Tag: kartini

  • Membaca Pemikiran Kartini Lewat “Habis Gelap Terbitlah Terang”

    Membaca Pemikiran Kartini Lewat “Habis Gelap Terbitlah Terang”

    7cloud.asia – Sebentar lagi kita akan memperingati Hari Kartini. Hari Kartini diperingati bertepatan dengan hari kelahiran Raden Ajeng Kartini yakni tanggal 21 April 1879.

    Mungkin banyak dari kita yang sudah tahu siapa Kartini, pejuang emansipasi kelahiran Jepara Jawa Tengah. Namun, apakah kita sudah menyelami lebih dekat pemikiran dan cita-cita Kartini bagi kemajuan perempuan Indonesia?

    Pemikiran Kartini tertuang dalam korespondensinya dengan pasangan suami istri Jacques Henrij Abendanon dan sahabatnya Estella yang kemudian dibukukan dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

    Salah satu pemikiran Kartini yang banyak dikenal publik adalah bagaimana membuat perempuan maju dan mempunyai kesempatan belajar dan memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki. 

    Menurut Kartini, pendidikan bagi perempuan sangat penting, karena mendidik perempuan berarti mendidik bangsa. Dengan kondisi saat itu, di mana pengasuhan anak menjadi tanggung jawab penuh perempuan, maka mendidik perempuan juga mendidik generasi yang akan datang. 

    “Ibu adalah pusat kehidupan rumah tangga. Kepada mereka dibebankan tugas besar mendidik anak-anaknya, pendidikan akan membentuk budi pekertinya,” demkian salah satu kutipan Kartini tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. 

    Baca: Menghapus pemikiran seksis di industri film nasional

    Suluh perempuan.org menulis, pemikiran Kartini makin luas dan mendalam saat ia dikenalkan dengan Jacques Henrij Abendanon atau yang lebih dikenal dengan J. H. Abendanon pada 1900.

    Abendanon adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda (Indonesia) yang menjabat sampai tahun 1905. Bersama istrinya, Rosa Manuela, Abendanon mempunyai andil yang cukup besar dalam kehidupan Kartini. 

    Awalnya, Abendanon ditugaskan Kerajaan Belanda dengan berbagai misi. Salah satu fokusnya saat itu adalah pendidikan perempuan. Lantaran tidak familiar dengan Hindia Belanda, Abendanon pun meminta bantuan Snouck Hourgonje.

    Snouck menyarankan jika Abendanon ingin membahas soal pendidikan perempuan, sebaiknya ia berkenalan dengan anak-anak Bupati Jepara. Mereka adalah Kartini dan kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah.

    “Tahukah Anda apa yang ada di pikiran perempuan Jawa? Mereka hidup hanya untuk menikah. Tidak peduli menjadi istri ke berapa,” ungkap Kartini pada Abendanon. Dari situlah tampaknya Abenanon yakin bahwa Kartini adalah perempuan dengan pemikiran hebat.

    Kartini pun rajin bersurat dengan Abendanon dan istrinya, Nyonya Abendanon untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya, serta pendapat-pendapatnya mengenai perempuan di Tanah Jawa.

    Kartini bersama adik-adiknya juga rajin mengikuti bimbingan mengenai gagasan etis yang diberikan oleh Nyonya Abendanon di rumahnya.

    Meski sempat kecewa dengan Nyonya Abendanon karena dinilai menghalangi mimpi Kartini dan adik-adiknya untuk sekolah ke Belanda, namun Kartini mendapatkan banyak pengetahuan baru yang bisa membuat pikirannya menjadi semakin maju dan berkembang.

    Setelah Kartini wafat, Jacques Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

    Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

    Mengenal pemikiran Kartini

    Dalam surat-suratnya, Kartini menuangkan pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.

    Kartini ingin perempuan memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

    Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa.

    Saat mencari teman korespondensi, Kartini dengan jelas menyebutkan bahwa ia adalah anak perempuan seorang Bupati Jepara di Hindia Belanda (sebutan lama untuk Indonesia). Kartini mencari sosok teman perempuan untuk dapat saling surat menyurat dan bertukar pikiran.

    Teman yang dicarinya harus berasal dari Belanda dan sebaya dengannya. Selain itu, sosok yang ia cari juga harus mempunyai kepedulian terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di Eropa. Iklannya tersebut kemudian mendapatkan respon dari Stella. Sejak saat itu, keduanya sering berkirim surat dan saling bertukar pikiran hingga akhir hayat Kartini.

    Salah satu isi surat Kartini kepada Stella yang paling populer adalah berikut ini:

    “Saya ingin berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri… yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia.” (Surat Kartini kepada Stella H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

    Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas dan merdeka untuk terus bersekolah. Pada usia tertentu, perempuan harus menerima nasib untuk dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia menjadi madu.

    “Tahukah Anda apa yang ada di pikiran perempuan Jawa? Mereka hidup hanya untuk menikah. Tidak peduli menjadi istri ke berapa,” ungkap Kartini pada Abendanon. 

    Surat-surat Kartini juga mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi perempuan Jawa bercita-cita menjadi perempuan yang lebih maju.

    Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk menjadi maju tetap tertutup.

    Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini.

    Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

    Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, juga terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut.

    Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

    Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah.

    “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

    Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Kartini mulai menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu.

    Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputera saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

    Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, namun dia lebih memilih berkorban demi keinginan ayahnya -mengikuti kehendak patriarki yang selama ini ditentangnya- dan menikah dengan Adipati Rembang.

