Alasan ini yang membuat Agus Dwi Susanto menyebut kebijakan kerja dari rumah (work from home) yang saat ini diberlakukan Pemprov DKI Jakarta sebetulnya “sedikit bermanfaat” bagi kelompok rentan.

    Baca: Masker dan makanan sehat guna tangkal dampak polusi udara

    “Terutama yang memiliki penyakit dasar dan risiko tinggi,” ujarnya sebagaimana dikutip BBC Indonesia.

    Meskipun, menurutnya, secara keseluruhan pemberlakuan kerja dari rumah tidak bisa sepenuhnya mengurangi dampak polusi.

    Ia mengacu pada fakta saat Lebaran 2023, di mana banyak warga yang mudik ke kampung halaman, tetapi polutan masih tinggi.

    “Bahwa ketika sebagian warga DKI tidak ada, kadar polutan tinggi. Jadi tidak bisa sepotong-sepotong kebijakannya. Regulasi lain harus disiapkan,” ujarnya.

    Baca: WFH tidak berdampak signifikan untuk turunkan polusi udara

    Kebijakan lain yang dimaksud seperti pembatasan kendaraan bermotor atau memperbanyak penggunaan transportasi publik.

    Sebelumnya Koalisi Ibukota juga mendesak agar pemerintah mengambil langkah progresif dalam memangkas sumber polusi udara di Jakarta, yakni dengan menutup PLTU Batubara.

    Pemerintah juga diminta menindak tegas perusahaan yang dalam proses produksinya menghasilkan emisi yang menjadi sumber polusi udara.

    Disarikan dari BBC News Indonesia

  • Aktivitas Tambang Galian C di Rumpin, Bogor Picu Kasus ISPA dan Masalah Sosial Lainnya

    Aktivitas Tambang Galian C di Rumpin, Bogor Picu Kasus ISPA dan Masalah Sosial Lainnya

    7cloud.asia – Aktivitas pertambangan galian C –tanah dan batuan– di Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tak hanya berdampak pada lingkungan tetapi juga pada kesehatan masyarakat setempat.

    Pertambangan galian C mengakibatkan tingginya kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di wilayah tersebut.

    Aspek keselamatan masyarakat di Rumpin juga teramcam dengan hilir mudiknya armada truk-truk tambang yang melintas di jalan raya Rumpin hingga ke wilayah Parung Panjang

    Belum lama ini telah terjadi peristiwa yang menewaskan 3 orang siswa sekolah yang bertabrakan dengan armada dum truk besar yang melintas membawa tambang galian C, berupa pasir dan batu belah.

     

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Kecamatan Rumpin pernah tercatat sebagai wilayah dengan kasus ISPA terbanyak, yaitu lebih dari 6.000 kasus pada tahun 2016-2017.

    Kondisi ini diperburuk oleh aktivitas pertambangan galian C yang menurunkan kualitas udara dan memicu keluhan masyarakat terkait polusi debu.

    Baca: Belasan orang tewas akibat longsor di lokasi tambang galian C Gunung Kuda Cirebon

    Hingga tahun 2023, Kabupaten Bogor masih mencatat ratusan kasus ISPA setiap tahunnya. Sehingga pencegahan dan edukasi kesehatan sebagai kebutuhan mendesak bagi masyarakat, termasuk di Desa Cipinang.

    Alasan inilah yang mendorong Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (BEM FF UI) menyelenggarakan program pengabdian masyarakat bertajuk Pharmacy Care 2025 di Cipinang.

    Kegiatan bertema “Paru Kita Jaga, Napas Sehat Milik Bersama” berlangsung beberapa waktu lalu, disusun berlandaskan Sustainable Development Goals (SDGs) pada poin ketiga (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta poin keempat (Pendidikan Berkualitas).

    Tim Pharmacy Care 2025 melakukan tiga kali kunjungan lapangan untuk melihat kondisi asli desa sebelum menjalankan program.

    Hasilnya, sebagian besar warga Desa Cipinang belum sepenuhnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah.

    Baca: Bagi-bagi izin tambang ke Ormas merusak tata kelola minerba

    Banyaknya area pertambangan di sepanjang jalan, sehingga banyak truk galian yang berlalu Lalang, menimbulkan debu yang berterbangan menjadi salah satu alasan kami untuk intervensi di desa ini.

