Tag: jepang

  • Jumlah Penduduk Jepang Terus Turun dan Makin Tua, Peran Tenaga Kerja Asing Kian Penting

    Jumlah Penduduk Jepang Terus Turun dan Makin Tua, Peran Tenaga Kerja Asing Kian Penting

    7cloud.asia – Jumlah penduduk asli Jepang menurun drastis, sedangkan jumlah penduduk atau tenaga kerja asing yang tinggal di negara tersebut justru mencapai rekor tertinggi di angka hampir 3 juta.

    Data yang dirilis pemerintah Jepang pada Rabu (26/7/2023) menunjukkan, penduduk Jepang juga semakin tua.

    Data itu menyebut, jumlah penduduk Jepang turun sebesar 800.000 orang selama 14 tahun berturut-turut, menjadi 122,42 juta.

    Baca: WEF sebut puluhan juta lapangan kerja bakal hilang akibat digitalisasi

    Angka itu berdasarkan data pendaftaran penduduk per 1 Januari 2023, yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang.

    Data tersebut juga menunjukkan untuk pertama kalinya, jumlah penduduk Jepang turun di 47 prefektur.

    Data juga mengungkap bahwa warga negara dan tenaga kerja asing memainkan peran yang semakin besar dalam menutupi penurunan jumlah penduduk di Jepang. 

    Baca: Tiga jenis pekerjaan yang belum akan tergeser oleh AI

    Jumlah warga negara asing yang tinggal di Jepang mencapai rekor tertinggi yakni 2,99 juta orang. Angka ini meningkat 10,7 persen dari tahun sebelumnya, peningkatan secara tahunan terbesar sejak kementerian mulai melacak data satu dekade lalu.

    Per 1 Januari 2020, tepat sebelum pandemi COVID-19 menyebar ke seluruh dunia, terdapat 2,87 juta orang atau tenaga kerja asing yang tinggal di Jepang.

    Total jumlah penduduk Jepang turun menjadi 125,42 juta, turun sekitar 511.000, data baru menunjukkan.

    Baca: Generasi alfa yang akan menentukan wajah dunia kerja di masa yang akan datang

    Dilansir VOA Indonesia, jumlah penduduk Jepang turun setiap tahun sejak mencapai puncak pada 2008 karena tingkat kelahiran yang rendah, mencapai rekor terendah tahun lalu.

    Pemerintah ingin mengatasi masalah ini dengan berbagai cara, termasuk mempekerjakan lebih banyak perempuan, kata juru bicara pemerintah Jepang

    “Untuk mengamankan tenaga kerja yang stabil, pemerintah akan mendorong reformasi pasar tenaga kerja untuk memaksimalkan lapangan kerja perempuan, orang tua dan lainnya,” kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Hirokazu Matsuno.

    Baca: Perjuangan panjang kelas pekerja di dunia

    Perdana Menteri Jepang,  Fumio Kishida menjadikan penurunan tingkat kelahiran sebagai prioritas utama dan pemerintahnya.

    Meskipun memiliki tingkat utang yang tinggi, pemerintah Jepang berencana mengalokasikan 3,5 triliun yen  atau sekitar 25 miliar dolar AS per tahun untuk perawatan anak dan langkah-langkah lain untuk mendukung orang tua.

    Tahun lalu, sejumlah kajian publik yang berbasis di Tokyo mengatakan  bahwa Jepang membutuhkan sekitar empat kali lebih banyak pekerja asing pada 2040 untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah.

    Baca: TikTok sebut tak akan buka Project S di Indonesia

    Prefektur Tokyo memiliki penduduk asing terbanyak dengan 581.112 orang, atau 4,2 persen dari total jumlah penduduk ibu kota Jepang itu.

  • Imbas Pembuangan Limbah Nuklir: Penjualan Hasil Laut di Korea Selatan dan Jepang Anjlok

    Imbas Pembuangan Limbah Nuklir: Penjualan Hasil Laut di Korea Selatan dan Jepang Anjlok

    7cloud.asia – Nelayan Korea Selatan (Korsel) mengaku penjualan produk akuatik (hasil laut) menurun tajam setelah Jepang membuang air limbah yang terkontaminasi nuklir ke laut.

    Seperti diketahui, Jepang saat ini menerapkan kebijakan pembuangan limbah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ke laut yang sudah mulai dilakukan sejak 24 Agustus 2023 lalu.

    Lebih dari satu juta metrik ton air radioaktif yang telah diolah dari PLTN dialirkan ke laut Pasifik. Pembuangan air limbah terkontaminasi nuklir ini disebut akan memakan waktu puluhan tahun untuk diselesaikan.

    Baca: Polusi udara terpusat di enam negara termasuk Indonesia

    Air tersebut disuling setelah terkontaminasi akibat kontak dengan batang bahan bakar di reaktor pembangkit nuklir, yang hancur akibat gempa bumi dan tsunami tahun 2011.

    Gempa mengakibatkan inti pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima meleleh dan menghasilkan air limbah yang tercemar zat radioaktif dalam jumlah besar dari pendinginan bahan bakar nuklir.

