7cloud.asia – Peneliti PR Limnologi dan Sumber Daya Air pada OR Kebumian dan Maritim Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Awalina Satya mendorong pemanfaatan mikroalga untuk mengatasi tingginya emisi karbon.
Hal tersebut disampaikannya dalam Ngaji Bersama Behavioral and Circular Economics atau Ngabers Circo#7 The 10th Thee Kian Wie Lecture Series #02 yang diselenggarakan oleh PR Ekonomi Perilaku dan Sirkuler pada OR Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, April 2025 silam.
Mikroalga adalah tumbuhan dengan ukuran kecil dan tidak berbunga, hidup di air, hanya semacam single cell, tapi ada juga yang selnya banyak dan dikenal sebagai lamun.
Mikroalga juga sangat beragam, di dunia ada sekitar 100.000 spesies, tapi baru 30 persen saja yang berhasil diidentifikasi, kurang dari 20 jenis yang bisa dieksploitasi atau dimanfaatkan.
“Jadi bayangkan seberapa besar potensi mikroalga ini, dan yang lebih mind blowing lagi dia merupakan rantai produsen primer yang terbesar di dunia. Selama ini kita mendengar produsen primer ya dari beberapa di biosfer ini ada mikroalga ini, dan 70 persen dari oksigen yang ada di atmosfer kita sekarang ini dihasilkan oleh mikroalga ini,” katanya
Baca: Pengembangan mikroalga untuk menangkap karbon dan mitigasi perubahan iklim
Menurutnya, mikroalga bukan hanya mampu memfiksasi karbon, tetapi juga menghasilkan produk yang bernilai tinggi. Jika melihat kemampuan mikroalga menyerap CO2, maka dia menjadi salah satu sumber daya yang bisa dimanfaatkan.
Awalina memaparkan, salah satu contoh penelitian yang dilakukan timnya, diperkirakan produktivitas biomassa tersebut mencapai 70 ton per hektare per tahun.
Angka ini dihasilkan dari 5 tahun pengamatan mereka terhadap aspek kultivasi mikroalga dengan fotobioreaktor yang sedang dilakukan.
”Kami mampu menghasilkan 70 ton per hektar per tahun, di mana 70 persennya itu adalah protein dalam bobot kering. Kami bisa melihatnya bahwa dia bisa menangkap karbon, sekaligus menangani kekurangan gizi atau dengan pemenuhan protein,” terangnya.
Dari hasil fotosintesis yang dilakukan mikroalga, mereka bisa tumbuh dengan sangat subur di laut, kemudian di brakish water seperti air payau, bahkan di sistem pengolahan air limbah.
Baca: Pemanfaatan mikroalga Sianobakteria untuk perbaiki kesuburan tanah marginal
“Tumbuhan ini mampu hidup dan berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Dari bentuk dan ukuran selnya orang menggolongkan dia menjadi dua jenis yaitu mikroalga dan makroalga,” paparnya.
Mikroalga ini, lanjut Awalina, umumnya bersel tunggal, sedangkan makroalga itu multisel. Produktivitas biomassa mikroalga lima kali lebih besar dibandingkan tumbuhan darat pada umumnya. Jadi dia cepat sekali berkembang dan jumlahnya banyak, biodiversitasnya juga tinggi, dan bentuknya juga cantik-cantik.
Awalina menjelaskan, dikenal ada dua mikroalga, yaitu ada yang Prokaryotic misalnya Cyanophyta (Cyanobacteria) dan eukaryotic. Prokaryotic ini berarti di dalam inti selnya itu tidak ada membrannya Sedangkan kalau eukaryotic ini ada membrannya.
“Jadi Cyanophyta ini umurnya juga tua, 2 juta tahun dan menghasilkan oksigen yang besar pada saat bumi pertama kali terbentuk,” urainya.
Ia menjelaskan, mikroalga Cyanobacteria merupakan mahluk berfotosintesis yang sangat superior karena dia sanggup mengkonversi 10 persen dari energi cahaya itu menjadi biomassa. Sedangkan tanaman pertanian umumnya hanya 1 persen saja untuk konversi dari cahaya matahari ini menjadi biomassa.
“Keisitimewaan lain Cyanobacteria, dia menambahkan, kemampuannya dalam mengcapture CO2 nya lebih tinggi. Dia juga disebut sebagai excellent cell factory karena mampu memanen cahaya matahari, mengubah CO2 atmosfer menjadi produk-produk yang berguna,” tuturnya.
Baca: Gedung bertenaga alga jadi salah satu solusi kota atasi perubahan iklim