    Melalui Pharmacy Care 2025, BEM FKUI melakukan intervensi ISPA di Desa Cipinang. Pharmacy Care 2025 menargetkan siswa-siswi SDN Cipinang 04 melalui edukasi kesehatan yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan.

    Kegiatan ini berfokus pada pemberdayaan para kader kesehatan serta PKK dan mengedukasi siswa-siswi SDN Cipinang 04 dengan media pembelajaran yang menarik.

    “Harapannya, warga dan seluruh elemen Desa Cipinang dapat berkolaborasi untuk saling menjaga kesehatan diri,” kata Ketua Pelaksana Pharmacy Care 2025 Adhika Febryana.

    Selain itu, kader kesehatan dan anggota PKK Desa Cipinang juga mendapat pelatihan promotif dan preventif yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

    Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan meliputi edukasi tentang pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), intervensi komunitas untuk menekan risiko ISPA, serta pemberdayaan kader kesehatan agar dapat berperan sebagai agen perubahan di lingkungannya.

    Baca: Izin tambang untuk perguruan tinggi bisa pengaruhi independensi

    Tim pelaksana Pharmacy Care 2025 juga akan melakukan monitoring dan evaluasi setelah kegiatan berakhir, termasuk kunjungan lanjutan satu bulan pasca-program untuk meninjau hasil intervensi.

    Program ini tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat desa, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa.

    Dengan turun langsung ke lapangan, mahasiswa Farmasi UI dapat memahami kondisi riil masyarakat, melatih keterampilan komunikasi, serta menumbuhkan empati dan rasa tanggung jawab sosial.

    Tim Pharmacy Care 2025 juga berbincang langsung dengan warga, guru, hingga perangkat Desa Cipinang. Dari kesempatan tersebut, para mahasiswa mendengar berbagai pendapat serta harapan warga Desa Cipinang untuk ke depannya.

    Mukhlis, seorang warga Desa Cipinang mengungkapkan harapannya agar kondisi ini bisa berubah menjadi lebih baik, terutama dengan berkurangnya polusi yang selama ini mengganggu aktivitas warga.

    ”Dengan lingkungan yang lebih sehat, saya berharap seluruh masyarakat, khususnya anak-anak, bisa tumbuh dan beraktivitas tanpa terganggu masalah kesehatan,” ujar Mukhlis selaku guru wali kelas 6 SDN Cipinang 04.

    Baca: Aktivitas tambang di pulau kecil tidak diizinkan

     

  • Kasus ISPA Melonjak Tajam dalam Tiga Bulan Terakhir: Peringatan Buruknya Polusi Udara di Jabodetabek

    Kasus ISPA Melonjak Tajam dalam Tiga Bulan Terakhir: Peringatan Buruknya Polusi Udara di Jabodetabek

    7cloud.asia – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di DKI Jakarta dilaporkan mendekati dua juta kasus dalam tiga bulan terakhir atau sejak Juli hingga Oktober 2025.

    Data epidemiologis di DKI Jakarta menunjukkan peningkatan signifikan pada kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak awal tahun 2025.

    Data resmi dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta (Dinkes DKI) mencatat hingga Oktober 2025, total kasus ISPA mencapai 1.966.308. Peningkatan mulai terasa secara nyata sejak bulan Juli 2025.

    Hingga pertengahan tahun ini, sejumlah puskesmas melaporkan pasien dengan keluhan batuk-pilek yang tak kunjung reda, sakit tenggorokan, hingga sesak napas ringan.

    Kepala Dinkes DKI, Ani Ruspitawati, menyebut bahwa ISPA yang mudah menular lewat droplet maupun partikel aerosol kini mendominasi layanan puskesmas.

    Lonjakan kasus ISPA ini perlu menjadi perhatian serius karena tingginya jumlah kasus dan juga kemiripannya dengan gejala Covid-19 yang berpotensi mengganggu produktivitas masyarakat.

    Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini menegaskan, peningkatan kasus ISPA harus dipandang sebagai peringatan dini atas lemahnya sistem pencegahan penyakit menular berbasis komunitas, terutama di wilayah perkotaan dengan kepadatan tinggi dan tingkat polusi udara yang meningkat.

    “Meskipun Kementerian Kesehatan menyebut situasi masih dalam kendali, peningkatan tren sejak pertengahan tahun menunjukkan adanya faktor risiko yang perlu segera diantisipasi,” kata Yahya Zaini dalam keterangan tertulisnya Selasa (21/10/2025).

    Baca: Peringatan Hari Udara Bersih Sedunia

    Selain di DKI Jakarta, lonjakan kasus ISPA juga terjadi di sejumlah daerah. Di antaranya di Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Tabanan, Bali.

    Adapun beberapa faktor utama yang diidentifikasi sebagai penyebab lonjakan ini antara lain karena kualitas udara yang memburuk, di mana polusi dan partikel-halus di udara turut memperparah kondisi saluran pernapasan.

    Lonjakan ISPA juga disebut terjadi lantaran pola cuaca ekstrem dan musim peralihan, serta penularan massal yang mudah. Karena sifat ISPA yang menular melalui udara dan kontak dekat, kecepatan penularan menjadi tantangan.

    Hal ini lantaran ISPA merupakan penyakit yang sangat mudah menular melalui udara, droplet, dan aerosol. Oleh karenanya, Yahya mendorong langkah-langkah pencegahan untuk mengantisipasi kasus ISPA semakin melonjak.

    “Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, kualitas udara yang menurun, serta imunitas masyarakat yang cenderung melemah akibat kelelahan dan stres, potensi penyebarannya bisa meningkat secara eksponensial. Karena itu, pendekatan pencegahan harus diperkuat, bukan hanya pengobatan,” imbuh Yahya.

    Pimpinan Komisi Kesehatan DPR ini pun mendesak Pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, untuk memperkuat sistem kewaspadaan dini (SKDR) hingga ke tingkat puskesmas dan fasilitas kesehatan primer.

    Menurut Yahya, hal ini diperlukan agar deteksi dini dan pelaporan kasus ISPA dapat lebih cepat dan akurat.

    Yahya juga mendorong pemerintah untuk melakukan edukasi publik secara masif mengenai langkah pencegahan ISPA secara sederhana.

    Baca: Polusi udara mengakibatkan 8,1 juta kematian dini pada 2021

    Mulai dari penggunaan masker, menjaga kebersihan tangan, ventilasi ruangan yang baik, hingga segera memeriksakan diri jika mengalami gejala berat.

    “Dan memastikan ketersediaan obat dan fasilitas layanan kesehatan primer, terutama di wilayah padat penduduk yang paling rentan terhadap penularan penyakit saluran pernapasan,” ungkap Yahya.

    Yahya menekankan bahwa peningkatan kasus ISPA tidak boleh dianggap sebagai siklus musiman semata.

    Ia menyebut pengalaman pandemi Covid-19 harus menjadi pelajaran penting bahwa penyakit dengan gejala mirip flu bisa berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang lebih besar.

    Selain itu, Yahya juga mendesak adanya sinergi lintas sektor. Faktor lingkungan, kepadatan hunian, polusi kendaraan, serta perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan juga berkontribusi besar terhadap penyebaran ISPA.

    Yahya menambahkan, Komisi IX DPR akan terus menjalankan fungsi pengawasan terhadap kebijakan kesehatan nasional dan memastikan pemerintah responsif terhadap setiap potensi wabah yang muncul.

    “Perlindungan kesehatan masyarakat adalah bagian dari tanggung jawab konstitusional negara, dan peningkatan kasus ISPA kali ini harus menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan sistem kesehatan nasional dari hulu hingga hilir,” pungkasnya.

  • Langkah Sederhana untuk Mencegah Terpapar ISPA

    Langkah Sederhana untuk Mencegah Terpapar ISPA

    7cloud.asia – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sering terjadi pada masa pergantian musim seperti saat ini.

    Data resmi dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta (Dinkes DKI) mencatat, hingga Oktober 2025, total kasus ISPA mencapai 1.966.308. Peningkatan mulai terasa secara nyata sejak bulan Juli 2025.

