Tag: itb

  • Kisruh Sirekap: Rektorat ITB Mengelak Alumni ITB Bergerak

    Kisruh Sirekap: Rektorat ITB Mengelak Alumni ITB Bergerak

    7cloud.asia – Dua kelompok Alumni mempertanyakan keterlibatan ITB dalam Sistem Informasi Rekapitulasi  atau Sirekap KPU yang ternyata menimbulkan masalah.

    Sirekap Pemilu merupakan platform digital yang digunakan untuk merekam dan melaporkan hasil pemungutan suara tahun 2024.

    Adapun, kerjasama ITB dan KPU yang baru terkuak setelah kekacauan Sirekap menjadi sorotan publik.

    Rizal Fadillah dalam tulisannya yang dimuat di teropongsenayan.com menyebut, dua kelompok itu adalah Keluarga Alumni Penegak Pancasila Anti Komunis (KAPPAK) ITB dan Ikatan Alumni ITB (IA-ITB).

    Keduanya menemui Rektorat dan menilai bahwa kerjasama ITB dengan KPU terkait Sirekap telah menyeret ITB ke dalam perbincangan publik.

    Baca: Akhirnya KPU akui ada kerjasama dengan Alibaba terkait Sirekap 

    Mereka mempertanyakan, sejauh mana ITB turut bertanggung jawab atas kekisruhan di Sirekap yang lantas berbuntut tuduhan kecurangan kepada KPU?

    KAPPAK ITB yang lebih dahulu berinteraksi mendapat jawaban dari Rektorat secara tertulis dengan isi meminta agar pihak KAPPAK ITB menanyakan hal Sirekap tersebut langsung kepada pihak KPU.

    Jawaban ini dinilai sebagai upaya rektorat ITB untuk mengelak dan melempar tanggung jawab dari kisruh Sirekap.

    “Jawaban ini tentu dinilai tidak memuaskan. Ada hak publik untuk mendapat informasi telah dilanggar. Apalagi hal itu dilakukan kepada alumni ITB sendiri,” tulis Rizal.

    Pada tanggal 13 Maret 2024 Presidium KAPPAK ITB mengajukan laporan pengaduan kepada Komisi Informasi Propinsi Jawa Barat yang intinya menilai bahwa Pimpinan ITB telah melanggar asas keterbukaan informasi publik.

    Baca: KPU sempat membantah server Sirekap ada di luar negeri

    Hal ini diatur dalam UU No 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Komisi Informasi berjanji akan memproses lebih lanjut laporan pengaduan tersebut.

    Presidium KAPPAK ITB maupun Pengurus Pusat IA ITB menyatakan bahwa Rektorat harus melakukan klarifikasi atas “Kasus Sirekap” yang awalnya diproduk oleh ITB dan berlanjut dengan kontrak KPU hingga tahun 2026.

    Rakyat mempertanyakan peran ITB dalam dugaan kecurangan Pilpres 2024 yang dikaitkan dengan otak-atik data dan suara pada Sirekap KPU tersebut.

    Rakyat dan juga beberapa pakar IT merasakan kejanggalan pada kerja Sirekap KPU. Temuan lapangan memperkuat dugan terjadinya kecurangan terstruktur, sistematis dan masif.

    “Ada disain yang sengaja dilakukan KPU menjadikan Sirekap sebagai “sistem informasi yang merusak”,”imbuh Rizal.

    Baca: Server data Sirekap ada di luar negeri, bagaimana keamanan datanya? 

    Kejanggalan itu dirasakan sejak munculnya data 54 juta DPT misterius, 49,6 juta selisih Pileg dan Pilpres, Sirekap tanpa validasi, penggelembungan suara paslon 02, koreksi yang tidak bisa dilakukan PPK.

    Juga tidak adanya proses Sirekap, penghentian tiba-tiba diagram Sirekap oleh KPU, angka konstan tampilan prosentase perolehan Paslon, hingga permainan Alibaba cloud China.

    Seluruhnya menjadi bagian kecil dari banyak hal yang perlu dilakukan audit forensik. Indikasi korupsi juga patut diselidiki pula.

    Rizal mengusulkan agar audit ini dapat dimulai dari ITB lalu KPU dan seterusnya, sehingga dugaan kuat terjadinya mega skandal pada Pemilu 2024 ini dapat terbongkar.

