Tag: karst

  • Kekeringan di Lhoknga Aceh Besar, Pakar ingatkan Pentingnya Konservasi Wilayah Karst

    Kekeringan di Lhoknga Aceh Besar, Pakar ingatkan Pentingnya Konservasi Wilayah Karst

    7cloud.asia – Akademisi Universitas Serambi Mekkah (USM) Aceh TM Zulfikar menyatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar perlu memperbaiki wilayah karst di kawasan Lhoknga, sebagai solusi mencegah kekeringan yang terus berulang.

    “Perlu perbaikan wilayah karst yang sudah mulai rusak dan tidak lagi mampu menyimpan air,” katanya di Banda Aceh, Rabu (10/7/2024).

    Sebagai informasi, Pemkab Aceh Besar telah memberlakukan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan menyusul terjadinya warga kesulitan air bersih di wilayah Kecamatan Lhoknga.

    Penetapan status bencana tersebut agar penanganan dapat dilakukan secara komprehensif dan keberlanjutan.

    Dosen teknik lingkungan USM itu mengatakan kekeringan di Aceh Besar itu hampir setiap tahunnya terjadi, maka diperlukan langkah jangka panjang untuk mengatasi permasalahan tersebut.

    Baca Juga: Perubahan Iklim Berdampak ke Lahan Kering dan Mengancam Produksi Pangan

    Karena itu, lanjutnya, perlu perencanaan program, seperti perlindungan sumber air di wilayah sungai yang mengalir ke Daerah Aliran Sungai (DAS) sekitar Lhoknga

    Antara lain melalui upaya konservasi sumber daya air, termasuk strategi pengendalian daya rusak air, pendayagunaan sumber daya air, dan sistem informasi yang mampu diakses para pihak.

    Selain itu, kata dia, juga diperlukan rencana pengelolaan air secara terpadu. Karena kedepannya kekeringan ini tidak hanya terjadi di kawasan Lhoknga saja, besar kemungkinan juga di kecamatan lainnya.

    “Maka semua ini perlu dikomunikasikan, termasuk sumber daya dan dananya. Baik dengan pihak provinsi maupun nasional sesuai kewenangannya,” ujar TM Zulfikar.

    Untuk jangka pendek, kata dia, Pemkab Aceh Besar perlu menyiapkan rencana penanggulangan, termasuk bagaimana mitigasi bencana dengan melibatkan berbagai pihak terkait.

    Baca Juga: Catat! Hari Ini Diperingati sebagai Hari Memerangi Penggurunan dan Kekeringan

    “Kemudian, kekurangan air saat ini juga harus diatasi dengan berbagai tindakan cepat, seperti penyiapan kolam-kolam penampungan dan pembersihan sumber air wilayah sungai yang belum kering,” katanya.

    Dalam kesempatan ini TM Zulfikar juga meminta Penjabat (Pj) Bupati Aceh Besar perlu memastikan jumlah total masyarakat yang kekurangan air di Kecamatan Lhoknga, sehingga ketersediaan air yang ada benar-benar cukup untuk korban kekeringan.

    Ia mengingatkan jangan sampai terjadi overlap, dimana hanya orang-orang tertentu saja yang dilayani kebutuhan air, sementara ada masyarakat yang paling membutuhkan justru tidak terlayani.

    “Hindari konflik baik vertikal maupun horisontal, termasuk bagaimana peran dan tanggung jawab perusahaan di sekitar wilayah tersebut dalam membantu pemerintah,” kata TM Zulfikar.

    Sumber:Antaranews.com

  • KLH: Lindungi Kawasan Karst Berarti Menjaga Keseimbangan Lingkungan

    KLH: Lindungi Kawasan Karst Berarti Menjaga Keseimbangan Lingkungan

    7cloud.asia – Perlindungan kawasan karst harus menjadi perhatian dalam kebijakan lingkungan daerah utamanya untuk tetap menjaga keseimbangan alam.

    Hal ini diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menanggapi banjir yang melanda sejumlah daerah akibat rusaknya kawasan karst di Daerah Istimewa Yogyakarta

    Karst adalah bentang alam yang terbentuk karena pelarutan air pada batuan gamping atau dolomit, ditandai oleh fitur-fitur seperti lubang, cekungan tertutup, dan gua.

    Dilansir dari pslh.ugm.ac.id, Karst merupakan wilayah dengan hidrologi unik dan memiliki berbagai manfaat bagi kelangsungan ekosistem. Selain sumber daya air tanahnya yang penting, manfaat ekonomi karst lainnya antara lain, yaitu sumber daya mineral, batuan dan hutan.

    Selain sumber daya di atas, sistem karst menyediakan sejumlah layanan ekosistem lainnya, misalnya penyerapan karbon. Kawasan karst juga merupakan ekosistem yang berharga, menyediakan habitat khusus dan mengandung tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi.

    Baca: Pakar ingatkan pentingnya konservasi wilayah karst

    Berbagai spesies, termasuk beberapa spesies langka dan endemik, hadir baik di permukaan maupun di bawah tanah.

    Fauna yang tidak biasa yang berkembang di lingkungan bawah permukaan yang kekurangan cahaya berkisar dari bakteri hingga krustasea, laba-laba, ikan, dan mamalia kecil.

    “Bencana banjir yang terjadi akhir Maret 2025 kemarin harus menjadi peringatan. Karst bukan hanya batu – dia menyimpan air, menopang kehidupan, dan mencerminkan keseimbangan alam,” kata Hanif dalam siaran pers Humas KLH/BPLH, Senin (21/4/2025).

    Menteri LH telah meninjau pelaksanaan pemulihan lingkungan di kawasan ekosistem karst Gunung Sewu Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang menandai komitmen kuat pemerintah dalam pengelolaan lahan bekas tambang menjadi ruang hidup dan ekonomi yang berpihak pada masyarakat.

    “Masyarakat mencoba mentransformasikan diri dari kegiatan yang eksploitatif terhadap batu gamping menjadi konservasi, tidak gampang merubah hal ini, maka saya sangat mendukung dan menghargai yang telah dilakukan masyarakat di sini dalam menjaga keseimbangan ekosistem,” katanya.

    Wilayah karst Gunung Sewu Gunungkidul merupakan kawasan lindung strategis nasional yang luasnya mencapai lebih dari 75.000 hektare. Namun, sejarah panjang aktivitas penambangan batu gamping telah meninggalkan luka ekologis.

    Baca: Mengenal kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat

    Oleh karena itu, melalui pendekatan regeneratif, KLH/BPLH bersama pemerintah daerah dan masyarakat kini menghadirkan solusi pemulihan yang tak hanya fokus pada aspek ekologis, tetapi juga memulihkan martabat dan keberdayaan warga.

    “Karst merupakan kawasan yang penting, karena stok karbon dunia, bila terganggu maka berbahaya, karena nilai karbonnya lebih tinggi daripada pohon,” kata Hanif.

    Lokasi yang dikunjungi adalah Pasar Ekologis Argo Wijil di Desa Gari, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, yang merupakan bekas lokasi tambang aktif dari tahun 1976 hingga 2006 yang kini disulap menjadi pusat ekonomi desa.

    Saat ini, pasar yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat tersebut dapat menghidupkan kembali aktivitas ekonomi warga, melibatkan puluhan pedagang lokal yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan mantan penambang.

    Di lokasi ini bukan hanya menanam pohon atau membangun embung, tetapi juga dibangun kemandirian ekonomi masyarakat.