    ISPA adalah infeksi yang menyerang sistem pernapasan bagian atas dan bawah, seperti hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

    Penyakit ISPA umum terjadi, disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur, dan dapat menimbulkan gejala seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan demam.

    Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Tjandra Yoga Aditama menyampaikan langkah-langkah yang dapat dijalankan untuk mencegah terjangkitnya ISPA.

    Baca: Kasus ISPA melonjak tajam dalam tiga bulan terakhir

    Dilansir Antaranews.com, pada Selasa (21/10/2025) Tjandra menekankan pentingnya penerapan pola hidup sehat untuk mencegah gangguan kesehatan dan serangan penyakit.

    Selanjutnya Tjandra menyarankan penerapan CERDIK untuk menghindari terpapar ISPA.

    Langkah ini yang meliputi Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok dan hindari polusi udara, Rutin beraktivitas fisik, Diet bergizi seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres dengan baik.

    Lebih lanjut, Tjandra mengingatkan pentingnya membiasakan diri mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, antara lain sebelum dan sesudah makan serta setelah tangan bersentuhan dengan permukaan yang mungkin mengandung kuman.

    “Selanjutnya, bila ada yang sedang sakit ISPA atau flu, maka jangan menulari orang lain, antara lain dengan menggunakan masker dan beristirahat cukup,” katanya.

    Baca: Dampak polusi udara di Jakarta bagi pekerja

    Dia juga menyarankan vaksinasi, terutama bagi orang dalam kelompok rentan seperti orang lanjut usia, individu dengan daya tahan tubuh lemah, serta individu dengan komorbiditas.

    Vaksinasi influenza, Respiratory Syncytial Virus (RSV), dan pneumonia bisa membantu melindungi tubuh dari infeksi saluran pernafasan.

    Ketika ditanya mengenai kebutuhan suplemen vitamin untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap serangan flu, Prof. Tjandra mengatakan bahwa tidak ada suplemen vitamin khusus untuk keperluan itu.

    “Secara umum, kalau makanan cukup bergizi maka sudah baik. Kalau mau makan vitamin, makan multivitamin, baik-baik saja,” kata Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu.

  • Kondisi Udara Memperburuk Penyebaran ISPA yang Disebabkan Influenza A

    Kondisi Udara Memperburuk Penyebaran ISPA yang Disebabkan Influenza A

    7cloud.asia – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Indonesia kian mengkhawatirkan. Hingga awal November 2025, jumlahnya mencapai 12,1 juta kasus.

    Di Indragiri Hulu, Riau, pemerintah setempat bahkan menetapkan ISPA sebagai kejadian luar biasa (KLB) setelah menjangkiti lebih dari 200 warga dan menyebabkan lima anak meninggal dunia.

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi bahwa kasus ISPA di Riau disebabkan oleh infeksi virus Influenza A (H1N1) atau sering disebut sebagai flu babi.

    Ini merupakan jenis Influenza A yang mulanya terjadi pada babi, kemudian menulari manusia, hingga sempat menjadi pandemi pada 2009.

    Peningkatan kasus Influenza A bersifat musiman, terutama pada musim hujan. Penularannya lewat percikan droplet (air liur) di udara dan menimbulkan gejala mirip flu biasa, tetapi lebih parah.

    Misalnya, demam, batuk, sakit tenggorokan, hingga kelelahan yang muncul 1 hingga 4 hari setelah terinfeksi virus.

    Pada sebagian kasus, kondisi pasien dapat memburuk hanya dalam kurun 24–48 jam dan berisiko memicu pneumonia (infeksi paru), hingga sepsis (komplikasi berat akibat respons berlebih tubuh terhadap infeksi).

    Salah satu faktor yang bisa meningkatkan risiko masyarakat terinfeksi Influenza A adalah paparan asap.

    Baca: Kasus ISPA melonjak tajam dalam tiga bulan terakhir

    Asap memperparah penularan virus
    Asap seperti yang berasal dari aktivitas membakar sampah dan kebakaran hutan dapat membawa gas beracun dan kuman.

    Ketika kita menghirup asap terus-menerus, masing-masing unsur tersebut dapat menyebabkan peradangan saluran napas dan melemahkan sistem imun. Akibatnya, kita lebih rentan terhadap infeksi, termasuk Influenza A.

    Kelompok yang paling berisiko terinfeksi adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta pengidap penyakit kronis (seperti asma, jantung, atau diabetes).

    Kesalahpahaman masyarakat tentang influenza sering kali membuat pengidap Influenza A terlambat mencari pertolongan medis.

    Banyak masyarakat menyamakan flu dengan masuk angin atau batuk pilek biasa. Padahal infeksi virus Influenza A memiliki karakteristik yang berbeda.

    Virus influenza dapat menular bahkan sebelum gejala muncul. Alhasil, banyak orang tanpa sadar sudah menyebarkan virus kepada orang lain. Ini membuat penyebaran influenza sangat cepat dan sulit dikendalikan.

    Tingginya kemampuan mutasi virus influenza menyebabkan seseorang dapat terinfeksi virus ini berkali-kali sepanjang hidupnya.

    Kita pun perlu mengenali tanda infeksi Influenza A. Contohnya pada anak, infeksi virus ini menimbulkan napas cepat, tubuh sangat lemas, demam tinggi, serta penurunan nafsu makan dan minum.

    Baca: Polusi udara mengakibatkan 8,1 juta kematian dini pada 2021

    Meskipun sebagian pengidap influenza dapat sembuh sendiri, peningkatan kasus dalam jumlah besar bisa membebani layanan kesehatan, terutama jika terjadi bersamaan dengan kenaikan kasus ISPA lainnya.

    Mengapa daerah lain harus waspada?
    KLB ISPA akibat Influenza A di Riau menjadi peringatan bagi daerah lain. Sebab, penyebaran virus ini bisa dipercepat oleh perubahan cuaca dan mobilitas masyarakat.

    Daerah dengan aktivitas perjalanan tinggi seperti Sumatra Barat, Kepulauan Riau, atau Jambi berisiko mengalami kenaikan kasus serupa.

    Laporan Kemenkes pada 2025 juga menunjukkan adanya kenaikan kasus penyakit mirip influenza di beberapa wilayah Indonesia, terutama di wilayah penularan tertinggi, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah memperingatkan Indonesia agar meningkatkan sistem deteksi dini untuk penyakit pernapasan. Ini karena pola penularan influenza dan Covid-19 kini saling beririsan.

    WHO melaporkan bahwa aktivitas influenza global pada tahun 2025 lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya, sehingga Indonesia berpotensi terdampak gelombang penularan lintas wilayah.

    Peran penting jejaring laboratorium
    Tidak semua fasilitas kesehatan bisa mendeteksi influenza A secara spesifik. Diagnosis penyakit ini membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang lebih canggih dan sangat akurat, seperti alat deteksi virus reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR).

    Kasus di Riau berhasil terdeteksi cepat karena jejaring laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) yang cukup baik di Batam dengan Jakarta.

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor jadi solusi untuk atasi polusi udara 

    Kesiapan laboratorium menentukan kecepatan daerah mengetahui apakah sebuah wabah hanya flu biasa atau Influenza A yang berbahaya. Ketika laboratorium lambat, respons daerah pun terhambat, sehingga penularan bisa semakin meluas.

    Baca juga: Layanan labkesmas kena PNBP: Bisa menghambat penanganan wabah penyakit menular di daerah

    Karena itu, pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat surveilans penyakit, dengan memastikan kesiapan laboratorium regional, memperkuat komunikasi risiko kepada masyarakat, serta menyiapkan layanan kesehatan untuk persiapan lonjakan kasus ISPA.

    Pemerintah daerah juga perlu melakukan pelatihan rutin bagi tenaga kesehatan, serta mengintegrasikan data ISPA di fasilitas kesehatan agar bisa mendeteksi penyakit lebih cepat saat terjadi peningkatan kasus.

    Cara mencegah infeksi Influenza A
    Masyarakat juga tidak boleh lengah. Lakukan langkah sederhana, seperti memakai masker saat sedang sakit, mencuci tangan secara rutin, menghindari tempat ramai ketika flu berat, beristirahat penuh, dan segera periksakan kondisi kesehatan ke dokter bila ada gejala.