    “Nelayan saat ini benar-benar berada di ambang kematian. Mereka berada di ambang kebangkrutan. Ada banyak nelayan yang berada dalam situasi seperti ini,” kata nelayan sekaligus direktur eksekutif Federasi Nelayan Nasional Kim Young-chul di Korea Selatan, kepada Xinhua pada Selasa (5/9/2023) seperti dilansir Antaranews.com

    Baca: Ilmuwan AS gunakan tanaman dan jamur untuk bersihkan polusi tanah

    Kim mengatakan konsumsi produk perikanan turun tajam sebelum dan setelah Jepang membuang air limbah radioaktif dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang lumpuh ke Samudera Pasifik sejak 24 Agustus.

    “Nelayan sangat menderita bahkan sebelum pembuangan limbah radioaktif. Konsumsi (produk akuatik) menyusut tajam karena masyarakat mengatakan mereka tidak akan mengonsumsi (produk akuatik) sebanyak yang mereka bisa setelah pembuangan air limbah radioaktif,” kata Kim.

    Menurut survei Gallup Korea terhadap 1.602 orang dewasa selama dua hari hingga 10 Juli, 82,4 persen responden mengatakan konsumsi produk perikanan akan berkurang pascapembuangan air limbah nuklir tersebut.

    Baca: Bakteri pemakan metana membantu menahan laju pemanasan global

    Pembelian panik (panic buying) terhadap ikan kering muncul di pasar konsumsi karena dapat disimpan selama bertahun-tahun, sementara harga ikan mentah turun setengahnya karena melemahnya permintaan, jelas Kim.

    “Pedagang grosir (produk akuatik) mengatakan kepada (nelayan) untuk berhenti menangkap ikan karena mereka tidak bisa menjualnya, dan kalaupun (nelayan) pergi melaut, mereka harus mengurangi hasil tangkapannya,” imbuhnya.

    Selain Korea, Jepang juga melaporkan sejumlah negara seperti China, Hongkong dan Makau juga menhentikan permintaan impor hasil laut dari Jepang menyusul pembuangan air limbah nuklir ini.

    Baca: Emisi gas ruang kaca mencapai rekor tertinggi

     

  • Teknik Daisugi, Produksi Kayu Berkelanjutan Ala Jepang Tanpa Menebang Pohon

    Teknik Daisugi, Produksi Kayu Berkelanjutan Ala Jepang Tanpa Menebang Pohon

    7cloud.asia – Jepang punya cara yang unik untuk menghasilkan kayu tanpa menebang pohon, namanya teknik daisugi.

    Dengan teknik daisugi ini, selama hampir 700 tahun, Jepang menghasilkan kayu nyaris tanpa menebang pohon. 

    “Orang Jepang telah memproduksi kayu selama 700 tahun, tanpa menebang pohon’,” tulis akun X (dulu Twitter), @archeohistoris, Senin (18/9/2023) saat menuliskan teknik daisugi ini.

    Teknik daisugi adalah teknik untuk menumbuhkan pohon-pohon bonsai raksasa yang dapat dipangkas, sehingga tak perlu ditebang. Bisa dikatakan daisugi ala Jepang ini adalah bonsai dalam skala besar.

    “Pemangkasan sebagai aturan seni yang memungkinkan pohon tumbuh dan berkecambah sambil menggunakan kayunya, tanpa harus menebangnya,” kata pengunggah.

    Baca: Pemkot Jakarta Timur siapkan 8,5 hektare lahan untuk hutan kota

    Dilansir dari Kompas.com yang mengutip majalah Floornature, dengan teknik daisugi, lusinan bahkan ratusan batang kayu bisa diperoleh dari satu pohon.

    Teknik daisugi ini menghasilkan kayu lurus sempurna berkualitas tinggi yang 140 persen lebih fleksibel dan dua kali lebih padat daripada pohon lain.

    Hasil panen kayu pun lebih sering dari teknik kehutanan lain, yakni setiap dua puluh tahun sekali.

    Dicap sebagai metode kehutanan yang efektif dan berkelanjutan, daisugi membantu melestarikan paru-paru dunia, tetapi tetap bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan kayu.

    Kendati demikian, metode tradisional ini hanya diterapkan untuk pohon cedar Cryptomeria japonica alias kitayama yang banyak tumbuh di Jepang.

    Baca: KLHK temukan spesies baru di hutan Indonesia

    Teknik  daisugi lahir pada abad ke-14 hingga 15, saat masyarakat Jepang mulai menggemari konstruksi kayu untuk bangunan termasuk rumah.

    Dilansir wanaswara, daisugi lahir di Kiyatama Kyoto pada abad ke-15. Saat itu, Jepang sudah menghadapi kekurangan bibit serta lahan untuk menanam pohon.

    Permintaan kayu jenis cedar pun juga sangat tinggi pada abad itu untuk pembangunan rumah para samurai.

    Masalah ini membuat cendekiawan Jepang memutar otak yang menmukan cara yang cerdik untuk menanam lebih banyak kayu dengan menggunakan lebih sedikit lahan tanpa harus menebang banyak pohon.

     “Teknik ini menghasilkan pohon yang menyerupai telapak tangan terbuka dengan banyak pohon tumbuh jika vertikal sempurna,” tulis Spoon dan Johnny Waldman dari Tamago.

    Baca: KLHK akui 15 hutan adat di Gunung Mas

    Di daerah Kitayama, Kyoto, Jepang, terdapat hutan penuh dengan pohon cedar yang ditanam sepanjang perbukitan.