    Kartini meninggal pada 17 September 1904 dalam usia yang masih sangat muda yakni 25 tahun. Namun jejak pemikiran yang ditinggalkannya masih tetap relevan hingga saat ini dan mungkin nanti.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

     

     

     

  • Pembacaan Surat Kartini Jadi Atraksi Menarik di Hari Kartini

    Pembacaan Surat Kartini Jadi Atraksi Menarik di Hari Kartini

    7cloud.asia – Manneke Budiman, Guru Besar Ilmu Sastra dan Kajian Budaya Universitas Indonesia yang juga visitor researcher BRIN mengatakan, Kartini adalah sosok pahlawan nasional yang medan perjuangannya yang paling kompleks dengan memilih cara yang berbeda.

    Hal itu diungkapkan Manneke saat turut menafsir surat-surat Kartini, dalam kegiatan pembacaan surat-surat Raden Ajeng Kartini  yang dikemas dalam tema Cahaya di Langit Jepara, Senin (17/4/2023).

    Acara ini dilakukan Sivitas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dari 70 Pusat Riset (PR) dan  digagas oleh Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra bertepatan dengan peringatan Hari Kartini yang diperingati 21 April. 

    Para sivitas arkelogi, bahasa, dan sastra dari berbagai wilayah di Indonesia yang bergabung dalam umat Arbastra, berkumpul secara daring menyemarakkan kegiatan ini.

    Dirilis di laman resmi BRIN, ada sejumlah 19 pembaca tampil dalam kegiatan ini. Kepala OR Arbastra, Herry Jogaswara sebagai pembuka membacakan Surat Stella Zeehandelaar tanggal 25 Mei 1899, sebuah surat yang sangat menarik terkait dengan tradisi.

    Dalam surat tersebut tergambar bagaimana tradisi timur yang kokoh dan kuat. Kartini menyinggung emansipasi sejak belum memiliki makna, yang kemudian terbayang dalam kerinduan akan kebebasan dan kemerdekaan. Herry berharap para peserta mendapatkan inspirasi dari kegiatan tersebut.

    “Kita dapat menafsir ulang, membaca, dan memaknai. Dalam hal ini, Arbastra mempunyai peneliti yang peduli secara mendalam terhadap aspek bahasa dan sastra, peradaban, serta rumpun ilmu lainnya,” ungkapnya. 

    Pembacaan surat Kartini dilanjutkan oleh sivitas lainnya, seperti Ade Mulyanah, Katubi, Fakhriati, Suryami, Yeni Mada, Eka Julia, Nofri F, Sonya Martha, Helmina K, Darmawati M, Erwin S, Nensia, Muhammad Isneni, Baso Marannu, Antin Ferdianto, Resti Nurfaidah, Katrynada J, Nurul Adliyah, dan Klementin. 

    Kegiatan ini juga melibatkan visitor researcher BRIN, Manneka yang turut menafsir surat-surat Kartini. 

    “Tidak seperti pejuang lainnya yang terjun di medan perang. Ia memilih mengekspresikan gagasan, aspirasi, dan impian dalam bentuk surat, di mana teknik yang dominan disebut dengan epistoler,” urai Manneke. 

    Dengan teknik tersebut, Kartini bercerita dengan sangat pribadi tentang hal-hal yang tidak mungkin diungkap di publik. Tapi pada saat yang sama, teknik ini memungkinkan penulis bicara jujur tanpa rasa ketakutan.

    Menurutnya, teknik epistolar yang dibawakan Kartini banyak membawa solusi. Contohnya, dengan fasih dia harus menggunakan bahasa penjajahnya, untuk mengukuhkan bahwa dia menguasai bahasa penguasanya, alias penjajahnya. 

    Dituturkan Manneke, dalam pandangan politisnya, Kartini melihat bahwa kaum perempuan belum terbebaskan, belum mempunyai kesetaraan, masih hidup dalam perbedaan.

    Jalan yang dipilih ini membuat perjuangan Kartini menjadi tidak mudah karena Kartini dituding memiliki perjuangan yang sempit. Ia dianggap hanya memikirkan perempuan di kala negara sedang berjuang melawan Belanda. 

    Disampaikan Manneke, berbagai lapisan dilema dihadapi Kartini. Kartini saat itu dipandang seolah ingin menghancurkan tradisi yang sudah dianggap sebagai  kemapanan yang seharusnya dilindungi oleh bangsanya sendiri yaitu bangsa ningrat.

    Sebagaimana diungkapkan dalam dialog antara dia dan ibunya, yang direkam dalam surat Abendanon. Tergambar bahwa Kartini mengungkapkan kepada ibunya, dia tidak berjuang untuk dirinya sendiri, tapi untuk para perempuan Jawa lainnya. 

    Dalam hal ini, Manneke mengulas, bahwa perempuan adalah penjaga, pengusung, bahkan pelestari penindasan. Penindasan dalam hal ini bukan fisik akan tetapi kebodohan. Perempuan sebagai pengawal peradaban menjadi pintu masuk bagi pembebasan seluruh bangsa dari penderitaan dan penindasan.

    “Sehingga tidak ada kontradiksi bagi emansipasi perempuan, karena ini suatu perjuangan untuk seluruh bangsa,” anggap Manneke.

    Sementara, Eva Tuckyta S. menyampaikan pandangan, Kartini sebagai sosok yang mengajarkan kita bermimpi, bersemangat dalam meraih cita-cita. Sebagaimana ia kutip dalam salah satu surat Kartini untuk Abendanon, berikut ini:

    Teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi…” demikian tulis Kartini dalam salah satu suratnya. 

