Tag: Kawasan Wallacea

  • Nilai Strategis Ekosistem Kawasan Wallacea untuk Keanekaragaman Hayati Dunia

    Nilai Strategis Ekosistem Kawasan Wallacea untuk Keanekaragaman Hayati Dunia

    7cloud.asia – Kawasan Wallacea merupakan bagian dari wilayah Nusantara yang dipisahkan oleh dua daratan luas, yaitu Paparan Sunda di bagian barat dan Paparan Sahul di bagian timur.

    Kawasan Wallacea meliputi Sulawesi, sebagian Nusa Tenggara, Halmahera, dan sebagian Pulau Timor ini memiliki luas daratan sekitar 347.000 km2.

    Dilansir di brin.goid, kawasan Wallacea merupakan tempat peralihan satwa dan puspa dari tipe Asiatis ke Australis, dan sebaliknya. Kondisi ini menjadikan kawasan Wallacea memiliki kekayaan biodiversitas yang melimpah.

    Kawasan Wallacea dibatasi oleh garis-garis imajiner, yaitu di sebelah barat oleh Garis Wallace, dan di sebelah timur oleh Garis Lydekker, namun Garis Wallace sering juga disebut sebagai Garis Wallace-Weber.

    Sekitar 10.000 spesies tumbuhan tercatat hidup di kawasan ekosistem ini, dimana 1.500 spesies diantaranya jenis endemik dan 66 spesies termasuk kategori langka terancam kepunahan.

    Baca: Pembangunan mengancam laboratorium evolusi Wallacea

    Kawasan Wallacea meliputi 10 provinsi dan 134 kabupaten/kota dengan sekitar 36 juta penduduk dan memiliki hampir 18 persen kawasan hutan dari total area hutan Indonesia.

    Kondisi ini membuat ekosistem wallacea memiliki nilai strategis yang penting bagi bangsa Indonesia dan bahkan dunia.

    Peneliti Ahli Utama sekaligus Ketua Kelompok Riset Karakterisasi dan Valuasi Ekosistem, Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Gerson Ndawa Njurumana, memaparkan ini dalam diskusi “Nilai Strategis Ekosistem Wallacea”, pada Mei 2024 silam.

    Kepala PREE BRIN Anang Setiawan Achmadi dalam sambutannya menyampaikan Kawasan Wallacea dengan keunikan dan kekayaan biodiversitas yang tinggi, di sisi lain memiliki ancaman kerusakan lingkungan yang mengintai setiap saat.

    ”Untuk itu dukungan riset dan inovasi untuk rencana pembangunan dan pengelolaan wilayah di daerah sangat diperlukan,” ungkap Anang optimis.

    Baca: Jelajah keong darat kawasan Wallacea

    Dia berharap ke depannya pelibatan para periset BRIN dalam menyusun rencana pembangunan daerah di kawasan ekosistem Wallacea dapat terus ditingkatkan baik di tingkat provinsi maupun kota atau kabupaten.

    Hariany Siappa, Peneliti Ahli Pertama PREE BRIN dalam paparannya sebagai narasumber mengungkapkan keunikan Taman Wisata Alam (TWA) Menipo di Pulau Timor.

    Menurutnya, destinasi wisata alam andalan Pulau Timor ini menggambarkan miniatur ekosistem Pulau Timor.

    “Beberapa tipe ekosistem dapat ditemui di TWA Menipo, seperti hutan mangrove, padang savana dengan deretan pohon lontarnya, ekosistem pantai lokasi pendaratan penyu-penyu lekang (Lepidochelis olivacea) serta habitat buaya muara, dan hutan tropika rendah,” sebutnya.

    Dia menambahkan TWA Menipo yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT ini dalam pengelolaannya turut mengadopsi kearifan masyarakat lokalnya.

    Baca: Penjelasan mengapa Sulawesi kaya satwa endemik unik

     

  • Penetapan Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga Menjadi Kawasan Konservasi Nasional

    Penetapan Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga Menjadi Kawasan Konservasi Nasional

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan urgensi penetapan Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga di Sulawesi Tenggara sebagai kawasan konservasi nasional dan warisan dunia.

    Langkah ini dinilai strategis untuk menjawab krisis iklim, deforestasi, serta meningkatnya risiko bencana ekologis di Kawasan Wallacea.

