Tag: Juli 2023

  • Bulan Juli 2023 Tercatat Sebagai Masa Terpanas dalam Sejarah Suhu Global

    Bulan Juli 2023 Tercatat Sebagai Masa Terpanas dalam Sejarah Suhu Global

    7cloud.asia – Bulan Juli 2023 menjadi bulan dengan suhu global terpanas dalam sejarah.

    Pekan lalu Badan Antariksa Eropa mengumumkan rata-rata suhu global pada Juli 2023 sudah mencapai 1,5°C lebih tinggi dibandingkan era praindustri (sejak 1850-an).

    Dilansir Copernicus.eu, bulan Juli 2023 ditandai pemecahan rekor suhu udara permukaan rata-rata global atau suhu global harian selama empat hari berturut-turut, pada tanggal 3-6 Juli.

    Seluruh hari sepanjang sisa bulan Juli 2023  lebih panas dari rekor sebelumnya yaitu 16,80°C, yang terjadi pada 13 Agustus 2016, menjadikan 29 hari pada tanggal 3-31 Juli sebagai rekor 29 hari terpanas. 

    Hari terpanas terjadi pada tanggal 6 Juli, ketika rata-rata suhu global mencapai 17,08°C, dan nilai yang tercatat pada tanggal 5 dan 7 Juli berada dalam kisaran 0,01°C. 

    Baca: Pemanasan global sebabkan separuh danau di dunia kering

    Selama minggu pertama dan ketiga setiap bulan, suhu juga untuk sementara melampaui ambang batas 1,5°C di atas tingkat pra-industri – batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris, dan hal ini pertama kali terjadi pada bulan Juli.

    Sebuah judul berita kemudian menyatakan bahwa planet Bumi telah melampaui target Perjanjian Paris tahun 2015. Perjanjian ini bertujuan menahan pemanasan Bumi hingga 1,5℃—sekitar satu dekade lebih awal dari perkiraan dalam Perjanjian Paris pada 2030.

    Lantas, apakah kita sudah game over dalam usaha meredam kenaikan suhu bumi? Apa umat manusia sudah kalah?

    Jawabannya sama dengan semua hal terkait perubahan iklim: tidak sesederhana itu. Batasan tersebut naik hanya sebulan, kemudian temperatur rata-rata Bumi menurun lagi.

    Baca: Telah ditemukan bakteri pemangsa metana yang bisa menahan laju pemanasan global

    Dilansir di The Conversation, Bulan Juli 2023 juga bukanlah yang pertama saat kita melampaui target 1,5°C. Pada Februari 2016 lalu, kejadian serupa berlangsung walaupun cuma beberapa hari.

    Pada 2015, suasana dunia berlangsung seperti kita siap memulai aksi memerangi perubahan iklim. Setelah debat panas selama puluhan tahun, sekitar 195 negara mengadopsi Perjanjian Paris.

    Perjanjian ini merupakan kesepakatan formal yang tak mengikat dengan kesepakatan yang jelas: membatasi pemanasan global sampai 1,5℃ di atas level praindustri untuk menghindari efek terburuk perubahan iklim.

    Namun, angka tersebut bukanlah nomor sakti. Setiap kenaikan suhu akan memperburuk dampak perubahan iklim.

    Lantas mengapa angka 1,5℃ begitu krusial? Jawaban utamanya, angka tersebut dipatok sebagai batasan untuk mewakili kegawatan yang akan kita hadapi.

    Baca: Dampak sampah makanan pada pemanasan global

    Perjanjian Paris menyatakan usaha menghindari perubahan iklim yang berbahaya, kenaikan temperatur bumi “harus berada di bawah 2℃”. Inilah yang melahirkan batasan 1,5℃.

    Lalu, apakah itu level berbahaya dari perubahan iklim? Level ini terjadi saat kerusakan akibat perubahan iklim menjadi sangat luas ataupun parah.

    Kerusakan ini dapat mengancam perekonomian, ekosistem, pertanian, dan memiliki risiko superbesar yang tak bisa dipulihkan lagi seperti keruntuhan lapisan es ataupun sirkulasi laut.