    Eva mengatakan, Kartini seorang perempuan yang sangat mendambakan kemandirian, terutama kemandirian dalam dunia pendidikan.

    “Ia mengajarkan kita betapa pentingnya pendidikan, pendidikan bagi para perempaun di tanah air tercinta. Seperti dalam suratnya, saya pandang pendidikan itu sebagai kewajiban yang demikian mulia dan suci,” paparnya.

    Setelah 144 tahun sejak Kartini lahir, semangat Kartini telah menginspirasi para perempuan Indonesia. Perjuangan Kartini telah memberikan banyak manfaat bagi perempuan Indonesia.

    Dan, jejak emansipasi itu bisa diakses dalam surat-surat Kartini, yang kini mudah diakses dan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa yang memungkinkan bisa dibaca lintas generasi. 

    Epilog dari kegiatan disampaikan Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas, Ade Mulyanah dengan menyampaikan informasi 106 surat kartini diterbitkan dalam Buku Habis Gelap Terbitlah Terang Digambarkan, Kartini sebagai figur intelektualitas perempuan ningrat jawa dengan pandangan dan pemikiran tentang kesetaraan wanita yang tetap punya ruang di antara kaum pria. Kartini adalah seorang penulis hebat yang memiliki adik cerita luar biasa. Kisah Kartini agar selalu menjadi inspirasi para perempuan Indonesia. Selamat Hari Kartini! 

    Kartini Gagas Perjuangan melalui Pesan Bahasa dan Seni

    Dikatakan oleh pewara, Darmawati Majid, Kartini dihormati bukan karena kebangsawanannya. Ia berhasil menarik perhatian masyarakat untuk mengusahakan pendidikan formal bagi perempuan Indonesia.

    Kartini dikenal sebagai tokoh perempuan yang penuh ide dengan daya juangnya di dunia pendidikan dan emansipasi. Kartini banyak mengingatkan dan mencatat konteks historis politik, sosial, budaya, dan bidang lainnya. Ia mengungkapkan gagasannya melalui kecintaannya dengan bahasa dan seni. 

    Mengutip,  pandangan sastrawan kenamaan Pramudya Ananta Tour atau Pram, Darmawati menyebutkan, Kartini adalah awal mula kebangkitan nasional di Indonesia, bahkan sebelum syarikat islam Budi Utomo. 

    Tampil dalam pembacaan surat-surat Kartini, Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko. Ia membacakan surat Kartini yang ditujukan kepada sahabat penanya, Rosa Abendanon tertanggal 28 Februari 1902.

    Surat yang dibacakannya menyuarakan agar untuk terus bermimpi menggapai sesuatu. Digambarkan, bagaimana orang berpikir, memberi ampun, dan harus punya mimpi. Surat ini menekankan manusia bukan benda mati, ia dapat berpikir dan merasakan, keduanya harus imbang.

    Pembacaan dilanjutkan oleh Plt. Sekretaris Utama, Nur Tri Aries S. Ia juga membacakan surat untuk Rosa Abendanon tertanggal 7 Oktober 1900 yang menginginkan kebebasan untuk mandiri.

    Selanjutnya, Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan, Sastri Sunarti membacakan satu prolog tentang mengapa Kartini itu penting. Dituturkan Sastri, Kartini merupakan perempuan pertama Indonesia yang memiliki akses terhadap kebersamaan.

    Ia memang tidak ikut mengangkat senjata di medan perang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan hindia Belanda.  Ia juga bukan seseorang yang tampil di muka publik melalui pidato-pidatonya.

    “Namun pada masa itu, ia menggunakan retorika yang dikuasai bangsa Eropa melalui tulisan-tulisan hasil pemikirannya,” jelasnya.

    Selama tiga tahun, diceritakannya, Kartini menuliskan surat-surat untuk mengungkapkan kegelisahannya kepada para sahabat Belanda yang menjadi khalayak sasarannya sebagai orang-orang Eropa yang menjajah Indonesia.

    Meskipun ia seorang putri bangsawan Jawa, sebagai putri kraton yang selayaknya hidup nyaman, namun Kartini berjuang menjadi pencetus pergerakan indonesia, menyuarakan hak wanita. 

    Kemudian, pembacaan puisi juga dikemas dengan kompak oleh empat orang kamu pria yang merupakan para Kepala Pusat Riset (Pusris) di lingkungan OR Arbastra. Kekompakan itu ia ramu dalam sebuah gagasan cinta, empati, dan persahabatan. Para

    Kepala Pusris ini yaitu Sofyan Noerwidi, Wuri Handoko, Irfan Mahmud, dan Marlon Ririmasse. Pembacaan dilanjutkan oleh duo perempuan sivitas BRIN yang berasal dari Papua dan Aceh, sebagai suara Kartini Indonesia dari pelosok. Para perempuan pembawa peradaban ini membacakan cerita pendek yang dituliskan Kartini. Mereka yaitu Klementin Fairyo dan Fakhriati.

     

  • Mengenang Pemikiran Kartini: Mendidik Perempuan Berarti Mendidik Satu Bangsa

    Mengenang Pemikiran Kartini: Mendidik Perempuan Berarti Mendidik Satu Bangsa

    7cloud.asia – Hari ini, Minggu (21/4/2024) kita kembali merayakan Hari Kartini pejuang emansipasi perempuan Indonesia

    Setiap Hari Kartini dipringati, pemikiran Kartini soal kesetaraan perempuan selalu diangkat.

    Dan, di peringatan Hari Kartini hari ini 7cloud.asia mengajak pembaca untuk sejenak menggali pemikiran Kartini tentang kesetaraan perempuan.

