7cloud.asia – Di tengah gempuran pertanian modern, warga Marusu di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan tetap setia mempertahankan tradisi Katto Bokko saat panen raya Kekaraengan (Kerajaan adat).
Pelaksanaan tradisi Katto Bokko ini dilaksanakan sekali dalam setahun umumnya digelar pada pekan terakhir bulan Maret atau April.
Prosesi upacara adat atau tradisi Katto Bokko sebagai pertanda panen perdana dari pihak Kekaraengan Marusu dan diikuti masyarakat Marusu, Maros ini sarat nilai filosofi dalam menjaga keseimbangan alam.
Mulai dari benih padi jenis ‘banda’ dengan ciri khas bulirnya berbulu adalah tanaman padi yang dikenal tahan hama dibandingkan jenis padi lainnya.
Tradisi Katto Bokko biasa dilakukan saat menjelang panen, selepas salat subuh warga dan keturunan Kekaraengan Marusu di Kampung Kassi Kebo, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros
Mereka berkumpul di rumah adat yang dikenal dengan nama Balla Lompoa. Sebelumnya, pemuka adat dan pemerintah setempat berkumpul di rumah adat untuk persiapan upacara adat yang digelar sekali setahun setiap musim panen awal tahun.
Baca: Tradisi Naik Dango di kalangan masyarakat adat Dayak Kanayatn
Suara gendang dan gong menyeruak di pagi buta, pertanda persiapan menuju sawah adat segera dilakukan.
Para pemuda dan pemudi dengan mengenakan pakaian adat berbaris di gerbang Balla Lompoa, diikuti oleh para tokoh adat yang dipimpin oleh Pemangku Adat Kerajaan Marusu, Abdul Waris Karaeng Sioja.
Suara gendang dan gong yang menghentak memicu langkah barisan pelaku adat semakin cepat menuju sawah adat seraya melintasi rumah warga.
Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar satu kilometer dari rumah adat, dan sinar keemasan di ufuk timur menyambut kehadiran mereka di tengah sawah.
Setelah pemangku adat berdoa sebagai awal penanda panen, Keluarga Kerajaan Marusu dan warga setempat berbaur memotong padi dengan menggunakan alat tradisional “anai-anai”.
Kendati membutuhkan waktu yang cukup lama dibanding menggunakan sabit ataupun sistem mekanisasi saat ini dengan mobil pemotong padi, pihak keluarga kerajaan dan warga setempat tetap semangat dan bergotong-royong menyelesaikan sepetak sawah yang dipanen.
Baca: Tradisi Manugal Banih Patawungan di kalangan masyarakat Dayak
Jenis padi yang dipanen pun berbeda dengan padi pada umumnya yang ditanam warga. Padi tersebut adalah jenis “Banda” yang bibitnya sudah turun-temurun dari Kerajaan Marusu.
Sekitar pukul 10.00 WITA saat matahari sudah mulai terik, padi-padi yang dipanen itu kemudian diikat dalam dua kelompok besar dan selebihnya dalam kelompok ikatan kecil.
Selanjutnya dua kelompok besar padi yang baru saja dipanen tersebut dihiasi dengan bunga yang ada di sekitar rumah warga.
Setelah itu padi tersebut diusung beramai-ramai ke rumah adat. Sebelum padi tersebut disimpan di loteng atau lumbung rumah adat, terlebih dahulu dilakukan upacara penyambutan dengan “A’ngaru” dengan syair atau seloka yang sarat petuah.
Hasil panen Katto Bokko ini setelah melalui prosesi adat, belum boleh dikonsumsi, tetapi akan disimpan di lumbung padi di atas loteng rumah adat Balla lompoa.
Barulah padi tersebut diturunkan dari loteng jika sudah ada penggantinya pada musim panen berikutnya yang sekali setahun prosesi adatnya.
Baca: Tradisi Perang Ketupat, wujud rasa syukur warga Bali atas kesuburan tanah
Hasil panen sawah adat ini, selain untuk menghidupi keluarga kerajaan, juga diberikan pada masyarakat yang kurang mampu di sekitar Balla Lompoa sebagai wujud solidaritas sosial.
Tanaman padi di sawah adat ini pun hanya menggunakan pupuk organik dan proses bajak sawahnya tetap tradisional.
Perlakuan pada sistem pertanian sawah adat yang masih menggunakan alat tradisional termasuk menggunakan bajak yang ditarik dengan dua ekor sapi adalah bentuk menjaga kearifan lokal yang ramah lingkungan.
Menurut Karaeng Sioja yang merupakan anak dari Karaeng (Raja) Marusu ke-18 Tajuddin Karaeng Masiga ini, tradisi ‘Katto Bokko” adalah wujud kesyukuran setelah panen dan ajang silaturahmi keluarga kerajaan dan warga.
Dia mengatakan, upacara ini juga merupakan wujud kebersamaan tanpa ada sekat antara pihak bangsawan dan masyarakat.
Panen raya dengan tradisi “Katto Bokko” ini, sekaligus menjadi ajang halal bihalal ketika bertepatan setelah hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha.
Baca: Uniknya tradisi Seba di kalangan masyarakat Badui
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Maros Ferdiansyah merupakan potensi wisata yang menarik untuk dikunjungi dan menjadi kalender tetap pariwisata Maros.
Sementara itu, Bupati Maros HAS Chaidir Syam mengatakan, pihak Kerajaan Marusu, masyarakat dan Pemkab Maros dapat saling mendukung untuk pelestarian tradisi panen raya yang sarat dengan kearifan lokal.
Prinsip demokrasi masih dijunjung tinggi, karena selain melibatkan pemangku adat, juga pemerintah daerah setempat baik dalam penentuan hari pelaksanaan Katto Bokko maupun pada acara adat turun sawah atau yang dikenal dengan istilah “Appalili”.
Dari sisi lingkungan, tradisi Katto Bokko menekankan keseimbangan alam misalnya dari pemilihan benih yang tahan hama dan banyak bulirnya seperti padi jenis “Banda” dengan bulir padi yang memiliki bulu-bulu di sisinya.
Karena itu, lanjut dia, wajarlah jika “Katto Bokko” tidak lekang oleh zaman, karena masih bisa beradaptasi tanpa meninggalkan ciri khasnya.
Apalagi tradisi ini juga mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang patut dilestarikan, sehingga generasi berikutnya masih bisa langsung merasakan dan menyaksikannya.
