Tag: keluarga

  • Reformasi Mundur ke Titik Nol, Aktivis Desak Jokowi Tak Berikan Contoh Buruk Pada Rakyat

    Reformasi Mundur ke Titik Nol, Aktivis Desak Jokowi Tak Berikan Contoh Buruk Pada Rakyat

     

    7cloud.asia – Perkembangan politik akhir-akhir ini membuat reformasi mundur ke titik nol. Jokowi di desak agar tidak memberikan contoh buruk dengan memperpanjang kebiasaan membangun kekuasaan bagi keluarga.

    Politik dinasti terasa kental ketika Presiden Jokowi menyalahgunakan kekuasaanya untuk mengistimewakan keluarganya sendiri.

    Hal ini diungkapkan oleh Direktur Amnesti Internasional Indonesia, Usman Hamid dalam Maklumat Juanda yang dibacakan pada Senin (16/10/2023) di Jakarta.

    Sejumlah tokoh agama, pendidikan, hak asasi manusia, pengacara, wartawan, akademisi, seniman, budayawan, mantan komisioner KPK serta tokoh relawan Jokowi ikut menandatangani maklumat ini.

    Diantaranya adalah mantan ketua KPK, Erry Riyana Hardjapamekas, mantan pemred Tempo, Goenawan Mohamad, relawan Jokowi, Eko Kuntadhi, seniman, Butet Kartaredjasa, dan lain-lain.

    Mereka mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi politik dan bangsa akhir-akhir ini.

    “Mundurnya reformasi ditandai dengan merosotnya demokrasi dan diperburuk oleh fenomena politik dinasti,” ucap Usman.

    Sebenarnya, lanjut Usman, kegelisahan dan kemarahan politik ini bukan dipicu oleh keputusan MK mengabulkan uji materi terhadap UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum terkait batas usia capres-cawapres.

    Tetapi karena selama 10 tahun kepemimpinan Jokowi, kedaulatan rakyat disingkirkan, ruang publik dipersempit, oposisi menjelma menjadi aliansi kolusif, lembaga anti korupsi dilemahkan.

    Selain itu, lanjut Usman, adanya penyalahgunaan demokrasi melalui peraturan perundang-undangan seperti revisi UU KPK, KUHP, UU Cipta Kerja. Konflik kepentingan pejabat di kabinet sangat kuat.

    Menurut Usman, kondisi tersebut diperburuk dengan adanya praktik politik dinasti yang dilakukan oleh Jokowi.

    “Anak-anaknya yang minim pengalaman dan prestasi politik menikmati jabatan publik maupun fasilitas bisnis yang tak mungkin didapat tanpa status anak kepala negara/presiden yang berkuasa,” jelasnya.

    Presiden dianggap terus bermanuver untuk menentukan proses pemilu 2024 dengan menggandeng kubu politik yang menjamin masa depannya sendiri dan dinasti keluarga.

    “Kami memergoki perilaku politik yang nista dari penguasa dan kalangan atas ini. Ukuran moral, tentang yang adil dan tidak adil, yang patut dan tidak patut itu telah hilang,” paparnya.

    Karena itu, dalam Maklumat Juanda mereka mendesak agar para pemimpin bangsa terutama Jokowi agar memberi teladan bagi rakyat.

    Mereka juga mendesak agar Jokowi tidak memberikan contoh buruk dengan memperpanjang kebiasaan membangun kekuasaan bagi keluarga.

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi terhadap UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum terkait batas usia capres-cawapres.

    Uji materi ini diajukan oleh mahasiswa UNS bernama Almas Tsaqibbirru Re A. Almas. MK menyatakan batas usia capres-cawapres tetap 40 tahun kecuali sudah berpengalaman sebagai kepala daerah.

    “Dalam rangka mewujudkan partisipasi dari calon-calon yang berkualitas dan berpengalaman, Mahkamah menilai bahwa pejabat negara yang berpengalaman sebagai anggota DPR, anggota DPR, anggota DPRD, Gubernur, Bupati, dan Wali Kota sesungguhnya layak untuk berpartisipasi dalam kontestasi pimpinan nasional in casu sebagai calon Presiden dan calon Wakil Presiden dalam pemilu meskipun berusia di bawah 40 tahun,” kata ketua MK, Anwar Usman.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Caleg Gagal Pemilu 2024 Perlu Dukungan Keluarga untuk Cegah Depresi

    Caleg Gagal Pemilu 2024 Perlu Dukungan Keluarga untuk Cegah Depresi

    7cloud.asia – Banyak calon legislatif (caleg) yang gagal pada Pemilihan Umum atau Pemilu 2024. Dukungan keluarga sangat penting dan dibutuhkan untuk mencegah depresi.