    Salah satu pemikiran Kartini yang banyak dikenal publik adalah bagaimana membuat perempuan maju dan mempunyai kesempatan belajar dan memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki.

    Menurut Kartini, pendidikan bagi perempuan sangat penting, karena mendidik perempuan berarti mendidik bangsa. Dengan kondisi saat itu, di mana pengasuhan anak menjadi tanggung jawab penuh perempuan, maka mendidik perempuan juga mendidik generasi yang akan datang.

    “Ibu adalah pusat kehidupan rumah tangga. Kepada mereka dibebankan tugas besar mendidik anak-anaknya, pendidikan akan membentuk budi pekertinya,” demkian salah satu kutipan Kartini tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan.

    Baca Juga: Munas Perempuan 2024 Soroti 9 Isu Penting Terkait Perempuan

    Pemikiran Kartini ini tertuang dalam korespondensinya dengan pasangan suami istri Jacques Henrij Abendanon dan sahabatnya Estella yang kemudian dibukukan dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

    Dalam surat-suratnya, Kartini menuangkan pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi.

    Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.

    Kartini ingin perempuan memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid

    (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

    Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. 

    Baca Juga: Munas Perempuan 2024: Ketika Partispasi Bermakna Perempuan dan Disabiiitas Diabaikan

    Dalam surat perkenalannya dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa.

    Saat mencari teman korespondensi, Kartini dengan jelas menyebutkan bahwa ia adalah anak perempuan seorang Bupati Jepara di Hindia Belanda (sebutan lama untuk Indonesia).

    Kartini mencari sosok teman perempuan untuk dapat saling surat menyurat dan bertukar pikiran. Teman yang dicarinya harus berasal dari Belanda dan sebaya dengannya.

    Selain itu, sosok yang ia cari juga harus mempunyai kepedulian terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di Eropa. Iklannya tersebut kemudian mendapatkan respon dari Stella. Sejak saat itu, keduanya sering berkirim surat dan saling bertukar pikiran hingga akhir hayat Kartini.

    Salah satu isi surat Kartini kepada Stella yang paling populer adalah keinginannya untuk menemukan teman sesama perempuan yang berpikiran maju.

    “Saya ingin berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri… yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia.” (Surat Kartini kepada Stella H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

    Baca Juga: Generasi Muda yang Menunda Menikah di Indoneia Terus Meningkat

    Kartini menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas dan merdeka untuk terus bersekolah.

    Pada usia tertentu, perempuan harus menerima nasib untuk dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia menjadi madu.

    “Tahukah Anda apa yang ada di pikiran perempuan Jawa? Mereka hidup hanya untuk menikah. Tidak peduli menjadi istri ke berapa,” ungkap Kartini pada Abendanon.

    Surat-surat Kartini juga mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi perempuan Jawa bercita-cita menjadi perempuan yang lebih maju.

    Suluh perempuan.org menulis, pemikiran Kartini makin luas dan mendalam saat ia dikenalkan dengan Jacques Henrij Abendanon atau yang lebih dikenal dengan J. H. Abendanon pada 1900.

    Abendanon adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda (Indonesia) yang menjabat sampai tahun 1905. Bersama istrinya, Rosa Manuela, Abendanon mempunyai andil yang cukup besar dalam kehidupan Kartini.

    Baca Juga: Lebih 1 Juta Anak Perempuan di Afghanistan Dilarang Sekolah

    Awalnya, Abendanon ditugaskan Kerajaan Belanda dengan berbagai misi. Salah satu fokusnya saat itu adalah pendidikan perempuan. Lantaran tidak familiar dengan Hindia Belanda, Abendanon pun meminta bantuan Snouck Hourgonje.

    Snouck menyarankan jika Abendanon ingin membahas soal pendidikan perempuan, sebaiknya ia berkenalan dengan anak-anak Bupati Jepara. Mereka adalah Kartini dan kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah.

    “Tahukah Anda apa yang ada di pikiran perempuan Jawa? Mereka hidup hanya untuk menikah. Tidak peduli menjadi istri ke berapa,” ungkap Kartini pada Abendanon.

    Dari situlah tampaknya Abenanon yakin bahwa Kartini adalah perempuan dengan pemikiran hebat dan jauh melampaui zamannya.

    Kartini dan Abendanon dan istrinya, Nyonya Abendanon pun rajin berkorespodensi untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya, serta pendapat-pendapatnya mengenai perempuan di Tanah Jawa.

    Kartini bersama adik-adiknya juga rajin mengikuti bimbingan mengenai gagasan etis yang diberikan oleh Nyonya Abendanon di rumahnya.

    Baca Juga: Puan Maharani Didapuk Menjadi Duta IPU untuk Promosi Kepemimpinan Perempuan di Parlemen

    Meski sempat kecewa dengan Nyonya Abendanon karena dinilai menghalangi mimpi Kartini dan adik-adiknya untuk sekolah ke Belanda, Kartini mendapatkan banyak pengetahuan baru yang bisa membuat pikirannya menjadi semakin maju dan berkembang.

    Setelah Kartini wafat, Jacques Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

    Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

    Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk menjadi maju tetap tertutup.

    Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini.

    Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

    Baca Juga: Pemilu 2024: Sulitnya Perempuan Masuk ke Parlemen

    Keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan ke Eropa, juga terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut.

    Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya.

    Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

    Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah.

    “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

    Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Kartini mulai menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu.

    Baca Juga: Perang Gender: Mengapa Perempuan Korea Menolak Menikah?

    Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputera saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

    Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi.

    Bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban demi keinginan ayahnya -mengikuti kehendak patriarki yang selama ini ditentangnya- dan menikah dengan Adipati Rembang.

    Kartini meninggal pada 17 September 1904 dalam usia yang masih sangat muda yakni 25 tahun. Namun jejak pemikiran yang ditinggalkannya masih tetap relevan hingga saat ini dan mungkin nanti.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

  • 16 Perempuan yang Diangkat menjadi Pahlawan Nasional: Tak Hanya Kartini dan Ada Sejumlah Panglima Perang

    16 Perempuan yang Diangkat menjadi Pahlawan Nasional: Tak Hanya Kartini dan Ada Sejumlah Panglima Perang

    7cloud.asia – Di Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April seperti hari ini, sebuah pertanyaan menarik terlontar di grup alumni.

    “Sejauh mana perjuangan Kartini mampu mempengaruhi pola pikir perempuan saat itu, sehingga mendorong gerakan kesetaraan di masa penjajahan tersebut?““demikian“pertanyaan“tersebut.

    Pelontar pertanyaan beralasan, meski jauh ke depan, pemikiran Kartini hanya dituangkan dalam surat-suratnya kepada JH Abendanon dan tidak dipublikasikan secara luas.

    Pun, belum ada kajian yang menyebutkan Kartini mensosialisasikan pemikirannya secara masif kepada masyarakat luas.

    “Atau pemikiran Kartini sebenarnya hanya menentang sistem feodalistik di Jawa yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Sebab, di luar Jawa ada banyak perempuan yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda,“ lanjutnya.

    Pertanyaan ini lantas memicu diskusi seru yang memunculkan nama-nama pahlawan perempuan di Indonesia yang sudah muncul sebelum era Kartini lahir.

    Baca Juga: Mengenang Pemikiran Kartini: Mendidik Perempuan Berarti Mendidik Satu Bangsa

    Saya pun tergelitik untuk mencari nama perempuan yang telah dinobatkan menjadi pahlawan nasional. 

    Berikut ini daftar pahlawan nasional perempuan di Indonesia seperti ditulis Fandi Ahmad di Gramed.com

    1. Martha Christina Tiahahu dari Maluku
    Martha Christina Tiahahu, pejuang dari Desa Abubu, Pulau Nusalaut yang lahir pada tanggal 4 Januari 1800. Waktu masih berusia 17 tahun, ia sudah berani mengangkat senjata melawan penjajah Belanda.

    Tak hanya itu, Martha Christina Tiahahu juga selalu memberi semangat pada kaum perempuan untuk membantu laki-laki di medan pertempuran.

    Sedihnya, sang ayah, Kapitan Paulus Tiahahu dijatuhi hukuman mati oleh Belanda. Sepeninggal ayahnya, kesehatan fisik dan mentalnya terganggu. Lalu, ia tertangkap bersama 39 orang lainnya dan dibawa ke Pulau Jawa dengan kapal Eversten untuk dipekerjakan paksa di perkebunan kopi.

    Namun, kondisi kesehatan Martha Christina Tiahahu memburuk selama di atas kapal. Hal ini diperparah oleh dirinya yang menolak makan dan diobati. Ia menghembuskan nafas terakhir pada 2 Januari 1818 dan disemayamkan dengan penghormatan militer ke Laut Banda.

    Baca Juga: Munas Perempuan 2024 Soroti 9 Isu Penting Terkait Perempuan

    2. Laksamana Malahayati – Aceh
    Keumalahayati, pejuang asal Kesultanan Aceh yang lahir di Aceh Besar pada tahun 1550. Perempuan tangguh ini memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid).

    Dengan keteguhan hati, mereka berperang melawan kapal dan benteng Belanda sekaligus membunuh Cornelis de Houtman. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 11 September 1599. Berkat keberaniannya, maka Malahayati mendapat gelar Laksamana.

    Namun, Malahayati gugur di tahun 1615 ketika sedang melindungi Teluk Krueng Raya dari serangan Portugis yang dipimpin oleh Laksamana Alfonso De Castro.

    3. Cut Nyak Meutia – Aceh
    Bumi rencong melahirkan banyak perempuan pejuang yang tangguh, salah satunya adalah Cut Nyak Meutia. Awalnya, ia melakukan perlawanan terhadap Belanda dengan suaminya, Teuku Muhammad.

    Tetapi, suaminya berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati pada tahun 1905. Sesuai wasiat suaminya sebelum gugur, Cut Nyak Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe.

    Mereka bertempur dengan Korps Marechausée dan membuat suaminya gugur pada 26 September 1910, tetapi Cut Nyak Meutia berhasil lolos.

    Ia terus melakukan perlawanan dengan sisa-sisa pasukannya, tetapi takdir berkata lain. Cut Nyak Meutia gugur pada 24 Oktober 1910.

    Baca Juga: Benarkah Hamil Sebeum Usia 35 Tahun Bisa Mencegah Stunting?

    4. Raden Adjeng Kartini – Jepara, Jawa Tengah
    R.A Kartini merupakan tokoh perempuan yang lahir Jepara pada tahun 1879. R.A Kartini terkenal sebagai sosok yang memperjuangkan kebangkitan perempuan di Indonesia.

    Ketika itu, ia banyak mengkritisi budaya Jawa yang menghambat perkembangan perempuan.

    Melalui surat-suratnya, ia memberikan gagasan-gagasan terkait dengan perjuangan perempuan yang masih relevn hingga saat ini.

    Bahkan, tanggal kelahiran Kartini, yaitu 21 April hingga saat ini ditetapkan sebagai hari peringatan perjuangan Kartini atau dikenal dengan Hari Kartini.

