7cloud.asia – Pengakuan Sumbu Filosofi menjadi warisan budaya dunia oleh Badan Budaya Dunia (UNESCO) menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian kawasan Jeron Beteng (dalam benteng Keraton) Yogyakarta.
Pemanasan global dan polusi udara akibat tingginya kunjungan wisatawan menambah pelik upaya pelestarian kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi ini.
Dalam konteks kawasan Jeron Beteng dan sekitarnya, terdapat 378 objek warisan budaya/cagar budaya yang tersebar di sejumlah kawasan, termasuk Kemantren Danurejan, Gondomanan, Gedongtengen, dan Keraton.
Karena itu identifikasi morfologi ruang kawasan menjadi prasyarat penting dalam setiap upaya perencanaan yang bertanggung jawab di kawasan Jeron Beteng.
Demikian terungkap dalam webinar bertajuk Kawasan Rendah Emisi di Kawasan Heritage: Menjaga Warisan Budaya dan Udara Bersih di Kota Bersejarah yang dipantau secara daring pada Jumat (5/6/2026).
Dalam sambutannya, Caretaker Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Prof. Mirwan Usada mengingatkan, emisi gas rumah kaca mengancam kelestarian bangunan di dalam kawasan Jeron Beteng.
Ia melanjutkan, polusi udara tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga mempercepat degradasi material bangunan bersejarah yang tidak dapat dipulihkan. Karena itu tingginya emisi karbon yang memicu penurunan kualitas udara bukan lagi isu yang dapat ditunda penanganannya.
“Implementasi Low Emission Zone atau kawasan rendah emisi yang konsisten di berbagai kota dunia secara ilmiah terbukti berhasil menurunkan konsentrasi polutan berbahaya seperti NO₂ dan PM2.5,” ujarnya.
Baca: Pemerintah Kota Yogyakarta Serius Kurangi Tekanan di Kawasan Sumbu Filosofi
Kanjeng Mas Tumenggung Yudawijaya yang bertanggung jawab atas kelestarian aset Keraton Yogyakarta mengatakan kegiatan pariwisata telah memunculkan beban emisi yang sangat berat bagi kawasan njeron mbeteng.
Saat akhir pekan atau liburan panjang, kawasan seluas 32 kilometer persegi akan dipadati ribuan wisatawan yang sebagian besar menggunakan kendaraan bermotor.
Kondisi ini tidak lepas dari banyaknya titik di dalamvJeron Beteng yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung.
“Ini memberikan tantangan, bagaimana Kota Yogyakarta bisa menjadi laboratorium hidup, bagaiamana kota sekecil ini dapat menghadapi dampak emisi,“ ujarnya.
Yudawijaya memaparkan, sebenarnya dari awal Pangeran Mangkubumi yang membangun Kota Yogyakarta telah merencanakan dengan matang pengembangan ibukota Kerajaan Mataram ini.
Dalam kesempatan yang sama, Guru besar Fakultas Teknik UGM, Prof Ikaputra mengatakan UNESCO mengamanatkan wilayah yang telah diakui warisan dunia harus dikelola secara berkelanjutan dan pro lingkungan.
Kawasan Jeron Beteng Yogyakarta merupakan kawasan heritage strategis yang memiliki nilai budaya tinggi, baik secara tangible maupun intangible, serta berperan penting dalam identitas kota dan filosofi Sumbu Filosofis Yogyakarta.
Di sisi lain, kawasan ini menghadapi tekanan pembangunan, peningkatan aktivitas pariwisata, serta tingginya intensitas pergerakan yang berimplikasi pada peningkatan emisi karbon dan penurunan kualitas lingkungan kawasan.
Baca: UNESCO Akui Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Warisan Dunia
Mantan Kepala Pustral UGM ini mengatakan, secara historis pendiri Keraton Yogyakarta telah mempraktikkan prinsip kawasan rendah emisi sejak lama. Filosofi Keraton Yogyakarta sendiri, sejak lama menerapkan prinsip ramah lingkungan dan minim polusi.
Apabila kita masuk kompleks Kraton atau Cepuri, tidak ada kendaraan bermotor yang masuk. Semua berjalan kaki, sehingga tidak ditemukan kebisingan, bahkan dapat didengar kicauan burung.
“Jadi praktik untuk mendorong kawasan rendah emisi yang sudah dilakukan sejak zaman dulu oleh Keraton,” ungkapnya.
Ikaputra lantas memaparkan upaya pengembangan Kawasan Rendah Emisi (KRE) di Jeron Beteng sebagai pendekatan strategis untuk menjawab tantangan polusi udara di dalam kawasan.
Kawasan Rendah Emisi diwujudkan dengan pengelolaan lalu lintas di dalam area Beteng Keraton, penanaman kembali vegetasi yang menandai keistimewaan Keraton Yogyakarta serta pengaturan sirkulasi pejalan kaku.
Langkah itu dilakukan dengan mengintegrasikan pelestarian budaya, pengelolaan tata ruang dan mobilitas, serta transisi ke energi bersih.
Ikaputra menegaskan, pengembangan kawasan rendah emisi tidak dimaksudkan sebagai pembatas aktivitas di dalam kawasan, tapi sebagai kerangka pembangunan berkelanjutan yang menjaga keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan, sosial, dan budaya.
Didukung Viriya ENB, sebuah lembaga nirlaba di Jakarta, beserta Pusat Studi Energi (PSE) UGM dan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) pada Januari lalu telah dideklarasikan Arah Baru Jeron Beteng Kraton Yogyakarta Menuju Kawasan Rendah Emisi (KRE).
Deklarasi ini diharapkan pengembangan KRE Jeron Beteng bergerak menuju aksi nyata yang terkoordinasi, kontekstual dengan nilai budaya, serta mendapatkan legitimasi sosial yang kuat.
Realisasi Kawasan Rendah Emisi di Jeron Beteng akan dilakukan secara bertahap dengan berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kraton Yogyakarta sebagai pemilik wilayah.
Dari pengamatan yang dilakukan, kemacetan di Jeron Beteng terjadi karena banyak kendaraan pribadi yang masuk, karena itu secara bertahap akan dilakukan pembatasan kendaraan bermotor.
Pun akan dilakukan pembatasan kendaraan wisata yang masuk ke dalam kawasan, dengan menyediakan sejumlah kantung parkir di sekitar kawasan Jeron Beteng.
“Ini tidak serta-merta melarang warga, namun akan mengatur akses kendaraan pribadi ke dalam kawasan. Sosialisasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar tujuan low-emission zone dapat dipahami bersama,“ tandasnya.