    Pohon cedar jenis Kitayama yang biasa dikenal masyarakat Jepang dengan nama Kitayama Maruta ini dikenal tumbuh lurus tanpa simpul dan sudah diminati masyarakat.

    Teknik daisugi memungkinkan rimbawan memanen kayu dengan lebih cepat dan mendapatkan lebih banyak kayu.

    Tunas dapat ditanam untuk membantu mengisi hutan dengan cepat sehingga banyak cabang pohon yang dapat dipanen.

    Teknik serupa juga telah ditemukan sejak abad Romawi kuno yang disebut pollarding, dan di seluruh Eropa khususnya di Inggris disebut coppicing.

    Baca: Manfaat hutan mangrove untuk lingkungan

    Dari penanaman dengan teknik ini menghasilkan kayu cedar ramping yang fleksibel dan padat, menjadikannya pilihan yang tepat untuk atap dan balok kayu tradisional.

    Pohon cedar daisugi bisa dipanen setiap 20 tahun. Terdapat banyak kayu yang bisa dipanen hanya dari satu pohon.

    Dengan kayu yang lebih kuat dan lebih padat, namun lebih fleksibel untuk dibentuk, kayu daisugi benar-benar pilihan yang sempurna untuk membangun rumah para samurai bangsawan.

    Ini menghasilkan estetika sekaligus menahan angin topan pada saat itu untuk menunjukkan kemuliaan dan kekuatan samurai.

    Meskipun 20 tahun mungkin tampak memakan waktu yang lama, penggunaan teknik ini lebih cepat dibandingkan dengan penanaman pohon cedar Kitayama dengan cara tradisional.

    Baca: Mengenal konsep biolifik menghadirkan alam ke dalam lingkungan binaan

    Untuk menjaga agar pohon tidak berbentuk simpul, pekerja memanjat batang panjang setiap tiga hingga empat tahun dan dengan hati-hati memangkas setiap cabang yang sedang berkembang.

    Biasanya penggunaan kayu cedar yang halus dan indah secara estetika digunakan sebagai pilar utama di ruangan yang disebut tokonoma, sebuah ruangan yang menjadi pusat di dalam ruangan tradisional jepang yang bernama washitsu.

    Tokonoma juga muncul pada abad ke-15 selama periode Muromachi. Ruangan tokonoma ini digunakan untuk memajang barang-barang artistik seperti ikebana atau gulungan kaligrafo.

    Kayu cedar juga digunakan di rumah teh Kyoto dan dikatakan ahli teh terkemuka Kyoto, Sen-no-rikyu, yang menuntut kesempurnaan bentuk cedar Kitayama selama abad ke-16.

    Baca: Meski sama-sama berkelanjutan desain biofilik berbeda dengan desain ramah lingkungan

    Seiring berjalannya waktu, penggunaan ruangan tokonoma menurun dengan berkembangnya arsitektur Jepang, penggunaan cedar Kitayama masih digunakan untuk segala hal mulai dari sumpit, furnitur, dan taman-taman tradisional Jepang.

    Pohon cedar kitayama dapat digunakan dan bertahan hingga 200-300 tahun, sebelum menjadi lapuk dan usang.

    Diameter batang pohon induk sebagai tumpuan pohon cedar di atasnya memiliki batang dengan diameter mencapai 15 meter, dan beberapa pohon induk ini masih ditemukan di daerah tertentu di jepang.

    Seringkali tanaman dengan teknik daisugi merupakan tanaman multi-generasi yang dipanen oleh rimbawan, dilanjutkan generasi berikutnya yang kemudian ditanam untuk cucu mereka.

    Praktik kehutanan di Kitayama, Jepang ini unik berkelanjutan, karena pohon cedar perlu dipanen dengan mempersiapkan pengganti pohon yang ditebang jauh sebelum mereka memanen pohon yang sudah tua. 

    Esti Utami, dari berbagai sumber.

  • Gempa 7,4 M Guncang Jepang, WNI Mengungsi ke Masjid

    Gempa 7,4 M Guncang Jepang, WNI Mengungsi ke Masjid

    7cloud.asia – Seorang WNI di Jepang, Dian Novitasari, melalui pesan singkat kepada Antara di Tokyo pada Senin mengatakan bahwa dia dan keluarganya memutuskan untuk mengungsi karena alarm peringatan terus menyala.

    “(Peralatan) dapur tumpah semua, kaca rias pecah,” katanya.

    Dian mengatakan dia dan keluarganya tidak berada di rumah saat gempa yang berpotensi tsunami itu melanda. Ketika tiba di tempat tinggal mereka di lantai 3, dia melihat barang-barang sudah berjatuhan ke lantai.

    “Tadi saya pulang, mixer menyala berputar-putar, kaca-kaca terbuka sebagian, televisi semua jatuh ke lantai,” tambah dia.

    Saat ini, dia bersama keluarga dan 12 orang lainnya mengungsi ke masjid tersebut yang lokasinya lebih tinggi daripada kawasan lainnya.

    Baca: Lebih dari 1000 orang tewas akibat gempa di Afganistan

    Ada juga WNI yang mengungsi di aula-aula publik milik pemerintah setempat, katanya.

    Menurut Dian, karena tidak banyak barang di masjid tersebut, hanya buku-buku dan Al Quran yang jatuh ke lantai.