    “Pengusulan Taman Nasional dan Warisan Dunia merupakan langkah preventif berbasis bukti ilmiah, bukan keputusan politis,” ujar Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof. Hendra Gunawan, dalam Konferensi Wallacea Expeditions pada Senin (5/1/2025) di Kendari.

    Konferensi ini membahas usulan pembentukan kawasan konservasi berbasis lanskap seluas sekitar 6.000 kilometer persegi yang mencakup wilayah Sombori, Matarombeo, Tangkelemboke, dan pegunungan Mekongga di Sulawesi Tenggara.

    Menurut Prof. Hendra, data riset menunjukkan kawasan Wallacea telah kehilangan sekitar 1,37 juta hektare hutan dalam satu dekade terakhir, dengan Sulawesi Tenggara menjadi salah satu wilayah yang terdampak signifikan.

    Kompleks Pegunungan Mekongga (±258.519 ha), sebagai bagian dari kawasan yang diusulkan, menurutnya, memiliki peran ekologis krusial sebagai hulu 3 daerah aliran sungai (DAS) dan 30 sungai yang menopang sistem hidrologi regional.

    Baca: Pembangunan mengancam laboratorium evolusi di kawasan Wallacea

    “Kawasan ini juga menyimpan bentang ekosistem langka, mulai dari hutan sub-montana hingga sub-alpin, yang menjadi habitat berbagai satwa endemik Sulawesi seperti anoa, babirusa, rangkong Sulawesi, hingga tarsius,” jelasnya.

    Prof. Hendra meyakini, hasil riset International Cooperative Biodiversity Group (ICBG) dan rangkaian Wallacea Scientific Expedition Series mengungkap potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa.

    Sejumlah spesies mamalia, flora, serangga, serta ratusan mikroorganisme diduga merupakan spesies baru yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah.

    Dilansir di akun instagram @armanbotanica, kawasan Matarombeo adalah rumah bagi flora dan fauna karst endemik, mamalia, reptil, epifit tropis.

    Sedangkan Hiuka adalah habitat air tawar yang unik, dan Sombori merupakan daerah transisi darat–laut yang sangat penting bagi burung, kelelawar, biota pesisir.

    Baca: Nilai strategis ekosistem Kawasan Wallacea untuk keanekaragaman hayati dunia

    Sementera kawasan Tangkelemboke yang berupa hutan pegunungan, merupakan sumber genetik flora dan habitat terakhir di Sulawesi Tenggara.

    BRIN menilai momentum kebijakan saat ini sangat krusial untuk menghidupkan kembali komitmen daerah yang telah dideklarasikan sejak 2013.

    Penetapan Taman Nasional dan Warisan Dunia dinilai bukan sebagai penghambat pembangunan, melainkan sebagai instrumen perlindungan ekologis jangka panjang yang menjamin ketahanan air, keanekaragaman hayati, dan kesejahteraan masyarakat.

    “Menunda penetapan berarti mempertaruhkan masa depan. Bertindak sekarang adalah investasi ekologis bagi generasi mendatang,” pungkas Hendra.

    Dukungan terhadap pengusulan kawasan konservasi ini juga datang dari berbagai pemangku kepentingan.

    Baca: Pulau Sulawesi kaya akan satwa endemik unik

    Wakil Rektor Universitas Halu Oleo, Prof. La Ode Santiaji Bande, menilai Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga memiliki nilai biodiversitas, geologi, dan arkeologi yang layak diakui sebagai warisan dunia.

    Sementara itu, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk menyerahkan proses penetapan kawasan tersebut kepada Kementerian Kehutanan.

    Dari sisi kebijakan nasional, Staf Khusus Kementerian Kehutanan, Silverius Oscar Unggul menegaskan bahwa pengusulan Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga sejalan dengan arah kebijakan pengelolaan hutan berbasis lanskap.

    Kebijakan ini termasuk pembentukan task force khusus dan penerapan moratorium aktivitas yang berpotensi merusak kawasan hutan bernilai tinggi.

    Direktur Naturevolution International, Evrard Wendenbaum, menjelaskan bahwa selama lebih dari satu dekade, kolaborasi ilmiah internasional telah dilakukan untuk menghasilkan basis data terpadu sebagai landasan pengusulan kawasan lindung berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.