    Masyarakat juga bisa melakukan vaksinasi influenza di puskesmas dan rumah sakit yang menyediakan. Vaksin influenza direkomendasikan bagi anak, lansia, dan tenaga kesehatan.

    Vaksin ini tidak membuat kebal seumur hidup, hanya bertahan sekitar 6-12 bulan. Namun setidaknya, vaksin bisa mengurangi risiko sakit berat hingga lebih dari 60% pada kelompok rentan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis:
    Kambang Sariadji (Researcher and Policy Analysis in Public Health Laboratory, Ministry of Health Indonesia, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan)

    Hana Apsari Pawestri (Senior scientist, National Institute of Health Research and Development (NIHRD), Kementerian Kesehatan)

    Subangkit (Peneliti, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan)

  • Kondisi Korban Bencana di Sumatera Kian Memprihatinkan, Anggota DPR Desak Status Bencana Nasional

    Kondisi Korban Bencana di Sumatera Kian Memprihatinkan, Anggota DPR Desak Status Bencana Nasional

    7cloud.asia – Kondisi korban yang terdampak banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat hingga kini masih memprihatinkan. Pemerintah harus segera menetapkan status bencana nasional.

    Anggota DPR RI Komisi lll, Nasir Djamil kepada wartawan di Menteng Jakarta Pusat pada Selasa (09/12/2025) mengatakan penetapan status tersebut perlu dilakukan demi menyelamatkan manusia dan proses rehabilitasi di wilayah yang terkena bencana dapat lebih cepat dilakukan.

    “Pemerintah tidak ragu untuk menetapkan status bencana nasional dengan segala resiko yang diambil oleh negara. Jadi upaya menyelamatkan manusia di daerah bencana itu menjadi sangat prioritas,” jelas Nasir.

    Baca: Tanpa Bantuan Asing Pemulihan Akibat Bencana di Sumatera Butuh Puluhan Tahun

    Selanjutnya, anggota DPR yang berasal dari Aceh ini menjelaskan dirinya baru melakukan kunjungan ke Aceh. Menurutnya hingga kini masih banyak daerah yang belum tersentuh bantuan. Karena infrasturktur yang rusak.

    “Jadi memang kondisi kesehatan, terutama ibu hamil yang di lokasi pengungsian, masih banyak warga yang belum mendapatkan kebutuhan sehari-hari seperti sembako, kesehatannya terancam ISPA, penyakit kulit, dan lainnya,” katanya.

    Kondisi terparah, lanjut Nasir, di wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, sebagian di Aceh Utara dan Aceh Timur.

    “Jadi memang situasi di dalam itu belum terjangkau sama sekali. Apalagi jalur darat itu kalau dari Bener Meriah ke Aceh Tengah itu bener-bener nggak bisa dilalui kecuali dengan transportasi udara,” ungkapnya.

    Baca: Banjir Sumatera, Kekerasan Tersembunyi yang Mematikan

    Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) ini menjelaskan pemerintah pusat harus berorientasi bahwa pemerintah pusat itu pusatnya daerah, daerah itu adalah daerahnya pusat.

    “Jadi kalau semangat ini diserap oleh negara, maka negara itu tidak perlu berpikir lama untuk menetapkan status bencana tersebut. Karena pusat merasa bahwa, daerah itu adalah daerahnya pusat,” katanya.

    Lebih lanjut Nasir menjelaskan agar pemerintah pusat terbuka dengan bantuan luar negeri. Hal ini menurutnya sangat dibutuhkan agar warga yang terkena bencana dapat segera memperoleh bantuan.

    “Bukan berarti pemerintah itu tidak mampu ya, dalam arti keterbatasan logistik, keterbatasan personil dan keterbatasan untuk melakukan rehabilitasi,” ujarnya.

    Baca: Anjing Pelacak Ini Gugur Dalam Pencarian Korban di Sumatera dan Dikubur Secara Kedinasan

    Presiden Prabowo Subianto hingga hari ini menolak tawaran tersebut, dan percaya bahwa pemerintahannya sanggup menangani bencana banjir Sumatera tanpa bantuan pihak luar.