    5. Cut Nyak Dien – Aceh
    Cut Nyak Dien adalah pahlawan nasional perempuan lainnya di Indonesia. Cut Nyak Dien lahir di Lampadang Kerajaan Aceh.

    Sebagai seorang perempuan, Cut Nyak Dien berperan dalam melawan kolonialisme Belanda. Bahkan, Cut Nyak Dien ikut ke dalam medan perang melawan Belanda.

    6. Dewi Sartika dari Jawa Barat
    Selain Maria Walanda Maramis, ada juga Raden Dewi Sartika yang peduli dengan pendidikan kaum perempuan. Jasanya adalah membuat sekolah bernama Sekolah Istri di Pendopo pada 16 Januari 1904.

    Lalu, sekolah ini berganti nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Istri di tahun 1910 dan berubah lagi menjadi Sekolah Raden Dewi pada September 1929.

    Berkat jasanya dalam memperjuangkan pendidikan, Dewi Sartika dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau. Selain itu, ia juga diakui sebagai Pahlawan Nasional pada 1 Desember 1966. Dewi Sartika meninggal pada 11 September 1947.

    Baca Juga: Munas Perempuan 2024: Ketika Partispasi Bermakna Perempuan dan Disabiiitas Diabaikan

     7. Andi Depu Maraddia Balanipa -Tinambung, Polewali Mandar, Sulbar
    Andi Depu Maraddia Balanipa dikenal karena keberhasilannya dalam mempertahankan wilayahnya dari penaklukan Belanda.

    Bahkan, Andi Depu berani berhasil mengibarkan bendera Merah Putih saat pasukan Jepang datang di Mandar pada tahun 1942. Berkat keberaniannya, Andi Depu dianugerahi Bintang Mahaputra Tingkat IV dari Presiden Soekarno.

    Selain itu, Presiden Joko Widodo juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada Andi Depu dan 5 tokoh bangsa lainnya. Ini tertuang di Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123/TK/Tahun 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

    8. Maria Walanda Maramis – Minahasa, Sulut
    Tidak salah kalau Maria Walanda Maramis dijuluki sebagai Kartini dari Minahasa. Sebab, pahlawan kelahiran 1 Desember 1872 ini berupaya membebaskan perempuan dari keterbelakangan pendidikan.

    Maria sendiri sempat bersekolah di Sekolah Melayu di Maumbi, Minahasa Utara, selama tiga tahun dan tak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

    Kemudian, Maria mendirikan organisasi bernama Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) untuk memajukan pendidikan kaum perempuan.

    Lewat PIKAT, kaum perempuan dibekali ilmu untuk berumah tangga, seperti memasak, menjahit, merawat bayi, dan lainnya. Maria terus aktif di PIKAT hingga kematiannya pada 22 April 1924.

    Baca Juga: Puan Maharani Didapuk Menjadi Duta IPU untuk Promosi Kepemimpinan Perempuan di Parlemen

    9. Siti Manggopoh – Manggopoh, Agam, Sumatera Barat
    Siti Manggopoh lahir pada bulan Mei 1880. Siti Manggopoh adalah seorang pejuang perempuan dari Manggopoh, Lubuk Basung, Agam.

    Ia pernah mengobarkan perlawanannya terhadap penjajah Belanda dalam perang yang dikenal sebagai Perang Belasting

    10. HR. Rasuna Said – Maninjau, Agam, Sumatera Barat

    Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau lebih dikenal dengan nama Rasuna Said. Perannya adalah memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, sama seperti Kartini.

    Menurutnya, kemajuan kaum perempuan tidak hanya didapat dari mendirikan sekolah, tetapi juga melakukan perjuangan politik.

    Berkat pidatonya yang mengecam pemerintahan Belanda, maka ia terkena hukum Speek Delict. Hukum Speek Delict adalah hukum kolonial Belanda untuk orang yang berbicara menentang Belanda.

    Ia sempat tertangkap bersama temannya, Rasimah Ismail, dan dipenjara di Semarang pada tahun 1932.

    Setelah kemerdekaan, Rasuna Said aktif di Dewan Perwakilan Sumatera mewakili Sumatera Barat dan sempat diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS).

    Baca Juga: Pemilu 2024: Sulitnya Perempuan Masuk ke Parlemen

    11. Fatmawati Soekarno dari Bengkulu

    Fatmawati merupakan salah satu sosok perempuan yang didadpuk menjadi pahlawan nasional. Beliau adalah ibu negara pertama di Indonesia karena statusnya sebagai istri dari Presiden Soekarno.

    Fatmawati berasal dari Sumatera Barat dan memiliki keturunan dari Kesultanan Indrapura.

    Salah satu alasan gelar pahlawan diberikan kepada Fatmawati karena perannya dalam menjahit bendera merah putih untuk upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

    12. Nyi Ageng Serang – Purwodadi, Jawa Tengah

    Perempuan bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi ini adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga.

    Perempuan kelahiran tahun 1752 merupakan anak dari Pangeran Natapraja dan melawan penjajah bersama ayah dan kakaknya, Kyai Ageng Serang.

    Semangatnya yang sangat berkobar untuk membela rakyat yang dipicu oleh kematian kakaknya karena membela Pangeran Mangkubumi melawan Pakubuwono I yang dibantu Belanda.

    Bahkan, ia tak pantang menyerah walau ayah, kakak, dan suaminya telah gugur. Selain itu, Nyi Ageng Serang tetap memimpin pasukan di usia 73 tahun.