    Guncangan dahsyat juga sempat dirasakan WNI di prefektur lain seperti Tottori. Sejumlah WNI di Prefektur Toyama juga tengah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

    Pemerintah setempat mengimbau agar pengungsi tetap di area pengungsian dan tidak boleh pergi ke tempat yang lebih rendah. Kapal-kapal terpantau sudah meninggalkan pelabuhan.

    Saat ini masih terjadi gempa susulan dan berpotensi tsunami. Badan Meteorologi Jepang memperingatkan bahwa tinggi tsunami bisa mencapai lima meter.

    Baca: Gempa 7,2 SR guncang Maroko

    Gelombang tsunami akibat gempa tersebut kemungkinan bisa menjangkau 300 kilometer dari pusat gempa.

    Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui KBRI Tokyo dan KJRI Osaka telah mengeluarkan imbauan agar WNI di Jepang tetap waspada atas gempa susulan dan tsunami.

    “Kami mengimbau WNI agar selalu memantau informasi dan arahan otoritas setempat,” kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI Judha Nugraha melalui pesan singkat, Senin.

    “Peringatan tsunami di sepanjang pesisir barat Jepang masih belum dicabut hingga malam hari ini waktu Jepang,” katanya, menekankan.

    Kemlu, ujarnya, saat ini sedang berkoordinasi dengan KBRI Tokyo dan KJRI Osaka untuk mengetahui dampak gempa dan tsunami.

    Baca: Gempa guncang Sumedang

    KBRI dan KJRI juga tengah berkoordinasi dengan otoritas setempat dan simpul masyarakat Indonesia.

    “Sistem lapor diri KBRI Tokyo mencatat terdapat 1.315 WNI yang menetap di Prefektur Ishikawa,” kata Judha.

    Bagi WNI yang menghadapi situasi darurat, KBRI Tokyo dan KJRI Osaka telah mengaktifkan nomor hotline yaitu KBRI Tokyo +818035068612 dan KJRI Osaka +818031131003.

    Gempa bumi yang terjadi pada pukul 16.10 waktu Jepang atau 14.10 WIB itu juga dirasakan di wilayah Prefektur Niigata, Toyama, dan Fukui, Nagano, Gifu, Tokyo, Yamagata, Fukushima.

    Selain itu, gempa juga dirasakan di wilayah Ibaraki, Tochigi, Gunma, Saitama, Shizuoka, Aichi, Mie, Shiga, Kyoto, Osaka, Hyogo, Nara, Tottori, Iwate, Miyagi, dan Akita.

    Gempa tersebut telah menyebabkan gelombang tsunami di beberapa wilayah.

    Sumber: Antaranews

  • Seminggu Setelah Gempa Bumi di Jepang, Korban Tewas Capai 161 Orang

    Seminggu Setelah Gempa Bumi di Jepang, Korban Tewas Capai 161 Orang

    7cloud.asia – Jumlah korban tewas bertambah menjadi 161 orang di Ishikawa, Jepang tengah, hingga Senin (8/1) pukul 09.00 waktu setempat.

    Media lokal melaporkan jumlah korban tewas tersebut sepekan setelah serangkaian gempa bumi bermagnitudo hingga 7,6 mengguncang prefektur tersebut dan wilayah sekitarnya.

    Sebanyak 103 warga saat ini belum ditemukan dan sedikitnya 565 orang menderita luka-luka, menurut lembaga penyiaran nasional Jepang NHK.

    Dari jumlah korban tewas tersebut, 70 orang terkonfirmasi di kota Wajima dan Suzu, 11 orang di Kota Anamizu, lima orang di Kota Nanao, masing-masing dua orang di Kota Noto dan Shika, serta satu orang di Kota Hakui.

    Baca: Gempa 7,4 M guncang Jepang

    Sementara itu, massa udara dingin membawa salju ke Ishikawa dan bagian-bagian lain di wilayah Hokuriku serta Prefektur Niigata, menurut Badan Meteorologi Jepang.

    Hingga Senin pukul 06.00 waktu setempat, akumulasi salju di Ishikawa mencapai 13 cm di Suzu, 11 cm di Nanao, dan 9 cm di Wajima.

    Badan pengawas cuaca tersebut meminta warga di daerah yang terdampak bencana agar lebih berhati-hati terhadap bangunan yang rusak akibat gempa, yang berpotensi runtuh karena bobot salju.

    Selain itu, warga juga diimbau menjaga tubuh tetap hangat guna mencegah hipotermia di tengah cuaca yang sangat dingin.

    Sumber: Antaranews

  • Cara Pemerintah Jepang Siapkan Warganya Hadapi Bencana Gempa Bumi

    Cara Pemerintah Jepang Siapkan Warganya Hadapi Bencana Gempa Bumi

    7cloud.asia – Seperti Indonesia, Jepang juga termasuk wilayah rawan terjadi gempa bumi. Bahkan gempa di Jepang lebih sering terjadi dibanding di Indonesia.

    Namun, berbeda dengan Indonesia, pemerintah Jepang telah melatih warganya untuk selalu siap menghadapi bencana, terutama gempa bumi.

    Tak hanya latihan rutin, pemerintah Jepang telah menerbitkan panduan bencana yang bisa diterapkan warga, terutama sebelum gempa bumi terjadi.

    Dengan panduan bencana ini, diharapkan mampu membantu warga menyelamatkan dan melindungi dirinya sendiri sebelum bantuan datang.

