7cloud.asia – Bali International Hospital di Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Sanur Bali, yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto, pada Juni 2025 lalu bukan sekadar rumah sakit biasa.
KEK Sanur ini akan dikembangkan menjadi kawasan wellness tourism atau wisata kesehatan terintegrasi yang menggabungkan teknologi medis mutakhir dengan kearifan lokal Bali.
Bali International Hospital dan KEK Sanur diharapkan mampu menjadi salah satu tujuan wisata kesehatan dunia. Dan, ditargetkan ada kenaikan kunjungan wisata kesehatan sebesar 30 persen dalam dua tahun
Adapun, data Kementerian Kesehatan menunjukkan potensi besar wellness tourism Indonesia yang mencapai 6,8 miliar dolar atau sekitar Rp112,6 triliun per tahun.
Kawasan KEK Sanur seluas 41,26 hektare ini akan dikembangkan menjadi kota kesehatan mini dengan pusat kardiologi berstandar JCI, villa rehabilitasi berbasis konsep Tri Hita Karana, hingga pusat pengobatan tradisional Bali yang sudah terdigitalisasi.
“Pasien bisa menjalani operasi jantung di pagi hari, lalu recovery sambil menikmati terapi jamu dan meditasi di pantai saat senja,” ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana dikutip Indonesia.go.id
Baca: Kemenkes larang dokter ahli jantung anak layani pasien BPJS
Bali International Hospital sebagai inti KEK Sanur menghadirkan 12 pusat kesehatan mulai dari onkologi hingga kedokteran estetik. Di sini tersedia fasilitas stemcell therapy yang dikombinasikan dengan pengobatan tradisional Bali.
Yang unik, setiap kamar pasien dirancang oleh arsitek ternama dengan sentuhan budaya Bali, dilengkapi teknologi AI untuk pemantauan kesehatan 24 jam.
“Kami menyebutnya konsep ‘healing through culture’,” jelas Direktur Utama Danantara Indonesia, Raden Pardede.
Fasilitas ini sudah menjalin kerjasama dengan 12 asuransi kesehatan internasional dan 30 rumah sakit global untuk sistem rujukan.
Yang membanggakan, 65 persen tenaga medis di sini adalah dokter-dokter Indonesia lulusan luar negeri yang sengaja dipulangkan. Seperti dr. Komang Ariawan, spesialis jantung yang sebelumnya praktik di Singapura.
“Ini kesempatan emas membawa pulang ilmu untuk negeri,” ujarnya sambil memamerkan robot surgery terbaru bernama “Garuda IX”.
Baca: 21 layanan kesehatan tidak ditanggung BPJS Kesehatan
Tak kalah menarik adalah konsep “Wellness Village” di KEK Sanur yang memadukan pengobatan modern dengan tradisional. Pengunjung bisa merasakan terapi “Usada Bali” berbasis manuskrip kuno di pagi hari, lalu konsultasi gizi dengan nutrigenomics di siang hari.
“Kami ingin menjadi jembatan antara timur dan barat dalam dunia kesehatan,” tutur Putu Winastra, kepala pengobatan tradisional.
Keberadaan KEK Sanur diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri, seperti ke Penang, Kuala Lumpur, atau Singapura.
Konsep KEK Sanur tidak hanya menyiapkan rumah sakit berstandar internasional, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari hotel, transportasi, hingga paket layanan kesehatan terintegrasi.
Salah satu layanan unggulan yang sedang dipersiapkan adalah Klinik Stem Cell hasil kerja sama dengan Prof Fred, Direktur Alster Lake Clinic (ALC) dari Jerman.
Fasilitas ini diklaim akan memmbuat terapi stem cell menjadi lebih terjangkau. Jika saat ini pasien Indonesia harus merogoh kocek Rp500–600 juta untuk terapi stem cell di Hamburg, maka di klinik KEK Sanur biaya perawatan diperkirakan hanya sekitar Rp300 juta.
Baca: Komisi IX DPR minta pihak rumah sakit tidak batasi masa rawat inap pasien JKN