    Yang lebih penting, tingkat pemanasan ini berisiko melampaui batas kemampuan manusia beradaptasi.

    Gampangnya, ambang batas 1,5℃ adalah ‘jalur terbaik seperti saat kita berada dalam perahu di atas sungai, tanpa dayung’.

    Apakah kita terlambat? Lalu, apakah kita menyerah saja? Jawabannya, Belum!

    Baca: Perjuangan dunia untuk capai emisi nol

    Otoritas global tentang perubahan iklim, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC_, mengartikan 1,5℃ sebagai titik landasan suhu rata-rata global yang naik dari rata-rata suhu selama 1850 – 1900 (praindustrial).

    Memang benar bahwa batasan ini sudah terlampaui pada Juli 2023. Namun, iklim tak hanya dilihat dari fenomena sebulan.

    Temperatur rata-rata global naik-turun setiap tahun di atas tren pemanasan global. Pasalnya, secara alamiah iklim dari tahun ke tahun bervariasi.

    Suhu global beberapa tahun belakangan memang lebih panas dari rata-rata. Namun tren tersebut sebenarnya agak dingin karena fenomena La Niña yang berturut-turut.

    Apalagi, tahun ini ada pemanasan signifikan yang terutama berlangsung akibat kejadian El Niño di kawasan Pasifik. Tahun-tahun El Niño membuat Bumi menjadi lebih panas.

    Agar tren tahunan terlihat lebih jelas, kita biasanya menggunakan data rata-rata selama beberapa dekade.

    Baca: Riset mengungkap emisi karbon capai rekor pada 2022

    Oleh karena itu, laporan IPCC 2021 menetapkan ambang batas 1,5℃ sebagai periode 20 tahun pertama yang dihitung ketika kenaikan suhu global menyentuh 1,5℃ (berdasarkan suhu udara di permukaan Bumi).

    Penelitian terbaru menunjukkan perkiraan terbaik untuk melewati ambang batas ini adalah pada awal tahun 2030-an.

    Artinya, berdasarkan definisi IPCC, rata-rata suhu global antara awal dekade 2020-an dan dekade tahun 2040-an diperkirakan sebesar 1,5°C.

    Nyaris melampaui garis merah
    Sejauh ini kita memang belum melampaui target Perjanjian Paris. Namun, temperatur Juli lalu menunjukkan kita sedang berada di ujung tanduk.

    Saat dunia terus memanas, kita akan terus melihat ‘Juli-juli’ selanjutnya. Kita akan terus bergerak semakin dekat dengan batas 1,5℃, dan pemanasan global akan menjadi lebih berbahaya.

    Apakah mungkin pemanasan suhu Bumi ini di bawah 1,5℃? Mungkin saja. Kita membutuhkan pemangkasan emisi yang agresif nan ekstrem untuk mencapai kondisi tersebut.

    Baca: Pentingnya green skill untuk hadapi perubahan iklim

    Jika gagal, kita bakal melampaui target Perjanjian Paris dalam satu dekade mendatang ataupun sesudahnya.

    Katakanlah itu batasan itu sudah kita lewati. Apakah artinya kita sudahi saja aksi iklim di dunia ini?

    Jangan sampai begitu. Kenaikan suhu 1,5℃ saja sudah buruk, apalagi 1,6℃. Pemanasan global 2℃ lebih buruk lagi. Kenaikan suhu 3℃ akan tak terbayangkan. Setiap pergerakan suhu akan sangat krusial.

    Sedekat mungkin kita dengan batas itu–-sekalipun sudah terlewat–-masih lebih baik.

    Saat ini, ada bukti menggembirakan bahwa sekalipun kita sudah melampaui 1,5℃, kita masih bisa membalikannya dengan mengakhiri pelepasan emisi gas rumah kaca dan menyedot kelebihannya di atmosfer.

    Upaya ini seperti membalikkan kapal kontainer raksasa-–membutuhkan waktu untuk mengatasi kelambanan kita. Namun, secepat mungkin kita berusaha, maka akan lebih baik.

    Penulis: , Associate Professor, School of Earth, Atmosphere and Environment, Monash University dan  Postdoctoral Research Fellow in Atmospheric Sciences, Monash University