    Bahkan, Pangeran Diponegoro mengakui kehebatan Nyi Ageng Serang dalam menyusun strategi, hingga dipercaya menjadi salah satu penasihatnya. Namun, dua tahun sebelum Perang Diponegoro berakhir, Nyi Ageng Serang meninggal dunia di usia 76 tahun akibat wabah penyakit malaria.

    Baca Juga: Koalisi Perempuan: Hapus Interprestasi Agama yang Mendiskriminasi Perempuan

    13. Opu Daeng Risadju dari Sulawesi Selatan

    Opu Daeng Risaju adalah pahlawan perempuan yang lahir tahun 1880. Peran Opu Daeng Risaju dalam perlawanan terhadap tentara NICA di Belopa sangatlah besar.

    Opu Daeng Risaju membangkitkan dan memobilisasi para pemuda untuk melakukan perlawanan terhadap tentara NICA. Tentara NICA adalah tentara dari penjajah Belanda.

    14. Nyai Ahmad Dahlan dari Yogyakarta

    Lahir dengan nama Siti Walidah, Nyai Ahmad Dahlan merupakan tokoh emansipasi perempuan yang sudah berpartisipasi dalam diskusi perang bersama Jenderal Sudirman dan Presiden Soekarno.

    Selain itu, ia memprakarsai berdirinya perkumpulan Sopo Tresno pada tahun 1914 untuk wanita Islam. Perkumpulan ini fokus pada tiga bidang, yaitu dakwah, pendidikan, dan sosial.

    Bahkan, ia juga mendirikan asrama putri yang dibangun di rumahnya, memberikan pendidikan keimanan, praktek ibadah, sampai berlatih pidato dan dakwah.

    Nyai Ahmad Dahlan terus melakukan perjuangannya setelah suaminya meninggal dunia. Selain itu, ia membina generasi muda, terutama perempuan Islam agar tekun, gigih, dan berpendidikan.

    Baca Juga: Catatan Koalisi Perempuan di Hari Ibu: Nepotisme Berdampak Buruk pada Keadilan Gender

    15. Ratu Nahrasiyah dari Kerajaan Samudera Pasai

    Ratu Sultanah Nahrasiyah mungkin masih asing bagi orang awam. Meskipun namanya tak sementereng penguasa lainnya seperti Airlangga, Jayabaya, Hayam Wuruk, hingga Raden Patah, tetapi sosok ini begitu istimewa dalam sejarah pergerakan pemimpin perempuan di Nusantara.

    Sultanah Nahrasiyah sendiri merupakan penguasa Kesultanan Samudera Pasai yang naik tahta menggantikan ayahnya. Namun, ada versi lain yang menyatakan bahwa Nahrasiyah merupakan istri dari sang raja yang meninggal.

    Dimana sebelum Sultanah Nahrasiyah bertahta, kerajaan dijabat oleh Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, yang tak lain ayah kandung dari Sultanah Nahrasiyah.

    Namun saat menjabat sebagai raja itulah sang ayah tewas dibunuh oleh Raja Nakur, sebagaimana dikisahkan pada buku “Perempuan – Perempuan Tangguh Penguasa Tanah Jawa” dari Krishna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad.

    16. Rohana Kuddus dari Padang, Sumatera Barat

    Rohana Kuddus adalah wartawati pertama Indonesia yang lahir pada 20 Desember 1884. Pada 1911, Rohana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang.

    Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Rohana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

    Ketika dibredel pemerintah Hindia Belanda, Rohana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

    Rohana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.

    17. Siti Hartinah (Ibu Tien Suharto)

    Raden Ayu Hj. Siti Hartinah, atau yang lebih dikenal dengan Ibu Tien Soeharto, adalah istri Presiden keduaIndonesia, Soeharto.

    Ibu Tien Soeharto dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia tak lama setelah kematiannya. Siti Hartinah juga berpengaruh dalam pelarangan poligami bagi pejabat di Indonesia.

    Sebagai penggerak Kongres Wanita Indonesia, ia mendesak perlunya larangan poligami yang akhirnya keluar dalam wujud Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983 yang tegas melarang PNS untuk berpoligami dan juga UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

     

  • Sambut Hari Kartini: Pemprov DKI Jakarta Gratiskan BIaya Transportasi untuk Perempuan

    Sambut Hari Kartini: Pemprov DKI Jakarta Gratiskan BIaya Transportasi untuk Perempuan

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bakal menggratiskan seluruh layanan transportasi umum khusus bagi penumpang perempuan di ibu kota, pada Senin (21/4/2025).

    Layanan ini dihadirkan dalam rangka peringatan Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April. Layanan transportasi publik yang digratiskan meliputi Transjakarta, MRT Jakarta dan LRT Jakarta.

    “Secara khusus saya ingin menyampaikan bahwa nanti pada tanggal 21 April saat peringatan Hari Kartini, bagi siapa pun selama dia perempuan, naik transportasi di Jakarta gratis. Kecuali taksi ya karena dia personal,” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, Kamis (17/4/2025).

    Staf Khusus Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Cyril Raoul Hakim, menuturkan, layanan transportasi gratis ini dikhususkan bagi seluruh penumpang perempuan dalam rangka memperingati Hari Kartini.

    Baca Juga: Pemprov DKI Jakarta Siapkan Layanan Transportasi Gratis untuk 15 Golongan Masyarakat

    “Ada hadiah spesial dari Pak Gubernur untuk masyarakat, khususnya kaum perempuan. Pada 21 April nanti, bertepatan dengan Hari Kartini, seluruh penumpang perempuan bisa menikmati layanan transportasi umum secara gratis,” kata Chico, sapaan akrabnya.