    Pemenang haram harus dibatalkan. Jika dipaksakan, maka mesti digulingkan. Sirekap adalah mesin oligarki berkualifikasi haram. 

    Baca: Muncul desakan agar dilakukan audit forensik terhadap Sirekap

  • Penahanan SSS Ditangguhkan, ITB Berterimakasih pada Pihak yang Membantu

    Penahanan SSS Ditangguhkan, ITB Berterimakasih pada Pihak yang Membantu

    7cloud.asia – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menangguhkan penahanan mahasiswa ITB berinisial SSS yang semula diduga telah melanggar Pasal 45 ayat (1) jo Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

    SSS ditahan Jumat (9/5/2025) terkait unggahan meme Presiden Prabowo Subianto dan mantan presiden Joko Widodo tengah berciuman.

    ITB mengucapkan terima kasih atas kerja sama berbagai pihak seperti Ketua Komisi III DPR, Ikatan Orang Tua Mahasiswa (IOM), tim pengacara, Keluarga Mahasiswa ITB, wartawan, dan masyarakat yang telah ikut mengawal proses ini, serta Kementerian Pendidikan Tinggi dan Saintek yang memberikan pendampingan.

    “Mahasiswi SSS telah mendapatkan penangguhan penahanan oleh kepolisian, ITB akan melanjutkan proses pembinaan akademik dan karakter terhadap yang bersangkutan,” kata kata Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB Neneng Nurlaela Arif, dikutip Tempo.co

    Menurutnya ITB berkomitmen untuk mendidik, mendampingi dan membina mahasiswi tersebut untuk dapat menjadi pribadi dewasa yang bertanggung jawab, menjunjung tinggi adab dan etika dalam menyampaikan pendapat dan berekspresi dengan dilandasi nilai-nilai kebangsaan.

    Sebagai bagian dari upaya edukatif, ITB akan memperkuat literasi digital, literasi hukum dan etika berkomunikasi di berbagai media, termasuk dengan penyelenggaraan diskusi terbuka, kuliah umum, dan program pembinaan yang melibatkan teman sebaya, pakar dan dosen.

    Baca: Amnesty Internasional Indonesia kecam penahanan SSS

    “Hal ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa tentang kebebasan yang konstruktif dalam era digital,” katanya.

    ITB mendorong seluruh civitas akademika untuk menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi bersama, bahwa kebebasan berekspresi adalah hak setiap warga negara, namun harus dijalankan dengan tanggung jawab, pemahaman hukum, serta penghormatan terhadap hak dan martabat orang lain.

    Menurut Nurlaela, ITB terus melakukan segala upaya untuk terciptanya atmosfer akademik yang sehat dan berkualitas, tetap memberi ruang bagi kebebasan berkumpul, berpendapat dan berekspresi, melakukan kajian kritis, namun tetap sopan, beretika dan bertanggung jawab.

    Sebelumnya, Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB) mengecam penahanan SSS dan mendesak polisi segera membebaskannya dari tahanan.

    Ketua Kabinet KM ITB Farell Faiz Firmansyah mengatakan pihaknya prihatin dan menolak tindakan penahanan yang dilakukan polisi terhadap rekannya.

    “Seni adalah kebebasan berekspresi kaum terpelajar yang seharusnya justru dilindungi oleh hukum, bukan justru dikriminalisasi,” katanya saat menyampaikan pernyataan sikap di depan kampus ITB, Sabtu sore 10 Mei 2025.

    Baca: Pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi makin terasa

    KM ITB mengajak seluruh elemen akademisi dan masyarakat sipil untuk bersatu dalam semangat membawa negara ini menjadi tempat yang lebih baik, penegakan hukum secara tepat dan berkeadilan, menjaga solidaritas, dan bersama-sama mengawal proses ini untuk pembebasan mahasiswi ITB.

    “Penahanan saudara kami ini bisa dilihat sebagai bentuk penyempitan ruang berpendapat bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Faiz.

    Menurutnya apa yang dilakukan SSS harus dilihat sebagai upaya kritis untuk mengedukasi bahaya penyalahgunaan artificial intelligence yang berdampak negatif.

    “KM ITB telah melakukan pendampingan terhadap mahasiswa yang menyuarakan pendapatnya itu semenjak bulan Maret 2025,” kata Faiz.

    Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memastikan keselamatan SSS. KM ITB terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memberikan pendampingan yang strategis. Pendampingan dilakukan dengan keluarga korban dan tim kuasa hukum.