    Berikut  beberapa hal yang diajarkan pemerintah Jepang saat menghadapi bencana gempa bumi sebagaimana dilansir di japantimes.co.jp:

    Baca: Indonesia rawan gempa tetapi literasi masih rendah

    1. Ketahui rute evakuasi

    Ketahui rute evakuasi tidak hanya di rumah tetapi juga di tempat kerja, sekolah anak-anak dan tempat-tempat yang sering dikunjungi.

    Rute evakuasi ini dicetak secara fisik, karena Google maps mungkin tidak berfungsi saat terjadi bencana.

    2. Catat nomor darurat

    Warga Jepang selalu diminta untuk mencatat nomor telepon penting dan simpan di kotak darurat. Selain kontak keluarga dan teman, catat kontak darurat dan nomor kedutaan.

    Karena kita dari Indonesia, maka kita harus mencatat nomor Kedutaan Besar Indonesia.

    Baca: Bangunan tahan gempa

    3. Siapkan tas siaga bencana

    Setiap warga Jepang diminta untuk selalu menyiapkan tas siaga bencana yang bisa langsung dibawa jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Di dalam tas siaga bencana ini antara lain berisi:

    Persediaan air dan makanan yang tidak mudah rusak dan pastikan untuk memeriksa tanggal kedaluwarsa peralatan gempa setiap tahunnya.
    Senter
    Radio portabel
    Baterai dan pengisi daya
    Pembuka kaleng
    Kotak P3K
    Selimut
    Jas hujan
    Salinan dokumen penting (paspor, rincian bank, akta rumah dll)
    Uang tunai

    Pastikan untuk menaruh jaket dan barang-barang di dalam kantong plastik yang disediakan jika tidak ingin seluruh pakaian berbau seperti makanan.

    Baca: Ahli geologi ingatkan untuk lihat peta bencana sebelum bangun rumah

    4. Pola pikir keselamatan

    Misalnya, isi tangki bensin mobil saat sudah setengah kosong; dan mencatat tanda-tanda evakuasi ketika mengunjungi tempat-tempat baru dan, jika perlu, pelajari kosakata dalam bahasa Jepang terkait gempa dan kanjinya.

    5. Pastikan tempat tinggalmu tahan gempa

    Amankan perabotan (lemari, rak buku, dll.) dan barang elektronik berukuran besar (microwave, lemari es, dll) yang dapat terjatuh saat terjadi gempa.

    Toko peralatan di Jepang memiliki beragam tali pengikat dan peralatan untuk mengencangkan dan mengamankan barang.

    6. Cari tahu melalui website dan juga aplikasi

    Kunjungi website kesiapsiagaan bencana di kantor wilayah tempat kamu tinggal di Jepang.

    Unduh aplikasi gempa. Banyak ponsel Jepang sekarang memiliki alarm gempa di sistem OS mereka. Aplikasi gempa yang paling banyak digunakan adalah Yurekuru Call (Android) (iOS).

    Aplikasi ini akan memberikan pemberitahuan bencana beberapa detik sebelumnya.

  • Gempa 7,5 SR yang Melanda Jepang Akibatkan Daratan Bergeser Lebih 1 Meter

    Gempa 7,5 SR yang Melanda Jepang Akibatkan Daratan Bergeser Lebih 1 Meter

    7cloud.asia – Kekuatan gempa berkekuatan 7,5 SR yang mengguncang Jepang beberapa waktu lalu dapat dilihat dari seberapa besar pergerakan tanahnya.

    Di beberapa tempat permukaan tanah naik lebih dari 4 meter (13 kaki) dan bergeser lebih dari satu meter pasca gempa di Jepang tersebut.

    Jepang yang rawan gempa sudah sangat maju dalam memantau apa yang terjadi ketika tanah berguncang. Itu sebabnya para ahli di Jpang dapat melakukan pengukuran yang begitu presisi.

    Ada jaringan stasiun GPS yang tersebar di titik-titik strategis di seluruh negeri. Saat terjadi gempa bumi, para ilmuwan dapat mengetahui dengan pasti seberapa besar gempa tersebut telah bergerak.

    Lalu setelahnya para ahli segera menunjukkan bagaimana bentang alam telah melengkung dan bergeser.

    Baca: Lebih dari 160 orang tewas akibat gempa Jepang

    Sistem ini menunjukkan bahwa tanah bergerak sejauh 130cm ke arah barat pasca gempa pada hari Senin (1/1/2024).

    Sementara itu, para ilmuwan juga mengawasi Jepang dari luar angkasa, membandingkan citra satelit yang diambil sebelum dan sesudah gempa.

    Pada lintasan terakhirnya, pesawat ruang angkasa ALOS-2 melaporkan bahwa jarak antara dirinya dan tanah telah memendek karena permukaan bumi naik akibat kekuatan getaran.

    Tanah paling banyak bergerak di sisi barat semenanjung Noto. Dasar laut bergeser ke lepas pantai sana, menimbulkan gelombang tsunami setinggi sekitar 80cm.

    Untungnya, pengangkatan tersebut sebenarnya dapat mengurangi dampak gelombang ketika sampai di garis pantai.

    Baca: Cara warga Jepang antisipasi gempa bumi

    Jumlah korban jiwa yang meninggal sangatlah banyak, namun sungguh luar biasa betapa sedikitnya kasus kematian yang terjadi, bahkan ketika pencarian terus dilakukan terhadap mereka yang masih terjebak di dalam reruntuhan.