    Disebutkan Chico, Jenis transportasi yang termasuk dalam program ini meliputi Transjakarta (BRT dan Non-BRT), Mikrotrans, MRT Jakarta dan LRT Jakarta.

    Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan resmi memulai uji coba rute baru Transjabodetabek Blok M–Alam Sutera pada Selasa (15/4/2025).

    Uji coba ini merupakan bagian dari persiapan pembukaan empat rute baru yang akan menghubungkan Jakarta dengan Tangerang, Bekasi dan sekitarnya. Kegiatan ini untuk menguji visibilitas trayek serta potensi jumlah penumpang.

    Baca Juga: Komnas Perempuan Rekomendasikan Fasilitas Kesehatan Kembangkan Mekanisme Pencegahan Kasus Kekerasan Seksual di Lembaga Masing-masing

    Rencananya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, dijadwalkan turut melakukan uji coba lanjutan pada Senin (21/4/2025), bertepatan dengan Hari Kartini.

    “Wagub Rano bersama jajaran akan menaiki bus dari Blok M menuju Alam Sutera. Setibanya di Alam Sutera, Wagub Rano akan disambut oleh Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, sebagai bentuk sinergi antardaerah dalam mendukung pengembangan transportasi umum,” lanjut Chico.

    Menurut data Dinas Perhubungan DKI Jakarta per Maret 2025, jumlah pengguna harian transportasi umum di Jakarta telah mencapai lebih dari 1,2 juta penumpang.

    Pemprov DKI terus mendorong masyarakat untuk beralih ke angkutan massal guna mendukung target pengurangan emisi dan menekan penggunaan kendaraan pribadi di ibu kota.

  • UNESCO Tetapkan Arsip Kartini di Jepara dalam Daftar “Memory of the World”

    UNESCO Tetapkan Arsip Kartini di Jepara dalam Daftar “Memory of the World”

    7cloud.asia – Badan Kebudayaan PBB, UNESCO baru-baru ini memberikan pengakuan kepada arsip surat-surat R.A. Kartini sebagai bagian dari Memory of the World (MOW) atau warisan dokumenter dunia.

    Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus) Kabupaten Jepara Edy Sujatmiko mengatakan, dengan adanya pengakuan dari UNESCO ini menempatkan perjuangan Kartini dalam kesetaraan gender sebagai warisan berharga yang diakui secara internasional.

    Dilansir Antaranews.com, Kamis (14/8/2025) Edy mengungkapkan sertifikat penghargaan diserahkan oleh Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri Tri Tharyat mewakili Menteri Luar Negeri.

    Penyerahan berlangsung di Jakarta, Rabu (13/8/2025), disaksikan Tasdik Kinanto dari Kementerian PAN-RB. Dalam kesempatan tersebut, Edy mewakili Bupati Jepara Witiarso Utomo.

    “Penghargaan ini awalnya kami usulkan sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB) di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), kemudian diteruskan ke Memory of The World Committee Asia Pacific (MOWCAP), hingga akhirnya diakui UNESCO sebagai warisan dokumenter dunia,” ujarnya.

    Baca: Pemikiran Kartini sebut mendidik perempuan berarti mendidik bangsa

    Penghargaan ini merupakan bagian dari lima khazanah Indonesia yang tercatat dalam sidang umum UNESCO di Paris pada 17 April 2025.

    Arsip “Surat-surat dan Pemikiran R.A. Kartini: Perjuangan Kesetaraan Gender” menjadi nominasi bersama ANRI, Arsip Nasional Belanda, dan Leiden University Libraries.

    Empat warisan lainnya, yakni Piagam ASEAN, arsip Seni Tari Jawa khas Mangkunegaran, naskah Syair Hamzah Fansuri, serta naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian.

    Pencapaian ini menjadi kebanggaan nasional, sehingga ANRI akan terus memperkenalkan kelima arsip tersebut dan mencari dokumen bersejarah lain yang layak diajukan sebagai warisan dunia.

    Edy menambahkan pihaknya kini juga tengah merintis usulan MKB baru berupa warisan Ratu Kalinyamat yang diajukan bersama Yayasan Dharma Bakti Lestari.

    Baca: Membaca pemikiran Kartini lewat “Habis Gelap Terbitlah Terang”

    “Kami berharap, suatu saat nanti juga mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan dokumenter kelas dunia,” ujarnya.

    Sebelumnya, Kepala ANRI Mego Pinandito menegaskan pemikiran Kartini tentang kesetaraan gender telah lama diakui dunia.

    Sedangkan Kabupaten Jepara merupakan tempat kelahiran dan dibesarkan, menjadi saksi lahirnya gagasan tentang kesetaraan gender dan pendidikan perempuan yang saat itu masih sangat tertutup.

    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi mengatakan bahwa pemikiran progresif Raden Ajeng Kartini tentang martabat, hak pendidikan, dan kesetaraan gender yang melampaui zamannya.

    Pemikiran Kartini ini tertuang dalam tulisan-tulisan yang berharga dan tetap relevan untuk diabadikan, agar masyarakat dapat terus belajar dalam meneruskan perjuangannya.

    “Mengarsip surat-surat Raden Ajeng Kartini sebagai bagian dari Memory of the World bukan sekadar tindakan administratif, melainkan langkah simbolik, praktis, dan strategis untuk menjaga warisan intelektual perempuan Indonesia yang visioner dalam konteks global,” ucapnya.

    Baca: Tak hanya Kartini, ada belasan perempuan yang ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional