Tag: kardinal

  • Konklaf: Proses Pemilihan Paus Baru Pengganti Paus Fransiskus

    Konklaf: Proses Pemilihan Paus Baru Pengganti Paus Fransiskus

    7cloud.asia – Perhatian umat Katolik dunia kini tertuju pada proses pemilihan Paus yang baru setelah Paus Fransiskus dimakamkan pada Sabtu (26/4/20250).

    Proses pemilihan Paus baru ini dilakukan melalui Konklaf Kepausan, sebuah ritual berusia ratusan tahun yang penuh dengan tata cara sakral dan nilai sejarah yang mendalam.

    Dilansir dari Antaranews.com, pemilihan Paus dilaksanakan melalui ritual tertutup dan khidmat di Kapel Sistina yang dikenal sebagai Konklaf Kepausan. Proses suci ini dipimpin oleh Kolegium Kardinal, yang merupakan hierarki tertinggi dalam Gereja Katolik.

    Dari 252 kardinal yang tersebar di seluruh dunia, hanya 138 kardinal berusia di bawah 80 tahun yang berhak ikut serta dalam pemungutan suara.

    Meski secara teknis setiap laki-laki Katolik yang telah dibaptis memenuhi syarat untuk menjadi Paus, dalam praktiknya, jabatan ini selalu diduduki oleh seorang kardinal senior.

    Menyusul pemakaman Paus Fransiskus, para kardinal akan memasuki masa isolasi total di Kapel Sistina, terputus dari segala kontak dengan dunia luar, untuk menentukan pemimpin spiritual bagi lebih dari 1,3 miliar umat Katolik sedunia.

    Baca: Rangkaian upacara pemakaman Paus Fransiskus

    Proses konklaf umumnya baru dimulai 15-21 hari setelah wafatnya Paus. Masa jeda ini memberikan waktu yang cukup untuk Kardinal menyelesaikan dua hal.

    Pertama, menyelesaikan masa berkabung sembilan hari (novemdiales), dan kedua memungkinkan seluruh kardinal elektor dari berbagai penjuru dunia tiba di Vatikan.

    Lebih lanjut proses pemilihan Paus dilaksanakan dengan penuh simbolisme dan ketatnya kerahasiaan, di mana setiap harinya dilakukan maksimal empat sesi pemungutan suara.

    Seperti dijelaskan Konferensi Uskup Katolik Amerika Serikat, seorang calon harus meraih dukungan minimal dua pertiga suara untuk dapat terpilih sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik.

    Dalam suasana khidmat, para kardinal memberikan suara secara rahasia. Sebelum memberikan suara, masing-masing kardinal terlebih dahulu berdoa di hadapan mahakarya Michelangelo “Penghakiman Terakhir” yang menghiasi Kapel Sistina.

    Baca: Paus Fransiskus meninggalkan reformasi dan kontroversi

    Proses sakral ini bisa berlangsung singkat dalam hitungan hari. Namun, sejarah mencatat beberapa konklaf memakan waktu hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

    Bahkan pernah terjadi kasus langka, di mana seorang kardinal meninggal dunia saat konklaf masih berlangsung.

    Setiap lembar surat suara dihitung secara cermat oleh kardinal yang ditugaskan khusus, kemudian dibakar dalam tungku khusus. Dari pembakaran inilah muncul isyarat yang dinanti seluruh dunia.

    Asap hitam menandakan belum ada keputusan, sementara asap putih menjadi kabar gembira bahwa Gereja telah mendapatkan Paus baru.

    Konklaf merupakan hal yang dinantikan oleh masyarakat dunia terutama umat gereja katolik untuk mengisi kekosongan sejak wafatnya Paus Fransiskus.