    Model kerugian dan kerusakan telah memperkirakan jumlah korban jiwa, paling banyak, seratus atau lebih.

    Peristiwa ini patut dibandingkan dengan gempa berkekuatan M7,8 yang melanda Turki tahun 202 lalu.

    Keduanya secara umum serupa dalam hal energi yang dilepaskan, namun jumlah korban tewas di Turki dan Suriah meningkat menjadi 50.000 atau lebih.

    Kembali ke tahun 2010 dan gempa M7 di Haiti. Lebih dari 100.000 orang tewas dalam peristiwa mengerikan itu.

    Baca: Indonesia rawan gempa tetapi literasi masih rendah

    Penjelasan perbedaannya sederhana: kesiapsiagaan Jepang terhadap gempa memang luar biasa.

    Jepang berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama. Ini adalah salah satu daerah yang paling aktif secara seismik di Bumi; negara ini menyumbang sekitar 20% gempa global berkekuatan 6,0 atau lebih besar, dan seismometer mencatat peristiwa tertentu rata-rata setiap lima menit.

    Oleh karena itu, Jepang telah berinvestasi besar dalam membuat infrastruktur dan penduduknya berketahanan.

    Kode bangunan – aturan yang memandu konstruksi – ditegakkan dengan ketat; dan warga sudah terlatih dalam merespons guncangan.

    Jepang juga memiliki salah satu sistem peringatan dini tercanggih di dunia. Para ilmuwan tidak dapat memprediksi waktu dan skala gempa yang akan terjadi.

    Baca: Lebih dari 1000 orang tewas akibat gempa di Afghanistan

    Namun ketika instrumen tersebut sedang berlangsung, maka instrumen tersebut akan memicu pemberitahuan ke TV, radio, dan jaringan seluler.

    Peringatan ini akan tiba bagi sebagian orang yang jauh dari pusat gempa, mungkin 10 hingga 20 detik sebelum terjadinya guncangan paling parah.

    Ini mungkin kedengarannya bukan waktu yang lama, namun pemberitahuan tersebut cukup untuk warga bersiap melakukan berbagai tidak penyelamatan.

    Seperti membuka pintu di stasiun pemadam kebakaran setempat, mengerem kereta berkecepatan tinggi, dan agar semua orang “turun, berlindung, dan bertahan”.

    Sumber: BBC environment

  • Hari Ini WNI di Jepang Mulai Mencoblos

    Hari Ini WNI di Jepang Mulai Mencoblos

    7cloud.asia – Peserta pemilihan umum warga negara Indonesia (WNI) di Jepang mulai menggunakan hak suara dalam Pemilu 2024.

    Salah satu pemilih, Zahra Rabbiradlia kepada Antara saat dihubungi di Tokyo, Minggu mengatakan sudah mencoblos, baik pasangan calon presiden dan wakil presiden maupun calon legislatif.

    Pemilu 2024 merupakan kali pertama bagi diaspora yang berdomisili di Yokohama itu menggunakan hak pilih di luar negeri.

    “Pasti dari vibes-nya beda, sudah pasti kalau di Jepang enggak terlalu ramai. Tapi, karena Pemilu kali ini ada keinginan buat riset sana-sini, jadi literasi politik aku better dari sebelumnya,” katanya.

    Dia mengaku telah mempelajari para kandidat baik di level presidensial maupun legislatif dari berbagai sumber, terutama media sosial.

    Baca: Kebocoran data pemilih ancaman dalam pemilu 2024

    “Banyaknya konten edukasi politik di medsos itu kebantu banget. Jadi, aku terbuka isu-isu politik dan mana capres yang aku pilih,” katanya.

    Zahra juga mengaku tidak melewatkan siaran langsung debat capres dan cawapres melalui internet kendati tayang lebih malam karena perbedaan dua jam lebih awal di Jepang.

    Menurut dia, karakter pemilih saat ini, yang sebagian besar kaum muda, semakin ingin tahu akan gagasan para kontestan pemilu yang akan menentukan masa depan Indonesia lima tahun ke depan.

    “Kalau di 2019 itu ada isu agama, aku malas mengikutinya. Kalau sekarang strateginya menyasar kaum muda lewat live TikTok meskipun ada yang gimmick, joget-joget, gagasannya tetap dijual,” katanya.

    Zahra memilih menggunakan hak suara melalui pos karena faktor jarak serta harus mengurus ketiga buah hatinya.

    Ia merasa sudah mantap menentukan pilihan dan mengajak para WNI di Negeri Sakura yang belum menggunakan hak suara untuk mencoblos sesuai hati nurani melalui pos maupun tempat pemungutan suara (TPS).

    Baca: Kampanye damai jangan hanya menjadi slogan

    “Suara kita begitu berpengaruh. Jangan sampai hilang dan disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang mempermainkan suara kita,” katanya.

    Berbeda dengan Zahra, Aisar yang pernah mengalami Pemilu di Jepang sebelumnya mengaku tahun ini tensi serta gesekan tidak terlalu tinggi karena terdapat tiga pasangan capres-cawapres ketimbang hanya dua di Pemilu 2019.

    “Tahun ini kayaknya adem-adem aja ya, karena paslonnya ada tiga. Beda dengan sebelumnya hanya ada dua, itu sempat ‘panas’,” ujarnya.