    “Kami meyakini bahwa keselamatan dan kebebasan dari hak-hak bersuara dan berekspresi bagi seluruh rakyat dan anggota KM ITB perlu untuk dijaga dan dilindungi,” ujarnya.

    Baca: Penegakan HAM di Indonesia memburuk di bawah Jokowi

  • Partisi G Algae Inovasi Tim Dosen ITB Ini Mampu Menyerap CO2

    Partisi G Algae Inovasi Tim Dosen ITB Ini Mampu Menyerap CO2

    7cloud.asia – G Algae, demikian merek yang disematkan pada phototank mikroalga 4-in-1 hasil inovasi Tim dosen ITB dari Kelompok Keilmuan (KK) Biokimia dan Rekayasa Biomolekul, Fakultas MIPA ITB.

    Pengembangan phototank mikroalga ini merupakan hasil kolaborasi tim ITB bersama mitra industri PT Inovasi Hijau Indonesia (Greenlabs).

    Sejak akhir 2024 lalu, produk G Algae telah diinstalasi di lobi dan Ruang Pameran DPITM di Gedung CRiMSE (ex-PAU) ITB.

    Produk ini dirancang dengan empat fungsi, yaitu untuk membantu mengurangi emisi karbon dioksida (CO2), menghasilkan oksigen (O2) dan biomassa melalui proses fotosintesis, memonitor kualitas udara, sekaligus menjadi elemen estetika interior.

    Adapun tim dosen yang mengembangkan G Algae terdiri atas Rindia Maharani Putri, Ph.D., Prof. Dr. Zeily Nurachman, Alfredo Kono, Ph.D., Yanti Rachmayanti, Ph.D., dan Dr.Eng. Sari Dewi Kurniasih Indrawan (alm.).

    Proyek ini juga merupakan bagian dari Program Dana Padanan (PDP) atau Matching Fund Kedaireka tahun 2024 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) Republik Indonesia, yang mendukung inovasi berbasis industri dan komersialisasi.

    Baca: Peneliti ITB kembangkan mikroalga untuk penangkapan karbon

    Dukungan datang dari berbagai entitas di ITB, seperti Program Studi Kimia ITB, FMIPA ITB, Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) ITB melalui pengelolaan Program Dana Padanan 2024, Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITB melalui Program Riset ITB 2024, serta Direktorat Penerapan Ilmu dan Teknologi Multidisiplin (DPITM) ITB.

    Proyek ini bertujuan menciptakan alternatif penyerapan karbon dioksida (CO2) melalui mikroalga yang dikenal sebagai organisme fotosintetik yang mampu menyerap karbon dioksida dengan efisiensi yang cukup tinggi.

    Mikroalga sendiri telah dikenal memiliki mekanisme bernama carbon concentrating mechanism (CCM) yang lebih efisien dalam mengonsentrasikan karbon dioksida dibandingkan tanaman darat.

    “Satu unit fototank mikroalga berkapasitas 200 liter diperkirakan mampu menyerap karbon setara dengan enam pohon tingkat tinggi,” ujar Rindia seperti dilansir itb.ac.id

    Pengembangan G-Algae berawal dari penelitian mikroalga yang telah berlangsung hampir dua dekade di ITB, dipelopori oleh Prof. Zeily Nurachman, pakar biokimia mikroalga ITB.

    Tim kemudian mengarahkan penelitian ke arah aplikasi produk komersial, dengan fokus utama pada penyerapan karbon di lahan terbatas, seperti kawasan industri, sekaligus menghasilkan oksigen dan memonitor kualitas udara.

    Baca: Penyerapan karbon dengan mikroalga lebih murah dan lebih aman

    G Algae digunakan sebagai solusi untuk menyerap emisi karbon di tengah keterbatasan ruang untuk penanaman pohon. Saat ini, unit G-Algae berbentuk reaktor tubular telah diinstalasi di kawasan industri PT Zeus Kimiatama Indonesia (Zekindo) di Cikarang.

    Keunikan G-Algae tidak hanya terletak pada fungsinya sebagai penyerap karbon dioksida dan produsen oksigen, tetapi juga pada desainnya.

    Tim Dosen Biokimia dan Rekayasa Biomolekul ini berkolaborasi dengan dosen dari KK Manusia dan Ruang Interior FSRD ITB, Mutiara Ayu Larasati, M.Ds., yang berhasil menciptakan phototank yang tidak hanya fungsional dalam konteks pengendalian kualitas udara dalam ruangan, tetapi juga memiliki nilai estetika bagi ruang.

