Tag: kebahagiaan

  • BKKBN: Indeks Kemandirian Rendah Tapi Rakyat Indonesia Tetap Bahagia

    BKKBN: Indeks Kemandirian Rendah Tapi Rakyat Indonesia Tetap Bahagia

    7cloud.asia – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyatakan bahwa indeks kebahagiaan di Indonesia berdasarkan indeks Pembangunan Keluarga (iBangga) sudah tinggi.

    Meski demikian skor kemandirian masyarakat Indonesia masih rendah.

    “Kita ini kemandiriannya lemah, tetapi kebahagiaannya tinggi. Kita ini miskin tetapi bahagia, dan itu kenyataan, masih bisa bersyukur, meskipun masih miskin tetapi tidak sedih,” ujar Hasto kepada awak media Rabu (16/7/2024).

    Ia menjelaskan dalam iBangga, skor indeks kebahagiaan tercatat sebesar 72, tetapi skor kemandirian masih di angka 52, sedangkan skor ketenteraman sekitar 56-57.

    “Nilai maksimalnya 100, tetapi ini naiknya bertahap, misalnya indeks ketenteraman itu salah satunya (indikator) kalau suami istri menikah secara sah dan ada dokumennya, itu skor kita belum sampai 60 karena perceraian tinggi,” ucapnya.

    Baca: Kemiskinan ekstrem di Indonesia

    Sedangkan untuk indeks kemandirian, tingkat perekonomian masyarakat Indonesia rata-rata masih menengah ke bawah, sehingga skornya masih rendah.

    “Kemudian kemandirian, itu jelas angkanya masih 52, karena itu urusan ekonomi, jadi dia dinilai berdasarkan bisa atau tidak mencukupi biaya pendidikan, makan, dan lain sebagainya. Memang seluruh rakyat Indonesia yang menengah ke bawah kan masih banyak,” katanya.

    Hasto juga mengungkapkan, indeks kebahagiaan Indonesia cenderung tinggi karena masyarakatnya masih memegang teguh budaya gotong royong dan saling bersosialisasi satu sama lain.

    Kalau kebahagiaan, ujar Hasto, memang kita untuk bisa bersosialisasi, gotong royong, berwisata, rekreasi, berkomunikasi, berinteraksi, memang happy kita ini.

    “Kalau di kampung itu kan ada gardu untuk ronda ramai-ramai, ketawa-ketawa padahal utangnya banyak, akhirnya terbiasa, jadi indeks kebahagiaannya tinggi,” tuturnya.

    Baca: Penurunan angka kemiskinan di Indonesia tak sesuai target

    Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), metode penghitungan Indeks Kebahagiaan tahun 2017-2021 berbeda dengan metode tahun 2014.

    Indeks kebahagiaan tahun 2017-2021 diukur menggunakan tiga dimensi, yakni kepuasan hidup (life satisfaction), perasaan (affect), dan makna hidup (eudaimonia).

    Sementara metode sebelumnya (2014), indeks kebahagiaan hanya diukur menggunakan satu dimensi yaitu kepuasan hidup.

    Berdasarkan data BPS, di tahun 2021, Maluku Utara menjadi provinsi dengan indeks kebahagiaan tertinggi yakni di angka 76,34.

    Sumber:Antaranews.com

  • Riset: Mentraktir Kawan Ternyata Membawa Kebahagiaan

    Riset: Mentraktir Kawan Ternyata Membawa Kebahagiaan

    7cloud.asia – Dalam momen-momen atau acara bersama sering muncul pertanyaan tentang siapa yang harus menalangi lebih dahulu. Misal ketika janjian nonton bioskop, teater, atau pergi ke taman bermain.

    Proses ini kerap jadi momen unik tersendiri sebelum kesenangan benar-benar dimulai. Mengatur persoalan pembayaran (split bill) dengan orang lain—baik rekan kerja, teman dekat, atau kenalan baru—bisa jadi rumit dan mengganggu dinamika sosial dan pribadi.

    Riset terbaru kami, yang diterbitkan dalam jurnal Psychology and Marketing, menunjukkan bahwa cara Anda membagi biaya di muka dapat memberikan beberapa dampak mengejutkan.

    Dalam beberapa kasus, meskipun rekening bank Anda terkuras, menanggung seluruh biaya untuk diri sendiri dan orang lain justru dapat membuatmu lebih bahagia.

    Namun, tentu hal ini tidak mutlak terjadi. Sebab, ada perbedaan norma dan ekspektasi dari masing-masing individu dalam setiap hubungan.

    Dorongan ekonomi untuk pengalaman
    Secara psikologi, dalam kondisi keuangan yang sedang sulit, orang lebih suka menghabiskan uang mereka untuk barang-barang daripada pengalaman.

    Hal tersebut merupakan dinamika hidup yang umum. Namun, ada bukti yang menunjukkan bahwa sebagian orang justru memprioritaskan pengalaman.

    Pengalaman di sini bermakna bukan sekadar layanan, melainkan tentang menciptakan peristiwa yang berkesan. Dibandingkan barang-barang, pengalaman secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan kebahagiaan.

