Tag: kecanduan

  • Seperti Ini Cara Menyembuhkan Mereka yang Telanjur Kecanduan Judi

    Seperti Ini Cara Menyembuhkan Mereka yang Telanjur Kecanduan Judi

    7cloud.asia – Kecanduan terhadap judi bisa digolongkan menjadi sebuah penyakit mental.

    Dokter spesialis kesehatan jiwa (SpKJ) Made Wedastra mengungkapkan bahwa, kecanduan pada judi dianggap sebagai penyakit jika menyebabkan gangguan fungsi pada pelakunya, yaitu fungsi kerja dan sosial.

    “Dalam judi patologis, digunakan istilah disorder atau gangguan alias penyakit pada kecanduan terhadap judi,” demikian Made Wedastra seperti dikutip Antaranews Minggu (13/8/2023).

    Kabar baiknya kecanduan pada judi dapat disembuhkan atau tidak mengulanginya lagi melalui terapi obat dan non-obat.

    Baca: Jangan pernah mencoba judi online agar tak kecanduan

    Kesadaran untuk memperbaiki diri dari penyintas menjadi faktor penting dalam penyembuhan mereka yang kecanduan pada judi.

    Dukungan keluarga atau orang terdekat juga berperan penting dalam proses terapi agar seseorang tidak lagi kecanduan pada judi dan meninggalkan perilaku buruk itu.

    Ada pun terapi obat yang khusus diberikan sesuai resep psikiater, bertujuan mengembalikan keseimbangan neurotransmitter di dalam otak kecil, sehingga kenyamanan terbentuk dan tidak tertarik lagi oleh keinginan berjudi.

    Untuk terapi non-obat melalui psikoterapi, yakni untuk memperbaiki ego dan memperbaiki pola pikir dengan cognitive behaviour therapy (CBT) yang melewati beberapa sesi.

    Baca: Kenali masa krisis terkena kesehatan mental

    Paling cepat CBT dilaksanakan dalam 16 sesi, satu sesi di antaranya dapat berjarak satu pekan dengan masing-masing sesi memakan waktu rata-rata satu hingga dua jam.

    Dalam CBT, metode yang dilakukan, di antaranya wawancara yang bersifat terapi, bukan hanya tanya jawab biasa, tapi bisa mengubah pola pikir atau kognitif pasien dan memperbaiki perilakunya.

    Sementara untuk mencegah tidak terjerat judi lagi dapat dilakukan dengan menghindari faktor risiko dan pencetusnya.

    Kasus kencanduan pada judi harus menjadi pelajaran bagi masyarakat, khususnya terkait pola pengasuhan anak oleh orang tua dan lingkungan.

    Baca: Pentingnya edukasi kesehatan mental sejak dini

    “Untuk itu, pola asuh yang baik sejak dini diperlukan para orang tua agar penuh kasih sayang, kemudian anak bisa terhindar dari perundungan,” ujar Made Bawastra.

    Untuk faktor lingkungan juga memiliki pengaruh, misalnya jika berdekatan dengan lingkungan judi, besar kemungkinan seseorang bisa terpengaruh untuk ikut mencoba berjudi.

    Kesadaran masyarakat untuk membaca dampak buruk judi terhadap diri dan orang terdekat, dinilai dapat membantu agar seseorang bisa berpikir berulang kali untuk terlibat dalam perjudian.

    Baca: Kenali gejala terselubung depresi pada Lansia

  • Studi: Kecanduan Gawai Memicu Lonjakan Angka Bunuh Diri di Amerika Serikat

    Studi: Kecanduan Gawai Memicu Lonjakan Angka Bunuh Diri di Amerika Serikat

    7cloud.asia – Rilisan data terbaru yang menyoroti dampak buruk kecanduan gawai  terhadap kesehatan kaum muda, mengungkap bahwa remaja Amerika Serikat (AS) sedang menghadapi krisis kesehatan mental yang kian meningkat.