    Produk ini didesain untuk dapat digunakan sebagai elemen interior, seperti partisi ruangan, lemari, atau rak dengan tambahan fitur-fitur modern seperti layar informasi kualitas udara di ruangan dan kaca transparan.

    G-Algae juga dilengkapi sensor untuk memantau kualitas udara. Sensor ini dapat membaca kadar CO2 yang diserap dan O2 yang dihasilkan mikroalga.

    Meskipun teknologi ini masih dalam tahap pengembangan, tim dosen berharap dapat terus mengoptimalkan sensor tersebut di masa depan, dengan melibatkan kolaborasi dari disiplin ilmu dari program studi lain di ITB.

    Baca: Ada ribuan spesies mikroalga tetapi pemanfaatan masih minim

    Selain itu, biomassa yang dihasilkan dari mikroalga ini juga memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk turunan, seperti biofuel, pigmen klorofil, dan biomaterial, yang mendukung konsep ekonomi sirkular.

    Tantangan utama dalam pengembangan G-Algae adalah optimasi pertumbuhan mikroalga di lingkungan buatan. Mikroalga memerlukan media khusus, pencahayaan yang memadai, serta aerasi untuk menjaga sirkulasi udara.

    Tim berhasil menciptakan sistem yang memungkinkan mikroalga tumbuh selama dua bulan lebih tanpa degradasi signifikan dalam pertumbuhan sel dan penyerapan karbon dioksida.

    Setelahnya, media dapat diperbarui dengan biaya yang relatif rendah, sekaligus memanfaatkan biomassa untuk produk komersial.

    G-Algae menunjukkan bahwa inovasi berbasis riset dapat memberikan solusi konkret untuk masalah global, seperti perubahan iklim, sekaligus mendukung penciptaan produk yang memiliki nilai komersial.

    Tim peneliti berencana memperluas kolaborasi, memperkuat teknologi sensor, serta mengembangkan aplikasi baru untuk mikroalga, sehingga G-Algae dapat menjadi solusi yang lebih luas dan efektif dalam upaya pengurangan emisi karbon.

  • 4 Bidang Ilmu ITB Tembus 150 Besar Dunia Versi QS World University Rankings by Subject 2026

    4 Bidang Ilmu ITB Tembus 150 Besar Dunia Versi QS World University Rankings by Subject 2026

    7cloud.asia – Pada pemeringkatan tahun ini, empat bidang ilmu Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil masuk 150 besar dunia dalam QS World University Rankings by Subject 2026.

    Empat bidang tersebut adalah Mineral & Mining Engineering dan Petroleum Engineering (klaster peringkat 51–100 dunia), serta Architecture & Built Environment dan Art & Design (klaster 101–150 dunia).

    Secara keseluruhan, ITB menempatkan 16 bidang ilmu dalam pemeringkatan dunia dari 35 bidang yang dianalisis, dengan dua bidang masuk Top 100 dunia.

    Dilansir di laman resmi ITB, capaian ini mencerminkan kiprah ITB yang tetap terjaga, khususnya pada rumpun rekayasa, arsitektur, dan desain.

    Kehadiran Mineral & Mining Engineering dan Petroleum Engineering di kelompok 100 besar dunia menunjukkan konsistensi ITB pada bidang-bidang yang selama ini menjadi kekuatan utamanya.

    Sementara itu, masuknya Architecture & Built Environment dan Art & Design ke kelompok 101–150 dunia turut menunjukkan perkembangan yang baik pada bidang kreatif dan perancangan.

    Selain empat bidang tersebut, ITB juga mencatat hasil yang baik pada Chemical Engineering yang berada di peringkat 201–250 dunia serta Civil Engineering di peringkat 201–275 dunia.

    Masuknya Civil Engineering ke dalam daftar bidang yang diperingkatkan turut menambah representasi keilmuan ITB pada pemeringkatan tahun ini.

    Sebelumnya, dalam pidatonya dalam Dies Natalis Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara menegaskan arah strategis ITB menuju target peringkat 150 World University 2030.

    Ia menyampaikan bahwa capaian tersebut bertumpu pada kualitas insan akademik serta penguatan substansi tridarma yang sejalan dengan visi “ITB Berdampak”.