    Di Pemilu 2019, WNI yang bermukim di Tokyo itu memilih lewat TPS. Namun, pada tahun ini ia memilih lewat pos karena alasan kepraktisan.

    “Ya, saya sudah mencoblos. Kalau capres gampang ya, pilihannya cuma tiga. Yang pileg ini banyak banget dan surat suaranya besar. Saran saya buat yang memilih di TPS, cari tahu dulu khawatir bingung pas buka di bilik suara,” katanya.

    Dia juga mengimbau kepada sesama pemilih WNI untuk tidak golput.

    Senada, Dian Bulan, juga memilih melalui pos karena lebih efisien ketimbang datang ke TPS.

    “Dulu saya pernah nyoblos di TPS saat menjadi panitia PPLN Osaka. Saat ini saya memilih lewat pos. Surat suara sudah diterima. Insya Allah dalam minggu ini saya mencoblos,” katanya sambil menambahkan bahwa ia akan memilih kandidat sesuai kesamaan visi-misi.

    Baca: Pemilu 2024 sarat pemilih muda

    “Kalau partai saya dari dulu pilihannya tidak pernah berubah,” katanya.

    Menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU), periode pencoblosan lewat pos mulai 5-14 Februari 2024.

    Di Jepang, pemilihan di TPS dilaksanakan pada Minggu, 11 Februari 2024. Namun, untuk penghitungan suara serentak pada 14-15 Februari 2024.

    Berdasarkan data PPLN Tokyo, total terdapat 29.434 pemilih, 18.334 laki-laki dan 11.100 perempuan, smentara itu, pemilih yang akan mencoblos di TPS sebanyak 2.847 orang, 26.587 pemilih lewat pos.

    Terkait pengawalan proses Pemilu 2024 serta pengawasan, baik PPLN Tokyo maupun Panwaslu Tokyo belum memberikan tanggapan.

    Sebelumnya, Bawaslu mengimbau 60 titik Panwaslu LN untuk memastikan Pemilu 2024 berjalan aman dan tanpa adanya kecurangan.

    Panwaslu LN diminta untuk mewaspadai adanya kemungkinan pemilih yang menggunakan hak suaranya dua kali karena pemungutan suara dilakukan lebih awal.

    Sumber: Antaranews

  • Bagaimana Pemerintah Jepang Kurangi Sampah Plastik

    Bagaimana Pemerintah Jepang Kurangi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Jepang merupakan salah satu negara yang concern pada pada sampah plastik  yang dihasilkan warganya.

    Pernah menjadi salah satu produsen sampah plastik terbesar di dunia, Jepang kini makin serius mengelola sampah plastik yang dihasilkan warganya.

    Melinda Joe dari BBCNews menuliskan pengalamannya mengurangi sampah plastik selama ia tinggal di Jepang. Dan, akan kami turunkan secara bersambung mulai hari ini  

    Setiap Selasa pagi ketika saya membuang sampah, saya melihat kantong sampah plastik bening berisi botol PET kosong yang ditumpuk di samping tempat sampah daur ulang berwarna biru.

    Di daerah tempat saya tinggal di Tokyo, Jepang, pemerintah kota menyediakan tempat pengumpulan kaca, aluminium, dan plastik setiap minggunya di titik-titik tertentu di sekitar lingkungan tersebut.

    Baca: Cara sederhana mengelola sampah rumah tangga

    Pada pukul 08.00, tempat sampah selalu penuh, namun volume sampah botol plastik meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan pemerintah kota untuk mengolah dan mengelolanya.

    Produksi botol plastik di Jepang telah melonjak hingga 23,2 miliar per tahun, dari 14 miliar pada tahun 2004.

    Meskipun negara ini memiliki teknologi daur ulang yang canggih, sekitar 2,6 miliar botol plastik dibakar, dikirim ke tempat pembuangan sampah, atau hilang ke saluran air dan lautan setiap tahunnya.

    Seperti kebanyakan penduduk Tokyo, saya sangat teliti dalam memilah sampah dan selalu membuang botol plastik ke tempat sampah daur ulang.

    Namun plastik sekali pakai – produk yang sebagian besar berasal dari bahan kimia berbasis bahan bakar fosil dan hanya dapat digunakan sekali – sulit dihindari di ibu kota Jepang.

    Baca: Ekonomi sirkular yang digadang atasi sampah

    Mesin penjual otomatis yang menjual minuman dalam botol plastik berjejer di jalan lingkungan tempat tinggal saya.

    Di tiga toko serba ada yang berjarak lima menit berjalan kaki dari apartemen saya, pilihan makanan siap saji untuk satu porsi – seperti kotak makan siang bento dan kantong berisi makanan. 

    Di supermarket, buah-buahan yang dibungkus dengan jaring polistiren, dikemas dalam karton plastik, dan kemudian dibungkus dengan cling film adalah pemandangan umum.

    Pada tahun 2014, Jepang menghasilkan 32,4 kg (71 pon) sampah kemasan plastik per kapita – nomor dua setelah Amerika Serikat, dengan 40 kg (88 pon) per kapita.

    Selama beberapa tahun terakhir, saya melihat semakin banyak sampah plastik di rumah saya.

