7cloud.asia – Kemayoran, apa yang tersirat di pikiran kamu saat mendengar nama sebuah kawasan di Jakarta Pusat ini? Mungkin Pekan Raya Jakarta, atau Wisma Atlet.
Tapi mungkin kamu tak berpikir jika Kemayoran merupakan kawasan ini menjadi salah satu tempat yang melahirkan sejumlah tokoh Betawi, seperti Benyamin Sueb dan juga Rano Karno yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Kemayoran juga menjadi saksi bisu kehadiran legenda seni Betawi Benyamin Sueb dan jagoan Betawi Murtado.
Untuk menggali ingatan soal Kemayoran ini, pemerintah kota Jakarta Pusat menggelar Festival Kemayoran. Di edisi perdananya, Festival Kemayoran menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya Betawi serta daerah lain di Indonesia.
Arifin mengatakan, festival ini sangat bagus, karena bisa jadi wadah bagi anak muda di Kemayoran berkreasi di ruang publik.
“Akar budaya di Jakarta adalah Betawi sehingga harus dilestarikan. Festival Kemayoran diadakan dalam rangkaian dari perayaan HUT ke 498 Jakarta,” Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin membuka secara resmi Festival Kemayoran di bundaran Masjid Raya Kemayoran, Sabtu (28/6/2025).
Baca: Serunya menjelajahi kawasan Kota Tua Jakarta
Arifin juga mengajak warga Kemayoran membangkitkan rasa cinta dan kebanggaan untuk Kota Jakarta, dengan menjaga lingkungan bersih dan sehat, menghindari tawuran dan penggunaan obat terlarang.
Sementara, Ketua Pelaksana Festival Kemayoran 2025, Ani Purwatiningsih menjelaskan, Festival Kemayoran merupakan salah satu upaya membangun masyarakat untuk mengenal, menggali dan melestarikan kebudayaan nasional.
“Membangun masyarakat berkebudayaan melalui seni Betawi dan ragam budaya di Indonesia,” tandasnya.
Kemayoran yang merupakan salah satu kecamatan di Jakarta Pusat memiliki sejarah panjang.
Kawasan Kemayoran berbatasan dengan Tanjung Priok di sisi utara, Sawah Besar di bagian sebelah barat, Kecamatan Kelapa Gading di bagian sebelah timur dan Cempaka Putih dan Johar Baru di bagian selatan.
Dahulu, di kecamatan ini terdapat Bandara Kemayoran yang kemudian ditutup pada tahun 1985 dan dialihfungsikan sebagai pemukiman pada lahan seluas 44 hektare.
Baca: Kawasan Kota Tua akan diitegrasikan dengan kawasan Pecinan di Glodok
Sejak tahun 1992, Kemayoran terkenal menjadi tempat untuk penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta, sebuah perayaan Hari Jadi Kota Jakarta yang diselenggarakan setahun sekali.
Pengambilan nama Kemayoran berasal dari nama seorang Mayor Isaac De L’ostal De Saint Martin. Ia adalah seorang berkebangsaan Prancis sebagai pemilik tanah di kawasan ini pada abad ke-17.
Sebelum berpangkat Mayor, Isaac bergabung dengan kongsi perdagangan Belanda yang bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC).
Atas kerja keras dan pengabdiannya, pada tahun 1662, Isaac diangkat menjadi berpangkat letnan untuk membantu peperangan di Cochin.
Hingga pada akhirnya, karier Isaac berlanjut hingga pengangkatannya menjadi Mayor untuk membantu Kapten Tack menumpaskan kerajaan asuhan Sultan Ageng Tirtayasa.
Baca: Menelusuri Cagar Budaya di wilayah Menteng
Sebagai imbal balik atas kerja kerasnya, VOC memberikan hadiah kepada Isaac berupa beberapa bidang tanah yang terletak di Batavia.
Pengambilan nama Kemayoran berasal dari kata Mayor yang diberi amanah dan tugas oleh Gubernur Belanda untuk mengawasi kawasan tersebut.
Lebih lanjut, Kemayoran juga menjadi cikal bakal adanya kampung betawi karena mayoritas saat kala itu didominasi oleh suku betawi.
Selanjutnya, Isaac mulai membangun rumah pada bidang tanah yang telah diberi oleh pihak VOC, rumahnya terletak di Jalan Garuda yang berdekatan dengan tikungan Kemayoran Gempol.
Saat kala itu, rumah Isaac menjadi salah satu rumah termegah dan terbesar yang ada di kawasan tersebut. Banyak warga yang dibuatnya penasaran sehingga berkunjung ke Kemayoran untuk dapat melihat rumah Isaac.
Warga sekitar menyebut wilayah di sekitar rumah Isaac dengan nama Mayoran. Seiring dengan bergantinya waktu, kata Mayoran mendapatkan imbuhan ‘ke’ menjadi Kemayoran.
Baca: Rencana besar penataan kawasan Kebayoran Lama