    “Melalui kolaborasi lintas disiplin, penguatan tata kelola, dan perluasan jejaring internasional, ITB diarahkan untuk terus menghadirkan solusi atas tantangan nasional di bidang industri, energi, dan kesehatan,” ujarnya.

    Jumlah Bidang yang Diperingkatkan Meningkat
    Pada Narrow Subject Rankings 2026, jumlah bidang ilmu ITB yang masuk pemeringkatan dunia meningkat menjadi 16 bidang, dari 15 bidang pada tahun sebelumnya.

    Hal ini menunjukkan bahwa cakupan keilmuan ITB yang tampil dalam pemeringkatan global semakin luas, tidak hanya pada bidang-bidang unggulan tertentu, tetapi juga pada beragam disiplin lainnya.

    Selain itu, sejumlah bidang ilmu dari ITB menempati peringkat pertama di Indonesia, antara lain:
    1. Architecture & Built Environment: 101–150 global, peringkat 1 di Indonesia

    2. Art & Design: 101–150 global, peringkat 1 di Indonesia

    3. Engineering – Chemical: 201–250 global, peringkat 1 di Indonesia

    4. Engineering – Civil & Structural: 201–275 global, peringkat 1 di Indonesia

    5. Engineering – Electrical & Electronic: 251–300 global, peringkat 1 di Indonesia

    6. Engineering – Mechanical, Aeronautical & Manufacturing: 251–300 global, peringkat 1 di Indonesia

    7. Engineering – Mineral & Mining: 51–100 global, peringkat 1 di Indonesia

    8. Petroleum Engineering: 51–100 global, peringkat 1 di Indonesia

    9. Chemistry: 351–400, peringkat 1 di Indonesia

    10. Environmental Sciences: 451–500, peringkat 1 di Indonesia

    11. Materials Science: 351–400 global, peringkat 1 di Indonesia

    12. Mathematics: 351–400 global, peringkat 1 di Indonesia

    13. Physics & Astronomy: 401–450 global, peringkat 1 di Indonesia

    Selain itu, bidang ilmu Computer Science & Information Systems meningkat dari klaster 551-600 ke 451-500, Business & Management Studies meningkat dari klaster 451-500 ke 401-450, dan Agriculture & Forestry pada klaster 351-400.

    Kenaikan Peringkat pada Broad Subject
    Perkembangan positif ITB juga terlihat pada kategori Broad Subject Areas. Tahun ini, Engineering & Technology menempati peringkat 216 dunia (naik dari 282), menjadi broad subject dengan posisi tertinggi bagi ITB.

    Sementara itu, Arts & Humanities mengalami pada peringkat 345 dunia (meningkat dari klaster 451–500), serta Natural Sciences peringkat 374 (meningkat dari 401–450), dan Social Sciences & Management di peringkat 374 dunia (meningkat dari klaster 451–500).

    Hasil ini menunjukkan perkembangan yang positif, baik pada bidang-bidang unggulan maupun pada kelompok keilmuan yang lebih luas.

    Rektor ITB mengatakan, hasil ini menunjukkan konsistensi ITB untuk terus menjadi perguruan tinggi Indonesia yang hadir dalam persaingan akademik tingkat dunia.

    Berbagai capaian tersebut menjadi gambaran positif atas kualitas pendidikan, riset, dan kontribusi akademik ITB di tingkat internasional. Hal ini pun meneguhkan target ITB menjadi perguruan tinggi peringkat 150 dunia pada 2030.

  • Mahasiswa ITB Berkomitmen Kurangi Jejak Karbon: Mulai Penggunaan Transportasi Publik hingga Energi Rumah Tangga

    Mahasiswa ITB Berkomitmen Kurangi Jejak Karbon: Mulai Penggunaan Transportasi Publik hingga Energi Rumah Tangga

    7cloud.asia – Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan kesadaran yang baik terhadap dampak aktivitas sehari-harinya terhadap lingkungan.

    Hal tersebut tergambar dari survei mengenai jejak karbon dengan responden mahasiswa peserta Mata Kuliah Perubahan Iklim Tahun Akademik 2025/2026.

    Survei tersebut dilakukan untuk mengetahui perspektif mahasiswa mengenai perubahan iklim, besaran jejak karbon pribadi, serta komitmen mereka dalam mengurangi emisi karbon.

    Dilansir itb.ac,id, mahasiswa diminta mengidentifikasi emisi dan teknologi pengurangan karbon pada berbagai industri yang berkaitan dengan bidang studinya.