    “Bencana ini sekali lagi, musibah. Tapi di sisi lain menguji kita. Alhamdulillah kita kuat, kita mengatasi masalah dengan [kekuatan] kita sendiri,” ucap Prabowo di Hari Ulang Tahun ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025).

    Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan, pemerintah Indonesia hingga saat ini belum membuka bantuan internasional untuk bencana di tiga provinsi tersebut.

    Menurutnya pemerintah baru akan meminta bantuan kepada negara asing jika pemerintah “merasa” perlu.

    Baca: BNPB Perkirakan Dana yang Dibutuhkan untuk Pemulihan Banjir Sumatera Rp 51,82 Trilyun

    Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut pemerintah memiliki Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanggulangan bencana di Sumatera. Besaran anggarannya dalam APBN sekitar Rp500 miliar yang diperuntukkan untuk kesiapsiagaan bencana.

    Sementara di lapangan, korban sudah sangat membutuhkan bantuan. Sejumlah kepala daerah menyatakan tidak sanggup menangani dampak bencana banjir bandang ini.

    Setidaknya tujuh bupati di Aceh telah menyatakan ketidaksanggupan dalam penanganan tanggap darurat banjir dan longsor yang menimpa wilayah itu pada pekan lalu.

     

  • Tangani Masyarakat Terdampak Banjir dan Longsor di Aceh, PMI Kerahkan Tim Mobile Clinic

    Tangani Masyarakat Terdampak Banjir dan Longsor di Aceh, PMI Kerahkan Tim Mobile Clinic

    7cloud.asia – Palang Merah Indonesia (PMI) mengirimkan Tim Mobile Clinic untuk menangani masalah kesehatan yang dialami masyarakat terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh.

    Tim ini terdiri dari tenaga medis dan non-medis, termasuk dokter, perawat, bidan, koordinator lapangan, serta personel dukungan psikososial

    Total personel yang dikerahkan yaitu 25 orang, terdiri dari 5 dokter, 10 perawat, 4 bidan, 4 koordinator, dan 2 personel dukungan psikososial (PSP).

    Pengiriman pertama dilakukan oleh RS PMI Bogor, yang berangkat pada Jumat dini hari (12/12/2025) melalui jalur udara.

    Baca: PMI Distribusikan 250 Liter Air untuk Korban Bencana di Padang

    Selanjutnya, tim dari PMI Solo, PMI Provinsi DIY, PMI Kabupaten Bantul, dan PMI Provinsi Banten diberangkatkan pada Sabtu (13/12/2025).

    Tim mobile clinic membawa sejumlah peralatan medis serta obat-obatan untuk menangani kasus-kasus yang saat ini paling banyak terjadi, seperti ISPA, diare, penyakit kulit, gatal-gatal, demam, dan flu.

    Berdasarkan data Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes per 10 Desember, jumlah kasus kesehatan di Aceh meliputi ISPA 4.727 kasus, penyakit kulit 4.199 kasus, diare 761 kasus, flu 694 kasus, dan demam 188 kasus.

    Sekretaris Jenderal PMI, A.M. Fachir, menjelaskan penguatan tenaga kesehatan dari luar Sumatera perlu dilakukan pada fase ini.

    Baca: Banjir Sumatera adalah Dampak Resentralisasi Kekuasaan

    “Pada awal respon, kami memaksimalkan tenaga kesehatan lokal di Pulau Sumatera. Namun kini sudah memasuki minggu ketiga setelah bencana, dan banyak tenaga lokal mulai kelelahan. Karena itu, saatnya kami mengerahkan tenaga kesehatan dari luar Sumatera, terutama dari lokasi-lokasi terdekat,” jelas Fachir.

    Tim Mobile Clinic PMI, kata Fachir, akan bertugas selama 14 hingga 21 hari di tiga wilayah terdampak, yaitu Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Aceh Utara.

    Hingga Jumat (12/12/2025), PMI telah memberikan layanan kesehatan dan dukungan psikososial di sejumlah wilayah di tiga provinsi terdampak.

    Sebanyak 2.701 jiwa menerima layanan kesehatan, 2.318 jiwa menerima dukungan psikososial, dan 1.225 jiwa menerima layanan promosi kesehatan.