    Dukungan untuk caleg gagal ini diungkapkan oleh psikiater Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Dadi Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Dr Agus Japari seperti yang dilansir Antaranews.

    Agus menjelaskan, jika ada salah satu anggota keluarga yang gagal dalam Pemilu 2024, maka anggota keluarga lainnya harus mengambil peran dalam meningkatkan semangat caleg yang gagal itu.

    Sebab, menurut Agus, jika semangat caleg tersebut turun, maka dapat menyebabkan caleg tersebut mengalami depresi.

    Baca: Pemkot Jakpus siapkan layanan kesehatan mental untuk caleg gagal Pemilu 2024

    Support System atau sistem pendukung yang bukan hanya dari keluarga, namun juga teman-teman dan lingkungan, dinilai sangat berpengaruh terhadap kesehatan kejiwaan para caleg gagal untuk bisa lebih menerima kenyataan.

    Support system ini harus selalu memberi dukungan, semangat, dan nasehat, karena siapapun itu jika gagal pasti akan down (semangat menurun), termasuk caleg.

    “Tetapi jika tidak punya dukungan, maka akan lebih gampang sakit kejiwaannya,” jelas Agus.

    Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak malu membawa serta mendampingi anggota keluarganya untuk berkonsultasi jika mengalami sakit karena gagal menjadi anggota legislatif.

     

    Baca: RSJ Islam Klender siap terapi caleg

    Nantinya akan dilihat seberapa berat gangguan kejiwaan yg dialami. Adapun tahapan gangguan kejiwaan tersebut diawali dengan kecemasan, khawatir berlebih.

    Kondisi ini dapat berakibat pada susah tidur atau insomnia, dan selanjutnya banyak pikiran hingga semakin lama hilang semangat, lalu akhirnya depresi.

    “Silakan datang ke RSKD Dadi, kami siap memberikan konsultasi. Memang biasanya ada yang alami ini setelah Pileg, meski tidak banyak,” katanya.

    Sementara di RSKD Dadi Makassar menyiapkan 14 psikiatri guna memberikan pelayanan maksimal bagi para caleg yang mengalami depresi pasca-Pesta Demokrasi 2024.

    Baca: PDI Perjuangan resmi menolak penggunaan Sirekap

    Koordinator Humas RSKD Dadi, dr Wawan Satriawan menyebut sampai saat ini belum ada caleg yang datang untuk berkonsultasi.

    “Mungkin masih menunggu penghitungan suara dan pengumuman, tetapi kami harap tidak ada yang mengalami depresi,” katanya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Drama Korea Family by Choice: Adakah Standar Normal Sebuah Keluarga?

    Drama Korea Family by Choice: Adakah Standar Normal Sebuah Keluarga?

    7cloud.asia – Seperti apa keluarga yang normal? Apakah keluarga yang tidak normal tidak akan hidup bahagia? Itulah premis utama drama Korea berjudul Family by Choice.

    Ya, keluarga bisa hadir dalam berbagai bentuk dan ukurannya masing-masing. Kini keluarga mungkin tak lengkap memiliki ayah-ibu dan anak yang terus bersatu hingga akhir.

    Sebuah keluarga mungkin hanya memiliki ibu, bapak. Bahkan, kadang orang-orang yang hidup dalam sebuah keluarga mungkin tidak memiliki hubungan darah, bukan berarti ikatan mereka tidak kuat dan tidak bermakna.

    Itulah pesan yang saya tangkap menyaksikan empat episode pertama dari total 16 episode drama Korea berjudul Family by Choice ini yang mulai tayang sejak Rabu pekan lalu ini.

    Family by Choice merupakan adaptasi dari drama China berjudul Go Ahead. Namun sepertinya versi Korea baru ini akan membawa kembali perasaan lama dari drama China yang telah populer sebelumnya. Lengkap dengan emosi baru bagi penontonnya.

    Family by Choice tak hanya berfokus pada ikatan keluarga, tetapi juga mengeksplorasi masalah seperti trauma masa kecil dan dampaknya pada kesehatan mental seseorang.

    Ceritanya juga mengungkap bagaimana para tokoh utamanya mengatasi masalah dan luka emosional dari masa lalu.

    Pada Family by Choice, Kang Hae Joon (diperankan Bae Hyun Sung) mengalami trauma masa kecil setelah ditinggal ibunya pergi ke Seoul. Ia kemudian tinggal bersama ayah Yoon Joo Won selama sepuluh tahun.

    Sementara itu, Kim San Ha (diperankan Hwang In Yeop) juga mengalami trauma masa kecil disalahkan atas kematian adiknya, dan sang ibu pergi meninggalkannya.

    Cerita Family by Choice berpusat pada tiga anak yang berasal dari keluarga yang sangat berbeda, yang secara kebetulan akhirnya hidup bersama.