    Riset itu mengungkap dua dari lima (atau 40 persen) siswa sekolah menengah atas (SMA) di AS melaporkan perasaan sedih atau putus asa yang terus-menerus akibat kecanduan gawai.

    The 74, sebuah organisasi berita nirlaba yang meliput bidang pendidikan di AS, memublikasikan sebuah komentar pada Selasa (15/7/2025) yang menyoroti skala krisis tersebut.

    Mengutip temuan-temuan baru dari organisasi Coalition to Empower our Future, The 74 melaporkan bahwa hampir 60 persen orang tua menganggap kesehatan mental anak-anak mereka “sangat atau agak buruk.”

    Artikel itu menyoroti fakta bahwa kualitas keterpaparan layar gawai, seperti penggunaan ponsel atau media sosial yang kompulsif, lebih merusak dibandingkan jumlah waktu yang dihabiskan secara daring.

    Menurut pakar, perilaku tersebut berkontribusi pada tekanan mental yang mengakar kuat di kalangan remaja AS.

    Baca: Kecanduan gawai mengancam bonus demografi di Indonesia

    Fenomena krisis yang meningkat ini dikuatkan temuan tim peneliti yang memublikasikan temuan-temuan terobosan di dalam Journal of the American Medical Association pada 18 Juni 2025

    Riset ini memantau hampir 4.300 anak Amerika selama empat tahun. Hasilnya, remaja yang memiliki pola kecanduan dalam penggunaan media sosial, ponsel, atau gim video berisiko dua kali lipat lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri dibandingkan teman sebaya mereka yang memiliki level kecanduan rendah.

    Dr. Yunyu Xiao, asisten profesor ilmu kesehatan masyarakat di Weill Cornell Medicine yang juga penulis utama dalam studi ini, menekankan bahwa “penggunaan yang adiktif, bukan jumlah waktu yang dihabiskan, merupakan faktor krusial dan sebenarnya menjadi masalah yang mendasarinya.”

    Penelitian ini menemukan bahwa sekitar 31 persen partisipan mengembangkan pola penggunaan media sosial yang semakin adiktif, sementara 25 persen partisipan menunjukkan peningkatan adiksi yang serupa dengan ponsel.

    Temuan studi ini menantang anggapan umum terkait batas waktu penggunaan gawai. Total waktu layar (screen time) pada anak usia 10 tahun menunjukkan tidak ada keterkaitan dengan perilaku bunuh diri di masa depan si anak.

    Sementara, anak yang menunjukkan pola penggunaan gawai secara kompulsif, yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk berhenti.

    Baca: Langkah sederhana agar terjebak dalam sindrom FOMO

    Mereka juga merasa tertekan saat tidak menggunakan gawai, atau memanfaatkan gawai untuk melarikan diri dari permasalahan, menunjukkan risiko perilaku bunuh diri yang jauh lebih tinggi.

    Pola itu dimulai sejak dini, dengan sekitar separuh anak melaporkan penggunaan ponsel yang sangat adiktif sejak dimulainya studi ini dan terus meningkat hingga awal masa remaja.

    Terkait media sosial, sekitar 40 persen anak menunjukkan pola penggunaan yang tinggi atau semakin adiktif. Penelitian ini mengungkap perbedaan mencolok dalam hal kesehatan mental.

    Penggunaan gim video yang sangat adiktif menunjukkan perbedaan relatif terbesar dalam hal gejala internalisasi, sementara kecanduan media sosial yang kian meningkat berkorelasi dengan masalah perilaku eksternalisasi yang paling signifikan.

    Anak-anak dengan penggunaan media sosial yang sangat adiktif menghadapi risiko dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri.

    Selain itu, krisis ini tidak hanya terjadi pada kasus-kasus individual saja. Menurut Youth Risk Behavior Survey 2023 yang dilakukan Pusat

    Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention) AS, satu dari lima siswa SMA di AS secara serius mempertimbangkan untuk melakukan upaya bunuh diri.

    Baca: 5 Tanda kamu butuh detoks digital