    Survei tersebut diikuti oleh 59 mahasiswa dari berbagai fakultas dan sekolah di ITB. Peserta terbanyak berasal dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), yakni 18 mahasiswa, disusul Fakultas Teknologi Industri (FTI) sebanyak 15 mahasiswa.

    Hasil survei menunjukkan bahwa jejak karbon individu mahasiswa memiliki rentang yang cukup luas, yakni kurang dari 1 ton hingga lebih dari 17 ton setara karbon dioksida atau CO₂-eq per tahun.

    Target pengurangan emisi yang ditetapkan masing-masing peserta juga beragam, mulai dari belum menetapkan pengurangan hingga lebih dari 4 ton CO₂-eq per tahun.

    Mayoritas mahasiswa berupaya mengurangi emisi melalui perubahan pada sejumlah aktivitas sehari-hari.

    Baca: Kesadaran Gen Z terhadap Isu Lingkungan Terus Meningkat

    Upaya tersebut antara lain dilakukan dalam pemilihan moda transportasi, penggunaan energi rumah tangga, konsumsi makanan, pemakaian peralatan rumah tangga, serta pengelolaan sampah.

    Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, Joko Wiratmo, menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun nalar publik yang sehat, kritis, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

    Di tengah derasnya arus informasi dan semakin kompleksnya persoalan sosial, kampus perlu menyediakan ruang diskusi yang ilmiah, terbuka, dan berintegritas.

    Melalui pendidikan dan penelitian, perguruan tinggi diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu berpikir rasional serta menghargai perbedaan.

    Perguruan tinggi juga perlu menjadi laboratorium solusi bagi berbagai persoalan bangsa, termasuk ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan.

    Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, pemerintah, industri, dan masyarakat diperlukan untuk menghasilkan penelitian aplikatif yang memberikan dampak langsung.

    Mengenali Jejak Karbon Industri
    Selain menghitung jejak karbon pribadi, mahasiswa diminta mengidentifikasi industri besar yang berhubungan dengan program studi masing-masing.

    Industri yang paling banyak disebut meliputi teknologi informasi, energi, minyak dan gas, petrokimia, panas bumi, pertambangan, dirgantara, dan manufaktur.

    Sejumlah perusahaan global dan nasional juga menjadi objek pengamatan mahasiswa, antara lain Google, Microsoft, Boeing, Pertamina, PT Freeport Indonesia, dan ArcelorMittal.

    Berdasarkan hasil penelusuran mahasiswa, emisi karbon perusahaan-perusahaan tersebut sangat beragam, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan bahkan ratusan juta ton CO₂-eq per tahun.

    Baca: Gen Z dan Baby Boomers Sama-sama Terdampak Perubahan Iklim

    Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh skala usaha, bidang industri, proses produksi, serta sumber energi yang digunakan.

    Mahasiswa juga mengidentifikasi berbagai teknologi dan pendekatan yang telah diterapkan industri untuk menekan emisi karbon.

    Upaya tersebut meliputi penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, seperti biofuel dan sustainable aviation fuel (SAF), serta penerapan carbon capture, utilization, and storage (CCUS).

    Langkah lainnya mencakup peningkatan efisiensi energi pada pusat data, proses produksi, dan kegiatan operasional; penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi; optimalisasi proses produksi dengan kecerdasan buatan; serta pengurangan penggunaan bahan bakar fosil dan elektrifikasi peralatan.

    Mendorong Kolaborasi Teknologi Rendah Karbon
    Hasil survei menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai jejak karbon pribadi serta mampu menetapkan target pengurangan emisi yang realistis.

    Transportasi dan penggunaan energi rumah tangga menjadi dua aspek utama yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikurangi.

    Pemahaman terhadap praktik pengurangan emisi di sektor industri juga dapat menjadi referensi bagi mahasiswa, institusi, dan organisasi dalam merancang langkah mitigasi perubahan iklim yang lebih efektif.

    Berdasarkan hasil tersebut, edukasi dan kampanye mengenai pengurangan jejak karbon di kalangan mahasiswa perlu terus diperkuat. Adopsi teknologi hijau juga perlu didorong, baik pada tingkat individu maupun institusi.

    Selain itu, kolaborasi antara fakultas, sekolah, dan perusahaan dapat dikembangkan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi rendah karbon.

    Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi konkret terhadap perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.