     

    Anak pertama, adalah ayah tunggal Yoon Jeong Jae (Choi Won Young) dan putrinya Yoon Ju Won (Jung Chae Yeon), seorang anak perempuan lincah yang tak pernah melihat masalah dalam hidupnya.

    Keinginan Ju Won hanyalah memiliki kakak laki-laki yang bisa menemaninya bermain, sementara ayahnya bekerja di restoran mie miliknya.

    Keluarga kedua, datang satu hari yaitu pasangan dengan anak tunggal mereka Kim San Ha (Hwang In Youp). Kehadiran keluarga ini membuat keinginan Ju Won menjadi kenyataan,

    Kim San Ha adalah seorang anak laki-laki pemalu dan pendiam yang pada awalnya merasa takut dengan kepribadian Ju Won yang sangat terbuka. Belakangan dijelaskan bahwa sikap pemalunya disebabkan oleh trauma yang menyebabkan adik perempuannya meninggal, dan ibunyalah yang menyalahkannya.

    Menyaksikan anak kecil memikul beban dan penderitaan seluruh keluarganya sendirian, Anda pasti merasa kasihan padanya.

    Terlebih lagi setelah melihat ibunya menyalahkan dia atas kelalaiannya sendiri, dengan egois mengabaikan rasa sakit yang dia timbulkan pada putra dan suaminya, hanya fokus pada kesedihannya.

    Namun, betapapun buruknya dia, dia tetaplah ibu San Ha, jadi melihatnya meninggalkan San Ha sungguh memilukan.

    Sedangkan keluarga ketiga adalah Kang Hae Jun (Bae Hyeon Seong) yang datang bersama ibunya yang sebenarnya dijodohkan dengan ayah Ju Won.

    Meski Jeong Jae tidak berpikir untuk menikah lagi, sesuatu tentang Hae Jun kecil menghangatkan hatinya hingga membawanya ke rumahnya saat dia mengetahui ibu Hae Jun telah meninggalkannya.

    Tidak banyak penjelasan mengenai ibu Hae Jun dan kepergiannya. Kecuali dia membesarkan Hae Jun sendirian dan berencana pergi ke Seoul untuk menetap dan menghilang sejak saat itu.

    Dan begitu saja, dua ayah mendapati diri mereka memiliki tiga anak sendirian. Tapi entah bagaimana, semuanya berjalan baik. Hingga mendadak ayah Hae Jun dan ibu San Ha muncul saat keduanya menjelang usia dewasa.

    Buat Anda yang penasaran drma Korea ini bisa diikuti di aplikasi Viu, dan diunggah setiap Rabu petang.(Sumber:Soompi)

  • Mau Tinggal di Mana Saat Lansia Nanti? Saatnya Mempersiapkan Diri Jadi Lansia Mandiri

    Mau Tinggal di Mana Saat Lansia Nanti? Saatnya Mempersiapkan Diri Jadi Lansia Mandiri

    7cloud.asia – Orang berusia lanjut atau lansia merupakan salah satu kelompok rentan yang kualitas hidupnya perlu diperhatikan. Dengan siapa lansia tinggal, atau istilahnya “pengaturan tempat tinggal” (living arrangement), dapat menentukan kualitas hidup mereka.

    Istilah “pengaturan tempat tinggal” secara sederhana menggambarkan dengan siapa seseorang tinggal. Istilah ini dapat berkaitan dengan hal lain seperti komposisi dan struktur rumah tangga dan kesejahteraan seseorang seperti dukungan sosial, dan manfaat yang diterima oleh seseorang.

    Saat ini, mayoritas lansia ternyata masih lebih memilih untuk tinggal bersama keluarga, alih-alih tinggal di panti jompo maupun fasilitas lainnya. Ini secara langsung maupun tidak berkontribusi pada kesejahteraan fisik dan mental mereka.

    Mayoritas lansia memilih tinggal bersama keluarga di hari tua sehingga berpotensi membebani generasi berikutnya dan melahirkan generasi ‘sandwich’.

    Namun, secara tidak langsung, ketergantungan lansia pada keluarganya di masa tua mereka pun bisa menjadi beban generasi berikutnya. Maka dari itu, penting bagi generasi muda saat ini untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi hari tua.

    Tinggal bersama keluarga lebih baik?
    Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat, selama lebih dari lima tahun terakhir, sekitar 60 persen lansia hidup bersama keluarga, baik keluarga inti ataupun keluarga besar.

    Lansia yang tinggal bersama keluarga cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dengan lansia yang hidup sendiri atau hanya dengan pasangannya.

    Ini karena mereka lebih mungkin mendapatkan dukungan emosional sehingga berdampak pada psikis mereka, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan lansia.

    Baca: Indonesia masuki fase aging population

    Selain itu, lansia juga bisa mendapatkan perawatan medis dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dari anak-anak dewasa mereka. Meskipun terkadang lansia juga bertanggung jawab menjaga dan merawat cucu mereka.