    Baca: Prototipe tas Hermès Birkin laku Rp163 miliar

    Sebagian besar manfaat yang kita peroleh dari pengalaman tersebut bergantung pada fakta bahwa kita membagikannya ke orang lain.

    Menginvestasikan uang untuk pengalaman memungkinkan kita menghabiskan waktu bersama orang lain dan terhubung dengan mereka melalui cara yang seringkali tidak dapat ditandingi oleh pembelian “barang”.

    Faktor dorongan seperti dengan siapa kita pergi bersama, kualitas percakapan yang dihasilkan oleh suatu pengalaman, atau kejelasan yang kita miliki tentang minat orang lain dapat memengaruhi kebahagiaan sama besarnya dengan isi pengalaman itu sendiri.

    Dalam pengalaman bersama, ketika mengeluarkan uang tidak dapat dihindari, bagaimana “siapa yang membayar” berpengaruh terhadap kebahagiaan mereka?

    Inilah pertanyaan yang kami ajukan dalam penelitian terbaru yang kami tulis bersama Belinda Barton dan Natalina Zlatevska.

    Uji penelitian di bioskop
    Kami melakukan tiga eksperimen pada 2.640 orang dengan menyajikan skenario umum kepada mereka: mereka akan pergi ke bioskop bersama sahabat atau kenalan biasa.

    Kami menginfokan kepada separuh peserta bahwa mereka akan membagi biaya (yaitu, hanya membayar tiket masuk mereka sendiri). Separuh lainnya diberitahu bahwa mereka akan menanggung seluruh biaya untuk diri mereka sendiri dan orang lain. Kami kemudian menanyakan seberapa besar kepuasan mereka dengan pembelian ini.

    Dalam ketiga studi, ketika peserta bersama sahabat, mereka melaporkan bahwa mereka akan lebih senang membayar penuh daripada membagi biayanya. Sebaliknya—ketika peserta bersama kenalan—kami menemukan bahwa pembagian biaya tidak memengaruhi kebahagiaan.

    Baca: Hindari pertanyaan ini saat berkumpul dengan teman dan keluarga

    Efek teman dekat
    Jika bersama teman, kita kerap memiliki seperangkat norma dan ekspektasi terkait timbal balik. Ini tidak didapat ketika bersama kenalan biasa dan orang asing.

    Interaksi dengan teman dekat biasanya mengikuti “norma komunal”. Di sinilah kesadaran untuk saling membantu berdasarkan kepedulian dan kebutuhan muncul tanpa mengharapkan imbalan.

    Di sisi lain, interaksi dengan orang asing dan kenalan yang kurang dekat cenderung mengikuti “norma pertukaran”, yang mengutamakan keseimbangan dan pembayaran langsung.

    Sejalan dengan ini, kami menemukan bahwa ketika peserta penelitian bersama sahabat mereka, ekspektasi mereka akan pembayaran lebih rendah dibandingkan jika sedang bersama orang-orang yang kurang akrab.

    Peserta yang memiliki dorongan terpaksa membayar akibat dibebani norma pertukaran dalam melakukan pembayaran cenderung merasa kurang bahagia.

    Kemungkinan lain
    Kami juga menguji hipotesis lain. Apakah perihal siapa yang membayar akan memengaruhi dinamika kebersamaan seperti percakapan? Atau justru memicu kecanggungan.

    Kami juga memeriksa apakah pembayaran terasa seperti investasi dalam hubungan, atau apakah itu membuat orang lain meningkatkan penilaiannya terhadap kita.

    Baca: Kiat menjawab pertanyaan “Kapan Nikah?

    Hasil temuan kami, tidak satu pun dari hal-hal ini benar-benar signifikan berpengaruh terhadap siapa yang membayar dan seberapa dekat kedua orang tersebut.

    Pun, temuan juga tak menjelaskan mengapa membayar untuk teman dekat terasa lebih mendatangkan kebahagiaan.

    Sebaliknya, norma-norma seputar timbal balik dalam berbagai jenis hubungan dapat membuat pembayaran terasa lebih transaksional daripada gestur kebaikan. Hal ini, pada gilirannya, dapat memengaruhi seberapa bahagia perasaan kita.

    Perlukah kita sisihkan tabungan untuk mentraktir teman?
    Penelitian kami memang menunjukkan bahwa membayar untuk orang lain dapat membuatmu lebih bahagia. Tetapi kami tidak menyarankan Anda secara khusus menganggarkan tabungan untuk tujuan ini.

    Kami membatasi eksperimen kami pada aktivitas yang cukup terjangkau yakni nonton bioskop. Jadi, kecil kemungkinan membayar perjalanan teman Anda ke luar negeri pada tahun 2026 akan memberimu kebahagiaan sejati.

    Selain itu, jika teman Anda sedang berutang, Anda mungkin berharap mereka akan melunasinya lebih dahulu. Mentraktirnya bersenang-senang justru dapat mengurangi kebahagiaanmu.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Aimee E. Smith (Postdoctoral Research Fellow in the Net Zero Observatory, The University of Queensland)