    Baca: Membangun ekosistem guna ulang

    Selama pandemi, saya dan suami mengandalkan makanan yang bisa dibawa pulang dan makanan beku lezat dan hemat waktu yang tersedia secara online – pizza kemasan vakum, burrito bungkus plastik, dan kantong plastik berisi galet kentang.

    Suatu hari, saya menyadari bahwa dua pertiga dari sampah yang saya dan banyak orang hasilkan adalah adalah plastik.

    Khawatir dengan laporan bahwa polusi plastik di laut akan meningkat empat kali lipat pada tahun 2050, saya khawatir kita sedang menuju ke jurang kenyamanan yang berkontribusi terhadap krisis plastik.

    Untuk mengetahui seberapa besar perubahan gaya hidup sehari-hari dapat mengurangi sampah, saya menantang diri saya sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama seminggu.

    Bahkan sebelum Jepang mulai memungut biaya untuk kantong plastik di toko retail, saya telah memilih tas yang dapat digunakan kembali untuk berbelanja.

    Baca: Mana lebih baik, daur ulang atau guna ulang

    Membawa botol air dan mengunduh aplikasi MyMizu, yang menunjukkan peta stasiun pengisian ulang di sekitar pusat kota Tokyo, membantu saya menghindari membeli air dalam botol PET.

    Untuk mengurangi sampah plastik saya secara signifikan, saya fokus pada pembatasan kemasan, pertama dengan mengurangi makanan yang dibawa pulang pada waktu makan siang, yang sering kali dikemas dalam wadah plastik, dan tidak berbelanja online.

    Pengemasan yang berlebihan adalah hal yang lumrah di Tokyo. Pegawai toko biasanya membungkus toples kaca dengan bubble wrap atau memasukkan sayuran ke dalam kantong plastik secara otomatis saat checkout.

    Bagaimana saya menyiasati pola ini untuk mengurangi sampah plastik yang dihasilkan, ikuti di tulisan selanjutnya.

    Sumber: BBC Environment

  • Keren! Daur Ulang Sampah Plastik di Jepang Mencapai 85 Persen

    Keren! Daur Ulang Sampah Plastik di Jepang Mencapai 85 Persen

    Foto: zerowaste Indonesia

    7cloud.asia – Artikel ini masih mengupas tentang upaya Jepang dalam menekan dan menangani sampah plastik yang dihasilkan warganya.

    Melinda Joe dalam artikel yang ditulis di BBC News, menyebut bahwa Jepang menempati peringkat kedua di dunia setelah Jerman dalam pengelolaan plastik.

    Meskipun Jepang dipuji karena tingkat daur ulang sampah plastik yang mencapai lebih dari 85 persen, angka tersebut memberikan gambaran yang bagus mengenai situasi tersebut.

    Menurut Institut Pengelolaan Sampah Plastik yang berbasis di Tokyo, pada tahun 2020, hanya 21 persen sampah plastik yang menjalani daur ulang, yaitu menggunakan kembali plastik.

    Baca: Cara pemerintah Jepang kelola sampah plastik

    Sebanyak 3 persen menjalani daur ulang kimia, yang memecah polimer plastik menjadi bahan penyusun bahan sekunder.

    Lantas 8 persen sampah plastik dibakar, sementara 6 persen dibuang ke tempat pembuangan sampah.

    Sebagian besar atau 63 persen sampah plastik di Jepang diproses sebagai “daur ulang termal”, yang melibatkan penggunaan plastik sebagai bahan bahan bakar padat dan membakarnya untuk energi.

    “Artinya, dua pertiga sampah plastik dibakar. Di Eropa, ‘daur ulang termal’ ini dianggap sebagai pemulihan energi, bukan daur ulang,” kata Tetsuji Ida, jurnalis yang sudah 30 tahun menulis soal sampah.

     

    Baca: Warga Tokyo ini berusaha keras hidup tanpa plastik

    Ia menambahkan bahwa Jepang adalah eksportir sampah plastik terbesar. “Tingkat daur ulang hanya berlaku untuk apa yang tersisa di Jepang.”

    Pada tahun 2020, Jepang mengekspor 820.000 ton sampah plastik ke negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Taiwan – sekitar 46 persen dari total keseluruhan.

    Salah satu masalahnya, kata Ida, adalah strategi Jepang dalam menangani sampah plastik memberikan beban terbesar pada konsumen dan pemerintah daerah.

    Ia menyebut, proses daur ulang yang paling mahal ada pada tahap pemilahan sampah plastik.

    Baca: Mengulik perkembangan konsep guna ulang di Indonesia

    Pasalnya pemilahan sampah harus dilakukan secara manual sementara upah di Jepang sangat tinggi, dan pemerintah daerah menanggung biaya paling tinggi.

    “Artinya, bebannya ada pada pembayar pajak, sementara perusahaan hanya membayar biaya daur ulang – bukan untuk pengumpulan atau pengelolaan internal,” katanya. 

    Selain itu, Ida mengatakan bahwa inisiatif pemerintah, seperti undang-undang baru-baru ini yang mewajibkan dunia usaha untuk menetapkan target pengurangan plastik sekali pakai mempunyai dampak yang sangat kecil.

    “Bisnis yang gagal mematuhi peraturan akan disebut dan dipermalukan namun tidak ada denda atau konsekuensi hukum,” Pungkasnya.

    Baca: Gunakan tumbler untuk kurangi sampah plastik