    Data BPS juga menunjukkan bahwa sekitar 82 persen rumah tangga lansia mendapatkan pembiayaan terbesar dari anggota rumah tangga yang bekerja.

    Hanya sekitar 5 persen lansia yang mendapatkan sumber pembiayaannya dari sumber lainnya seperti dana pensiun dan tabungan.

    Hal ini bisa menggambarkan bahwa mereka mendapatkan bantuan keuangan dan perawatan dari anak-anak mereka.

    Di negara berkembang, termasuk India dan Indonesia, persentase lansia yang hidup bersama keluarga biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat (AS) dan Eropa Barat.

    Budaya dan nilai-nilai yang dijunjung masyarakat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sebagian besar lansia di Indonesia hidup bersama beberapa generasi selanjutnya.

    Lansia yang tinggal bersama keluarga di masa tua cenderung hidup lebih sejahtera secara mental. Budaya “balas budi” masih dijunjung tinggi, dan anak-anak dan kerabat memiliki tanggung jawab untuk menjaga orang tua.

    Baca: Agar para lansia merasa lebih berharga

    Opsi panti jompo
    Pada dasarnya lansia memiliki beberapa opsi untuk hidup dan tinggal selain dengan keluarganya. Panti jompo, misalnya, bisa menjadi opsi untuk menghabiskan masa tua.

    Sayangnya, di masyarakat luas, opsi tinggal di panti jompo masih sering mendapat stigma negatif. Banyak yang menganggap bahwa lansia yang tinggal di panti jompo adalah mereka yang ditelantarkan oleh keluarganya.

    Padahal, tidak selamanya seperti itu. Panti jompo umumnya menyediakan fasilitas lengkap serta kegiatan sosial untuk menjaga kualitas hidup lansia. Semuanya dirancang untuk memenuhi kesejahteraan mental dan fisik para penghuninya.

    Bahkan, menurut studi, banyak lansia yang memilih tinggal di panti jompo atas keinginan sendiri. Ini karena, bagi mereka, panti jompo punya petugas dan perawat yang siap membantu.

    Para lansia juga bisa beraktivitas, berteman, dan bertukar pikiran dengan yang usianya sepantaran, sehingga mereka tidak merasa kesepian.

    Selain panti jompo, terdapat pula komunitas khusus lansia yang menawarkan hunian mandiri dengan fasilitas bersama, kegiatan sosial dan keamanan.

    Hunian ini sering disebut senior living community atau retirement home. Namun, untuk tinggal di komunitas ini biasanya membutuhkan biaya yang lebih besar.

    Beban generasi ‘sandwich’
    Perubahan sosial, ekonomi, dan budaya dapat berpotensi mengubah kualitas hidup lansia di masa depan.

    Di samping tekanan ekonomi, sebagian dari anak yang sudah bekerja perlu membiayai orang tua dan anak. Situasi ini melahirkan generasi sandwich–mereka yang memiliki tanggung jawab menghidupi orang tua atau mertuanya, biasanya secara finansial.

    Baca: Manfaat bekerja untuk para lansia

    Suka atau tidak, keberadaan orang tua yang tinggal bersama anak seringkali menciptakan beban finansial dan emosional.

    Trauma sosial atas fenomena generasi sandwich kemudian membuat generasi muda zaman sekarang lebih menyadari pentingnya perencanaan masa tua supaya nantinya mereka lebih mandiri secara finansial.

    Data menunjukkan bahwa saat ini banyak generasi muda, sekitar usia 18-25 tahun, memutuskan childfree sehingga dapat menyiapkan dana pensiun, tabungan, dan investasi untuk menyiapkan masa depan mereka tanpa menyusahkan generasi berikutnya.

    Bahkan mereka akan menyiapkan dan membangun jejaring sosial dan komunitas atau perawatan lansia.

    Menjadi lansia yang berdaya
    Meskipun tinggal bersama keluarga merupakan opsi yang baik, usaha kita untuk mempersiapkan kebutuhan hari tua juga penting agar tidak membebani generasi berikutnya.

    Perencanaan keuangan dan asuransi atau jaminan sosial merupakan hal yang penting bagi kita dalam mempersiapkan masa depan.

    Kedua hal tersebut terbukti mengurangi kebutuhan lansia untuk terus bekerja dan membantu mempersiapkan masa tua. Harapannya, kita bisa tetap memenuhi kebutuhan meski sudah berstatus lansia.

    Edukasi mengenai keuangan dan kemandirian juga penting untuk kita persiapkan agar generasi muda dapat mempersiapkan hari tua dengan baik tanpa membebani generasi berikutnya ataupun keluarga.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ruth Meilianna, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)